Super Junior - Eeteuk

Senin, 24 Agustus 2015

FF Hate You, Love You



Title : Hate You, Love You
Cast : Yoo Seung Ho, Lee Chaeri
Length : oneshoot
Sorry Typo XD



Busan Foreign Language High Scool, sebuah sekolah menengah atas yang ada di Kota Busan.. Seorang siswi bernama Lee Chaeri tengah duduk di tempatnya, di kursi paling belakang di sudut kanan ruangan.. Meskipun ia duduk di belakang, ia bukan seorang siswi biasa.. Dia adalah siswi yang mendapat peringkat satu paralel di sekolah untuk kelas satu tahun lalu dan di kelas dua ini dia berharap hal itu terulang kembali.. Bukan berharap, tapi hal itu harus kembali terjadi.. Chaeri melihat keadaan luar melalui jendela di samping tempat duduknya.. *krriiiinngggg!!* bel berbunyi tanda pelajaran akan segera dimulai.. Semua siswa yang berada di luar kelas langsung masuk ke kelas dengan buru-buru hingga bertabrakan.. Chaeri tak mempedulikan hal itu.. Ia masih fokus dengan dunia di luar kelasnya.. Hingga guru memasuki kelas pun, ia masih tak peduli.. Guru masuk ke kelas dengan seorang siswa laki-laki.. Semua pandangan tertuju ke siswa itu..

"Selamat pagi, anak-anak!" ucap guru kelas itu.. Chaeri masih tak peduli..
"Selamat pagi, Guru!" jawab semua siswa serempak..
"Kali ini kalian akan punya teman baru.. Perkenalkan dirimu.."
"Baik.. Annyeong haseyo.. Aku Seung Ho, Yoo Seung Ho.." mendengar  siswa baru itu menyebut namanya, Chaeri mengalihkan pandangannya ke siswa baru itu..
"Aku pindahan dari Seoul.. Ku harap, kita bisa berteman.." lanjut Seung Ho..
"Baiklah, Seung Ho-ya kau bisa duduk di kursi yang masih kosong itu, disamping Chaeri.." Chaeri berdiri mendengar ucapan gurunya..
"Tidak! Kenapa dia harus duduk disampingku?!" protes Chaeri..
"Memangnya kenapa? Di kelas ini hanya ada satu kursi yang masih kosong dan itu ada di sampingmu.. Seung Ho-ya, duduklah.."
"Baik.." Seung Ho membungkukkan badan dan berjalan menuju kursi di samping Chaeri.. Chaeri hanya menatap Seung Ho dengan tatapan yang sangat tajam.. Seung Ho tersenyum evil dan duduk di kursinya dan diikuti oleh Chaeri..
"Baiklah.. Silakan ikuti pelajaran berikutnya.." guru itu meninggalkan ruang kelas..
"Lama tidak bertemu.. Bagaimana kabarmu, Lee Chaeri??" ucap Seung Ho pelan dengan menatap Chaeri..
"Jangan pura-pura bertingkah baik denganku.. Ambil semua berkasmu dan pergi dari sekolah ini!" balas Chaeri tanpa menatap Seung Ho..
"Akan ku pertimbangkan.. Aku akan pergi jika aku tidak menyukai tempat ini.. Tapi jika aku suka, kau akan sering melihatku.." sahutnya.. tak lama, semua siswi yang ada di kelas itu mengerubungi Seung Ho karena memang Seung Ho seorang siswa yang tampan..
"Menjijikkan!" gumam Chaeri.. Daripada harus ikut mengerubungi Seung Ho, Chaeri menyibukkan dirinya dengan menggambar.. Tak lama, guru pun datang dan semua siswa kembali ke tempat duduknya.. Saat pelajaran, Chaeri memakai Headphone-nya sambil terus menggambar.. Seung Ho yang melihatnya hanya tersenyum dingin..
"Apa kau masih seperti dulu?" batin Seung Ho..
"Chaeri-ya? Chaeri-ya?!" teriak guru dari depan yang membuat Chaeri melepaskan headphone-nya..
"Ada apa guru?" tanya Chaeri dingin..
"Kau mau ikut pelajaran atau mendengarkan musik?!"
"Keduanya.."
"Kau ini benar-benar?!! Cepat kemari dan kerjakan soal di depan!!" Chaeri melangkah dengan malas dan mengambil spidol lalu mengerjakan soal yang ada di papan tulis dengan waktu yang tak lama..
"Kalau kau bisa mengerjakan soal secepat ini, kenapa kau masih sekolah?! Kau seharusnya menjadi dosen saja! Untuk apa kau sekolah?!" bentak gurunya..
"Aku sekolah agar aku bisa mendapat ijazah, jadi dosen juga perlu ijazah kan?" Chaeri meletakkan spidol dan kembali ke tempatnya.. Semua murid tak merasa heran dengan apa yang baru saja dilakukan oleh Chaeri karena dia memang seorang siswi jenius dengan IQ tinggi.. Chaeri melanjutkan aktivitasnya mendengarkan musik dan menggambar.. Bel istirahat telah berbunyi.. Semua siswi kembali mengerumuni Seung Ho..
"Hhhhh.. Sangat menjijikkan hingga membuatku ingin muntah!" gumam Chaeri yang kemudian meninggalkan kelas..
"Jadi, kau pindahan dari Seoul?" tanya seorang siswi..
"Ya.." jawab Seung Ho.. Berbagai pertanyaan muncul untuk Seung Ho..
"Oh ya, siapa peringkat pertama di kelas ini?" Seung Ho berbalik bertanya..
"Siapa lagi? Dia yang duduk si sampingmu.."
"Lee Chaeri?"
"Bagaimana kau tau nama lengkapnya?"
"Ehh.. Aku hanya menebaknya.."
"Begitukah?  Ngomong-ngomong, dia pergi kemana? Tidak biasanya dia keluar kelas.."
"Memangnya kenapa?"
"Selain pintar,  dia adalah orang yang pendiam dan tidak peduli dengan apa yang terjadi di sekitarnya.. Tapi aku pernah melihatnya peduli dengan orang lain.. Meskipun dia pendiam, dia sangat menakutkan jika dia marah.. Meskipun begitu, dia bisa jadi teman yang sangat baik jika kau bersikap baik padanya.. Ia juga sangat aneh.. Tempat yang satu-satunya ia kunjungi adalah perpustakaan.. Bukan untuk membaca, tapi untuk menggambar, mendengarkan musik dan terkadang dia tidur disana.. Dia sangat aneh kan?! Apa mungkin dia pergi ke perspustakaan?"
"Dia tidak pernah berubah.." ucap Seung Ho pelan..
"Kau bilang apa?"
"Ahh tidak.. Aku tidak bilang apa-apa.." beberapa menit kemudian, Chaeri memasuki kelas..
"Yak Lee Chaeri, kau darimana?? Apa kau dari perpustakaan?" tanya salah satu siswa..
"Seperti yang kau tau.."
"Dasar kau manusia perpus.." Chaeri hanya tersenyum dan kembali ke tempatnya..
"Mereka bilang kau tidak suka keluar dari kelas, kenapa kau keluar dari kelas?" tanya Seung Ho dengan pandangan ke depan setelah beberapa siswi tak lagi mengerumuninya..
"Karena aku hampir muntah melihat pemandangan yang mejijikkan.. Seperti makanan busuk yang dikerumuni lalat.."
"Kau memang tak pernah berubah.."
"Jangan pernah bicara denganku lagi!"
Bel pulang telah berbunyi dan Chaeri langsung keluar dari kelasnya dengan Seung Ho yang mengikutinya dari belakang.. Semua siswi di sekolah itu memandang Seung Ho dengan penuh kagum.. Seung Ho terus mengkuti Chaeri hingga keluar dari sekolah sampai di perumahan..
*Flashback*
Empat tahun lalu, Seung Ho berjalan bersama Chaeri setelah pulang sekolah..
"Chaeri-ya, gomawo.. Kau sudah menolongku dari anak-anak itu.." ucap Seung Ho..
"Untuk apa kau berterimakasih? Aku sudah seharusnya melakukan itu.. Aku benci jika ada orang yang ditindas seperti itu.."
"Apa kau sibuk?"
"Sepertinya tidak.. Kenapa?"
"Mau pergi denganku?"
"Kemana?"
"Entahlah.. Kita pergi saja.."
"Emmmm.. Baiklah.."
*Flashback End*
Chaeri menghentikan langkahnya..
"Sampai kapan kau akan mengikutiku?" ucapnya tanpa berbalik..
"Siapa yang kau maksud? Aku? Bagaimana bisa kau bilang kalau aku mengikutimu? Apa kau lupa dimana rumahku? Kita searah! Jadi kau jangan terlalu percaya diri.. Aku tidak mengikutimu!" sahut Seung Ho..
"Ahhhhh kalau begitu, jalanlah dulu.."
"Kenapa? Kau mau mengikutiku?"
"Cih!" Chaeri berbalik..
"Yak! Aku benci kau, Yoo Seung Ho! Sangat membencimu!"
"Kenapa kau membenciku? Bukankah kita berteman?"
"Berteman? Cih! Sejak kapan kita berteman?!!"
"Sejak SMP.." Chaeri melangkahkan kakinya ke arah Seung Ho dan mendekatkan wajahnya ke samping kanan kepala Seung Ho mendekati telinganya..
