Title : Hate You,
Love You
Cast : Yoo Seung
Ho, Lee Chaeri
Length : oneshoot
Sorry Typo XD
Busan Foreign
Language High Scool, sebuah sekolah menengah atas yang ada di Kota Busan..
Seorang siswi bernama Lee Chaeri tengah duduk di tempatnya, di kursi paling
belakang di sudut kanan ruangan.. Meskipun ia duduk di belakang, ia bukan
seorang siswi biasa.. Dia adalah siswi yang mendapat peringkat satu paralel di
sekolah untuk kelas satu tahun lalu dan di kelas dua ini dia berharap hal itu
terulang kembali.. Bukan berharap, tapi hal itu harus kembali terjadi.. Chaeri
melihat keadaan luar melalui jendela di samping tempat duduknya..
*krriiiinngggg!!* bel berbunyi tanda pelajaran akan segera dimulai.. Semua
siswa yang berada di luar kelas langsung masuk ke kelas dengan buru-buru hingga
bertabrakan.. Chaeri tak mempedulikan hal itu.. Ia masih fokus dengan dunia di
luar kelasnya.. Hingga guru memasuki kelas pun, ia masih tak peduli.. Guru masuk
ke kelas dengan seorang siswa laki-laki.. Semua pandangan tertuju ke siswa
itu..
"Selamat
pagi, anak-anak!" ucap guru kelas itu.. Chaeri masih tak peduli..
"Selamat
pagi, Guru!" jawab semua siswa serempak..
"Kali ini
kalian akan punya teman baru.. Perkenalkan dirimu.."
"Baik..
Annyeong haseyo.. Aku Seung Ho, Yoo Seung Ho.." mendengar siswa baru itu menyebut namanya, Chaeri
mengalihkan pandangannya ke siswa baru itu..
"Aku
pindahan dari Seoul.. Ku harap, kita bisa berteman.." lanjut Seung Ho..
"Baiklah,
Seung Ho-ya kau bisa duduk di kursi yang masih kosong itu, disamping
Chaeri.." Chaeri berdiri mendengar ucapan gurunya..
"Tidak!
Kenapa dia harus duduk disampingku?!" protes Chaeri..
"Memangnya
kenapa? Di kelas ini hanya ada satu kursi yang masih kosong dan itu ada di
sampingmu.. Seung Ho-ya, duduklah.."
"Baik.."
Seung Ho membungkukkan badan dan berjalan menuju kursi di samping Chaeri..
Chaeri hanya menatap Seung Ho dengan tatapan yang sangat tajam.. Seung Ho
tersenyum evil dan duduk di kursinya dan diikuti oleh Chaeri..
"Baiklah..
Silakan ikuti pelajaran berikutnya.." guru itu meninggalkan ruang kelas..
"Lama tidak
bertemu.. Bagaimana kabarmu, Lee Chaeri??" ucap Seung Ho pelan dengan
menatap Chaeri..
"Jangan
pura-pura bertingkah baik denganku.. Ambil semua berkasmu dan pergi dari
sekolah ini!" balas Chaeri tanpa menatap Seung Ho..
"Akan ku
pertimbangkan.. Aku akan pergi jika aku tidak menyukai tempat ini.. Tapi jika
aku suka, kau akan sering melihatku.." sahutnya.. tak lama, semua siswi
yang ada di kelas itu mengerubungi Seung Ho karena memang Seung Ho seorang
siswa yang tampan..
"Menjijikkan!"
gumam Chaeri.. Daripada harus ikut mengerubungi Seung Ho, Chaeri menyibukkan
dirinya dengan menggambar.. Tak lama, guru pun datang dan semua siswa kembali
ke tempat duduknya.. Saat pelajaran, Chaeri memakai Headphone-nya sambil terus
menggambar.. Seung Ho yang melihatnya hanya tersenyum dingin..
"Apa kau
masih seperti dulu?" batin Seung Ho..
"Chaeri-ya?
Chaeri-ya?!" teriak guru dari depan yang membuat Chaeri melepaskan headphone-nya..
"Ada apa
guru?" tanya Chaeri dingin..
"Kau mau
ikut pelajaran atau mendengarkan musik?!"
"Keduanya.."
"Kau ini
benar-benar?!! Cepat kemari dan kerjakan soal di depan!!" Chaeri melangkah
dengan malas dan mengambil spidol lalu mengerjakan soal yang ada di papan tulis
dengan waktu yang tak lama..
"Kalau kau
bisa mengerjakan soal secepat ini, kenapa kau masih sekolah?! Kau seharusnya
menjadi dosen saja! Untuk apa kau sekolah?!" bentak gurunya..
"Aku sekolah
agar aku bisa mendapat ijazah, jadi dosen juga perlu ijazah kan?" Chaeri
meletakkan spidol dan kembali ke tempatnya.. Semua murid tak merasa heran
dengan apa yang baru saja dilakukan oleh Chaeri karena dia memang seorang siswi
jenius dengan IQ tinggi.. Chaeri melanjutkan aktivitasnya mendengarkan musik
dan menggambar.. Bel istirahat telah berbunyi.. Semua siswi kembali mengerumuni
Seung Ho..
"Hhhhh..
Sangat menjijikkan hingga membuatku ingin muntah!" gumam Chaeri yang
kemudian meninggalkan kelas..
"Jadi, kau
pindahan dari Seoul?" tanya seorang siswi..
"Ya.."
jawab Seung Ho.. Berbagai pertanyaan muncul untuk Seung Ho..
"Oh ya,
siapa peringkat pertama di kelas ini?" Seung Ho berbalik bertanya..
"Siapa lagi?
Dia yang duduk si sampingmu.."
"Lee
Chaeri?"
"Bagaimana
kau tau nama lengkapnya?"
"Ehh.. Aku
hanya menebaknya.."
"Begitukah? Ngomong-ngomong, dia pergi kemana? Tidak
biasanya dia keluar kelas.."
"Memangnya
kenapa?"
"Selain
pintar, dia adalah orang yang pendiam
dan tidak peduli dengan apa yang terjadi di sekitarnya.. Tapi aku pernah
melihatnya peduli dengan orang lain.. Meskipun dia pendiam, dia sangat
menakutkan jika dia marah.. Meskipun begitu, dia bisa jadi teman yang sangat
baik jika kau bersikap baik padanya.. Ia juga sangat aneh.. Tempat yang
satu-satunya ia kunjungi adalah perpustakaan.. Bukan untuk membaca, tapi untuk
menggambar, mendengarkan musik dan terkadang dia tidur disana.. Dia sangat aneh
kan?! Apa mungkin dia pergi ke perspustakaan?"
"Dia tidak
pernah berubah.." ucap Seung Ho pelan..
"Kau bilang
apa?"
"Ahh tidak..
Aku tidak bilang apa-apa.." beberapa menit kemudian, Chaeri memasuki
kelas..
"Yak Lee
Chaeri, kau darimana?? Apa kau dari perpustakaan?" tanya salah satu
siswa..
"Seperti
yang kau tau.."
"Dasar kau
manusia perpus.." Chaeri hanya tersenyum dan kembali ke tempatnya..
"Mereka
bilang kau tidak suka keluar dari kelas, kenapa kau keluar dari kelas?"
tanya Seung Ho dengan pandangan ke depan setelah beberapa siswi tak lagi
mengerumuninya..
"Karena aku
hampir muntah melihat pemandangan yang mejijikkan.. Seperti makanan busuk yang
dikerumuni lalat.."
"Kau memang
tak pernah berubah.."
"Jangan
pernah bicara denganku lagi!"
Bel pulang telah
berbunyi dan Chaeri langsung keluar dari kelasnya dengan Seung Ho yang
mengikutinya dari belakang.. Semua siswi di sekolah itu memandang Seung Ho
dengan penuh kagum.. Seung Ho terus mengkuti Chaeri hingga keluar dari sekolah
sampai di perumahan..
*Flashback*
Empat tahun lalu,
Seung Ho berjalan bersama Chaeri setelah pulang sekolah..
"Chaeri-ya,
gomawo.. Kau sudah menolongku dari anak-anak itu.." ucap Seung Ho..
"Untuk apa
kau berterimakasih? Aku sudah seharusnya melakukan itu.. Aku benci jika ada
orang yang ditindas seperti itu.."
"Apa kau
sibuk?"
"Sepertinya
tidak.. Kenapa?"
"Mau pergi
denganku?"
"Kemana?"
"Entahlah..
Kita pergi saja.."
"Emmmm..
Baiklah.."
*Flashback End*
Chaeri
menghentikan langkahnya..
"Sampai
kapan kau akan mengikutiku?" ucapnya tanpa berbalik..
"Siapa yang
kau maksud? Aku? Bagaimana bisa kau bilang kalau aku mengikutimu? Apa kau lupa
dimana rumahku? Kita searah! Jadi kau jangan terlalu percaya diri.. Aku tidak
mengikutimu!" sahut Seung Ho..
"Ahhhhh
kalau begitu, jalanlah dulu.."
"Kenapa? Kau
mau mengikutiku?"
"Cih!"
Chaeri berbalik..
"Yak! Aku
benci kau, Yoo Seung Ho! Sangat membencimu!"
"Kenapa kau
membenciku? Bukankah kita berteman?"
"Berteman?
Cih! Sejak kapan kita berteman?!!"
"Sejak
SMP.." Chaeri melangkahkan kakinya ke arah Seung Ho dan mendekatkan
wajahnya ke samping kanan kepala Seung Ho mendekati telinganya..
"Kau benar..
