Title : Many
Years
Author :
Elin K. Ochtavia
Cast : Kim Jung Hee, Park Jung Soo, Yoo Seung Ho, Lee Chaeri, Yoon Ah Ra, Kang Sora.
Di sebuah rumah, kamar yang rapi, pagi yang sibuk. Jung Hee terburu-buru menata barang yang akan dimasukkan ke dalam tasnya untuk dibawa ke sekolah. Hari ini adalah hari pertama Jung Hee masuk ke SMA. Waktu telah menunjukkan pukul 6.30 dan Jung Hee belum selesai menata keperluan sekolahnya.
Cast : Kim Jung Hee, Park Jung Soo, Yoo Seung Ho, Lee Chaeri, Yoon Ah Ra, Kang Sora.
Di sebuah rumah, kamar yang rapi, pagi yang sibuk. Jung Hee terburu-buru menata barang yang akan dimasukkan ke dalam tasnya untuk dibawa ke sekolah. Hari ini adalah hari pertama Jung Hee masuk ke SMA. Waktu telah menunjukkan pukul 6.30 dan Jung Hee belum selesai menata keperluan sekolahnya.
"Jung
Hee-ya!! Cepatlah turun dan sarapan!" teriak ibu Jung Hee dari ruang
makan..
"Ne,
Eomma! Sebentar lagi!" balas Jung Hee.. Beberapa menit kemudian, Jung Hee
telah selesai menata keperluannya. Ia pun membawa tasnya keluar dari kamar. Ia
melewati adiknya, Kim Min Hee yang sedang makan di tempat makan dan menuju rak
sepatu.
"Eomma,
buatkan bekal saja, aku akan sarapan di sekolah. Aku sudah terlambat!"
ucap Jung Hee seraya memakai kaus kakinya.
"Baiklah."
jawab ibunya. Jung Hee menghampiri ibunya yang sedang menyiapkan bekal
untuknya.
"Selamat
menerima hukuman di sekolah barumu!" ejek Min Hee.
"Diam
kau, anak kecil!"
"Yak!
Berhenti memanggilku anak kecil! Aku sudah 14 tahun dan aku sudah kelas
2!"
"Bagiku
kau tetap anak kecil! Anak kecil yang tidak akan bisa tumbuh besar!"
"Kim
Jung Hee!" bentak Min Hee.
"Kim
Min Hee!!" balas ibunya..
"Berhentilah
bicara dan habiskan sarapanmu!" lanjutnya.
"Eomma..
Kenapa Eomma membelanya?"
"Karena
kau yang memulainya.. Sudahlah! Kau juga harus cepat berangkat ke
sekolahmu.."
"Ne,
Eomma.."
"Jung
Hee-ya, ini bekalmu. Hati-hati di jalan dan semoga harimu menyenangkan.."
ucap ibu Jung Hee yang memberikan bekal pada Jung Hee..
"Gomawo,
Eomma.." Jung Hee mengecup pipi ibunya kemudian pergi dari rumah setelah
memasukan bekalnya ke dalam tas dan mengenakan sepatu. Ia berlari menuju halte
yang berjarak sekitar 200 m dari rumahnya.
"Hhh..
Hhh... Hhhhh.." nafas Jung Hee
terdengar berat setelah ia sampai di halte. Tak lama, bis yang akan mengantar
Jung Hee pun tiba. Ia langsung naik bis setelah bis berhenti. Untunglah di
dalam bis masih ada kursi yang kosong, jadi Jung Hee bisa duduk. Sepuluh menit
kemudian Jung Hee turun dari bis dan berlari menuju sekolahnya yang cukup
dekat. Tiga menit sebelum gerbang ditutup. Untung Jung Hee tidak terlambat.
Tapi ia harus tetap berlari menuju kelasnya karena sebentar lagi akan ada
upacara penyambutan siswa baru. Tapi tiba-tiba *bruuggghhh!!* Jung Hee
tertabrak seseorang.
"Choisonghaeyo.."
ucap Jung Hee pelan.
"Gwenchanha.."
ucap orang itu yang ternyata seorang laki-laki. Pandangan mereka pun bertemu.
"Jung
Soo-ya?" ucap Jung Hee..
"Annyeong,
Jung Hee-ya.." balas laki-laki bernama Jung Soo, Park Jung Soo tepatnya.
"Kau..
Sekolah disini?" tanya Jung Hee..
"Iya..
Kau juga ternyata sekolah disini.. Kau baru berangkat?"
"Ah,
iya.. Aku sedikit terlambat.. Kalau begitu, aku pergi dulu.. Senang bertemu
denganmu.." Jung Hee kembali berlari menuju kelas barunya..
"Aku
juga.." ucap Jung Soo kemudian melanjutkan langkahnya..
Upacara pun
dimulai. Pemberian nametag sebagai tanda penerimaan siswa baru dilakukan secara
simbolis oleh kepala sekolah kepada siswa dan siswi yang diwakili oleh Jung Soo
dari siswa dan Yoora dari siswi. Jung Hee sama sekali tak melepas pandangannya
dari Jung Soo. Jung Soo adalah orang yang ia sukai sejak masih di SMP sampai
sekarang. Bertemu lagi di SMA tak pernah terbayangkan oleh Jung Hee.
"Yak,
Jung Hee-ya, apa yang kau lihat?" bisik Chaeri, teman baru Jung Hee..
Bisikan Chaeri tak mempengaruhi Jung Hee..
"Jung
Hee-ya! Kim Jung Hee!" timpal yang lain, Ah Ra.
"Ya?"
Jung Hee tersadar..
"Apa
yang kau lihat?" ulang Chaeri..
"Tidak..
Bukan apa-apa.."
-
Jam sekolah
berakhir, Jung Hee langsung pulang dengan perasaan yang senang..
"Eomma!!"
teriak Jung Hee memasuki rumahnya..
"Ada
apa?" ibunya pun muncul dari tempat kerjanya..
"Eomma,
hari ini aku sangat senang.."
"Kenapa?
Ceritakan pada Eomma!" mereka pun duduk berhadapan di atas sofa.
"Eomma
tau, Aku satu sekolah lagi dengan Jung Soo.."
"Jung
Soo?"
"Ehm."
"Park
Jung Soo? Anak yang kau sukai itu?"
"Iya.."
"Kau
serius??"
"Iya,
Eomma.."
"Chukkahae.."
mereka pun berpelukan singkat dengan ekspresi yang sangat senang..
"Lalu
apa yang akan kau lakukan? Kau akan mengatakannya kan?"
"Tidak,
Eomma.. Aku tidak akan mengatakannya.."
"Wae?"
"Aku
tidak mau dia pergi, Eomma.. Aku hanya ingin menyukainya secara diam-diam.. Aku
ingin dia tetap menjadi seseorang yang bisa aku lihat dan aku kagumi.."
"Bagaimana
jika dia punya pacar?"
"Tak
masalah.. Aku hanya ingin tetap melihatnya.."
"Ohh..
Anak Eomma benar-benar.. Baiklah, terserah padamu asal kau bisa bahagia.."
"Gomawo,
Eomma.."