"Kau benar.. Kita memang berteman sejak SMP.. Tapi sejak aku mendengar dan melihat hal itu, saat itu pula pertemanan kita berakhir.. Mengerti?!" ucap Chaeri dengan penuh penekanan kemudian menjauhkan diri dari Seung Ho..
"Kau masih marah akan hal itu?" tanya Seung Ho.. Chaeri tersenyum seduktif..
"Tidak.. Kau jangan pernah berbicara padaku lagi.. Meskipun kau ada di depanku, aku tak akan pernah menganggapmu ada.." Chaeri mulai melangkahkan kakinya..
"Aku tau kau masih marah.. Apa kau belum melupakannya?!" ucap Seung Ho membuat Chaeri menghentikan langkahnya..
"Aku sudah melupakan semuanya.. Aku sudah melupakanmu dan juga kenangan antara kita.." jawab Chaeri tanpa berbalik dan kemudian kembali melangkahkan kakinya..
"Kau belum melupakannya, Chaeri-ya.." ucap Seung Ho.. Ia kembali menyusul Chaeri..
"Kau tau aku kan?! Semakin aku dilarang, semakin aku akan menentangnya!" ucap Seung Ho..
"Kau melarangku untuk bicara padamu.. Itu berarti aku akan selalu bicara padamu bahkan aku akan mulai mengganggumu.." lanjutnya..
"Kau tau apa akibatnya jika menggangguku!" sahut Chaeri..
"Tentu aku tau.. Itulah kenapa aku mengganggumu.. Kau akan membalas apapun perlakuan yang kau terima.. Dan aku akan terus mengganggumu.." tanpa membalas perkataan Seung Ho, Chaeri melanjutkan langkahnya..
Saat Chaeri masuk ke kamarnya, ia langsung meluapkan kemarahannya pada barang di sekitarnya..
"Yoo Seung Ho!! Kenapa kau harus kembali?!! Kenapa kau harus muncul lagi setelah aku bisa melupakanmu?! Aku benci kau, Yoo Seung Ho!!"
Keesokan harinya, seperti biasa Chaeri duduk di tempatnya sambil memandang dunia luar.. Saat istirahat terakhir sebelum pelajaran selesai, semua siswa berganti pakaian karena baru saja pelajaran olahraga.. Saat semua siswa berganti pakaian, Seung Ho dengan hati-hati mengoleskan lem di kursi Chaeri.. Setelah melakukannya, Seung Ho kembali keluar.. Tak begitu lama, Chaeri masuk ke kelas.. Saat ingin duduk, ia membatalkannya.. Ia melihat kursinya dengan seksama..
"Kau melakukannya dengan sangat baik, Seung Ho-ya.. Tapi kau kurang rapi.." ucap Chaeri dengan senyuman dinginnya.. Semua siswa telah kembali ke dalam kelas dan siap untuk melanjutkan pelajaran.. Setelah pelajaran selesai, bel pulang berbunyi.. Semua siswa buru-buru meninggalkan kelas meninggalkan Chaeri yang masih mengemasi buku dan Seung Ho yang menunggu reaksi dari Chaeri.. Setelah selesai membereskan buku, Chaeri berdiri membuat Seung Ho terkejut.. Seung Ho pun mencoba berdiri namun ia sangat terkejut mengetahui kursi yang ia duduki menempel di celananya..
"Tidak bisa berdiri? Kau menempel dengan kursimu?" tanya Chaeri dingin yang disertai dengan senyuman sinisnya.. Seung Ho hanya menatapnya kesal..
"Ini adalah responku.. Apa kau akan berhenti?!" lanjutnya..
"Tidak!"
"Baiklah.. Aku pulang dulu.. Selamat menikmati kencan dengan kursimu.. Annyeong.." Chaeri melenggang pergi dari hadapan Seung Ho..
"Issssshhh!!! Sial sial sial!!" teriak Seung Ho dengan penuh kekesalan.. Ia berusaha keras untuk lepas dari kursinya.. Setelah cukup lama mencoba, akhirnya ia terlepas dari kursinya namun celananya harus menjadi korban karena celananya robek..
"Aigoo celanaku?! Lee Chaeri!! Aku tidak akan menyerah semudah ini!!" Seung Ho pulang dengan memanggil supirnya untuk menjemputnya di sekolah..
Keesokan harinya Seung Ho kembali mengerjai Chaeri, namun lagi-lagi hal itu menjadi senjata makan tuan untuk dirinya dan itu berlangsung selama beberapa hari.. Chaeri selalu lepas dari jebakan Sung Ho karena ia adalah orang yang sangat teliti.. Dia bisa merasakan perbedaan suatu tempat meskipun hanya sedikit perubahan yang bahkan tak ada seorang pun yang tau..
Di pagi hari, Chaeri masuk ke kelasnya.. Ia sangat terkejut melihat beberapa siswa laki-laki duduk dan berkumpul di kursinya.. Ia pun menghampiri siswa itu..
"Apa yang kalian lakukan di tempatku?" tanya Chaeri dingin..
"Memangnya kenapa? Terserah kami mau duduk dimana.. Lagipula ini bukan sekolah milikmu kan?!" ucap salah seorang siswa..
"Pergi! Pergi dari kursiku!" ucapan Chaeri tak dihiraukan oleh siswa itu..
"Ku bilang pergi!!" Chaeri menarik siswa yang duduk di kursinya dan menjatuhkannya.. Dengan wajah dingin, Chaeri duduk di kursinya..
"Pergilah!" ucapnya.. Semua siwa itu pun berdiri di depan Chaeri..
"Dengar! Urusan kita belum selesai.. Kami akan menyelesaikan ini di lain kesempatan.." ucap salah satu siswa.. Tanpa mereka sadari, Seung Ho masuk ke kelas dan melihat kejadian itu..
"Bagaimana bisa ada seorang perempuan sepertimu?! Melihat sikapmu, aku yakin tak ada seorang laki-lakipun yang menyukaimu!!" lanjut yang lain..
"Yak! Apa yang kalian lakukan disana?!" teriak Seung Ho.. Mendengar teriakan Seung Ho, semua siswa itu pergi dari hadapan Chaeri dan keluar dari kelas melewati Seung Ho yang berdiri di belakang pintu.. Setelah mereka pergi, Seung Ho duduk di kursinya..
"Jangan dengarkan apa yang mereka katakan.. Kau tau ada laki-laki yang pernah menyukaimu.." ucap Seung Ho..
"Jangan ikut campur urusanku dan jangan bersikap sok baik padaku!" balas Chaeri..
Saat memasukan buku ke dalam tas, Chaeri menemukan sebuah kertas yang jatuh dari dalam mejanya.. Ia mengambil dan membacanya..
"Pulang sekolah, pergi ke belakang sekolah.. Kita selesaikan urusan kita disana!" isi kertas itu.. Seung Ho yang melihat Chaeri membaca kertas itu pun bertanya..
"Apa itu?" tanya Seung Ho..
"Bukan apa-apa!" jawab Chaeri yang meninggalkan Seung Ho.. Merasa ada yang tidak beres, Seung Ho pun mengikuti Chaeri..
Di belakang sekolah, Chaeri menemui siswa yang tadi duduk di kursinya..
"Apa yang kalian mau?! Cepat katakan agar aku bisa cepat pulang.." ucap Chaeri dengan melipat kedua tangannya di depan dada..
"Dengar, Lee Chaeri! Jangan hanya karena kau mendapat peringkat satu di sekolah, kami akan takut padamu.. Jika kau berpikir kami akan takut, kau salah besar! Kami sama sekali tidak takut padamu!" Chaeri hanya tersenyum dingin..
"Dengar! Siapa yang minta kalian takut padaku?! Aku tidak pernah meminta siapapun untuk takut padaku.. Aku hanya bersikap biasa pada semua orang.."
"Kau banyak bicara!" *plakkk!!!* seorang siswa menampar Chaeri hingga terjatuh dan sudut bibirnya mengeluarkan darah..
"Yak!!" teriak Seung Ho yang menghampiri mereka..
"Apa yang kalian lakukan?!" lanjutnya..
"Kau murid baru jangan ikut campur!"
"Dasar pengecut!!" Seung Ho berkelahi dengan siswa-siswa itu hingga berhasil mengalahkannya dan mereka pergi..
"Kau baik-baik saja? Astaga kau berdarah.." ucap Seung Ho yang mendekati Chaeri..
"Sudah ku bilang ini bukan urusanmu!" Chaeri bangun dan mulai berjalan..
"Tidak bisakah kau bilang terimakasih?!" Chaeri berbalik..
"Terimakasih? Untuk apa?? Aaahhhh.. Aku menganggap ini inpas.."
*Flashback*
"Yak hentikan!!" teriak Chaeri menghampiri Seung Ho yang dipukul oleh temannya saat SMP..
"Kau jangan ikut campur!"
"Pergi dari temanku!!" Chaeri membalas perbuatan yang mereka lakukan pada Seung Ho..
"Seung Ho-ya.. Kau baik-baik saja?" tanya Chaeri..
"Chaeri-ya.. Gomawo.." Seung Ho langsung memeluk Chaeri dengan sangat erat..
"Seung Ho-ya.." Seung Ho melepas pelukannya..