Kita memang berteman sejak SMP.. Tapi sejak aku mendengar dan melihat hal itu,
saat itu pula pertemanan kita berakhir.. Mengerti?!" ucap Chaeri dengan
penuh penekanan kemudian menjauhkan diri dari Seung Ho..
"Kau masih
marah akan hal itu?" tanya Seung Ho.. Chaeri tersenyum seduktif..
"Tidak.. Kau
jangan pernah berbicara padaku lagi.. Meskipun kau ada di depanku, aku tak akan
pernah menganggapmu ada.." Chaeri mulai melangkahkan kakinya..
"Aku tau kau
masih marah.. Apa kau belum melupakannya?!" ucap Seung Ho membuat Chaeri
menghentikan langkahnya..
"Aku sudah
melupakan semuanya.. Aku sudah melupakanmu dan juga kenangan antara
kita.." jawab Chaeri tanpa berbalik dan kemudian kembali melangkahkan
kakinya..
"Kau belum
melupakannya, Chaeri-ya.." ucap Seung Ho.. Ia kembali menyusul Chaeri..
"Kau tau aku
kan?! Semakin aku dilarang, semakin aku akan menentangnya!" ucap Seung
Ho..
"Kau
melarangku untuk bicara padamu.. Itu berarti aku akan selalu bicara padamu
bahkan aku akan mulai mengganggumu.." lanjutnya..
"Kau tau apa
akibatnya jika menggangguku!" sahut Chaeri..
"Tentu aku
tau.. Itulah kenapa aku mengganggumu.. Kau akan membalas apapun perlakuan yang
kau terima.. Dan aku akan terus mengganggumu.." tanpa membalas perkataan
Seung Ho, Chaeri melanjutkan langkahnya..
Saat Chaeri masuk
ke kamarnya, ia langsung meluapkan kemarahannya pada barang di sekitarnya..
"Yoo Seung
Ho!! Kenapa kau harus kembali?!! Kenapa kau harus muncul lagi setelah aku bisa
melupakanmu?! Aku benci kau, Yoo Seung Ho!!"
Keesokan harinya,
seperti biasa Chaeri duduk di tempatnya sambil memandang dunia luar.. Saat
istirahat terakhir sebelum pelajaran selesai, semua siswa berganti pakaian
karena baru saja pelajaran olahraga.. Saat semua siswa berganti pakaian, Seung
Ho dengan hati-hati mengoleskan lem di kursi Chaeri.. Setelah melakukannya,
Seung Ho kembali keluar.. Tak begitu lama, Chaeri masuk ke kelas.. Saat ingin
duduk, ia membatalkannya.. Ia melihat kursinya dengan seksama..
"Kau
melakukannya dengan sangat baik, Seung Ho-ya.. Tapi kau kurang rapi.."
ucap Chaeri dengan senyuman dinginnya.. Semua siswa telah kembali ke dalam
kelas dan siap untuk melanjutkan pelajaran.. Setelah pelajaran selesai, bel
pulang berbunyi.. Semua siswa buru-buru meninggalkan kelas meninggalkan Chaeri
yang masih mengemasi buku dan Seung Ho yang menunggu reaksi dari Chaeri..
Setelah selesai membereskan buku, Chaeri berdiri membuat Seung Ho terkejut..
Seung Ho pun mencoba berdiri namun ia sangat terkejut mengetahui kursi yang ia
duduki menempel di celananya..
"Tidak bisa
berdiri? Kau menempel dengan kursimu?" tanya Chaeri dingin yang disertai
dengan senyuman sinisnya.. Seung Ho hanya menatapnya kesal..
"Ini adalah
responku.. Apa kau akan berhenti?!" lanjutnya..
"Tidak!"
"Baiklah..
Aku pulang dulu.. Selamat menikmati kencan dengan kursimu.. Annyeong.."
Chaeri melenggang pergi dari hadapan Seung Ho..
"Issssshhh!!!
Sial sial sial!!" teriak Seung Ho dengan penuh kekesalan.. Ia berusaha
keras untuk lepas dari kursinya.. Setelah cukup lama mencoba, akhirnya ia
terlepas dari kursinya namun celananya harus menjadi korban karena celananya
robek..
"Aigoo
celanaku?! Lee Chaeri!! Aku tidak akan menyerah semudah ini!!" Seung Ho
pulang dengan memanggil supirnya untuk menjemputnya di sekolah..
Keesokan harinya
Seung Ho kembali mengerjai Chaeri, namun lagi-lagi hal itu menjadi senjata
makan tuan untuk dirinya dan itu berlangsung selama beberapa hari.. Chaeri
selalu lepas dari jebakan Sung Ho karena ia adalah orang yang sangat teliti..
Dia bisa merasakan perbedaan suatu tempat meskipun hanya sedikit perubahan yang
bahkan tak ada seorang pun yang tau..
Di pagi hari,
Chaeri masuk ke kelasnya.. Ia sangat terkejut melihat beberapa siswa laki-laki
duduk dan berkumpul di kursinya.. Ia pun menghampiri siswa itu..
"Apa yang
kalian lakukan di tempatku?" tanya Chaeri dingin..
"Memangnya
kenapa? Terserah kami mau duduk dimana.. Lagipula ini bukan sekolah milikmu
kan?!" ucap salah seorang siswa..
"Pergi! Pergi
dari kursiku!" ucapan Chaeri tak dihiraukan oleh siswa itu..
"Ku bilang
pergi!!" Chaeri menarik siswa yang duduk di kursinya dan menjatuhkannya..
Dengan wajah dingin, Chaeri duduk di kursinya..
"Pergilah!"
ucapnya.. Semua siwa itu pun berdiri di depan Chaeri..
"Dengar!
Urusan kita belum selesai.. Kami akan menyelesaikan ini di lain
kesempatan.." ucap salah satu siswa.. Tanpa mereka sadari, Seung Ho masuk
ke kelas dan melihat kejadian itu..
"Bagaimana
bisa ada seorang perempuan sepertimu?! Melihat sikapmu, aku yakin tak ada
seorang laki-lakipun yang menyukaimu!!" lanjut yang lain..
"Yak! Apa
yang kalian lakukan disana?!" teriak Seung Ho.. Mendengar teriakan Seung
Ho, semua siswa itu pergi dari hadapan Chaeri dan keluar dari kelas melewati
Seung Ho yang berdiri di belakang pintu.. Setelah mereka pergi, Seung Ho duduk
di kursinya..
"Jangan dengarkan
apa yang mereka katakan.. Kau tau ada laki-laki yang pernah menyukaimu.."
ucap Seung Ho..
"Jangan ikut
campur urusanku dan jangan bersikap sok baik padaku!" balas Chaeri..
Saat memasukan
buku ke dalam tas, Chaeri menemukan sebuah kertas yang jatuh dari dalam
mejanya.. Ia mengambil dan membacanya..
"Pulang
sekolah, pergi ke belakang sekolah.. Kita selesaikan urusan kita disana!"
isi kertas itu.. Seung Ho yang melihat Chaeri membaca kertas itu pun bertanya..
"Apa
itu?" tanya Seung Ho..
"Bukan
apa-apa!" jawab Chaeri yang meninggalkan Seung Ho.. Merasa ada yang tidak
beres, Seung Ho pun mengikuti Chaeri..
Di belakang
sekolah, Chaeri menemui siswa yang tadi duduk di kursinya..
"Apa yang
kalian mau?! Cepat katakan agar aku bisa cepat pulang.." ucap Chaeri
dengan melipat kedua tangannya di depan dada..
"Dengar, Lee
Chaeri! Jangan hanya karena kau mendapat peringkat satu di sekolah, kami akan
takut padamu.. Jika kau berpikir kami akan takut, kau salah besar! Kami sama
sekali tidak takut padamu!" Chaeri hanya tersenyum dingin..
"Dengar!
Siapa yang minta kalian takut padaku?! Aku tidak pernah meminta siapapun untuk
takut padaku.. Aku hanya bersikap biasa pada semua orang.."
"Kau banyak
bicara!" *plakkk!!!* seorang siswa menampar Chaeri hingga terjatuh dan
sudut bibirnya mengeluarkan darah..
"Yak!!"
teriak Seung Ho yang menghampiri mereka..
"Apa yang
kalian lakukan?!" lanjutnya..
"Kau murid
baru jangan ikut campur!"
"Dasar pengecut!!"
Seung Ho berkelahi dengan siswa-siswa itu hingga berhasil mengalahkannya dan
mereka pergi..
"Kau
baik-baik saja? Astaga kau berdarah.." ucap Seung Ho yang mendekati
Chaeri..
"Sudah ku
bilang ini bukan urusanmu!" Chaeri bangun dan mulai berjalan..
"Tidak
bisakah kau bilang terimakasih?!" Chaeri berbalik..
"Terimakasih?
Untuk apa?? Aaahhhh.. Aku menganggap ini inpas.."
*Flashback*
"Yak
hentikan!!" teriak Chaeri menghampiri Seung Ho yang dipukul oleh temannya
saat SMP..
"Kau jangan
ikut campur!"
"Pergi dari
temanku!!" Chaeri membalas perbuatan yang mereka lakukan pada Seung Ho..
"Seung
Ho-ya.. Kau baik-baik saja?" tanya Chaeri..
"Chaeri-ya..
Gomawo.." Seung Ho langsung memeluk Chaeri dengan sangat erat..
"Seung
Ho-ya.." Seung Ho melepas pelukannya..
"Chaeri-ya..
Kau selalu datang saat aku dalam keadaan seperti ini.. Gomawo.."