"Sama-sama,
Sayang.."
"Oh
iya, apa Min Hee sudah pulang?"
"Sudah,
tapi tadi dia pergi.."
"Oh..
Kalau begitu, aku ganti baju dulu.."
"Ya
sudah.."
-
Tanpa terasa
hari-hari telah berlalu. Selama itu pula Jung Hee selalu memperhatikan Jung Soo
setiap ia punya kesempatan untuk melihatnya. Wajar saja karena memang mereka
tidak satu kelas. Karena satu sekolah bersama orang yang disukai, Jung Hee
selalu mencoba melakukan apapun dengan baik tanpa kesalahan sedikitpun. Ia
merasa kalau dirinya harus pantas menjadi orang yang menyukai Jung Soo agar ia
juga pantas menjadi orang yang Jung Soo sukai.. Meskipun ia sering mengatakan
kalau ia hanya ingin Jung Soo menjadi orang yang bisa ia lihat sampai kapanpun,
namun hati kecilnya juga menginginkan kalau suatu hari nanti Jung Soo bisa
memandangnya dan mereka bisa saling memiliki.. Saat ini pun Jung Hee tengah
memandangi Jung Soo yang berada di samping lapangan dari dalam kelasnya. Tanpa
ia sadari, Chaeri dan Ah Ra memperhatikannya. Mereka juga memandang ke arah
pandangan mata Jung Hee.
"Ohhh
jadi dia yang selalu kau lihat?" Ah Ra membuka mulut membuat Jung Hee
terkejut.
"Dia
siswa kelas 1.2 itu kan?" tanya Chaeri dan dibalas anggukan oleh Jung
Hee..
"Ku
dengar banyak juga yang suka padanya sejak dia ada disini. Apa kau salah
satunya?" Chaeri penasaran.
"Tidak.
Aku menyukainya bukan sejak dia ada disini, tapi aku sudah menyukainya selama
lebih dari tiga tahun."
"Apa?!"
ucap Chaeri dan Ah Ra bersamaan.
"Wae?"
"Kau
menyukainya selama itu? Ahhh.. Aku tau, kau pasti berpacaran dengannya."
tambah Ah Ra.
"Tidak.
Aku tidak berpacaran dengannya. Aku hanya menyukai dan mengaguminya."
"Kalau
begitu, kami akan membantumu untuk mengatakan kalau kau menyukainya." usul
Chaeri.
"Aku
tidak mau."
"Kenapa?
Bukankah akan lebih baik jika dia tau? Kalian bisa lebih dekat bahkan bisa
berpacaran."
"Lalu
bagaimana jika dia menjauh?" ucap Jung Hee membuat Chaeri dan Ah Ra diam.
"Itu
tidak mungkin." sanggah Chaeri.
"Kenapa
tidak? Aku pernah mengalaminya. Sebelum aku bertemu dengan Jung Soo, aku pernah
mengagumi seseorang dan kami menjadi dekat. Tapi, tidak semua hal akan seperti
yang kita bayangkan. Lama-lama dia menjauh dariku. Mungkin karena ia terlalu
sering mendengar ejekan dari orang lain yang tidak suka melihat kami dekat.
Mulut-mulut yang terus terbuka ketika kami dekat mungkin membuatnya muak hingga
ia menjauh dariku. Dia orang yang sangat baik, sangat perhatian dan pengertian,
dan orang yang selalu memberiku semangat akhirnya pergi dariku. Apa kalian tau
bagaimana rasanya itu? Sangat menyakitkan ketika dia tidak melihatku ketika
kita bertemu ataupun di tempat yang sama. Aku sudah tidak bisa melihatnya
meskipun dari jauh." jelas Jung Hee.
"Mian,
Jung Hee-ya.. Kami tidak tau." ucap Ah Ra.
"Tidak
apa-apa. Aku hanya berharap aku bisa selalu melihatnya. Tidak peduli apa yang
dia lakukan, aku hanya ingin melihat dan mengaguminya."
"Ohh
kau benar-benar hebat.." ucap Ah Ra kemudian memeluk Jung Hee dan diikuti
oleh Chaeri.
"Sudahlah..
Kalian mengganggu pandanganku!" celetuk Jung Hee membuat kdeua temannya
itu melepas pelukan.
"Aisshhh!
Kau ini benar-benar!" timpal Chaeri.
-
Hari mulai
gelap, Jung Hee duduk di halte yang ada di depan sekolahnya untuk menunggu bis
dengan kepala tertunduk. Sudah sepuluh menit Jung Hee menunggu tapi bis belum
datang juga. Ia pun semakin bingung dan juga takut. *tin tin* suara klakson
terdengar di depan Jung Hee. Ia mengangkat kepalanya. Betapa terkejutnya ia
ketika melihat Jung Soo duduk di atas motor maticnya memandang Jung Hee.
"Oh?
Jung Soo-ya? Apa yang kau lakukan?" tanya Jung Hee.
"Kau
sendiri? Kau belum pulang?"
"Eoh..
Tidak ada bis yang datang."
"Memang.
Jalan sudah ditutup untuk acara amal nanti malam."
"Benarkah?
Memangnya hari ini tanggal berapa?"
"1
Desember."
"Astaga,
aku lupa. Pantas dari tadi tidak ada yang datang."
"Mau
pulang bersamaku?"
"Apa?"
"Apa
kau mau pulang bersamaku?"
"Tidak
perlu, aku akan minta Eomma menjemputku."
"Ini
sudah hampir malam. Apa kau tidak kasihan dengan ibumu? Sudahlah, akan ku antar
kau pulang."
"Tidak
perlu. Lagipula kau hanya bawa satu helm kan? Bagaimana jika nanti ada
polisi?" Jung Soo menghela nafas dan turun dari motornya. Ia membuka bagasi
motornya dan mengambil helm dari sana.
"Ini,
pakailah! Aku tidak akan mengajakmu jika aku hanya bawa satu helm." ucap
Jung Soo sambil menunjukan helm pada Jung Hee. Jelas hal itu membuat Jung Hee
sangat terkejut. Ia tak tau lagi harus berkata apa.
"Ayolah!
Apa kau mau tidur disini?!" lanjutnya. Jung Hee pun berdiri dan mengambil
helm dari tangan Jung Soo.
"Apa
tidak masalah jika kau mengantarku pulang?" tanya Jung Hee gugup.
"Masalah
seperti apa?"
"Entahlah..
Mungkin pacarmu akan marah.."
"Hahahaha..
Aku tidak punya pacar.."
"Oh.."
"Ya
sudah, cepatlah naik!"
"Baik.."
Jung Hee pun duduk di belakang Jung Soo
dengan perasaan yang tidak karuan. Ia senang sekaligus takut. Takut kalau ia
tak bisa mengendalikan diri.
"Kenapa
kau pulang sesore ini? Bukankah jam sekolah sudah berakhir sejak jam dua siang
tadi?" tanya Jung Soo memecah keheningan antara mereka.
"Aku
harus latihan untuk persiapan pertandingan debat B.Inggris."
"Kau
ikut pertandingan itu?"
"Iya,
kenapa?"