"Chaeri-ya.. Kau selalu datang saat aku dalam keadaan seperti ini.. Gomawo.."
*Flashback End*
"Jadi kau tidak melupakannya??" tanya Seung Ho.. Chaeri tak menjawab dan melanjutkan langkahnya..
"Yak Lee Chaeri!!!" tiba-tiba Seung Ho mendorong Chaeri hingga membuatnya terjatuh..
"Yoo Seung Ho!!" Chaeri bangun dan menendang Seung Ho hingga ia terjatuh.. Chaeri memegang kerah Seung Ho dan mengepalkan tangan untuk memukulnya tapi ia menahannya..
*Flashback*
Chaeri dan Seung Ho berjalan pulang dari sekolah menuju rumahnya..
"Chaeri-ya.."
"Ya.."
"Kenapa kau selalu menolongku?"
"Karena kau temanku.."
"Apa suatu hari nanti kau juga akan memukulku seperti mereka?"
"Apa?! Tentu saja tidak.. Kau temanku.. Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah memukulmu apapun yang terjadi.. Kau satu-satunya temanku.."
"Benarkah? Kau janji?!"
"Aku berjanji.. Aku Lee Chaeri tidak akan memukul Yoo Seung Ho apapun yang terjadi.." ucap Chaeri tegas dengan mengangkat tangan kanannya..
"Kalau begitu, jika begini kau juga tidak akan memukulku!" *cup!* Seung Ho mengecup singkat bibir Chaeri..
"Yak Yoo Seung Ho!! Kau mau mati?!" Chaeri mengangkat tangannya untuk memukul Seung Ho..
"Yak kau janji tidak akan memukulku kan?" Seung Ho kembali mengecup singkat bibir Chaeri kemudian berlari meninggalkan Chaeri..
"Yoo Seung Ho!! Aku akan membunuhmu!!" Chaeri berlari mengejar Seung Ho yang meninggalkannya..
*Flashback End*
Masih menahan pukulannya, perlahan sebutir air mata keluar dari mata Chaeri dan menetes di atas pipi Seung Ho..
"Argh!!" Chaeri memukul jalan di samping kiri wajah Seung Ho dan melepaskan tangannya dari kerah Seung Ho..
"Jangan pernah muncul lagi di depanku!" Chaeri berdiri dan meninggalkan Seung Ho.. Seung Ho pun berdiri..
"Kenapa kau tidak memukulku? Apa kau takut melanggar janjimu?" tanya Seung Ho.. Chaeri berhenti dan berbalik..
"Janji? Janji apa?"
"Aku yakin kau tidak memukulku karena kau telah berjanji kau tidak akan memukulku apapun yang terjadi.."
"Janji katamu? Aku merasa aku tak pernah berjanji apapun padamu.. Mungkin kau menilai kalimatku sebagai sebuah janji.."
"Jangan bohong padaku.." *plak!* Chaeri menampar Seung Ho..
"Lee Chaeri??" Chaeri kembali menampar Seung Ho hingga tiga kali..
"Aku tidak pernah berjanji apapun padamu.." Chaeri pergi meninggalkan Seung Ho yang memegang pipinya.. Di dalam kamar, Chaeri duduk di balik pintu kamarnya.. Ia memandang tangannya dan menangis mengingat apa yang baru saja terjadi..
"Mianhae, Seung Ho-ya.." ucapnya kemudian memeluk tangannya.. Di sisi lain, Seung Ho duduk di depan cermin yang ada di kamarnya memandangi pipinya..
"Tidak, tidak.. Chaeri tidak mungkin mengingkari janjinya.. Dia pasti masih sangat marah padaku.. Seseorang bisa saja bisa berbuat sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya saat dia sedang marah.. Mungkin itu yang dirasakan Chaeri sekarang.." ucap Seung Ho..
Di sekolah, Seung Ho masuk ke kelasnya dengan pipi yang masih terlihat merah.. Hal itu membuatnya menjadi pusat perhatian dan para siswi pun mengerumuninya..
"Oppa, kau kenapa? Kenapa pipimu merah?"
"Ahh ini? Tidak apa-apa.. Semalam ada nyamuk yang menggigitku dan aku memukulnya terlalu keras.." Chaeri yang mendengarnya hanya terdiam.. Rasa bersalah terlihat di wajahnya..
"Chaeri-ya, tanganmu kenapa?" tanya salah satu teman Chaeri yang melihat tangan Chaeri dibalut perban..
"Tidak apa-apa.."
"Pipimu juga sedikit memar.. Kau pasti berkelahi lagi.. Iya kan?"
"Tidak.. Aku tidak berkelahi.."
"Ishh.. Kau bohong.." beberapa saat kemudian guru masuk dan membagikan soal tes pada semua siswa kecuali Chaeri..
"Lee Chaeri, kau boleh ambil soalmu jika kau sudah ingin mengerjakannya.." ucap guru yang dibalas anggukan oleh Chaeri.. Dua puluh menit terakhir sebelum tes selesai, Chaeri mengambil soal dan mulai mengerjakannya..
"Baik, anak-anak, kalian boleh mengumpulkan jawaban tes.." Chaeri pun mengumpulkan jawabannya dan diikuti oleh siswa lain.. Beberapa hari setelah itu, pengumuman hasil tes tengah semester telah keluar.. Seperti biasa, Chaeri menempati posisi pertama.. Namun ada siswa lain pula yang berada di posisi yang sama.. Posisi pertama ditempati oleh dua orang yaitu Chaeri dan Seung Ho..
"Chukhahae, kau hebat.." ucap Seung Ho dari samping Chaeri.. Chaeri hanya meliriknya tajam dan meninggalkannya.. Terdengar jelas banyak siswi yang memberikan ucapan dan pujian untuk Seung Ho.. Saat keluar dari sekolah, Chaeri terkejut melihat ibunya di depan gedung sekolahnya..
"Eomma? Apa yang Eomma lakukan disini?" tanya Chaeri gugup..
"Bagaimana itu bisa terjadi?"
"Maksud Eomma?" ibu Chaeri menunjukan ponselnya pada Chaeri..
"Kau kira aku tidak tau? Bagaimana bisa kau kalah dari siswa bernama Yoo Seung Ho?! Siapa dia? Nama itu terdengar familiar di telingaku.."
"Dia.. Dia adalah temanku saat SMP.."
"Bagaimana kau bisa kalah darinya?!"
"Eomma, aku tidak kalah! Aku masih berada di posisi pertama.."
"Memang.. Tapi anak itu juga berada di posisi yang sama denganmu! Selama aku merawatmu, ini adalah hasil terburuk yang pernah kau dapat.. Itu artinya kau telah kalah! Jika sampai ini terulang lagi di masa depan, aku tidak segan-segan mengirimmu ke Amerika.."
"Eomma?!" tanpa mempedulikan Chaeri lagi, ibunya masuk ke mobil dan meninggalkan Chaeri disana.. Chaeri tampak kesal dengan apa yang ibunya ucapkan.. Ia mengacak rambutnya kemudian melangkahkan kakinya.. Ia pergi ke columbarium untuk mengunjungi ibunya yang telah lama meninggal.. Ibu yang merawatnya saat ini adalah ibu tirinya, sedangkan ayahnya tak pernah ada waktu untuk bertemu dengan Chaeri.. Jangankan bertemu, mengirim SMS pun tak sempat..
"Eomma.. Bagaimana kabar Eomma sekarang? Aku yakin, Eomma pasti bahagia disana.. Eomma.. Katakan padaku kalau kehidupan disana lebih bahagia daripada disini.. Eomma.. Bolehkah aku bertemu denganmu? Aku merindukanmu, Eomma.. Aku sangat merindukanmu.." ucap Chaeri sambil menangis..
"Eomma.. Wanita itu terus-terusan memintaku untuk terus berada di posisi pertama.. Eomma, aku lelah.. Aku lelah harus terus-terusan di posisi itu.. Aku bosan.. Aku tau kemampuan yang ku miliki.. Tapi aku ingin menjalani kehidupanku seperti remaja yang lain.. Eomma, aku harus bagaimana?? Hiks.." lanjutnya..
"Lee Chaeri.." panggil Seung Ho dari arah belakang Chaeri.. Chaeri menghapus air matanya..
"Apa yang kau lakukan disini?!" tanya Chaeri dengan suara yang bergetar..
"Chaeri-ya, mianhae.. Aku tidak sengaja mendengar pembicaraanmu dengan ibumu tadi di sekolah.."
"Kau melihatnya? Bagus! Kau benar-benar melihatku hancur di depan ibuku.. Lalu, apa kau akan mentertawakan aku? Silakan.. Silakan kau tertawa sepuasmu.. Aku tidak akan melarangmu.. Dan untuk tes di akhir semester, aku tidak akan berbagi tempat denganmu apalagi kalah darimu.. Mulai sekarang, kau adalah musuhku?!" Chaeri berbalik dan melangkahkan kakinya melewati Seung Ho..
***
"Chaeri-ya, aku ingin bicara denganmu sepulang sekolah.. Temui aku di belakang sekolah.. Seung Ho.." isi tulisan di kertas yang Chaeri temukan di dalam lacinya saat ia membereskan bukunya.. Ia pun berjalan menuju belakang sekolah..