*Flashback End*
"Jadi kau
tidak melupakannya??" tanya Seung Ho.. Chaeri tak menjawab dan melanjutkan
langkahnya..
"Yak Lee
Chaeri!!!" tiba-tiba Seung Ho mendorong Chaeri hingga membuatnya
terjatuh..
"Yoo Seung
Ho!!" Chaeri bangun dan menendang Seung Ho hingga ia terjatuh.. Chaeri
memegang kerah Seung Ho dan mengepalkan tangan untuk memukulnya tapi ia
menahannya..
*Flashback*
Chaeri dan Seung
Ho berjalan pulang dari sekolah menuju rumahnya..
"Chaeri-ya.."
"Ya.."
"Kenapa kau
selalu menolongku?"
"Karena kau
temanku.."
"Apa suatu
hari nanti kau juga akan memukulku seperti mereka?"
"Apa?! Tentu
saja tidak.. Kau temanku.. Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah memukulmu
apapun yang terjadi.. Kau satu-satunya temanku.."
"Benarkah?
Kau janji?!"
"Aku
berjanji.. Aku Lee Chaeri tidak akan memukul Yoo Seung Ho apapun yang
terjadi.." ucap Chaeri tegas dengan mengangkat tangan kanannya..
"Kalau
begitu, jika begini kau juga tidak akan memukulku!" *cup!* Seung Ho
mengecup singkat bibir Chaeri..
"Yak Yoo
Seung Ho!! Kau mau mati?!" Chaeri mengangkat tangannya untuk memukul Seung
Ho..
"Yak kau
janji tidak akan memukulku kan?" Seung Ho kembali mengecup singkat bibir
Chaeri kemudian berlari meninggalkan Chaeri..
"Yoo Seung
Ho!! Aku akan membunuhmu!!" Chaeri berlari mengejar Seung Ho yang
meninggalkannya..
*Flashback End*
Masih menahan
pukulannya, perlahan sebutir air mata keluar dari mata Chaeri dan menetes di
atas pipi Seung Ho..
"Argh!!"
Chaeri memukul jalan di samping kiri wajah Seung Ho dan melepaskan tangannya dari
kerah Seung Ho..
"Jangan
pernah muncul lagi di depanku!" Chaeri berdiri dan meninggalkan Seung Ho..
Seung Ho pun berdiri..
"Kenapa kau
tidak memukulku? Apa kau takut melanggar janjimu?" tanya Seung Ho.. Chaeri
berhenti dan berbalik..
"Janji?
Janji apa?"
"Aku yakin
kau tidak memukulku karena kau telah berjanji kau tidak akan memukulku apapun
yang terjadi.."
"Janji
katamu? Aku merasa aku tak pernah berjanji apapun padamu.. Mungkin kau menilai
kalimatku sebagai sebuah janji.."
"Jangan
bohong padaku.." *plak!* Chaeri menampar Seung Ho..
"Lee
Chaeri??" Chaeri kembali menampar Seung Ho hingga tiga kali..
"Aku tidak
pernah berjanji apapun padamu.." Chaeri pergi meninggalkan Seung Ho yang
memegang pipinya.. Di dalam kamar, Chaeri duduk di balik pintu kamarnya.. Ia
memandang tangannya dan menangis mengingat apa yang baru saja terjadi..
"Mianhae,
Seung Ho-ya.." ucapnya kemudian memeluk tangannya.. Di sisi lain, Seung Ho
duduk di depan cermin yang ada di kamarnya memandangi pipinya..
"Tidak,
tidak.. Chaeri tidak mungkin mengingkari janjinya.. Dia pasti masih sangat
marah padaku.. Seseorang bisa saja bisa berbuat sesuatu yang tidak sesuai
dengan keinginannya saat dia sedang marah.. Mungkin itu yang dirasakan Chaeri
sekarang.." ucap Seung Ho..
Di sekolah, Seung
Ho masuk ke kelasnya dengan pipi yang masih terlihat merah.. Hal itu membuatnya
menjadi pusat perhatian dan para siswi pun mengerumuninya..
"Oppa, kau
kenapa? Kenapa pipimu merah?"
"Ahh ini?
Tidak apa-apa.. Semalam ada nyamuk yang menggigitku dan aku memukulnya terlalu
keras.." Chaeri yang mendengarnya hanya terdiam.. Rasa bersalah terlihat
di wajahnya..
"Chaeri-ya,
tanganmu kenapa?" tanya salah satu teman Chaeri yang melihat tangan Chaeri
dibalut perban..
"Tidak
apa-apa.."
"Pipimu juga
sedikit memar.. Kau pasti berkelahi lagi.. Iya kan?"
"Tidak.. Aku
tidak berkelahi.."
"Ishh.. Kau
bohong.." beberapa saat kemudian guru masuk dan membagikan soal tes pada
semua siswa kecuali Chaeri..
"Lee Chaeri,
kau boleh ambil soalmu jika kau sudah ingin mengerjakannya.." ucap guru
yang dibalas anggukan oleh Chaeri.. Dua puluh menit terakhir sebelum tes
selesai, Chaeri mengambil soal dan mulai mengerjakannya..
"Baik,
anak-anak, kalian boleh mengumpulkan jawaban tes.." Chaeri pun
mengumpulkan jawabannya dan diikuti oleh siswa lain.. Beberapa hari setelah
itu, pengumuman hasil tes tengah semester telah keluar.. Seperti biasa, Chaeri
menempati posisi pertama.. Namun ada siswa lain pula yang berada di posisi yang
sama.. Posisi pertama ditempati oleh dua orang yaitu Chaeri dan Seung Ho..
"Chukhahae,
kau hebat.." ucap Seung Ho dari samping Chaeri.. Chaeri hanya meliriknya
tajam dan meninggalkannya.. Terdengar jelas banyak siswi yang memberikan ucapan
dan pujian untuk Seung Ho.. Saat keluar dari sekolah, Chaeri terkejut melihat ibunya
di depan gedung sekolahnya..
"Eomma? Apa
yang Eomma lakukan disini?" tanya Chaeri gugup..
"Bagaimana
itu bisa terjadi?"
"Maksud
Eomma?" ibu Chaeri menunjukan ponselnya pada Chaeri..
"Kau kira
aku tidak tau? Bagaimana bisa kau kalah dari siswa bernama Yoo Seung Ho?! Siapa
dia? Nama itu terdengar familiar di telingaku.."
"Dia.. Dia
adalah temanku saat SMP.."
"Bagaimana
kau bisa kalah darinya?!"
"Eomma, aku
tidak kalah! Aku masih berada di posisi pertama.."
"Memang..
Tapi anak itu juga berada di posisi yang sama denganmu! Selama aku merawatmu,
ini adalah hasil terburuk yang pernah kau dapat.. Itu artinya kau telah kalah!
Jika sampai ini terulang lagi di masa depan, aku tidak segan-segan mengirimmu
ke Amerika.."
"Eomma?!"
tanpa mempedulikan Chaeri lagi, ibunya masuk ke mobil dan meninggalkan Chaeri
disana.. Chaeri tampak kesal dengan apa yang ibunya ucapkan.. Ia mengacak
rambutnya kemudian melangkahkan kakinya.. Ia pergi ke columbarium untuk
mengunjungi ibunya yang telah lama meninggal.. Ibu yang merawatnya saat ini
adalah ibu tirinya, sedangkan ayahnya tak pernah ada waktu untuk bertemu dengan
Chaeri.. Jangankan bertemu, mengirim SMS pun tak sempat..
"Eomma..
Bagaimana kabar Eomma sekarang? Aku yakin, Eomma pasti bahagia disana.. Eomma..
Katakan padaku kalau kehidupan disana lebih bahagia daripada disini.. Eomma..
Bolehkah aku bertemu denganmu? Aku merindukanmu, Eomma.. Aku sangat
merindukanmu.." ucap Chaeri sambil menangis..
"Eomma..
Wanita itu terus-terusan memintaku untuk terus berada di posisi pertama.. Eomma,
aku lelah.. Aku lelah harus terus-terusan di posisi itu.. Aku bosan.. Aku tau
kemampuan yang ku miliki.. Tapi aku ingin menjalani kehidupanku seperti remaja
yang lain.. Eomma, aku harus bagaimana?? Hiks.." lanjutnya..
"Lee
Chaeri.." panggil Seung Ho dari arah belakang Chaeri.. Chaeri menghapus
air matanya..
"Apa yang
kau lakukan disini?!" tanya Chaeri dengan suara yang bergetar..
"Chaeri-ya,
mianhae.. Aku tidak sengaja mendengar pembicaraanmu dengan ibumu tadi di
sekolah.."
"Kau
melihatnya? Bagus! Kau benar-benar melihatku hancur di depan ibuku.. Lalu, apa
kau akan mentertawakan aku? Silakan.. Silakan kau tertawa sepuasmu.. Aku tidak
akan melarangmu.. Dan untuk tes di akhir semester, aku tidak akan berbagi
tempat denganmu apalagi kalah darimu.. Mulai sekarang, kau adalah
musuhku?!" Chaeri berbalik dan melangkahkan kakinya melewati Seung Ho..
***
"Chaeri-ya,
aku ingin bicara denganmu sepulang sekolah.. Temui aku di belakang sekolah..
Seung Ho.." isi tulisan di kertas yang Chaeri temukan di dalam lacinya saat
ia membereskan bukunya.. Ia pun berjalan menuju belakang sekolah..