"Tidak,
tidak apa-apa."
"Kau
sendiri, kenapa belum pulang?"
"Aku..
Emmm.. Aku.. Aku baru saja pergi ke rumah temanku."
"Benarkah?"
"Iya.."
"Ohhh.."
"Bagaimana
harimu hari ini?"
"Sangat
menyenangkan.."
"Benarkah?"
"Ya.."
"Kenapa?"
"Entahlah.
Sebenarnya hari ini hari yang cukup buruk. Tak ada satupun pelajaran yang ku
sukai."
"Lalu
kenapa kau bilang sangat menyenangkan?"
"Emmm..
Menyenangkan karena hari ini sudah terlewati.."
"Kau
yakin karena itu?"
"I i
iya, memangnya kenapa?"
"Tidak,
tidak apa-apa." sepanjang perjalanan mereka terus mengobrol tentang hal
yang sebenarnya tidak terlalu pentng.
"Kita
sudah sampai." ucap Jung Soo setelah menghentikan motornya.
"Benarkah
sudah sampai?" balas Jung Hee bingung kemudian turun dari motor Jung Soo.
"Ya,
ini benar rumahmu kan?"
"Iya..
Darimana kau tau kalau rumahku disini? Sepertinya dari tadi aku tidak
menyebutkan dimana rumahku.."
"Bukankah
kita dulu juga satu sekolah? Aku pernah melihatmu pulang ke rumah ini.."
"Tapi
bukankah rumahmu lebih dekat dari sekolah kita yang dulu daripada
rumahku?"
"Bagaimana
kau tau?"
"Aishh,
aku selalu melewati rumahmu!"
"Oh
iya, kau benar juga.. Hehe.."
"Kau
masih belum menjawab pertanyaanku. Darimana kau tau kalau rumahku disini?"
"Kau
kira aku hanya berdiam diri di rumah? Aku juga keluar dari rumah. Dan saat aku
keluar dari rumah, aku tidak sengaja melihatmu ada di rumah ini."
"Oh
jadi begitu.."
"Ya
sudah, aku pulang dulu. Salam untuk keluargamu dan sampai jumpa besok.."
"Baiklah.."
Jung Soo pun pergi dan Jung Hee masuk ke rumahnya..
"Eomma,
aku pulang.." Jung Hee berjalan menuju ruang tengah.
"Kau
sudah pulang?" ucap ibunya.
"Itu
helm siapa?" lanjutnya sambil menunjuk helm di kepala Jung Hee. Jung Hee
pun memegang kepalanya dan terkejut setelah sadar kalau ia masih mengenakan
helm milik Jung Soo.
"Aish,
aku lupa." ucap Jung Hee kemudian melepas helm dari kepalanya dan duduk di
samping ibunya.
"Milik
siapa?" ulang ibunya.
"Jung
Soo."
"Apa?
Bagaimana bisa?"
"Dia
mengantarku pulang.." wajah Jung Hee mulai berseri-seri..
"Benarkah?"
"Iya.
Dia berhenti di depan halte saat aku menunggu bis yang tidak kunjung datang.
Dia menawarkan untuk mengantarku pulang. Aku sempat menolaknya tapi dia memaksa
untuk mengantarku. Jadi, kami pulang bersama."
"Sepertinya
sudah ada kemajuan antara kalian.."
"Entahlah,
Eomma, aku tidak ingin terlalu berharap."
"Eomma
selalu mendoakan yang terbaik untukmu.."
"Gomawo,
Eomma.."
"Iya,
Sayang. Sekarang pergilah mandi dan makan malamlah."
"Baik,
Eomma." Jung Hee pergi ke kamarnya sambil membawa helm milik Jung Soo. Ia
juga menuruti perintah ibunya untuk mandi dan makan malam. Setelah ia selesai
makan malam, ia ke kamarnya untuk belajar. Ia memandangi helm putih yang
terletak di atas meja samping tempat tidurnya. Ia tersenyum kemudian
mengalihkan perhatiannya pada ponselnya. Ia memandanginya kemudian
mengambilnya. Ia berpikir.
"Apa
yang harus aku lakukan? Mengirim SMS padanya? Atau menelfonnya?" ucapnya.
Ia mulai mencari nomor ponsel milik Jung Soo. Nomor yang ia dapatkan dari
sebuah rapat pembahasan kegiatan sekolah. Ia tak tau apakah nomor itu masih
aktif atau tidak karena ia tak pernah mencoba untuk menelfon bahkan mengirim
SMS. Ia terlalu takut kalau SMS atau telfonnya akan membuat Jung Soo
menjauhinya. Setelah cukup lama berfikir, ia menggeser nomor itu untuk menelfonnya.
1 detik, 2 detik, 3 detik, tersambung, Jung Hee mengakhiri panggilannya.
Tiba-tiba sebuah SMS masuk ke ponselnya. SMS yang dikiimkan oleh nomor milik
Jung Soo.
"Siapa
ini?" jantung Jung He mulai berdetak lebih kencang. Keringat dingin mulai
muncul di keningnya. Matanya membulat menandakan keterkejutan yang luar biasa.
Ia tak bergerak. Tangannya mulai bergetar.
"Jung
Hee-ya, apa yang akan kau lakukan sekarang?" gumam Jung Hee. Ia mencoba
menenangkan fikirannya. Perlahan ia mulai mengetik di ponselnya.
"Apa
ini nomor Park Jung Soo?" pesan terkirim. Jantung Jung Hee berdetak makin
kencang dan cepat dikala menunggu balasan SMS dari Jung Soo. 1 menit, 2 menit,
7 menit, sebuah SMS dari Jung Soo kembali masuk membuat Jung Hee terkejut
hingga ponselnya terlempar. Ia segera mengambilnya dan membuka SMS itu. Ia
berharap kalau itu bukan nomor milik Jung Soo.
"Ya,
ini aku Park Jung Soo, siapa ini?" harapan Jung Hee salah. Nomor itu
memang milik Jung Soo. Keadaan Jung Hee makin parah. Ia kacau. Namun ia berusaha
untuk tetap tenang. Ia kembali mengetik di ponselnya.
"Ini
aku, Jung Hee. Aku ingin memberitaumu kalau aku lupa mengembalikan helm mu.
Haruskah aku mengembalikannya sekarang?"
"Kau
tidak perlu mengembalikannya sekarang. Kalau kau mau, kau bisa mengembalikannya besok di
sekolah."
"Baiklah.
Terimakasih sudah mengantarku pulang dan selamat belajar.."
"Sama-sama,
selamat belajar juga untukmu.." SMS terakhir Jung Soo yang tak dibalas
oleh Jung Hee. Ia takut jika ia membalas, Jung Soo tidak akan membalasnya lagi.
Jung Hee mengatur nafasnya yang berat. Hanya menerima pesan dari Jung Soo sudah
membuatnya mengeluarkan banyak keringat. Ia berpikir ia tidak butuh olahragaa
lari dan sebagainya yang membuatnya lelah. Tapi ia butuh pesan dari Jung Soo
agar ia berkeringat tanpa banyak bergerak.