"Kenapa aku harus pergi ke belakang sekolah dan menemui namja tengik itu?!" ucapnya pada dirinya sendiri.. Ia pun melanjutkan langkahnya.. Ia tak melihat siapapun disana.. Saat akan melangkahkan kaki, ia mendengar sebuah suara.. Dengan langkah pelan, ia berjalan menuju sumber suara itu.. Sumber suara itu berasal dari Seung Ho dan seorang siswi di sekolahnya sedang berpelukan..
"Yoo Seung Ho-ssi, apa yang mau kau katakan padaku?!" tanya Chaeri dengan wajah dingin membuat Seung Ho melepas pelukannya..
"Kau pergilah dulu.." ucap Seung Ho pada siswi itu.. Dia mengangguk dan pergi dari tempat itu..
"Apa yang mau kau katakan?!" tanya Chaeri.. Seung Ho melangkah mendekati Chaeri kemudian tersenyum..
"Chaeri-ya, apa kau ingat sesuatu?" tanya Seung Ho menatap Chaeri..
"Ingat sesuatu?"
*Flashback*
"Chaeri-ya, aku ingin bicara denganmu sepulang sekolah.. Temui aku di belakang sekolah.. Seung Ho.." isi tulisan di kertas yang Chaeri temukan di dalan laci mejanya saat ia membereskan bukunya..
"Seung Ho-ya? Ada apa?" ucap Chaeri.. Ia pun segera pergi ke belakang sekolah..
"Chaeri-ya, kau mau kemana?" tanya salah seorang teman Chaeri..
"Aku ingin bertemu Seung Ho.."
"Chaeri-ya, sebaiknya kau jangan pernah temui dia apalagi berteman dengannya.."
"Memangnya kenapa?"
"Apa kau tidak tau? Selama ini dia hanya memanfaatkanmu.. Dia berteman denganmu hanya karena kau bisa membelanya di depan anak-anak yang membullynya.."
"Seung Ho tidak mungkin sejahat itu.. Dia temanku, aku tau bagaimana dia.."
"Terserah kalau kau tidak percaya.. Aku sudah memberitahumu.." siswa itu melangkah melewati Chaeri.. Chaeri melanjutkan langkahnya ke belakang sekolah.. Betapa terkejutnya ia melihat Seung Ho bersama seorang siswi.. Chaeri mengamati Seung Ho dan siswi itu di tempat yang tersembunyi..
"Oppa, kenapa kau memintaku kemari?" tanya siswi itu..
"Aku ingin bilang kalau aku menyukaimu.."
"Apa? Bukankah kau berpacaran dengan Chaeri?"
"Aku? Berpacaran dengan Chaeri? Kau jangan bercanda.. Aku tidak berpacaran dengannya.. Aku mendekatinya karena aku ingin memanfaatkannya.. Dia bisa menolongku saat anak-anak itu membullyku.. Tapi sekarang, aku tidak butuh dia lagi.. Lagipula, siapa yang mau berteman dengan yeoja kasar seperti dia??" mendengar ucapan Seung Ho, membuat Chaeri sangat marah hingga mengeluarkan air matanya.. Ia menghapus air matanya dan menemui Seung Ho..
"Yak! Yoo Seung Ho!!" teriak Chaeri dengan sangat marah..
"Ch Chae Chaeri-ya?"
"Jadi ini alasan kau berteman denganku?! Kau hanya memanfaatkan aku?! Hah?!!"
"Chaeri-ya, ini tidak seperti yang kau fikirkan.."
"Kau benar.. Siapa yang mau berteman dengan yeoja kasar sepertiku?! Selama ini aku terlalu bodoh karena percaya begitu saja kalau kau benar-benar menjadi temanku.. Tapi aku salah.. Kau hanya memanfaatkan aku.. Saat ini aku sangat ingin memukulmu, tapi aku tidak bisa melakukannya karena aku sudah berjanji padamu.. Gomawo, Seung Ho-ya.. Jeongmal gomawo.." Chaeri berbalik dan melangkah meninggalkan Seung Ho..
"Chaeri-ya?! Lee Chaeri.." panggil Seung Ho yang tidak dipedulikan Chaeri..
"Oppa..."
"Pergilah!" siswi itu pergi meninggalkan Seung Ho..
*Flashback End*
"Ingat sesuatu?" tanya Seung Ho..
"Tidak!"
"Chaeri-ya.."
"Tidak! Aku tidak ingat apapun?! Aku tidak ingat!"
"Kejadian waktu itu, aku benar-benar minta maaf.. Semua itu tidak seperti yang kau fikirkan.. Aku punya alasan kenapa aku melakukan hal itu.."
"Kau kira aku peduli? Aku sudah tidak ingin tau apapun tentangmu.. Aku tidak peduli kau memanfaatkan aku atau tidak! Yang jelas, aku sudah menghapusmu dari kehidupanku sejak saat itu.."
"Chaeri-ya.."
"Apa hanya itu yang mau kau katakan? Kau membuang banyak waktuku.." Chaeri berbalik dan mulai melangkah.. Namun langkahnya terhenti ketika Seung Ho memeluknya dari belakang..
"Yak Yoo Seung Ho!!"
"Diamlah!! Jangan menolakku untuk kali ini.. Empat tahun aku merindukanmu.. Aku ingin memelukmu seperti ini.. Tapi aku takut kau akan menolakku.."
"Kau kira sekarang aku akan menerimamu?!"
"Aku tidak peduli kau akan menolak atau menerima.. Aku hanya ingin memelukmu.. Bogoshiposeo, Chaeri-ya.." Chaeri hanya diam..
Keesokan harinya, Chaeri duduk di dalam perpustakaan sedang membaca buku.. Tiba-tiba tiga siswi menghampirinya..
"Yak Lee Chaeri!" ucap salah satu siswi.. Chaeri menatapnya dingin..
"Dasar yeoja tengik! Singkirkan pandangan dinginmu itu dari kami.."
"Apa yang kalian mau?!"
"Kami mau bicara denganmu.."
"Kalau begitu, cepat katakan!"
"Dasar bodoh! Kami tidak akan bicara disini.. Kami tunggu kau di gudang!" tiga siswi itu pergi dari hadapan Chaeri.. Setelah selesai membaca bukunya, Chaeri pergi ke gudang..
"Apa mau kalian?!" tanya Chaeri..
"Yak! Apa yang kau lakukan dengan Seung Ho Oppa kemarin?!"
"Kami tau kau pasti merayunya, iya kan?!"
"Seung Ho Oppa, tidak mungkin tertarik pada yeoja sepertimu.. Bagaimana bisa dia tertarik padamu sedangkan dia menolak kami?!"
"Apa? Aahhh jadi kalian ditolak oleh Yoo Seung Ho si namja brengsek itu?!"
"Yak!! Jangan sebut dia namja brengsek!!"
"Jangan pernah menemui Seung Ho Oppa lagi!!"
"Kau juga harus pindah dari tempat dudukmu!! Kau pasti senang karena duduk disampingnya dan bertemu dengannya.."
"Yak! Kenapa aku harus pindah dari tempat dudukku?! Aku duduk disana sebelum namja brengsek itu datang.. Kalian kira aku suka bertemu dengannya apalagi harus duduk di samping kursinya?!! Mendengar namanya saja sudah membuatku sesak.. Melihat wajahnya meskipun hanya sedetik, hal itu sudah membuatku merasa ingin mati.. Jadi bagaimana bisa kalian bilang kalau aku senang bisa duduk disampingnya hah?!!"
"Kalau begitu, menyingkirlah dari Seung Ho Oppa?!!"
"Kenapa aku harus melakukannya?! Kalian bisa meminta namja brengsek itu pindah tempat duduk! Bahkan jika kalian mau, kalian bisa membawanya ke rumah kalian dan aku akan berterimakasih untuk itu! Sampai kapanpun, aku tidak akan pergi dari tempatku!!"
"Kau ini benar-benar!!" *plak!!!* salah satu siswi  menampar Chaeri dengan sangat keras hingga terjatuh.. Dua siswi lain menyeret dan memasukkan Chaeri ke dalam gudang dan menguncinya di dalam gudang..
"Yak!! Apa yang kalian lakukan?!! Buka pintunya!!" teriak Chaeri..
"Berterimakasihlah pada kami karena dengan begini kau tidak akan bertemu Seung Ho Oppa lagi.." ketiga siswi itu tersenyum sinis dan meninggalkan Chaeri yang terkunci di dalam gudang..
"Dasar yeoja gila!!" gumam Chaeri.. Ia meraba seragamnya untuk mencari ponselnya namun tidak ada..
"Ponselku?? Aish! Ponselku ada di tas.. Sialan! Tolong! Apa ada orang disana?!!" teriak Chaeri..
Di kelasnya, Seung Ho berkali-kali melihat ke arah kursi milik Chaeri.. Ia bingung dimana Chaeri.. Jika sudah pulang, tas dan bukunya masih ada di kelas, jika dia masih di sekolah, kemanakah Chaeri pergi.. Hingga jam berakhir, Chaeri tak kembali ke kelas.. Seung Ho menelfon ke nomor Chaeri, namun Seung Ho mendengar deringan ponsel Chaeri ada di tas..
"Lee Chaeri, kau dimana?!" gumam Seung Ho..
"Oppa?!!" panggil tiga siswa yang mengunci Chaeri di gudang..