"Kenapa aku
harus pergi ke belakang sekolah dan menemui namja tengik itu?!" ucapnya
pada dirinya sendiri.. Ia pun melanjutkan langkahnya.. Ia tak melihat siapapun
disana.. Saat akan melangkahkan kaki, ia mendengar sebuah suara.. Dengan
langkah pelan, ia berjalan menuju sumber suara itu.. Sumber suara itu berasal
dari Seung Ho dan seorang siswi di sekolahnya sedang berpelukan..
"Yoo Seung
Ho-ssi, apa yang mau kau katakan padaku?!" tanya Chaeri dengan wajah
dingin membuat Seung Ho melepas pelukannya..
"Kau
pergilah dulu.." ucap Seung Ho pada siswi itu.. Dia mengangguk dan pergi
dari tempat itu..
"Apa yang
mau kau katakan?!" tanya Chaeri.. Seung Ho melangkah mendekati Chaeri
kemudian tersenyum..
"Chaeri-ya,
apa kau ingat sesuatu?" tanya Seung Ho menatap Chaeri..
"Ingat
sesuatu?"
*Flashback*
"Chaeri-ya,
aku ingin bicara denganmu sepulang sekolah.. Temui aku di belakang sekolah..
Seung Ho.." isi tulisan di kertas yang Chaeri temukan di dalan laci
mejanya saat ia membereskan bukunya..
"Seung
Ho-ya? Ada apa?" ucap Chaeri.. Ia pun segera pergi ke belakang sekolah..
"Chaeri-ya,
kau mau kemana?" tanya salah seorang teman Chaeri..
"Aku ingin
bertemu Seung Ho.."
"Chaeri-ya,
sebaiknya kau jangan pernah temui dia apalagi berteman dengannya.."
"Memangnya
kenapa?"
"Apa kau
tidak tau? Selama ini dia hanya memanfaatkanmu.. Dia berteman denganmu hanya
karena kau bisa membelanya di depan anak-anak yang membullynya.."
"Seung Ho
tidak mungkin sejahat itu.. Dia temanku, aku tau bagaimana dia.."
"Terserah
kalau kau tidak percaya.. Aku sudah memberitahumu.." siswa itu melangkah
melewati Chaeri.. Chaeri melanjutkan langkahnya ke belakang sekolah.. Betapa
terkejutnya ia melihat Seung Ho bersama seorang siswi.. Chaeri mengamati Seung
Ho dan siswi itu di tempat yang tersembunyi..
"Oppa,
kenapa kau memintaku kemari?" tanya siswi itu..
"Aku ingin
bilang kalau aku menyukaimu.."
"Apa?
Bukankah kau berpacaran dengan Chaeri?"
"Aku?
Berpacaran dengan Chaeri? Kau jangan bercanda.. Aku tidak berpacaran
dengannya.. Aku mendekatinya karena aku ingin memanfaatkannya.. Dia bisa
menolongku saat anak-anak itu membullyku.. Tapi sekarang, aku tidak butuh dia
lagi.. Lagipula, siapa yang mau berteman dengan yeoja kasar seperti dia??"
mendengar ucapan Seung Ho, membuat Chaeri sangat marah hingga mengeluarkan air
matanya.. Ia menghapus air matanya dan menemui Seung Ho..
"Yak! Yoo
Seung Ho!!" teriak Chaeri dengan sangat marah..
"Ch Chae
Chaeri-ya?"
"Jadi ini
alasan kau berteman denganku?! Kau hanya memanfaatkan aku?! Hah?!!"
"Chaeri-ya,
ini tidak seperti yang kau fikirkan.."
"Kau benar..
Siapa yang mau berteman dengan yeoja kasar sepertiku?! Selama ini aku terlalu
bodoh karena percaya begitu saja kalau kau benar-benar menjadi temanku.. Tapi
aku salah.. Kau hanya memanfaatkan aku.. Saat ini aku sangat ingin memukulmu,
tapi aku tidak bisa melakukannya karena aku sudah berjanji padamu.. Gomawo,
Seung Ho-ya.. Jeongmal gomawo.." Chaeri berbalik dan melangkah
meninggalkan Seung Ho..
"Chaeri-ya?!
Lee Chaeri.." panggil Seung Ho yang tidak dipedulikan Chaeri..
"Oppa..."
"Pergilah!"
siswi itu pergi meninggalkan Seung Ho..
*Flashback End*
"Ingat
sesuatu?" tanya Seung Ho..
"Tidak!"
"Chaeri-ya.."
"Tidak! Aku
tidak ingat apapun?! Aku tidak ingat!"
"Kejadian
waktu itu, aku benar-benar minta maaf.. Semua itu tidak seperti yang kau
fikirkan.. Aku punya alasan kenapa aku melakukan hal itu.."
"Kau kira
aku peduli? Aku sudah tidak ingin tau apapun tentangmu.. Aku tidak peduli kau
memanfaatkan aku atau tidak! Yang jelas, aku sudah menghapusmu dari kehidupanku
sejak saat itu.."
"Chaeri-ya.."
"Apa hanya
itu yang mau kau katakan? Kau membuang banyak waktuku.." Chaeri berbalik
dan mulai melangkah.. Namun langkahnya terhenti ketika Seung Ho memeluknya dari
belakang..
"Yak Yoo Seung
Ho!!"
"Diamlah!!
Jangan menolakku untuk kali ini.. Empat tahun aku merindukanmu.. Aku ingin
memelukmu seperti ini.. Tapi aku takut kau akan menolakku.."
"Kau kira
sekarang aku akan menerimamu?!"
"Aku tidak
peduli kau akan menolak atau menerima.. Aku hanya ingin memelukmu..
Bogoshiposeo, Chaeri-ya.." Chaeri hanya diam..
Keesokan harinya,
Chaeri duduk di dalam perpustakaan sedang membaca buku.. Tiba-tiba tiga siswi
menghampirinya..
"Yak Lee
Chaeri!" ucap salah satu siswi.. Chaeri menatapnya dingin..
"Dasar yeoja
tengik! Singkirkan pandangan dinginmu itu dari kami.."
"Apa yang
kalian mau?!"
"Kami mau
bicara denganmu.."
"Kalau
begitu, cepat katakan!"
"Dasar
bodoh! Kami tidak akan bicara disini.. Kami tunggu kau di gudang!" tiga
siswi itu pergi dari hadapan Chaeri.. Setelah selesai membaca bukunya, Chaeri
pergi ke gudang..
"Apa mau
kalian?!" tanya Chaeri..
"Yak! Apa
yang kau lakukan dengan Seung Ho Oppa kemarin?!"
"Kami tau
kau pasti merayunya, iya kan?!"
"Seung Ho
Oppa, tidak mungkin tertarik pada yeoja sepertimu.. Bagaimana bisa dia tertarik
padamu sedangkan dia menolak kami?!"
"Apa? Aahhh
jadi kalian ditolak oleh Yoo Seung Ho si namja brengsek itu?!"
"Yak!!
Jangan sebut dia namja brengsek!!"
"Jangan
pernah menemui Seung Ho Oppa lagi!!"
"Kau juga
harus pindah dari tempat dudukmu!! Kau pasti senang karena duduk disampingnya
dan bertemu dengannya.."
"Yak! Kenapa
aku harus pindah dari tempat dudukku?! Aku duduk disana sebelum namja brengsek
itu datang.. Kalian kira aku suka bertemu dengannya apalagi harus duduk di
samping kursinya?!! Mendengar namanya saja sudah membuatku sesak.. Melihat
wajahnya meskipun hanya sedetik, hal itu sudah membuatku merasa ingin mati..
Jadi bagaimana bisa kalian bilang kalau aku senang bisa duduk disampingnya
hah?!!"
"Kalau
begitu, menyingkirlah dari Seung Ho Oppa?!!"
"Kenapa aku
harus melakukannya?! Kalian bisa meminta namja brengsek itu pindah tempat
duduk! Bahkan jika kalian mau, kalian bisa membawanya ke rumah kalian dan aku
akan berterimakasih untuk itu! Sampai kapanpun, aku tidak akan pergi dari
tempatku!!"
"Kau ini
benar-benar!!" *plak!!!* salah satu siswi
menampar Chaeri dengan sangat keras hingga terjatuh.. Dua siswi lain
menyeret dan memasukkan Chaeri ke dalam gudang dan menguncinya di dalam
gudang..
"Yak!! Apa
yang kalian lakukan?!! Buka pintunya!!" teriak Chaeri..
"Berterimakasihlah
pada kami karena dengan begini kau tidak akan bertemu Seung Ho Oppa
lagi.." ketiga siswi itu tersenyum sinis dan meninggalkan Chaeri yang
terkunci di dalam gudang..
"Dasar yeoja
gila!!" gumam Chaeri.. Ia meraba seragamnya untuk mencari ponselnya namun
tidak ada..
"Ponselku??
Aish! Ponselku ada di tas.. Sialan! Tolong! Apa ada orang disana?!!"
teriak Chaeri..
Di kelasnya,
Seung Ho berkali-kali melihat ke arah kursi milik Chaeri.. Ia bingung dimana Chaeri..
Jika sudah pulang, tas dan bukunya masih ada di kelas, jika dia masih di
sekolah, kemanakah Chaeri pergi.. Hingga jam berakhir, Chaeri tak kembali ke
kelas.. Seung Ho menelfon ke nomor Chaeri, namun Seung Ho mendengar deringan
ponsel Chaeri ada di tas..
"Lee Chaeri,
kau dimana?!" gumam Seung Ho..
"Oppa?!!"
panggil tiga siswa yang mengunci Chaeri di gudang..