-
Pagi yang
cerah, Jung Hee keluar dari rumahnya membawa helm dengan kedua tangannya. Ia
berjalan dengan santai karena ini masih pagi. Jam masih menunjukan pukul 5.40.
Terdengar suara sepeda motor dari belakang Jung Hee tapi ia tidak
mempedulikannya. Suara itu makin jelas hingga akhirnya berada di samping Jung
Hee.
"Jung
Soo-ya?" ucap Jung Hee setelah melihat Jung Soo berada di sampingnya
menaiki motor.
"Mau
berangkat bersama?" tawar Jung Soo.
"Kau
menawariku lagi?"
"Iya."
"Kenapa?"
"Aku
melihatmu berjalan dan aku menaiki motor. Kita melewati jalan yang sama dan
mempunyai tujuan yang sama pula, jadi lebih baik kita berangkat bersama."
"Kau
yakin?"
"Aku
yakin."
"Baiklah."
Jung Hee pun duduk di belakang Jung Soo. Sama seperti semalam, mereka
membicarakan hal yang tidak terlalu penting. Tak begitu lama, mereka sampai di
sekolah.
"Gomawo.
Ini helmmu." ucap Jung Hee memberikan helm pada Jung Soo setelah ia turun.
Jung Soo pun menerimanya.
"Sama-sama.
Oh ya, jangan pulang terlalu sore atau kau tidak akan bisa pulang ke
rumahmu."
"Yak,
Jung Soo-ya. Kemarin aku lupa jalan akan ditutup dan hari ini jalan tidak akan
ditutup lagi dan aku juga tidak ada kegiatan tambahan."
"Benarkah?
Baguslah.."
"Baiklah,
kalau begitu aku masuk dulu." Jung Hee perlahan berjalan menjauhi Jung Soo
untuk masuk ke kelasnya. Ia berjalan dengan wajah yang berseri-seri.
"Jung
Hee-ya!" panggil Ah Ra yang tiba-tiba datang dari belakang dengan menepuk
bahu Jung Hee. Mereka pun berjalan bersama.
"Yoon
Ah Ra?"
"Kau pagi
sekali?"
"Benarkah?"
"Iya."
"Ohh.."
"Yak!
Sepertinya kau sangat senang. Ada apa?"
"Apa
terlihat seperti itu?"
"Iya,
bahkan sangat jelas. Kenapa?"
"Hari
ini aku berangkat bersamanya."
"Siapa?"
Jung Hee hanya tersenyum.
"Jung
Soo?" lanjut Ah Ra yang dibalas anggukan oleh Jung Hee.
"Kau
serius?"
"Sangat
serius."
"Kau
hebat. Oh ya, kemarin kau pulang lebih sore kan? Aku ingat jalan akan ditutup,
bagaimana kau bisa pulang?"
"Ada
seseorang yang mengantarku."
"Benarkah?
Siapa?" Jung Hee hanya tersenyum menatap Ah Ra.
"Park
Jung Soo?" lanjutnya.
"Iya."
"Bagaimana
bisa?"
"Ya
begitulah.."
"Kemarin
dia mengantarmu pulang dan hari ini dia berangkat bersamamu. Lalu bagaimana
perasaanmu?"
"Apa
kau perlu menanyakannya?"
"Ahhh,
maaf. Aku tau bagaimana perasaanmu."
-
Saat
istirahat, Jung Hee, Chaeri dan Ah Ra berada di kantin untuk makan siang. Saat
melahap makanan, mata Chaeri melihat seseorang yang terlihat asing baginya
duduk berhadapan dengan Jung Soo.
"Siapa
gadis itu?" ucap Chaeri yang tak mengalihkan pandangannya membuat kedua
temannya ikut memandang ke arahnya.
"Siapa
dia? Sepertinya aku tidak pernah melihatnya." imbuh Ah Ra.
"Mungkin
dia siswi baru." tambah Jung Hee dengan ekspresi datar.
"Yak,
Kim Jung Hee! Kenapa wajahmu datar sekali?" tanya Ah Ra.
"Memangnya
aku harus bagaimana?"
"Dia
duduk berhadapan dengan Jung Soo. Kau tidak marah atau cemburu?"
"Cemburu?
Mungkin iya. Tapi marah? Untuk apa? Aku tidak berhak marah padanya karena aku
bukan siapa-siapa. Aku tidak peduli dia duduk bersama siapa, dia berjalan dengan
siapa, dia pergi dengan siapa, bahkan berpacaran dengan siapa. Aku hanya ingin
tetap melihatnya."
"Perasaan
macam apa itu? Kau hanya ingin terus melihatnya."
"Sudahlah,
kita lanjutkan makan!" ucap Chaeri. Mereka pun kembali fokus pada makanan
mereka.
"Selamat
siang. Panggilan ditujukan untuk Kim Jung Hee, siswi kelas 1.1 diharap menuju
lab. Bahasa Inggris . Sekali lagi panggilan untuk Kim Jung Hee, siswi kelas 1.1
diharap menuju lab. Bahasa Inggris sekarang juga. Terimakasih." sebuah
suara terdengar dari speaker informasi membuat Jung Hee menjadi malas.
"Suara
Choi Yoon Joo Sunbae. Aish! Tidak bisakah dia membiarkanku bebas?! Saat makan
siang pun dia masih memanggilku." umpat Jung Hee kesal.
"Sudahlah,
lebih baik kau pergi sekarang. Nanti kami akan membawakan makanan
untukmu." timpal Chaeri.
"Baiklah,
aku pergi dulu." Jung Hee bangkit kemudian meninggalkan kantin dan menuju
lab. Bahasa Inggris.
-
Hari yang
sibuk di sekolah bagi Jung Hee. Hari ini ia harus pintar membagi waktunya untuk
ikut 3 bimbingan sekaligus di sekolah, yaitu B.Inggris, Matematika dan Fisika
untuk mengikuti debat B.Inggris dan olimpiade Fisika dan Matematika yang akan
berlangsung beberapa minggu lagi.
"Kenapa
kau harus ikut lomba itu? Kita tidak punya waktu untuk pergi, kan?!"
protes Chaeri pada Jung Hee yang sedang menyiapkan buku untuk belajar
Matematika.
"Chaeri
benar. Lagipula, apa kau tidak kasihan pada otakmu ini? Nanti kau bisa
stress." tambah Ah Ra.
"Ku
harap aku tidak stress. Mau bagaimana lagi? Aku hanya mencoba untuk ikut tes
saat ekstra kurikuler dan aku mendapat nilai yang sangat baik. Aku minta maaf
karena tidak bisa pergi dengan kalian. Aku janji jika aku ada waktu, kita akan
pergi bersama."
"Baiklah.
Fighting! Semoga sukses, Jung Hee-ya!"