"Ahhh kalian.. Apa kalian tau dimana Chaeri?" tanya Seung Ho..
"Chae Chaeri? Emm.. Kami tidak tau.. Memangnya kenapa??" wajah ketiga siswi itu terlihat gugup..
"Aneh sekali.. Sejak istirahat pertama dia tidak terlihat.. Ku kira dia ke perpustakaan tapi tak ada disana.."
"Mungkin dia sudah pulang.."
"Tas, buku dan ponselnya masih ada disini.. Dia tidak mungkin sudah pulang.. Dia tidak bisa belajar jika bukunya masih ada disini.."
"Oppa.. Dia kan anak jenius.. Dia tidak butuh buku.. Lebih baik kau pulang saja.. Dia pasti akan baik-baik saja.. Kau tau kan dia ahli taekwondo, jadi tidak akan ada apapun yang terjadi padanya.."
"Kau benar.." Seung Ho pun memutuskan untuk pulang.. Hari semakin gelap.. Chaeri belum keluar dari gudang.. Makin lama ia makin lemas.. Suaranya juga makin habis karena berteriak meminta tolong.. Sebelumnya Chaeri sudah mencoba untuk mendobrak pintu gudang namun ia tak berhasil.. Meskipun itu adalah gudang yang lumayan tua namun pintunya masih sangat kokoh dan kuat.. Di dalam kamarnya, Seung Ho terus mencoba menghubungi dan mengirim SMS pada Chaeri.. Ia juga pergi ke rumah Chaeri dan bertanya apakah Chaeri ada di rumah, namun pembantu rumah tangga Chaeri mengatakan kalau Chaeri tak ada di rumah.. Seung Ho mulai khawatir, ia pun kembali ke sekolah.. Ia melihat tas Chaeri masih di dalam kelas kemudian mengambilnya..
"Chaeri-ya!! Lee Chaeri!!" teriak Seung Ho sambil menyusuri tiap kelas yang ada di sekolahnya..
"Tolong.. Aku disini.. Siapapun tolong aku.. Kumohon.. Tolong aku.." rintih Chaeri sambil menggedor pintu gudang dengan tenaga yang tersisa.. Seung Ho menghentikan langkahnya karena ia merasa mendengar suara pintu.. Ia menajamkan pendengarannya.. Sedetik kemudian, ia berlari ke arah suara yang berasal dari gudang..
"Tolong.." Chaeri masih berusaha.. Seung Ho pun sampai di depan gudang..
"Chaeri-ya?! Apa kau disana??" tanya Seung Ho khawatir..
"Tolong aku.." Seung Ho berusaha mendobrak pintu.. Setelah beberapa kali, pintu pun terbuka..
"Chaeri-ya?!" Seung Ho terkejut melihat Chaeri terduduk lemas..
"Chaeri-ya, apa kau baik-baik saja?"
"Seung Ho-ya? Apa itu kau??" ucap Chaeri dengan lemas..
"Iya, Chaeri-ya.. Ini aku.. Apa yang terjadi?"
"Seung Ho-ya.. Mianhae.. Aku.. Sudah menamparmu.. Tiga kali.." Chaeri pingsan di pelukan Seung Ho setelah mengucapkan kata terakhir..
"Chaeri-ya?! Chaeri-ya! Sadarlah?! Chaeri?!!" Seung Ho langsung membawa Chaeri ke rumah sakit..
Di pagi hari, Chaeri membuka matanya secara perlahan..
"Apa ini di rumah sakit?" ucapnya melihat sekitar.. Ia melihat tangannya yang terhubung dengan selang infus..
"Benar.. Ini di rumah sakit.. Siapa yang membawaku kesini??" Chaeri mengingat kejadian terakhir sebelum ia pingsan..
"Apa? Apakah Seung Hoo yang mmbawaku kesini?! Aish!" Chaeri pun terbangun dan ia hendak turun dari ranjang, tiba-tiba pintu terbuka dan terlihat Seung Ho masuk membawa beberapa buah dan makanan..
"Selamat pagi.. Kau sudah bangun?" tanya Seung Ho ramah kemudian meletakkan buah dan makanan di meja..
"Ahhh.. Iya.." Seung Ho pun duduk di samping Chaeri..
"Yak! Untuk apa kau disini?!" tanya Chaeri dengan nada sinis..
"Untuk menemanimu! Aku menelfon ibumu, dia bilang dia sedang ada di Jepang, dan akan segera pulang.."
"Dasar bodoh! Kenapa kau menghubungi ibuku?!"
"Memangnya kenapa?! Kau ini benar-benar tidak tau terimakasih?!"
"Untuk apa aku berterimakasih pada namja bodoh sepertimu?! Gara-gara kau, aku harus siap menerima kemarahan ibuku?!"
"Ibumu tidak akan marah! Aku sudah memintanya untuk tidak memarahimu!"
"Oh ya, tanggal berapa sekarang?"
"Tanggal 27"
"Apa?! 27? Yak namja bodoh! Untuk apa kau membawaku kemari?! Apa kau lupa kalau hari ini ada tes akhir semester?! Gara-gara kau membawaku kemari, aku tidak bisa ikut tes akhir semester!"
"Apa tes itu lebih penting dari kesehatanmu?! Kau bisa ikut tes susulan setelah kau sembuh.. Kau menderita maag akut! Kau harus tetap dirawat sampai kau sembuh?!!"
"Apa? Maag akut??"
"Benar.. Kau menderita maag akut.."
"Kau?! Kenapa kau ada disini?! Kau tidak ikut tes?! Bukankah ini kesempatanmu untuk mengalahkanku?!"
"Kau bilang aku musuhmu kan?! Aku adalah orang yang sangat sportif.. Dan tes ini adalah pertempuran kita.. Kau tau, pertandingan tidak akan menarik jika salah satu pemain tidak datang.. Jadi, aku juga tidak akan ikut tes selama kau juga tidak ikut tes.."
"Cih dasar namja gila?!" Seung Ho dan Chaeri saling melempar senyuman..
"Oh ya, aku membelikan makanan dan buah untukmu.. Aku sudah bertanya pada dokter tentang makanan yang bisa kau makan.. Jadi, makanlah.."
"Namja brengsek sepertimu sekarang berubah menjadi malaikat.."
"Yak! Berhentilah mengumpat tentangku! Dasar yeoja gila!"
"Namja bodoh!"
"Yeoja tengik!"
"Namja brengsek!"
"Yeoja idiot!"
"Dasar pembohong!!"
"Pembohong?! Apa maksudmu?!"
"Kau pembohong! Cepat keluar dari sini!"
"Kau mengusirku?! Kau ini benar-benar?!"
"Keluarlah! Aku mau istirahat!" Chaeri berbaring dengan menyamping dan menutup dirinya dengan selimut..
"Baiklah.. Aku akan keluar.. Beristirahatlah.." Seung Ho mengusap kepala Chaeri dari balik selimut kemudian keluar..
Di malam hari, Chaeri merasa mual dan pergi ke kamar mandi tanpa sepengetahuan Seung Ho karena Seung Ho sedang tidur.. Di dalam kamar mandi, Chaeri memuntahkan isi perutnya.. Tanpa ia sadari, suara yang ia buat membangunkan Seung Ho.. Seung Ho terbangun.. Ia menghampiri pintu kamar mandi setelah tau kalau Chaeri tak ada di ranjangnya..
"Chaeri-ya?! Kau baik-baik saja?" tanya Seung Ho.. Beberapa saat kemudian, Chaeri keluar dari kamar mandi..
"Chaeri-ya, kau baik-baik saja?"
"Aku mual.. Apa kau punya pisang atau pepaya?"
"Ahhh iya.. Sepertinya ada.. Ayo!" Seung Ho memapah Chaeri ke ranjang kemudian ia mengambil pisang dan pepaya untuk Chaeri..
"Masih mual?"
"Hmmm.."
"Biar ku panggilkan dokter.."
"Tidak perlu.. Aku baik-baik saja.."
"Kalau ada apa-apa, kau panggil aku.."
"Iya, aku tau.." Chaeri memakan pisang dan pepaya yang telah dikupas dengan Seung Ho yang memperhatikannya..
Keesokan harinya, dokter memeriksa keadaan Chaeri..
"Apa kau masih merasa nyeri?" tanya dokter..
"Ya.. Aku juga masih merasa mual.. Bahkan semalam aku muntah.."
"Akan ku berikan obat lagi dengan dosis lebih tinggi agar kau tidak merasa nyeri dan mual lagi.."
"Baik, dokter.."
"Jangan lupa makan.. Perutmu tidak boleh kosong lebih dari tiga jam.. Makanlah sedikit demi sedikit dengan frekuensi yang tinggi.."
"Baik.." dokter pun pergi dari ruangan Chaeri..
"Ish! Dokter itu mengulang ucapannya lagi.." gumam Chaeri..
"Itu sudah menjadi tugasnya kan.."
"Kau benar-benar tidak akan masuk sekolah untuk tes?"
"Kau mengulang kalimatmu lagi?!"
"Ish!"
"Makanlah.." Seng Ho memberikan makanan untuk Chaeri.. *cklek!*pintu kamar terbuka..
"Eomma?" ucap Chaeri melihat ibunya masuk ke kamarnya..