"Ahhh
kalian.. Apa kalian tau dimana Chaeri?" tanya Seung Ho..
"Chae
Chaeri? Emm.. Kami tidak tau.. Memangnya kenapa??" wajah ketiga siswi itu terlihat
gugup..
"Aneh
sekali.. Sejak istirahat pertama dia tidak terlihat.. Ku kira dia ke
perpustakaan tapi tak ada disana.."
"Mungkin dia
sudah pulang.."
"Tas, buku
dan ponselnya masih ada disini.. Dia tidak mungkin sudah pulang.. Dia tidak
bisa belajar jika bukunya masih ada disini.."
"Oppa.. Dia
kan anak jenius.. Dia tidak butuh buku.. Lebih baik kau pulang saja.. Dia pasti
akan baik-baik saja.. Kau tau kan dia ahli taekwondo, jadi tidak akan ada
apapun yang terjadi padanya.."
"Kau
benar.." Seung Ho pun memutuskan untuk pulang.. Hari semakin gelap..
Chaeri belum keluar dari gudang.. Makin lama ia makin lemas.. Suaranya juga
makin habis karena berteriak meminta tolong.. Sebelumnya Chaeri sudah mencoba
untuk mendobrak pintu gudang namun ia tak berhasil.. Meskipun itu adalah gudang
yang lumayan tua namun pintunya masih sangat kokoh dan kuat.. Di dalam
kamarnya, Seung Ho terus mencoba menghubungi dan mengirim SMS pada Chaeri.. Ia
juga pergi ke rumah Chaeri dan bertanya apakah Chaeri ada di rumah, namun pembantu
rumah tangga Chaeri mengatakan kalau Chaeri tak ada di rumah.. Seung Ho mulai
khawatir, ia pun kembali ke sekolah.. Ia melihat tas Chaeri masih di dalam
kelas kemudian mengambilnya..
"Chaeri-ya!!
Lee Chaeri!!" teriak Seung Ho sambil menyusuri tiap kelas yang ada di
sekolahnya..
"Tolong..
Aku disini.. Siapapun tolong aku.. Kumohon.. Tolong aku.." rintih Chaeri
sambil menggedor pintu gudang dengan tenaga yang tersisa.. Seung Ho
menghentikan langkahnya karena ia merasa mendengar suara pintu.. Ia menajamkan
pendengarannya.. Sedetik kemudian, ia berlari ke arah suara yang berasal dari
gudang..
"Tolong.."
Chaeri masih berusaha.. Seung Ho pun sampai di depan gudang..
"Chaeri-ya?!
Apa kau disana??" tanya Seung Ho khawatir..
"Tolong
aku.." Seung Ho berusaha mendobrak pintu.. Setelah beberapa kali, pintu
pun terbuka..
"Chaeri-ya?!"
Seung Ho terkejut melihat Chaeri terduduk lemas..
"Chaeri-ya,
apa kau baik-baik saja?"
"Seung
Ho-ya? Apa itu kau??" ucap Chaeri dengan lemas..
"Iya,
Chaeri-ya.. Ini aku.. Apa yang terjadi?"
"Seung
Ho-ya.. Mianhae.. Aku.. Sudah menamparmu.. Tiga kali.." Chaeri pingsan di
pelukan Seung Ho setelah mengucapkan kata terakhir..
"Chaeri-ya?!
Chaeri-ya! Sadarlah?! Chaeri?!!" Seung Ho langsung membawa Chaeri ke rumah
sakit..
Di pagi hari,
Chaeri membuka matanya secara perlahan..
"Apa ini di
rumah sakit?" ucapnya melihat sekitar.. Ia melihat tangannya yang
terhubung dengan selang infus..
"Benar.. Ini
di rumah sakit.. Siapa yang membawaku kesini??" Chaeri mengingat kejadian
terakhir sebelum ia pingsan..
"Apa? Apakah
Seung Hoo yang mmbawaku kesini?! Aish!" Chaeri pun terbangun dan ia hendak
turun dari ranjang, tiba-tiba pintu terbuka dan terlihat Seung Ho masuk membawa
beberapa buah dan makanan..
"Selamat
pagi.. Kau sudah bangun?" tanya Seung Ho ramah kemudian meletakkan buah
dan makanan di meja..
"Ahhh..
Iya.." Seung Ho pun duduk di samping Chaeri..
"Yak! Untuk
apa kau disini?!" tanya Chaeri dengan nada sinis..
"Untuk
menemanimu! Aku menelfon ibumu, dia bilang dia sedang ada di Jepang, dan akan
segera pulang.."
"Dasar
bodoh! Kenapa kau menghubungi ibuku?!"
"Memangnya
kenapa?! Kau ini benar-benar tidak tau terimakasih?!"
"Untuk apa
aku berterimakasih pada namja bodoh sepertimu?! Gara-gara kau, aku harus siap
menerima kemarahan ibuku?!"
"Ibumu tidak
akan marah! Aku sudah memintanya untuk tidak memarahimu!"
"Oh ya,
tanggal berapa sekarang?"
"Tanggal
27"
"Apa?! 27?
Yak namja bodoh! Untuk apa kau membawaku kemari?! Apa kau lupa kalau hari ini
ada tes akhir semester?! Gara-gara kau membawaku kemari, aku tidak bisa ikut
tes akhir semester!"
"Apa tes itu
lebih penting dari kesehatanmu?! Kau bisa ikut tes susulan setelah kau sembuh..
Kau menderita maag akut! Kau harus tetap dirawat sampai kau sembuh?!!"
"Apa? Maag
akut??"
"Benar.. Kau
menderita maag akut.."
"Kau?!
Kenapa kau ada disini?! Kau tidak ikut tes?! Bukankah ini kesempatanmu untuk
mengalahkanku?!"
"Kau bilang
aku musuhmu kan?! Aku adalah orang yang sangat sportif.. Dan tes ini adalah
pertempuran kita.. Kau tau, pertandingan tidak akan menarik jika salah satu
pemain tidak datang.. Jadi, aku juga tidak akan ikut tes selama kau juga tidak
ikut tes.."
"Cih dasar
namja gila?!" Seung Ho dan Chaeri saling melempar senyuman..
"Oh ya, aku
membelikan makanan dan buah untukmu.. Aku sudah bertanya pada dokter tentang makanan
yang bisa kau makan.. Jadi, makanlah.."
"Namja
brengsek sepertimu sekarang berubah menjadi malaikat.."
"Yak!
Berhentilah mengumpat tentangku! Dasar yeoja gila!"
"Namja
bodoh!"
"Yeoja
tengik!"
"Namja
brengsek!"
"Yeoja
idiot!"
"Dasar
pembohong!!"
"Pembohong?!
Apa maksudmu?!"
"Kau
pembohong! Cepat keluar dari sini!"
"Kau
mengusirku?! Kau ini benar-benar?!"
"Keluarlah!
Aku mau istirahat!" Chaeri berbaring dengan menyamping dan menutup dirinya
dengan selimut..
"Baiklah..
Aku akan keluar.. Beristirahatlah.." Seung Ho mengusap kepala Chaeri dari
balik selimut kemudian keluar..
Di malam hari,
Chaeri merasa mual dan pergi ke kamar mandi tanpa sepengetahuan Seung Ho karena
Seung Ho sedang tidur.. Di dalam kamar mandi, Chaeri memuntahkan isi perutnya..
Tanpa ia sadari, suara yang ia buat membangunkan Seung Ho.. Seung Ho
terbangun.. Ia menghampiri pintu kamar mandi setelah tau kalau Chaeri tak ada
di ranjangnya..
"Chaeri-ya?!
Kau baik-baik saja?" tanya Seung Ho.. Beberapa saat kemudian, Chaeri
keluar dari kamar mandi..
"Chaeri-ya,
kau baik-baik saja?"
"Aku mual..
Apa kau punya pisang atau pepaya?"
"Ahhh iya..
Sepertinya ada.. Ayo!" Seung Ho memapah Chaeri ke ranjang kemudian ia
mengambil pisang dan pepaya untuk Chaeri..
"Masih
mual?"
"Hmmm.."
"Biar ku
panggilkan dokter.."
"Tidak
perlu.. Aku baik-baik saja.."
"Kalau ada
apa-apa, kau panggil aku.."
"Iya, aku
tau.." Chaeri memakan pisang dan pepaya yang telah dikupas dengan Seung Ho
yang memperhatikannya..
Keesokan harinya,
dokter memeriksa keadaan Chaeri..
"Apa kau masih
merasa nyeri?" tanya dokter..
"Ya.. Aku
juga masih merasa mual.. Bahkan semalam aku muntah.."
"Akan ku
berikan obat lagi dengan dosis lebih tinggi agar kau tidak merasa nyeri dan
mual lagi.."
"Baik,
dokter.."
"Jangan lupa
makan.. Perutmu tidak boleh kosong lebih dari tiga jam.. Makanlah sedikit demi
sedikit dengan frekuensi yang tinggi.."
"Baik.."
dokter pun pergi dari ruangan Chaeri..
"Ish! Dokter
itu mengulang ucapannya lagi.." gumam Chaeri..
"Itu sudah
menjadi tugasnya kan.."
"Kau
benar-benar tidak akan masuk sekolah untuk tes?"
"Kau
mengulang kalimatmu lagi?!"
"Ish!"
"Makanlah.."
Seng Ho memberikan makanan untuk Chaeri.. *cklek!*pintu kamar terbuka..
"Eomma?"
ucap Chaeri melihat ibunya masuk ke kamarnya..