"Gomawo,
Chaeri-ya." Jung Hee tersenyum kemudian bergegas pergi. Di saat istirahat
dari belajar, Jung Hee berjalan di sekitar kelas-kelas. Ia juga berjalan di
sekitar lapangan olahraga untuk merefresh pikirannya. Tanpa sengaja, ia melihat
Jung Soo sedang bermain basket sendirian di lapangan basket. Jung Hee mengamati
Jung Soo dengan baik. Jung Soo masih memainkan bola dan memasukannya ke dalam
ring. Jung Hee bertepuk tangan membuat Jung Soo berhenti memainkan bola dan
menatap Jung Hee. Jung Hee pun mendekat untuk menyapa Jung Soo.
"Sedang
apa kau disini? Kau belum pulang?" tanya Jung Hee.
"Aku
hanya memainkan bola basket. Aku belum ingin pulang." Jung Soo pun duduk
di lapangan dan diikuti Jung Hee.
"Kenapa?"
"Entahlah,
aku hanya masih ingin disini. Kau sendiri, kenapa belum pulang?"
"Aku ada
bimbingan belajar untuk lomba."
"Debat?"
"Bukan
cuma itu. Ada matematika dan fisika."
"Kau
juga ikut itu? Kau tidak kasihan dengan otakmu ini?!" Jung Soo mengacak
rambut Jung Hee pelan.
"Yak,
Jung Soo-ya!"
"Bagaimana
bisa kau akan ikut 3 perlombaan sekaligus?"
"Sebenarnya
aku juga tidak mau, tapi mau bagaimana lagi, aku pemilik nilai tertinggi dalam
tes. Aku hanya berharap aku bisa menghadapi semuanya dengan baik."
"Bagus!
Aku akan mendukungmu!"
"Gomawo.."
"Apa
aku boleh tanya sesuatu?"
"Apa?"
"Kau
punya pacar?" tanya Jung Soo membuat Jung
Hee membulatkan matanya.
"Tidak"
jawabnya kemudian.
"Benarkah?
Lalu bagaimana tipe laki-laki yang kau suka?"
"Seperti
dirimu" ucap Jung Hee dalam hati.
"Kenapa
kau diam?"
"Apa?
Tadi kau bilang apa?"
"Aku
tanya tipe laki-laki yang kau suka."
"Ohh..
Tipe laki-laki yang ku suka.. Dia harus tampan dalam pandanganku. Yang jelas
dia harus sempurna di dalam mataku."
"Maksudmu?"
"Aku
tidak peduli bagaimana dia di mata orang lain. Kau tau kan kalau penilaian
setiap orang berbeda-beda? Jadi jika dia sempurna menurut penilaianku, mungkin
aku akan menyukainya. Lalu bagaimana denganmu?"
"Aku?
Emmm.. Aku suka dia yang baik. Tak masalah bagaimana wajahnya. Entah cantik
ataupun tidak, aku tidak peduli. Dia setia, perhatian, dan pengertian, juga dia
bisa membuatku nyaman melakukan apapun. Dia bisa menjadi pendengar saat aku
bercerita, memberiku solusi saat aku dalam masalah. Dia juga bisa
mengingatkanku saat aku melakukan kesalahan."
"Yak!
Kau membicarakan ibumu?"
"Bisa
dibilang begitu. Aku ingin seorang gadis yang seperti ibuku."
"Bagaimana
jika tidak ada gadis seperti itu?"
"Jika
tidak ada, mungkin aku akan hidup sendiri. Percuma jika aku punya pasangan tapi
tidak bisa mengerti apa yang aku inginkan."
"Kau
serius akan hidup sendiri?"
"Kenapa
tidak?!"
"Kau
gila."
"Jung
Hee-ya!" terdengar suara seseorang memanggil nama Jung Hee. Ia dan Jung
Soo pun menoleh ke arah suara itu. Itu adalah suara dari guru pembimbing Jung
Hee.
"Kita
belajar lagi." lanjutnya.
"Baik,
Bu. Jung Soo-ya, aku pergu dulu."
"Baiklah."
Jung Hee pun bangun kemudian meninggalkan lapangan. Setelah bimbingan selesai, Jung Hee pergi ke
lapangan berniat menemui Jung Soo lagi. Namun sayang, Jung Soo sudah tidak ada
disana. Ia berfikir kalau Jung Soo pasti sudah pulang. Ia pun memutuskan untuk
pulang. Saat keluar dari gerbang, ia terkejut melihat Jung Soo berada di atas
motornya lengkap dengan helm yang ada di kepala dan tangannya.
"Jung
Soo-ya? Kau belum pulang?" tanya Jung Hee.
"Belum."
"Kenapa?"
"Karena
kau belum pulang. Aku tidak mungkin pulang begitu saja karena aku tau kau
satu-satunya yang masih ada disini. Gurumu sudah pulang kan? Lagipula Aku tidak
suka meninggalkan orang. Kalau terjadi sesuatu padamu, bisa-bisa aku yang
disalahkan karena tadi kau mengobrol denganku."
"Oh..
Begitu."
"Ayo
kita pulang bersama!" ajak Jung Soo sambil memberikan helm. Jung Hee
hendak menerimanya tapi ia menahannya dan teringat sesuatu.
"Wae?"
tanya Jung Soo.
"Sepertinya
aku akan menunggu bis saja. Aku tidak mau ada salah faham."
"Salah faham
apa? Apa maksudmu?"
"Aku
tidak mau kalau pacarmu marah padaku."
"Jung
Hee-ya, bukankah aku pernah bilang kalau aku belum punya pacar?! Apa kau
lupa?!"
"Aku
masih ingat soal itu. Tapi itu beberapa hari lalu kan?! Mungkin sekarang kau
sudah punya pacar."
"Atas
dasar apa kau bilang begitu?"
"Waktu
itu aku pernah melihatmu makan di kantin dengan seorang gadis. Bukankah itu
pacarmu?"
"Ohhh
gadis itu? Dia bukan pacarku. Dia teman lamaku dan hari itu dia baru pindah ke
sekolah kita. Jadi sebagai teman yang baik, aku menunjukan semua sisi dari
sekolah kita padanya."
"Ohh
jadi begitu."
"Kau
sudah mengerti kan? Tak akan ada yang salah faham, kecuali jika pacarmu
melihatku mengantarmu pulang."
"Hahaha
kau ini bicara apa? Bagaimana bisa aku punya pacar kalau.." Jung Hee
menghentikan ucapannya.
"Kalau
apa?" tanya Jung Soo penasaran.
"Kalau
aku masih sibuk dengan sekolahku. Aku akan merasa kasihan pada pacarku karena
aku mementingkan sekolahku daripada dia."
"Malang
sekali nasib laki-laki yang akan menjadi pacarmu."
"Yak!
Apa-apaan kau ini?"
"Hehe..
Kajja."
"Baiklah."
Jung Hee memakai helm dan naik di belakang Jung Soo. Jung Soo mulai menjalankan
motornya.
"Jung
Hee-ya!" panggil Jung Soo.
"Ya?"
"Gomawo."
"Untuk
apa?"
"Karena
tadi kau telah mendengarkan aku."
"Ahh itu..
Tidak masalah. Aku suka mendengar orang bercerita. Kau juga tadi sudah
mendengarkan aku. Gomawo."
"Mau ku
traktir sesuatu?"
"Apa?!"
"Tidak
masalah kan?"
"Emmm..
Terserah kau saja."