"Chaeri-ya, apa kau baik-baik saja?"
"Ne, Eomma.."
"Kau tidak ikut tes?!"
"Maaf, Eomma.."
"Bagaimana kau bisa terkena maag akut?! Apa kau tidak makan dengan teratur?!" Chaeri hanya diam..
"Setiap pagi kau selalu pergi ke sekolah tanpa sarapan.. Kau bilang kau akan sarapan di sekolah?! Kenapa kau bisa terkena maag akut?!"
"Eomma, mianhae.."
"Setelah kau keluar dari rumah sakit, kau harus makan tepat waktu! Eomma akan mengawasimu! Kau mengerti?!"
"Iya.."
"Kau benar-benar membuatku khawatir.."
"Maafkan aku.."
"Kau, Yoo Seung Ho kan?"
"Ah? Ne, ahjumma.."
"Terimakasih sudah memberitauku keadaan Chaeri.. Terimakasih juga sudah menjaganya.."
"Sama-sama.."
"Chaeri-ya, apa kau akan baik-baik saja jika Eomma meninggalkanmu sekarang? Eomma harus kembali ke Jepang.."
"Aku tidak apa-apa.. Tapi, apa Eomma tidak lelah jika harus kembali ke Jepang?"
"Tidak.. Eomma melakukan ini juga demi masa depanmu.. Jaga dirimu baik-baik selama Eomma pergi.."
"Baik.."
"Eomma pergi.. Seung Ho-ssi, tolong jaga Chaeri.."
"Baik, Ahjumma.." ibu Chaeri keluar dari ruangan setelah selesai bicara pada Seung Ho..
"Wanita itu khawatir padaku?" ucap Chaeri..
"Dia itu ibumu.. Sudah sepantasnya dia khawatir padamu.. Dasar bodoh!"
"Dia ibu tiriku.."
"Tapi dia yang merawatmu?!"
"Diamlah kau!"
"Baiklah.. Ini!" Seung Ho memberikan stick coklat pada Chaeri..
"Gomawo.." Chaeri memakan stick coklat itu sambil menatap ponselnya untuk browsing.. Sedangkan Seung Ho hanya memandanginya.. Chaeri memakan stick coklat itu dengan perlahan.. Karena merasa gemas dengan cara makan Chaeri, Seung Ho menggigit stick coklat yang tersisa di mulut Chaeri hingga bibirnya bersentuhan dengan bibir Chaeri singkat..
"Yak! Yoo Seung Ho!! Kau mau mati?!!!" teriak Chaeri..
"Haha salah sendiri kenapa kau memakannya begitu?! Kau membuatku gemas.."
"Kau gila!!" Chaeri memukul lengan Seung Ho berkali-kali..
"Yak Chaeri-ya, hentikan!"
"Aku pasti akan membunuhmu jika kau mengulanginya lagi!" Chaeri berhenti memukuli Seung Ho..
"Baik, baik.. Oh ya, ini ciuman ketiga kita kan?!"
"Apa?!"
"Yang pertama dan kedua, saat kau berjanji tak akan memukulku.. Dan ini yang ketiga.."
"Benarkah? Lalu, berapa banyak yeoja yang sudah kau cium??"
"Emmmmm.. Hanya kau.."
"Apa?! Yak namja brengsek, kau pikir aku percaya?!"
"Lalu kau sendiri? Berapa banyak namja yang sudah menciummu??" Seung Ho mendekatkan wajahnya secara perlahan.. Chaeri mulai gugup..
"Siapa namja itu??" ulang Seung Ho pelan masih mendekatkan wajahnya.. Tak begitu lama, bibir Seung Ho telah sampai di bibir Chaeri.. Tak ada respon dari Chaeri, namun ia juga tak menolak.. Seung Ho menangkupkan kedua tangannya di pipi Chaeri..
"Hanya kau, Seung Ho-ya.." ucap Chaeri disela-sela ciumannya.. Setelah mengucapkan hal itu, Chaeri membalas ciuman Seung Ho..
"Saranghae, Chaeri-ya.." ucap Seung Ho pelan membuat Chaeri melepas ciumannya..
"Kau bilang apa?!" tanya Chaeri..
"Ah? Ahhhh.. Tidak.. Aku tidak bilang apa-apa.."
"Yoo Seung Ho! Katakan! Kau baru bilang apa?!"
"Sudah ku bilang aku tidak bilang apa-apa.."
"Yak Yoo Seung Ho!! Apa yang baru saja kau lakukan?!"
"Maksudmu??"
"Kau?? Kau baru saja menciumku?! Yak! Siapa yang memberimu ijin melakukan itu hah?!! Kau ini benar-benar!!" Cbaeri kembali memukuli Seung Ho..
"Yak Lee Chaeri!! Hentikan! Kau juga meresponku!!" ucapan Seung Ho membuat Chaeri berhenti memukulinya..
"Aku? Meresponmu?? Bagaimana mungkin?! Apa aku gila?!"
"Kau tidak percaya?? Apa kita perlu mengulanginya?!"
"Yoo Seung Ho!! Iisshhh!! Pergilah, aku mau istirahat!" Chaeri berbaring membelakangi Seung Ho dan menutup dirinya dengan selimut..
"Baik, istirahatlah.." Seung Ho mencium kepala Chaeri dari balik selimut..
Tiga hari kemudian, Chaeri keluar dari rumah sakit dan keesokan harinya ia kembali ke sekolah untuk ikut tes.. Setelah tes selesai sesuai jadwal, Chaeri dan Seung Ho pergi menemui guru untuk ikut tes susulan..
"Lee Chaeri, kau tidak ikut tes karena kau masuk rumah sakit.. Kami bisa memahaminya.. Tapi kau, Yoo Seung Ho, kenapa kau tidak ikut tes?!" tanya guru dengan tegas..
"Aku.. Aku pergi ke Jepang untuk menemui temanku.." jawab Seung Ho gugup..
"Benarkah? Ada yang melihatmu berkeliaran di rumah sakit tempat Chaeri dirawat.. Kau yakin, kau pergi ke Jepang?"
"Maafkan aku, Guru.. Aku tidak ke Jepang.. Aku ke rumah sakit menemani Chaeri.."
"Kenapa kau menemaninya?! Memangnya kau siapa?!"
"Benar.. Kenapa aku menemaninya?? Karena tak ada satupun orang yang menemaninya.. Ibunya melakukan bisnis di Jepang.. Dia tidak bisa terus-terusan menemani Chaeri.."
"Lalu kenapa harus kau?! Masih banyak teman Chaeri yang lain!"
"Benarkah? Banyak teman Chaeri? Tapi selama aku menemaninya di rumah sakit, tak ada satupun temannya yang datang.. Bahkan tak ada satupun guru yang datang untuk menjenguknya.. Itulah kenapa aku menemaninya di rumah sakit!"
"Baiklah.. Kerjakan tes kalian!" guru itu memberi soal tes kepada Chaeri dan Seung Ho kemudian meninggalkan mereka di sebuah ruangan..
"Kau siap bertempur, Chaeri-ya?"
"Aku selalu siap.." Chaeri dan Seung Ho saling melempar tatapan dan senyuman tajam.. Sedetik kemudian mereka mulai mengerjakan soal yang diberikan.. Sama seperti Chaeri, Seung Ho juga sebenarnya siswa yang memiliki IQ tinggi.. Ia juga sering mendapat peringkat pertama di kelasnya saat SD dan SMP.. Dengan mudah ia mendapat peringkat itu karena ia tak sekelas dengan Chaeri.. Bahkan saat ia dinyatakan naik ke kelas dua saat SMP, ia harus pindah ke Seoul dan di sekolah barunya, ia tetap menjadi siswa yang sangat pintar.. Dalam dua hari, Seung Ho dan Chaeri telah mengerjakan semua tes.. Chaeri pun berjalan pulang.. Di jarak 100 meter dari sekolah, ia melihat sebuah keributan yang melibatkan beberapa siswa melakukan pengeroyokan.. Chaeri pun mendekat ke keributan itu..
"Yak! Apa yang kalian lakukan?!" tanya Chaeri dingin menghentikan keributan itu.. Betapa terkejutnya Chaeri melihat Seung Ho menjadi korban pengeroyokan..
"Kau gadis tengik! Jangan ikut campur!" ucap salah satu siswa..
"Sepertinya aku mengenalmu.. Aaaahhhhh.. Kau anak Guru Do kan? Do Hee Kyung.. Jadi sekarang kau menjadi gangster?? Memalukan!"
"Kau banyak bicara! Pergi dari sini dan jangan ikut campur!"
"Dasar pengecut!"
"Siapa yang kau panggil pengecut?!"
"Kau! Siapa lagi? Kalau kau memang laki-laki, kau tidak akan melakukan pengeroyokan seperti itu.. Kau akan berkelahi satu persatu.."
"Diam kau!!" Hee Kyung menendang Chaeri hingga terjatuh..
"Lee Chaeri?!!!" teriak Seung Ho..
"Cih! Pengecut!" Chaeri bangun dan menendang Hee Kyung.. Perkelahian kembali terjadi dan Chaeri dapat mengalahkan mereka bersama Seung Ho..
"Chaeri-ya, kau baik-baik saja?" tanya Seung Ho khawatir..
"Aku baik-baik saja.. Kau sendiri?"