"Chaeri-ya,
apa kau baik-baik saja?"
"Ne, Eomma.."
"Kau tidak
ikut tes?!"
"Maaf,
Eomma.."
"Bagaimana
kau bisa terkena maag akut?! Apa kau tidak makan dengan teratur?!" Chaeri
hanya diam..
"Setiap pagi
kau selalu pergi ke sekolah tanpa sarapan.. Kau bilang kau akan sarapan di
sekolah?! Kenapa kau bisa terkena maag akut?!"
"Eomma,
mianhae.."
"Setelah kau
keluar dari rumah sakit, kau harus makan tepat waktu! Eomma akan mengawasimu!
Kau mengerti?!"
"Iya.."
"Kau
benar-benar membuatku khawatir.."
"Maafkan
aku.."
"Kau, Yoo
Seung Ho kan?"
"Ah? Ne,
ahjumma.."
"Terimakasih
sudah memberitauku keadaan Chaeri.. Terimakasih juga sudah menjaganya.."
"Sama-sama.."
"Chaeri-ya,
apa kau akan baik-baik saja jika Eomma meninggalkanmu sekarang? Eomma harus
kembali ke Jepang.."
"Aku tidak
apa-apa.. Tapi, apa Eomma tidak lelah jika harus kembali ke Jepang?"
"Tidak..
Eomma melakukan ini juga demi masa depanmu.. Jaga dirimu baik-baik selama Eomma
pergi.."
"Baik.."
"Eomma
pergi.. Seung Ho-ssi, tolong jaga Chaeri.."
"Baik,
Ahjumma.." ibu Chaeri keluar dari ruangan setelah selesai bicara pada
Seung Ho..
"Wanita itu
khawatir padaku?" ucap Chaeri..
"Dia itu
ibumu.. Sudah sepantasnya dia khawatir padamu.. Dasar bodoh!"
"Dia ibu
tiriku.."
"Tapi dia
yang merawatmu?!"
"Diamlah
kau!"
"Baiklah..
Ini!" Seung Ho memberikan stick coklat pada Chaeri..
"Gomawo.."
Chaeri memakan stick coklat itu sambil menatap ponselnya untuk browsing..
Sedangkan Seung Ho hanya memandanginya.. Chaeri memakan stick coklat itu dengan
perlahan.. Karena merasa gemas dengan cara makan Chaeri, Seung Ho menggigit stick
coklat yang tersisa di mulut Chaeri hingga bibirnya bersentuhan dengan bibir
Chaeri singkat..
"Yak! Yoo
Seung Ho!! Kau mau mati?!!!" teriak Chaeri..
"Haha salah
sendiri kenapa kau memakannya begitu?! Kau membuatku gemas.."
"Kau
gila!!" Chaeri memukul lengan Seung Ho berkali-kali..
"Yak
Chaeri-ya, hentikan!"
"Aku pasti
akan membunuhmu jika kau mengulanginya lagi!" Chaeri berhenti memukuli
Seung Ho..
"Baik,
baik.. Oh ya, ini ciuman ketiga kita kan?!"
"Apa?!"
"Yang
pertama dan kedua, saat kau berjanji tak akan memukulku.. Dan ini yang
ketiga.."
"Benarkah?
Lalu, berapa banyak yeoja yang sudah kau cium??"
"Emmmmm..
Hanya kau.."
"Apa?! Yak
namja brengsek, kau pikir aku percaya?!"
"Lalu kau
sendiri? Berapa banyak namja yang sudah menciummu??" Seung Ho mendekatkan
wajahnya secara perlahan.. Chaeri mulai gugup..
"Siapa namja
itu??" ulang Seung Ho pelan masih mendekatkan wajahnya.. Tak begitu lama,
bibir Seung Ho telah sampai di bibir Chaeri.. Tak ada respon dari Chaeri, namun
ia juga tak menolak.. Seung Ho menangkupkan kedua tangannya di pipi Chaeri..
"Hanya kau,
Seung Ho-ya.." ucap Chaeri disela-sela ciumannya.. Setelah mengucapkan hal
itu, Chaeri membalas ciuman Seung Ho..
"Saranghae,
Chaeri-ya.." ucap Seung Ho pelan membuat Chaeri melepas ciumannya..
"Kau bilang
apa?!" tanya Chaeri..
"Ah? Ahhhh..
Tidak.. Aku tidak bilang apa-apa.."
"Yoo Seung
Ho! Katakan! Kau baru bilang apa?!"
"Sudah ku
bilang aku tidak bilang apa-apa.."
"Yak Yoo
Seung Ho!! Apa yang baru saja kau lakukan?!"
"Maksudmu??"
"Kau?? Kau
baru saja menciumku?! Yak! Siapa yang memberimu ijin melakukan itu hah?!! Kau
ini benar-benar!!" Cbaeri kembali memukuli Seung Ho..
"Yak Lee
Chaeri!! Hentikan! Kau juga meresponku!!" ucapan Seung Ho membuat Chaeri
berhenti memukulinya..
"Aku?
Meresponmu?? Bagaimana mungkin?! Apa aku gila?!"
"Kau tidak
percaya?? Apa kita perlu mengulanginya?!"
"Yoo Seung
Ho!! Iisshhh!! Pergilah, aku mau istirahat!" Chaeri berbaring membelakangi
Seung Ho dan menutup dirinya dengan selimut..
"Baik,
istirahatlah.." Seung Ho mencium kepala Chaeri dari balik selimut..
Tiga hari
kemudian, Chaeri keluar dari rumah sakit dan keesokan harinya ia kembali ke
sekolah untuk ikut tes.. Setelah tes selesai sesuai jadwal, Chaeri dan Seung Ho
pergi menemui guru untuk ikut tes susulan..
"Lee Chaeri,
kau tidak ikut tes karena kau masuk rumah sakit.. Kami bisa memahaminya.. Tapi
kau, Yoo Seung Ho, kenapa kau tidak ikut tes?!" tanya guru dengan tegas..
"Aku.. Aku
pergi ke Jepang untuk menemui temanku.." jawab Seung Ho gugup..
"Benarkah?
Ada yang melihatmu berkeliaran di rumah sakit tempat Chaeri dirawat.. Kau
yakin, kau pergi ke Jepang?"
"Maafkan
aku, Guru.. Aku tidak ke Jepang.. Aku ke rumah sakit menemani Chaeri.."
"Kenapa kau
menemaninya?! Memangnya kau siapa?!"
"Benar..
Kenapa aku menemaninya?? Karena tak ada satupun orang yang menemaninya.. Ibunya
melakukan bisnis di Jepang.. Dia tidak bisa terus-terusan menemani
Chaeri.."
"Lalu kenapa
harus kau?! Masih banyak teman Chaeri yang lain!"
"Benarkah?
Banyak teman Chaeri? Tapi selama aku menemaninya di rumah sakit, tak ada
satupun temannya yang datang.. Bahkan tak ada satupun guru yang datang untuk
menjenguknya.. Itulah kenapa aku menemaninya di rumah sakit!"
"Baiklah..
Kerjakan tes kalian!" guru itu memberi soal tes kepada Chaeri dan Seung Ho
kemudian meninggalkan mereka di sebuah ruangan..
"Kau siap
bertempur, Chaeri-ya?"
"Aku selalu
siap.." Chaeri dan Seung Ho saling melempar tatapan dan senyuman tajam..
Sedetik kemudian mereka mulai mengerjakan soal yang diberikan.. Sama seperti
Chaeri, Seung Ho juga sebenarnya siswa yang memiliki IQ tinggi.. Ia juga sering
mendapat peringkat pertama di kelasnya saat SD dan SMP.. Dengan mudah ia
mendapat peringkat itu karena ia tak sekelas dengan Chaeri.. Bahkan saat ia
dinyatakan naik ke kelas dua saat SMP, ia harus pindah ke Seoul dan di sekolah
barunya, ia tetap menjadi siswa yang sangat pintar.. Dalam dua hari, Seung Ho
dan Chaeri telah mengerjakan semua tes.. Chaeri pun berjalan pulang.. Di jarak
100 meter dari sekolah, ia melihat sebuah keributan yang melibatkan beberapa
siswa melakukan pengeroyokan.. Chaeri pun mendekat ke keributan itu..
"Yak! Apa
yang kalian lakukan?!" tanya Chaeri dingin menghentikan keributan itu..
Betapa terkejutnya Chaeri melihat Seung Ho menjadi korban pengeroyokan..
"Kau gadis
tengik! Jangan ikut campur!" ucap salah satu siswa..
"Sepertinya
aku mengenalmu.. Aaaahhhhh.. Kau anak Guru Do kan? Do Hee Kyung.. Jadi sekarang
kau menjadi gangster?? Memalukan!"
"Kau banyak
bicara! Pergi dari sini dan jangan ikut campur!"
"Dasar
pengecut!"
"Siapa yang
kau panggil pengecut?!"
"Kau! Siapa
lagi? Kalau kau memang laki-laki, kau tidak akan melakukan pengeroyokan seperti
itu.. Kau akan berkelahi satu persatu.."
"Diam
kau!!" Hee Kyung menendang Chaeri hingga terjatuh..
"Lee
Chaeri?!!!" teriak Seung Ho..
"Cih!
Pengecut!" Chaeri bangun dan menendang Hee Kyung.. Perkelahian kembali
terjadi dan Chaeri dapat mengalahkan mereka bersama Seung Ho..
"Chaeri-ya,
kau baik-baik saja?" tanya Seung Ho khawatir..
"Aku
baik-baik saja.. Kau sendiri?"