"Baiklah."
Jung Soo menjalankan motornya ke sebuah kafe. Sesampainya disana, Jung Soo
membeli minuman untuknya dan untuk Jung Hee.
"Gomawo,
Jung Soo-ya." ucap Jung Hee.
"Sama-sama."
"Oh?
Jung Soo-ya?" ucap seorang laki-laki menghampiri Jung Soo.
"Donghae-ya!
Annyeong!" sahut Jung Soo kemudian mereka berpelukan singkat.
"Apa kabar?"
tanya Jung Soo.
"Aku
baik." Donghae mengalihkab pandangannya pada Jung Hee yang berdiri di
samping Jung Soo.
"Kau..
Kim Jung Hee kan?" lanjutnya.
"Ne?"
"Kau
tidak ingat aku?"
"Emmmm.."
"Ahhhh
kau pasti tidak tau siapa aku. Aku Lee Donghae. Dulu kita satu SMP."
"Kau..
Yang sering bersama dengan Jung Soo kan?"
"Jadi
kau tau aku."
"Begitulah."
"Wahh
kalian pakai seragam yang sama. Apa kalian satu sekolah?"
"Menurutmu?"
timpal Jung Soo.
"Yak,
Jung Soo-ya! Sepertinya kau sudah berhasil." ucap Donghae merangkul Jung
Soo.
"Kau
ini bicara apa?!"
"Berhasil
apa?" tanya Jung Hee.
"Bukan
apa-apa. Kau tidak perlu dengarkan kata-katanya."
"Yak,
Park Jung Soo!"
"Kau
jangan bongkar rahasiaku!" bisik Jung Soo pada Donghae dengan penuh
penekanan.
"Baiklah."
"Jung
Soo-ya!" panggil Jung Hee.
"Ne?"
"Sudah
hampir malam."
"Ah,
iya, iya. Kita pulang. Donghae-ya, aku pergi dulu."
"Baiklah!
Maju terus, Jung Soo-ya!"
"Gomawo.
Kajja!" Jung Soo dan Jung Hee pun keluar dari kafe kemudian Jung Soo
melajukan motornya.
"Jung
Hee-ya!"
"Ne?"
"Apa
malam ini kau punya waktu?"
"Emmm
aku punya. Kenapa?"
"Apa
kau mau menemaniku? Aku sedang butuh teman."
"Memangnya
kenapa? Apa kau punya masalah?"
"Hari
ini orang tuaku pergi, jadi aku sendirian di rumah. Aku ingin keluar tapi aku
tidak tau harus mengajak siapa. Jadi, aku mngajakmu. Apa kau mau?"
"Emmm..
Baiklah. Tapi, bisakah aku ganti baju dulu? Aku rasa tidak baik jika pergi
masih memakai seragam sekolah."
"Baiklah."
beberapa menit kemudian, mereka telah sampai di rumah Jung Hee.
"Kau
ganti baju dulu. Aku juga akan ganti baju. Nanti aku akan menjemputmu."
ucap Jung Soo.
"Baiklah,
aku akan menunggumu."
"Sampai
jumpa nanti." Jung Soo pun melajukan motornya dan Jung Hee masuk ke
rumahnya.
"Kau
sudah pulang?" tanya ibu Jung Hee.
"Iya,
Eomma." Jung Hee bergegas masuk ke kamarnya untuk ganti baju kemudian
keluar.
"Eonni,
kau mau kemana?" tanya Min Hee yang sedang makan saat Jung Hee melewati
meja makan.
"Iya,
kau mau kemana?" tambah ibunya.
"Emm..
Aku.. Emm.. Jung Soo.. Dia mengajakku pergi." ucap Jung Hee membuat ibu
dan adiknya terkejut.
"Apa
kau serius?" tanya ibunya. Jung Hee hanya mengangguk.
"Itu
tidak mungkin!" celetuk Min Hee.
"Apanya
yang tidak mungkin?! Jung Soo memang mengajakku pergi."
"Bagaimana
bisa?!"
"Sudahlah,
lebih baik kau belajar saja!" *ting tung*terdengar suara bel pintu
dipencet oleh seseorang. Jung Hee menuju pintu kemudian membukanya.
"Kau
sudah datang?" tanya Jung Hee ketika melihat Jung Soo ada di depannya.
"Dimana
ibumu?"
"Kenapa
tanya ibuku?"
"Aku
mau minta izin padanya."
"Ohh..
Eomma!" panggil Jung Hee.
"Ya?"
jawab ibunya yang muncul dari ruang makan diikuti Min Hee.
"Annyeong
haseyo, Ahjumma!" sapa Jung Soo sambil membungkuk.
"Annyeong,
Jung Soo-ya. Ada apa?"
"Saya
ingin minta izin untuk pergi dengan Jung Hee."
"Oh
itu.. Aku mengizinkan kalian. Jadi, pergilah. Tapi ingat, jangan pulang terlalu
malam dan hati-hati di jalan."
"Baik,
Ahjumma. Gamsahabnida."
"Gomawo,
Eomma." Jung Soo pun kembali
membungkukkan badannya.
"Kajja!"
"Eoh."
Jung Soo pun mulai menjalankan motornya.
"Kita
akan kemana?" tanya Jung Hee.
"Kau
ingin kemana?"
"Kenapa
kau bertanya padaku? Aku hanya menemanimu. Kemanapun kau pergi, aku akan
menemanimu."
"Jika
kau jadi aku, kau akan kemana? Atau, adakah tempat yang ingin kau
kunjungi?"
"Tempat
yang ingin ku kunjungi? Aku ingin ke taman, Namsan, lalu ke Sungai Han."
"Taman
seperti apa?"
"Taman
bermain."
"Sebesar
ini kau ingin ke taman bermain? Astaga."
"Yak!
Memangnya kenapa?! Bukankah kau bertanya tempat yang ingin ku datangi? Aku
tidak memintamu datang kesana!"
"Hehe
maaf.. Ayo kita pergi ke taman bermain."
"Kau
bilang apa?!"
"Kita
ke taman bermain."
"Kenapa
kita kesana?"
"Kau
bilang kalau kau ingin kesana. Aku belum menentukan tujuanku. Jadi, kita pergi
ke taman bermain sebelum aku menentukan tempat yang ingin ku tuju."
"Baiklah.."
mereka pun pergi ke tempat bermain terdekat. Sesampainya disana, Jung Hee
menuju ayunan dan menaikinya dengan mengayunnya perlahan menggunakan kakinya.
"Kau
suka?" tanya Jung Soo yang juga duduk di ayunan lain.
"Ehm.
Aku suka. Gomawo." Jung Soo pun turun dari ayunannya dan berdiri di
belakang Jung Hee dengan kedua tangannya megang rantai ayunan.
"Mau ku
dorong?" tanya Jung Soo.
"Apa?
Tidak. Tidak perlu."
"Tapi
aku mau." Jung Soo pun mendorong ayunan Jung Hee.
"Yak
yak yak! Jung Soo-ya!! Hentikan!" teriak Jung Hee dengan penuh tawa.