"Aku juga baik-baik saja.."
"Yang benar saja.. Wajah begitu mana bisa dibilang baik? Keningmu juga berdarah.. Ayo ikut aku!" Chaeri menggandeng Seung Ho ke rumahnya..
"Kenapa kita ke rumahmu?" tanya Seung Ho..
"Apa kau tidak mau mengobati lukamu?"
"Aku tau, tapi kenapa di rumahmu? Bagaimana jika ibumu tau?"
"Ibuku tak ada di rumah.. Duduklah.." Chaeri mengambil kotak P3K dan duduk di samping Seung Ho.. Ia mulai mengobati luka Seung Ho..
"Apa disini tak ada orang?" tanya Seung Ho..
"Ya.. Biasanya jam segini Ahjumma sedang pergi mengurus anaknya.."
"Jadi, karena tak ada orang, kau mengajakku kemari?" ucap Seung Ho dengan wajah evilnya membuat Chaeri berhenti mengobati Seung Ho..
"Apa maksudmu?!"
"Kau ingin berduaan denganku?"
"Yak Yoo Seung Ho!! Jangan berfikir negatif! Hanya karena aku membawamu ke rumah dan mengobatimu, kau jangan salah faham! Aku masih membencimu! Ini, obati saja lukamu sendiri!"
"Aku tidak bisa mengobati lukaku sendiri.. Ayolah, jangan marah.. Chaeri-ya.." dengan wajah kesal, Chaeri kembali mengobati Seung Ho..
"Jika aku mengobatimu diluar dan itu dilihat oleh siswa lain, aku bisa dikurung di gudang untuk yang kedua kalinya.. Aku tidak mau itu terjadi lagi.."
"Apa?! Siapa yang melakukan itu padamu?!"
"Kau tidak perlu tau.. Lupakan saja.."
Keesokan harinya Chaeri di panggil oleh guru..
"Benarkah kau berkelahi di luar sekolah?!" tanya guru..
"Benar.."
"Kenapa?"
"Karena aku tidak suka melihat orang-orang pengecut.. Mereka melakukan pengeroyokan.. Dan aku benci jika harus meihat itu.."
"Meskipun hal itu terjadi di depan matamu, kau tidak boleh berkelahi karena hal itu bukan urusanmu! Kau jangan ikut campur urusan orang lain! Aku akan memberimu surat peringatan!"
"Daripada Anda memberikan surat peringatan itu padaku, lebih baik Anda memberikan surat itu pada putra Anda, Do Hee Kyung.."
"Lee Chaeri! Jaga sikapmu atau aku akan memanggil orang tuamu!" Chaeri mengambil surat peringatan itu dan keluar dari ruang guru..
"Chaeri-ya, ada apa?" tanya Seung Ho saat Chaeri kembali ke kelasnya..
"Guru itu benar-benar gila?!"
"Memangnya ada apa?" Chaeri memberikan surat peringatan itu pada Seung Ho..
"Apa?! Surat peringatan?!"
"Yak pelankan suaramu!!"
"Ah, maaf.. Kenapa kau dapat surat peringatan?!"
"Entahlah.."
Saat pulang sekolah, Chaeri kembali melihat keributan yang sama.. Namun kali ini bukan Seung Ho yang menjadi korban, melainkan Do Hee Kyung.. Chaeri hanya melihat kejadian itu dengan santai..
"Yak! Apa-apaan ini?! Hentikan!!" teriak guru Chaeri, Guru Do..
"Chaeri-ya, hentikan itu!"
"Aku? Untuk apa, Guru? Itu bukan urusanku.. Aku tidak mau ikut campur urusan orang lain.. Aku juga tidak mau mendapat surat peringatan lagi.. Permisi, Guru.." Chaeri melangkah menjauhi gurunya.. Belum terlalu jauh, Chaeri kembali lagi..
"Yak! Hentikan!" teriak Chaeri kemudian menendang salah satu siswa.. Chaeri kembali berkelahi dan mengalahkan mereka.. Setelah mereka kalah, Chaeri merapikan seragamnya kemudian pergi tanpa menghiraukan gurunya.. Keesokan harinya, Chaeri kembali dipanggil ke ruang guru.. Bukan untuk diberi surat peringatan lagi, tapi untuk menarik surat peringatan yang pernah diberikan kepadanya..
Satu minggu kemudian, pengumuman hasil tes dan kenaikan kelas tiba.. Di hari itu, Chaeri tidak datang ke sekolah karena ia takut akan hasil tes.. Ia takut jika hasil yang keluar menyatakan kalau ia kalah.. Di sekolah, semua orang tua telah berkumpul di ruang kelas.. Hasil belajar para siswa telah keluar dan hasil itu menyatakan Chaeri berada di posisi pertama dan Seung Ho di posisi kedua.. Setelah mengetahui hasil itu, Seung Ho mencari Chaeri di sekolah, tapi ia tak menemukannya.. Akhirnya, Seung Ho pergi ke rumah Chaeri..
"Kenapa ku tidak datang?" tanya Seung Ho..
"Aku takut jika aku kalah.. Aku merapikan barang-barangku karena ibuku akan mengirimku ke Amerika.."
"Kau tak perlu melakukan itu.. Lihatlah.." Seung Ho memberikan ponselnya.. Sebelum ia pergi ke rumah Chaeri, ia telah memotret hasil belajar para siswa..
"Kau di posisi pertama.. Kau tak akan pergi ke Amerika.."
"Kau tidak bohong kan?"
"Untuk apa aku bohong?? Kau akan tetap disini.. Chukhahae.."
Sejak saat itu, Chaeri dan Seung Ho berteman di luar sekolah namun tetap bermusuhan di dalam sekolah apalagi soal pelajaran.. Chaeri tetap berada di posisi pertama hingga di akhir sekolah.. Di hari kelulusannya, Chaeri tetap menjadi siswi yang pintar, pendiam dan susah ditebak.. Karena prestasinya, ia dipanggil ke atas panggung untuk memberikan sambutan..
"Selamat pagi.." ucapnya membuka sambutannya..
"Pertama, aku ingin berterimakasih kepada Tuhan untuk semuanya.. Terimakasih untuk guru yang sudah membimbingku.. Terimakasih untuk ibuku yang selalu mendukungku.. Eomma, ini untukmu.. Aku punya dua ibu.. Entah itu ibuku yang ada di surga atau ibuku yang ada disini, ini untukmu.. Untuk ibuku yang ada disini, aku ingin mengatakan sesuatu padamu.. Aku mohon, Eomma.. Berhentilah menekanku untuk selalu berada di atas.. Aku tau kemampuanku dan Eomma juga tau itu.. Eomma tidak perlu menekanku.. Aku menyayangimu, Eomma.. Meskipun terkadang aku merasa kesal padamu, aku tetap menyayangimu.. Terimakasih.." Saat Chaeri turun dari panggung, saat itu juga ibunya menghampirinya..
"Eomma?"
"Gomawo, Chaeri-ya.. Terimakasih kau tetap menyayangiku.. Maaf jika aku terlalu menekanmu.. Tapi, itu semua ku lakukan karena aku tau kau benci kekalahan.. Aku tidak mau kau depresi karena kekalahan.. Di dunia ini hal yang paling kau benci adalah kekalahan.. Jadi aku tidak mau kalau kau kalah.. Mianhae, Chaeri-ya.."
"Eomma??" Chaeri memeluk ibunya dengan rasa terharu.. Setelah kelulusan selesai, Chaeri bersiap untuk pulang..
"Chaeri-ya?!" panggil Seung Ho..
"Eomma, sebentar.." Chaeri menghampiri Seung Ho..
"Aku ingin bicara padamu.." Seung Ho menarik tangan Chaeri.. Mereka berdiri di bawah pohon..
"Ada apa?" tanya Chaeri..
"Aku ingin mengtakan alasanku lima tahun lalu saat kau melihatku bersama yeoja lain di belakang sekolah.."
"Ahhh itu.. Kau tidak perlu menjelaskannya.."
"Tidak! Aku harus menjelaskannya.. Kejadian itu, semua yang kau lihat, semua yang kau dengar.. Itu semua bohong.. Aku menyuruh siswa laki-laki itu untuk mengatakan hal itu padamu.. Dan yeoja itu.. Aku juga menyuruhnya untuk datang kesana.. Aku sama sekali tidak pernah memanfaatkanmu.. Maaf jika saat itu aku menyakitimu.."
"Kenapa? Kenapa kau melakukan itu?"
"Karena aku ingin kau membenciku.. Kau tau, saat itu aku harus pergi ke Seoul.. Aku ingin kau membenciku karena dengan begitu, kau bisa melupakan aku.. Jika aku tak melakukan itu, kau pasti akan sedih karena aku pergi.. Aku tidak bisa meninggalkanmu jika kau bersedih.. Maafkan aku, Chaeri-ya.."
"Begitukah? Apa kau pikir aku melupakanmu?! Aku memang membencimu, tapi aku tak bisa melupakanmu.. Kau melakukan itu atau tidak, aku tidak bisa melupakanmu.. Setiap aku marah, aku selalu mengingatmu.. Sangat sulit untuk melupakanmu.. Selama empat tahun aku selalu berusaha untuk melupakanmu.. Dan disaat aku hampir melupakanmu, kau datang lagi.. Kenapa kau datang saat aku hampir melupakanmu?! Kenapa kau melakukan itu? Apa kau sangat suka menyakiti aku?! Apa perasaanku hanya mainan untukmu?!" air mata Chaeri telah membasahi pipinya.. Seung Ho memegang kedua tangan Chaeri..