"Aku juga
baik-baik saja.."
"Yang benar saja..
Wajah begitu mana bisa dibilang baik? Keningmu juga berdarah.. Ayo ikut
aku!" Chaeri menggandeng Seung Ho ke rumahnya..
"Kenapa kita
ke rumahmu?" tanya Seung Ho..
"Apa kau
tidak mau mengobati lukamu?"
"Aku tau,
tapi kenapa di rumahmu? Bagaimana jika ibumu tau?"
"Ibuku tak
ada di rumah.. Duduklah.." Chaeri mengambil kotak P3K dan duduk di samping
Seung Ho.. Ia mulai mengobati luka Seung Ho..
"Apa disini
tak ada orang?" tanya Seung Ho..
"Ya..
Biasanya jam segini Ahjumma sedang pergi mengurus anaknya.."
"Jadi,
karena tak ada orang, kau mengajakku kemari?" ucap Seung Ho dengan wajah
evilnya membuat Chaeri berhenti mengobati Seung Ho..
"Apa
maksudmu?!"
"Kau ingin
berduaan denganku?"
"Yak Yoo
Seung Ho!! Jangan berfikir negatif! Hanya karena aku membawamu ke rumah dan
mengobatimu, kau jangan salah faham! Aku masih membencimu! Ini, obati saja
lukamu sendiri!"
"Aku tidak
bisa mengobati lukaku sendiri.. Ayolah, jangan marah.. Chaeri-ya.." dengan
wajah kesal, Chaeri kembali mengobati Seung Ho..
"Jika aku
mengobatimu diluar dan itu dilihat oleh siswa lain, aku bisa dikurung di gudang
untuk yang kedua kalinya.. Aku tidak mau itu terjadi lagi.."
"Apa?! Siapa
yang melakukan itu padamu?!"
"Kau tidak
perlu tau.. Lupakan saja.."
Keesokan harinya
Chaeri di panggil oleh guru..
"Benarkah
kau berkelahi di luar sekolah?!" tanya guru..
"Benar.."
"Kenapa?"
"Karena aku
tidak suka melihat orang-orang pengecut.. Mereka melakukan pengeroyokan.. Dan
aku benci jika harus meihat itu.."
"Meskipun
hal itu terjadi di depan matamu, kau tidak boleh berkelahi karena hal itu bukan
urusanmu! Kau jangan ikut campur urusan orang lain! Aku akan memberimu surat
peringatan!"
"Daripada
Anda memberikan surat peringatan itu padaku, lebih baik Anda memberikan surat
itu pada putra Anda, Do Hee Kyung.."
"Lee Chaeri!
Jaga sikapmu atau aku akan memanggil orang tuamu!" Chaeri mengambil surat
peringatan itu dan keluar dari ruang guru..
"Chaeri-ya,
ada apa?" tanya Seung Ho saat Chaeri kembali ke kelasnya..
"Guru itu
benar-benar gila?!"
"Memangnya
ada apa?" Chaeri memberikan surat peringatan itu pada Seung Ho..
"Apa?! Surat
peringatan?!"
"Yak
pelankan suaramu!!"
"Ah, maaf..
Kenapa kau dapat surat peringatan?!"
"Entahlah.."
Saat pulang
sekolah, Chaeri kembali melihat keributan yang sama.. Namun kali ini bukan Seung
Ho yang menjadi korban, melainkan Do Hee Kyung.. Chaeri hanya melihat kejadian
itu dengan santai..
"Yak!
Apa-apaan ini?! Hentikan!!" teriak guru Chaeri, Guru Do..
"Chaeri-ya,
hentikan itu!"
"Aku? Untuk
apa, Guru? Itu bukan urusanku.. Aku tidak mau ikut campur urusan orang lain..
Aku juga tidak mau mendapat surat peringatan lagi.. Permisi, Guru.."
Chaeri melangkah menjauhi gurunya.. Belum terlalu jauh, Chaeri kembali lagi..
"Yak!
Hentikan!" teriak Chaeri kemudian menendang salah satu siswa.. Chaeri
kembali berkelahi dan mengalahkan mereka.. Setelah mereka kalah, Chaeri
merapikan seragamnya kemudian pergi tanpa menghiraukan gurunya.. Keesokan
harinya, Chaeri kembali dipanggil ke ruang guru.. Bukan untuk diberi surat
peringatan lagi, tapi untuk menarik surat peringatan yang pernah diberikan
kepadanya..
Satu minggu
kemudian, pengumuman hasil tes dan kenaikan kelas tiba.. Di hari itu, Chaeri
tidak datang ke sekolah karena ia takut akan hasil tes.. Ia takut jika hasil
yang keluar menyatakan kalau ia kalah.. Di sekolah, semua orang tua telah
berkumpul di ruang kelas.. Hasil belajar para siswa telah keluar dan hasil itu
menyatakan Chaeri berada di posisi pertama dan Seung Ho di posisi kedua..
Setelah mengetahui hasil itu, Seung Ho mencari Chaeri di sekolah, tapi ia tak
menemukannya.. Akhirnya, Seung Ho pergi ke rumah Chaeri..
"Kenapa ku
tidak datang?" tanya Seung Ho..
"Aku takut
jika aku kalah.. Aku merapikan barang-barangku karena ibuku akan mengirimku ke
Amerika.."
"Kau tak
perlu melakukan itu.. Lihatlah.." Seung Ho memberikan ponselnya.. Sebelum
ia pergi ke rumah Chaeri, ia telah memotret hasil belajar para siswa..
"Kau di
posisi pertama.. Kau tak akan pergi ke Amerika.."
"Kau tidak
bohong kan?"
"Untuk apa
aku bohong?? Kau akan tetap disini.. Chukhahae.."
Sejak saat itu,
Chaeri dan Seung Ho berteman di luar sekolah namun tetap bermusuhan di dalam
sekolah apalagi soal pelajaran.. Chaeri tetap berada di posisi pertama hingga
di akhir sekolah.. Di hari kelulusannya, Chaeri tetap menjadi siswi yang
pintar, pendiam dan susah ditebak.. Karena prestasinya, ia dipanggil ke atas
panggung untuk memberikan sambutan..
"Selamat
pagi.." ucapnya membuka sambutannya..
"Pertama,
aku ingin berterimakasih kepada Tuhan untuk semuanya.. Terimakasih untuk guru
yang sudah membimbingku.. Terimakasih untuk ibuku yang selalu mendukungku..
Eomma, ini untukmu.. Aku punya dua ibu.. Entah itu ibuku yang ada di surga atau
ibuku yang ada disini, ini untukmu.. Untuk ibuku yang ada disini, aku ingin
mengatakan sesuatu padamu.. Aku mohon, Eomma.. Berhentilah menekanku untuk
selalu berada di atas.. Aku tau kemampuanku dan Eomma juga tau itu.. Eomma
tidak perlu menekanku.. Aku menyayangimu, Eomma.. Meskipun terkadang aku merasa
kesal padamu, aku tetap menyayangimu.. Terimakasih.." Saat Chaeri turun
dari panggung, saat itu juga ibunya menghampirinya..
"Eomma?"
"Gomawo,
Chaeri-ya.. Terimakasih kau tetap menyayangiku.. Maaf jika aku terlalu
menekanmu.. Tapi, itu semua ku lakukan karena aku tau kau benci kekalahan.. Aku
tidak mau kau depresi karena kekalahan.. Di dunia ini hal yang paling kau benci
adalah kekalahan.. Jadi aku tidak mau kalau kau kalah.. Mianhae,
Chaeri-ya.."
"Eomma??"
Chaeri memeluk ibunya dengan rasa terharu.. Setelah kelulusan selesai, Chaeri
bersiap untuk pulang..
"Chaeri-ya?!"
panggil Seung Ho..
"Eomma,
sebentar.." Chaeri menghampiri Seung Ho..
"Aku ingin
bicara padamu.." Seung Ho menarik tangan Chaeri.. Mereka berdiri di bawah
pohon..
"Ada
apa?" tanya Chaeri..
"Aku ingin
mengtakan alasanku lima tahun lalu saat kau melihatku bersama yeoja lain di
belakang sekolah.."
"Ahhh itu..
Kau tidak perlu menjelaskannya.."
"Tidak! Aku
harus menjelaskannya.. Kejadian itu, semua yang kau lihat, semua yang kau
dengar.. Itu semua bohong.. Aku menyuruh siswa laki-laki itu untuk mengatakan
hal itu padamu.. Dan yeoja itu.. Aku juga menyuruhnya untuk datang kesana.. Aku
sama sekali tidak pernah memanfaatkanmu.. Maaf jika saat itu aku
menyakitimu.."
"Kenapa?
Kenapa kau melakukan itu?"
"Karena aku
ingin kau membenciku.. Kau tau, saat itu aku harus pergi ke Seoul.. Aku ingin
kau membenciku karena dengan begitu, kau bisa melupakan aku.. Jika aku tak
melakukan itu, kau pasti akan sedih karena aku pergi.. Aku tidak bisa
meninggalkanmu jika kau bersedih.. Maafkan aku, Chaeri-ya.."
"Begitukah?
Apa kau pikir aku melupakanmu?! Aku memang membencimu, tapi aku tak bisa
melupakanmu.. Kau melakukan itu atau tidak, aku tidak bisa melupakanmu.. Setiap
aku marah, aku selalu mengingatmu.. Sangat sulit untuk melupakanmu.. Selama
empat tahun aku selalu berusaha untuk melupakanmu.. Dan disaat aku hampir
melupakanmu, kau datang lagi.. Kenapa kau datang saat aku hampir melupakanmu?!