Setelah beberapa kali berayun, ayunanpun berhenti. Jung Hee terlihat lemas
duduk di ayunan. Kedua tangannya masih memegang rantai ayunan dengan sangat
erat.
"Kau
baik-baik saja?" tanya Jung Soo yang berlutut di depan Jung Hee.
"Aku
sedikit.. Pusing.."
"Benarkah?"
Jung Soo pun berdiri.
"Aku
minta maaf.. Kita kesana dulu." lanjutnya. Ia pun memapah Jung Hee ke
sebuah bangku dan duduk disana.
"Kau
tunggu disini. Aku akan segera kembali." Jung Soo berlari meninggalkan
Jung Hee.
"Jung
Soo-ya! Kau mau kemana."
"Aku
akan segera kembali!"
"Astaga..
Dia terlihat sangat khawatir. Apa ini mimpi?" Jung Hee mencubit tangannya.
"Auwh..
Sakit. Ini berarti aku tidak bermimpi.. Jung Soo-ya.. Aku makin menyukaimu.."
lanjutnya. Beberapa menit kemudian, Jung Soo kembali dengan membawa minum dan
obat kemudian memberikannya pada Jung Hee.
"Ini!
Minumlah!"
"Apa
ini?"
"Itu
obat. Minumlah."
"Tidak
perlu."
"Kau
bilang kau pusing kan?"
"Memang.
Tapi aku tidak sakit. Ini hanya efek karena kau mengayun ayunannya terlalu
kencang."
"Maafkan
aku. Harusnya aku tidak melakukan itu."
"Sudahlah,
aku tidak apa-apa. Kau tidak perlu khawatir." Jung Soo menyentuh dahi Jung
Hee membuat Jung Hee terkejut.
"Syukurlah
kau tidak panas."
"Sudah
ku bilang kan, aku tidak sakit."
"Ya
sudah, kita pergi ke tempat lain."
"Kemana?"
"Namsan."
"Namsan?
Kenapa kita pergi ke tempat yang ingin ku datangi?"
"Yak!
Kau kira hanya kau yang ingin kesana?! Setelah ku pikir-pikir, ke Namsan adalah
ide yang bagus. Kajja!" mereka pun pergi ke Namsan Tower. Setibanya
disana, mereka menaiki lift dan menuju ke tempat gembok cinta.
"Tempat
yang indah." ucap Jung Hee dengan senyum mengembang di bibirnya.
"Apa
yang indah? Ribuan gembok itu atau bintang yang ada di langit?"
"Semuanya."
"Mereka
bilang, cinta mereka akan abadi dan tidak akan berpisah jika mereka mengunci
nama mereka dalam satu gembok. Apa kau percaya itu?"
"Entahlah.
Aku tidak terlalu percaya dengan hal-hal seperti itu. Berpisah atau tidak, itu semua
tergantung pada diri mereka sendiri."
"Memang
benar. Tapi jika kau diminta mencoba, apa kau akan mencobanya?"
"Tentu.
Apa masalahnya mencoba?" mereka berdua saling memberikan senyuman. Jung
Hee mendekati gembok-gembok itu bersama Jung Soo dan mencermatinya. Terkadang
ia juga membaca tulisan di gembok itu yang membuatnya tertawa. Semakin lama
angin membuat Jung Hee kedinginan. Ia menggosok kedua tangannya dan
menempelkannya ke tubuhnya. Jung Soo yang melihat hal itu pun langsung melepas
jaketnya dan memakaikannya pada Jung Hee.
"Jung
Soo-ya, apa yang kau lakukan?"
"Pakailah!
Aku tau kau kedinginan."
"Tidak
perlu. Kau pakai sendiri saja."
"Mana
bisa begitu? Aku melihatmu kedinginan. Jadi lebih baik kau pakai saja."
"Lalu
bagaimana denganmu? Apa kau tidak kedinginan?"
"Angin
ini tak akan membuatku kedinginan. Lagipula, bajuku cukup hangat. Jadi, aku
akan baik-baik saja."
"Gomawo."
"Tidak
perlu berterimakasih. Sudah seharusnya aku begitu." perbuatan Jung Soo
sukses membuat Jung Hee tersenyum penuh kebahagiaan. Ia tak menyangka jika Jung
Soo akan melakukan hal seperti itu.
"Apa
kau sudah lelah?" tanya Jung Soo.
"Belum,
kenapa?"
"Ayo
kita ke Sungai Han!"
"Yak!
Kau ingin kesana? Kau ini benar-benar pergi ke tempat yang ingin ku
kunjungi."
"Kau
pikir hanya kau yang punya keinginan itu? Jadi menurutmu, mereka yang ada
disini datang karena ini tempat yang ingin kau kunjungi? Mereka juga datang
karena keinginan mereka sendiri. Aku juga begitu."
"Baiklah,
baiklah. Kajja! Jangan cerewet!" Jung Hee melangkahkan kakinya.
"Mworago?!!"
Jung Soo menyusul langkah kaki Jung Hee. Mereka pun pergi ke Sungai Han.
Disana, Jung Hee berjalan di sekitar Sungai Han bersama Jung Soo.
"Sungai
Han di malam hari terlihat indah, kan?" ucap Jung Soo.
"Ya.
Sangat indah. Tempat ini sepertinya juga romantis untuk menyatakan cinta."
"Benarkah
seperti itu?"
"Ku
pikir begitu."
"Bisa
kita duduk si kursi itu?" Jung Soo menunjuk kursi yang ada disana.
"Aku
ingin mengobrol denganmu." lanjutnya.
"Baiklah."
mereka pun duduk di kursi yang ditunjuk oleh Jung Soo.
"Boleh
aku tanya sesuatu?" ucap Jung Soo.
"Apa?"
"Kau
bilang, tempat ini romantis untuk menyatakan cinta. Apa kau ingin seseorang
menyatakan cinta padamu di tempat ini?"
"Emmm..
Entahlah. Jika ada seseorang yang ingin menyatakan cinta untukku, aku tidak
peduli dimanapun tempatnya. Yang paling penting adalah ketulusannya."
"Adakah
tempat yang sangat kau inginkan untuk menerima pernyataan cinta?"
"Emmmmmm..
Ada. Aku ingin pernyataan itu dilakukan di Namsan Tower, karena setelah aku
menerima cinta itu, aku akan langsung memasang gembok yang bertuliskan namaku
dan nama kekasihku."
"Tempat
yang bagus."
"Kau
sendiri? Dimana kau ingin mendapat pernyataan cinta? Ahhh.. Maksudku, dimana
kau akan menyatakan cinta?"
"Aku
tidak tau. Mungkin aku akan menyewa tempat romantis atau aku akan mengatakannya
di tempat yang ia suka."
"Bagaimana
jika dia menolakmu?"
"Menolakku?
Ahhhh itu tidak mungkin. Sebelum aku mengatakannya, aku akan mencari tau
tentang perasaannya. Jika dia menyukaiku, aku akan mengatakannya, jika tidak,
aku akan berhenti menyukainya."
"Kau
tidak ingin merubah perasaannya?"
"Perasaan
tidak bisa dipaksa, kan?"