"Aku benar-benar minta maaf.. Izinkan aku menebus semua kesalahanku.. Izinkan aku membuatmu bahagia.."
"Chaeri-ya, ayo pergi! Kita hampir terlambat!" teriak ibu Chaeri..
"Ne, Eomma.."
"Chaeri-ya.."
"Mianhae, Seung Ho-ya.. Aku harus pergi.." Chaeri melangkahkan kakinya meninggalkan Seung Ho..
"Chaeri-ya! Lee Chaeri!!" Seung Ho mengejar Chaeri hingga sampai di mobil..
"Chaeri-ya, kau tidak boleh pergi! Kau harus tetap disini.. Apa kau akan meninggalkan aku?"
"Aku minta maaf.."
"Ku mohon, tetaplah tinggal disini.. Disampingku.. Aku tidak akan membuatmu bersedih lagi.. Aku.. Aku mencintaimu, Lee Chaeri.."
"Seung Ho-ya.."
"Aku sangat mencintaimu.. Ku mohon, tinggallah disisiku.."
"Aku minta maaf.." Chaeri masuk ke mobilnya dan mobil pun dijalankan..
"Lee Chaeri?!!!" Seung Ho tampak frustasi dengan kepergian Chaeri..
***
5 tahun kemudian..
Lima tahun kemudian, Chaeri telah menjadi dosen di Harvard University.. Sudah setahun ia menjadi dosen sejak ia lulus pascasarjana di Harvard University.. Dengan IQ tinggi yang ia miliki, ia bisa lulus lebih cepat dari yang lain.. Sementara Seung Ho, dia menjadi pengusaha setelah menyelesaikan kuliah di Oxford University.. Saat ini, Seung Ho berada di Harvard University untuk menemui Chaeri.. Ia duduk di sebuah kursi yang ada di taman.. Seperti saat SMA, semua mahasiswa unversitas itu memandangi Seung Ho.. Hal itu terdengar sampai di kelas Chaeri mengajar.. Saat Chaeri mengajar, ia terganggu oleh dua orang murid yang mengobrol..
"Apa yang kalian bicarakan?!" tanya Chaeri..
"Sorry, Miss.. Kami membicarakan pria Korea yang ada di taman kampus.. Kami baru pertama kali melihatnya disini.. Menurut mahasiswa lain, pria itu mencarimu.."
"Mencariku?"
"Benar.."
"Kerjakan soal di depan!"
"Apa?!"
"Kerjakan!" jam pelajaran Chaeri telah selesai.. Ia berjalan ke ruangannya.. Saat sampai di taman, Chaeri melihat siapa pria yang dimaksud oleh muridnya.. Ia sangat terkejut melihat Seung Ho duduk di taman itu.. Chaeri pun menghampiri Seung Ho..
"Seung Ho-ya?" ucap Chaeri..
"Apa kabar, Chaeri-ya?"
"Aku baik.."
"Penampilanmu benar-benar berubah.. Aku sampai tidak mengenalimu saat kau berjalan kemari.. Kau sangat cantik.."
"Gomawo.. Emm, kenapa kau datang kemari?"
"Duduklah.." Chaeri pun duduk di samping Seung Ho..
"Aku kesini untuk memberikan sesuatu padamu, Tapi sebelum aku memberikannya, aku ingin bertanya padamu."
"Apa itu??"
"Chaeri-ya.. Apa kau mencintaiku?"
"Apa?"
"Jawablah.. Apa kau mencintaiku?"
"Seung Ho-ya, kenapa kau bertanya begitu?"
"Aku hanya ingin tau.."
"Seung Ho-ya.. Aku.."
"Apa kau sudah menikah?!"
"Dasar bodoh! Apa kau melihat ada cincin di jariku?!"
"Lalu kenapa kau tidak menjawabku? Jawablah pertanyaanku.."
"Seung Ho-ya, apa kau tau bagaimana perasaanku sepuluh tahun lalu? Perasaanku masih sama seperti sepuluh tahun lalu.."
"Apa? Jadi kau masih membenciku?!"
"Aish! Dasar bodoh! Bukan itu.."
"Aaahhhh.. Jadi kau masih menyukaiku??"
"Aku tidak bilang begitu.."
"Aku tau kalau kau masih menyukaiku.."
"Lalu, apa yang akan kau berikan padaku?"
"Oh ya, ini.." Seung Ho mengeluarkan sesuatu dari balik coat yang ia pakai.. Sesuatu yang terlihat seperti undangan pernikahan..
"Apa ini?"
"Itu undangan pernikahanku.." ucapan Seung Ho membuat Chaeri sangat terkejut..
"Undangan pernikahan?"
"Benar.. Nama calon istriku sama denganmu, Lee Chaeri.. Aku harap kau akan datang di hari pernikahanku.."
"Kau memberiku undangan setelah kau bertanya perasaanku?! Apa kau gila?!"
"Ya.. Aku memang gila.. Terimakasih sudah menyukaiku selama sepuluh tahun.. Aku sangat berterimakasih.."
"Kau benar-benar mempermainkan aku.. Kau akan mendapat balasannya, Yoo Seung Ho.."
"Itulah yang ku harapkan.. Datanglah ke penikahanku.. Kedatanganmu sangat berarti bagiku.. Pernikahanku tak akan terlaksana jika kau tidak datang.."
"Baik.. Aku akan datang dan membawakan hadiah untuk pernikahanmu.."
"Gomawo, Chaeri-ya.." Seung Ho tersenyum kemudian pergi meninggalkan Chaeri..
Hari pernikahan Seung Ho tiba.. Semua orang sudah hadir di pernikahan Seung Ho.. Semua orang sudah hadir, tapi Chaeri belum terlihat.. Seung Ho pergi ke depan untuk menunggu Chaeri.. Beberapa menit kemudian, Chaeri datang dengan memakai gaun putih dan membawa paper bag di tangannya.. Ia berjalan ke arah Seung Ho..
"Akhirnya kau datang juga.. Aku takut kau tidak akan datang.." ucap Seung Ho..
"Aku sudah bilang kalau aku akan datang.. Jadi, aku pasti datang.. Kenapa kau disini?? Bukankah ini pernikahanmu? Kau seharusnya di dalam kan?"
"Bagaimana aku bisa di dalam kalau calon istriku belum datang?"
"Apa?! Calon istrimu belum datang?"
"Ya.. Ayo, kita masuk!" Seung Ho memberikan lengan kirinya untuk Chaeri..
"Untuk apa?"
"Lee Chaeri, maukah kau menikah denganku?"
"Apa?! Menikah denganmu?! Apa maksudmu? Bukankah ini pernikahanmu dengan.."
"Lee Chaeri! Ini pernikahanku dengan Lee Chaeri.. Lee Chaeri calon istriku itu adalah kau.."
"Apa?!"
"Chaeri-ya, apa kau mau menikah denganku?"
"Tapi, ini.."
"Iiisshhhh!! Aku hanya butuh jawaban iya atau tidak.. Aku tidak butuh jawaban lain.. Chaeri-ya.. Aku mencintaimu.. Hanya kau yang ku cintai di dunia ini.. Tak ada wanita lain.. Kau mau menikah denganku kan?" dengan wajah yang tidak percaya, Chaeri menganggukkan kepalanya..
"Iya.. Aku mau.." ucapnya kemudian.. Dengan senyum yang mengembang di wajahnya, Seung Ho menawarkan lengannya pada Chaeri.. Chaeri pun menautkan tangannya di lengan Seung Ho dan masuk ke ruang pernikahan.. Pernikahanpun dilakukan.. Chaeri dibawa oleh Seung Ho ke rumah baru mereka.. Mereka berjalan ke kamar.. Di dalam kamar, Seung Ho menahan Chaeri yang ingin membuka jendela.. Ia mendekat ke arah Chaeri..
"Saranghae, Chaeri-ya.."
"Nado saranghae, Seung Ho-ya.." Seung Ho menarik Chaeri ke dalam pelukannya kemudian menciumnya..
"Kau benar-benar mempermainkan aku!" ucap Chaeri setelah ciumannya terhenti..
"Aku ingin kau membenciku meskipun kau mencintaiku.."
"Kau tau, kau akan mendapat balasan untuk itu!"
"Aku tak sabar menunggu balasan yang akan kau berikan!" Seung Ho menciumi setiap inchi wajah Chaeri..
"Aku sangat mencintaimu, Lee Chaeri.. Kau milikku, sekarang.." ucap Seung Ho memandang Chaeri setelah ia selesai menciumi Chaeri..
"Aku tau!" Chaeri menarik Seung Ho ke dalan pelukannya dan mereka kembali berciuman..

1 komentar:

  1. Saya sampai terhenyak melihat tulisan ini, bagaimana penulis menyampaikan cerita dan dengan detail lokasi di Korea yg sangat presisi, padahal domisili penulis bukan di Korea,... untuk penulis Anda luar biasa, me..saya titip cinta ❤️ dan cium untuk penulis yg saya Kagumi ini 😘

    BalasHapus