Kenapa kau melakukan itu? Apa kau sangat suka menyakiti aku?! Apa perasaanku
hanya mainan untukmu?!" air mata Chaeri telah membasahi pipinya.. Seung Ho
memegang kedua tangan Chaeri..
"Aku
benar-benar minta maaf.. Izinkan aku menebus semua kesalahanku.. Izinkan aku
membuatmu bahagia.."
"Chaeri-ya,
ayo pergi! Kita hampir terlambat!" teriak ibu Chaeri..
"Ne,
Eomma.."
"Chaeri-ya.."
"Mianhae,
Seung Ho-ya.. Aku harus pergi.." Chaeri melangkahkan kakinya meninggalkan
Seung Ho..
"Chaeri-ya!
Lee Chaeri!!" Seung Ho mengejar Chaeri hingga sampai di mobil..
"Chaeri-ya,
kau tidak boleh pergi! Kau harus tetap disini.. Apa kau akan meninggalkan
aku?"
"Aku minta
maaf.."
"Ku mohon,
tetaplah tinggal disini.. Disampingku.. Aku tidak akan membuatmu bersedih
lagi.. Aku.. Aku mencintaimu, Lee Chaeri.."
"Seung
Ho-ya.."
"Aku sangat
mencintaimu.. Ku mohon, tinggallah disisiku.."
"Aku minta
maaf.." Chaeri masuk ke mobilnya dan mobil pun dijalankan..
"Lee
Chaeri?!!!" Seung Ho tampak frustasi dengan kepergian Chaeri..
***
5 tahun
kemudian..
Lima tahun
kemudian, Chaeri telah menjadi dosen di Harvard University.. Sudah setahun ia
menjadi dosen sejak ia lulus pascasarjana di Harvard University.. Dengan IQ
tinggi yang ia miliki, ia bisa lulus lebih cepat dari yang lain.. Sementara
Seung Ho, dia menjadi pengusaha setelah menyelesaikan kuliah di Oxford
University.. Saat ini, Seung Ho berada di Harvard University untuk menemui
Chaeri.. Ia duduk di sebuah kursi yang ada di taman.. Seperti saat SMA, semua
mahasiswa unversitas itu memandangi Seung Ho.. Hal itu terdengar sampai di
kelas Chaeri mengajar.. Saat Chaeri mengajar, ia terganggu oleh dua orang murid
yang mengobrol..
"Apa yang
kalian bicarakan?!" tanya Chaeri..
"Sorry,
Miss.. Kami membicarakan pria Korea yang ada di taman kampus.. Kami baru
pertama kali melihatnya disini.. Menurut mahasiswa lain, pria itu
mencarimu.."
"Mencariku?"
"Benar.."
"Kerjakan
soal di depan!"
"Apa?!"
"Kerjakan!"
jam pelajaran Chaeri telah selesai.. Ia berjalan ke ruangannya.. Saat sampai di
taman, Chaeri melihat siapa pria yang dimaksud oleh muridnya.. Ia sangat
terkejut melihat Seung Ho duduk di taman itu.. Chaeri pun menghampiri Seung
Ho..
"Seung
Ho-ya?" ucap Chaeri..
"Apa kabar,
Chaeri-ya?"
"Aku
baik.."
"Penampilanmu
benar-benar berubah.. Aku sampai tidak mengenalimu saat kau berjalan kemari..
Kau sangat cantik.."
"Gomawo..
Emm, kenapa kau datang kemari?"
"Duduklah.."
Chaeri pun duduk di samping Seung Ho..
"Aku kesini
untuk memberikan sesuatu padamu, Tapi sebelum aku memberikannya, aku ingin
bertanya padamu."
"Apa
itu??"
"Chaeri-ya..
Apa kau mencintaiku?"
"Apa?"
"Jawablah..
Apa kau mencintaiku?"
"Seung
Ho-ya, kenapa kau bertanya begitu?"
"Aku hanya
ingin tau.."
"Seung Ho-ya..
Aku.."
"Apa kau
sudah menikah?!"
"Dasar
bodoh! Apa kau melihat ada cincin di jariku?!"
"Lalu kenapa
kau tidak menjawabku? Jawablah pertanyaanku.."
"Seung
Ho-ya, apa kau tau bagaimana perasaanku sepuluh tahun lalu? Perasaanku masih
sama seperti sepuluh tahun lalu.."
"Apa? Jadi
kau masih membenciku?!"
"Aish! Dasar
bodoh! Bukan itu.."
"Aaahhhh..
Jadi kau masih menyukaiku??"
"Aku tidak
bilang begitu.."
"Aku tau
kalau kau masih menyukaiku.."
"Lalu, apa
yang akan kau berikan padaku?"
"Oh ya,
ini.." Seung Ho mengeluarkan sesuatu dari balik coat yang ia pakai..
Sesuatu yang terlihat seperti undangan pernikahan..
"Apa
ini?"
"Itu
undangan pernikahanku.." ucapan Seung Ho membuat Chaeri sangat terkejut..
"Undangan
pernikahan?"
"Benar..
Nama calon istriku sama denganmu, Lee Chaeri.. Aku harap kau akan datang di
hari pernikahanku.."
"Kau
memberiku undangan setelah kau bertanya perasaanku?! Apa kau gila?!"
"Ya.. Aku
memang gila.. Terimakasih sudah menyukaiku selama sepuluh tahun.. Aku sangat
berterimakasih.."
"Kau benar-benar
mempermainkan aku.. Kau akan mendapat balasannya, Yoo Seung Ho.."
"Itulah yang
ku harapkan.. Datanglah ke penikahanku.. Kedatanganmu sangat berarti bagiku..
Pernikahanku tak akan terlaksana jika kau tidak datang.."
"Baik.. Aku
akan datang dan membawakan hadiah untuk pernikahanmu.."
"Gomawo,
Chaeri-ya.." Seung Ho tersenyum kemudian pergi meninggalkan Chaeri..
Hari pernikahan
Seung Ho tiba.. Semua orang sudah hadir di pernikahan Seung Ho.. Semua orang
sudah hadir, tapi Chaeri belum terlihat.. Seung Ho pergi ke depan untuk
menunggu Chaeri.. Beberapa menit kemudian, Chaeri datang dengan memakai gaun
putih dan membawa paper bag di tangannya.. Ia berjalan ke arah Seung Ho..
"Akhirnya
kau datang juga.. Aku takut kau tidak akan datang.." ucap Seung Ho..
"Aku sudah
bilang kalau aku akan datang.. Jadi, aku pasti datang.. Kenapa kau disini??
Bukankah ini pernikahanmu? Kau seharusnya di dalam kan?"
"Bagaimana
aku bisa di dalam kalau calon istriku belum datang?"
"Apa?! Calon
istrimu belum datang?"
"Ya.. Ayo,
kita masuk!" Seung Ho memberikan lengan kirinya untuk Chaeri..
"Untuk
apa?"
"Lee Chaeri,
maukah kau menikah denganku?"
"Apa?!
Menikah denganmu?! Apa maksudmu? Bukankah ini pernikahanmu dengan.."
"Lee Chaeri!
Ini pernikahanku dengan Lee Chaeri.. Lee Chaeri calon istriku itu adalah
kau.."
"Apa?!"
"Chaeri-ya,
apa kau mau menikah denganku?"
"Tapi,
ini.."
"Iiisshhhh!!
Aku hanya butuh jawaban iya atau tidak.. Aku tidak butuh jawaban lain..
Chaeri-ya.. Aku mencintaimu.. Hanya kau yang ku cintai di dunia ini.. Tak ada
wanita lain.. Kau mau menikah denganku kan?" dengan wajah yang tidak
percaya, Chaeri menganggukkan kepalanya..
"Iya.. Aku
mau.." ucapnya kemudian.. Dengan senyum yang mengembang di wajahnya, Seung
Ho menawarkan lengannya pada Chaeri.. Chaeri pun menautkan tangannya di lengan
Seung Ho dan masuk ke ruang pernikahan.. Pernikahanpun dilakukan.. Chaeri
dibawa oleh Seung Ho ke rumah baru mereka.. Mereka berjalan ke kamar.. Di dalam
kamar, Seung Ho menahan Chaeri yang ingin membuka jendela.. Ia mendekat ke arah
Chaeri..
"Saranghae,
Chaeri-ya.."
"Nado
saranghae, Seung Ho-ya.." Seung Ho menarik Chaeri ke dalam pelukannya
kemudian menciumnya..
"Kau
benar-benar mempermainkan aku!" ucap Chaeri setelah ciumannya terhenti..
"Aku ingin
kau membenciku meskipun kau mencintaiku.."
"Kau tau,
kau akan mendapat balasan untuk itu!"
"Aku tak
sabar menunggu balasan yang akan kau berikan!" Seung Ho menciumi setiap
inchi wajah Chaeri..
"Aku sangat
mencintaimu, Lee Chaeri.. Kau milikku, sekarang.." ucap Seung Ho memandang
Chaeri setelah ia selesai menciumi Chaeri..
"Aku
tau!" Chaeri menarik Seung Ho ke dalan pelukannya dan mereka kembali
berciuman..


Saya sampai terhenyak melihat tulisan ini, bagaimana penulis menyampaikan cerita dan dengan detail lokasi di Korea yg sangat presisi, padahal domisili penulis bukan di Korea,... untuk penulis Anda luar biasa, me..saya titip cinta ❤️ dan cium untuk penulis yg saya Kagumi ini 😘
BalasHapus