"Memang.
Lalu bagaimana jika suatu saat dia berubah pikiran dan malah menyatakan cinta
padamu?"
"Mungkin
saat itu, perasaanku juga berubah."
"Apa
kau tidak kasihan padanya?"
"Apa
saat itu dia juga kasihan padaku?"
"Bagaimana
dia mau kasihan padamu kalau saat itu kau belum mengatakan kalau kau
mencintainya?!"
"Kim
Jung Hee.. Sebelum aku mengatakan cinta, aku akan menunjukannya dengan
perbuatanku. Aku akan menunjukkan padanya kalau aku mencintainya."
"Maksudmu,
pernyataan cintamu itu secara tersirat?"
"Yup!
Benar sekali."
"Hhhhhhh..
Bagus kalau dia mengerti maksudmu, kalau dia tidak tau? Tidak semua orang peka
dengan perasaan orang lain."
"Apa
kau termasuk salah satu dari mereka yang tidak peka dengan perasaan orang
lain?"
"Apa?!
Emmmm.. Entahlah.. Mungkin aku peka, tapi aku tidak mau terlalu percaya diri.
Jika memang dia menyukaiku, aku akan menunggunya menyatakan cinta."
"Kau
akan menunggunya?"
"Bisa
dibilang begitu." mereka terdiam dengan pandangan ke depan.
"Sudah
malam, bisa kita pulang sekarang?" ucap Jung Hee.
"Baiklah."
"Aku
beritau ibuku dulu." Jung Hee mengirim SMS pada ibunya dengan mengatakan
kalau ia akan segera pulang. Namun setelah pesan itu terkirim, ponsel Jung Hee
berbunyi. Sebuah panggilan masuk dari ibunya.
"Yoboseyo?"
sapa Jung Hee.
"Yak,
Kim Jung Hee! Kenapa kau ingin pulang? Malam ini adalah kesempatanmu untuk
bersamanya. Kau boleh pulang lebih malam atau tidak pulang. Eomma mengijinkanmu!"
"Eomma!
Apa yang Eomma katakan?! Ini sudah malam!"
"Eomma
tau! Makanya Eomma memintamu menghabiskan malam ini bersamanya. Kalian bisa
mengobrol, menonton film, atau apapun asal jangan diluar batas."
"Tapi,
Eomma.."
"Katakan
padanya kalau Eomma pergi ke rumah saudara dan akan menginap disana bersama Min
Hee. Eomma lupa tidak meninggalkan kunci di rumah. Kau mengerti? Lagipula,
besok kau libur kan? Ingat, kesempatan tidak datang dua kali. Eomma tutup
dulu."
"Eomma?
Eomma? Eomma! Yoboseyo! Eomma?!" bagaimanapun Jung Hee memanggil ibunya,
ibunya tak akan mendengar karena panggilan telah dimatikan.
"Ada
apa?" tanya Jung Soo.
"Eomma
bilang Eomma akan menginap di rumah saudara kami bersama Min Hee dan Eomma lupa
meninggalkan kunci di rumah. Ahhh aku harus bagaimana?!"
"Kau
menginap saja di rumahku."
"Apa?!"
"Tak
ada orang di rumah. Mungkin jika kau di rumahku, aku punya teman."
"Kau
tidak berniat melakukan hal buruk kan?"
"Astaga,
Kim Jung Hee.. Sudah berapa tahun kau mengenalku? Kau pikir aku seperti itu?"
"Tiga
tahun lebih aku kenal kau, tapi aku belum tau seperti apa dirimu itu."
"Ahhh
kau benar juga.. Kau jangan berpikir buruk tentang diriku. Aku tidak akan
berbuat buruk padamu." Jung Hee memandang Jung Soo dengan intens.
"Kenapa
kau memandangku begitu? Aku serius!"
"Baiklah,
aku percaya."
"Kajja!"
akhirnya, sesuai dengan yang diharapkan ibunya, Jung Hee menghabiskan malam
bersama Jung Soo dengan menonton film di rumah, mengobrol, makan dan bermain.
-
Beberapa
hari kemudian, tiba saatnya Jung Hee mengikuti pertandingan debat Bahasa
Inggris. Jung Hee mengikuti debat itu dengan dua kakak kelasnya yang bernama
Choi Yoon Joo dan Lee Hana serta ada dua tim lain dari sekolahnya. Babak demi
babak telah mereka lewati. Mulai dari babak penyisihan hingga di final. Dan
saat ini ia telah bersiap untuk menghadapi final dengan tema pentingnya les dan
tambahan pelajaran di sekolah untuk siswa yang akan menghadapi ujian. Beberapa
menit kemudian, Juri masuk ke sebuah ruangan dan diikuti oleh lawan dari tim
Jung Hee. Perdebatan pun dimulai. Sebagai first speaker atau orang yang
berbicara pertama kali, Jung Hee mengungkapkan materinya dengan tegas dan
tenang. Setelah cukup lama, perdebatan pun selesai. Guru pembimbing tim Jung
Hee menyuruh Jung Hee dan seniornya untuk beristirahat sambil menunggu hasil.
Jung Hee hanya duduk di depan ruang debat sambil mengatur nafasnya.
"Penampilan
yang luar biasa." sebuah suara yang tiba-tiba mengejutkan Jung Hee. Suara
milik lawan Jung Hee tadi, Yoo Seung Ho.
"Eoh?
Kau?"
"Yoo
Seung Ho." Seung Ho mengulurkan tangannya untuk berkenalan. Jung Hee pun
menyambutnya.
"Kim
Jung Hee."
"Tadi
kau sangat keren!"
"Benarkah?
Terimakasih. Kau juga sangat mengagumkan."
"Terimakasih.
Emmm.. Kau sendiri? Dimana temanmu?"
"Mungkin
mereka sedang merefresh otak mereka. Kau tau kan, perdebatan ini sangat
melelahkan."
"Memang.
Di kelas berapa kau saat ini?"
"Aku di
tahun pertama SMA. Bagaimana denganmu?"
"Aku
juga sama."
"Ohhhh.."
"Emmm..
Boleh aku minta nomor ponselmu?"
"Apa?!"
"Tidak
bolehkah? Tidak masalah.. Aku berfikir, mungkin kita bisa berteman dan berbagi
informasi. Tidak apa-apa kalau kau tidak mau memberikan.
"Apa
aku bilang begitu? Berikan ponselmu!"
"Apa?"
"Kau
tidak mau?"
"Ahh..
Baiklah.. Ini." Seung Ho memberikan ponselnya pada Jung Hee. Jung Hee
meneldon nomor ponselnya dengan ponsel milik Seung Hoo kemudian
mengembalikannya.
"Kau
punya nomorku dan aku punya nomormu." ucap Jung Hee.
"Gomawo."
"Sama-sama.
Kalau begitu, aku pergi dulu. Aku ingin mencari teman-temanku."
"Silakan!"
Jung Hee berdiri kemudian meninggalkan Seung Ho setelah memberikan senyumannya.
Setengah jam kemudian, semua peserta bekumpul di sebuah aula yang cukup besar
untuk mengumumkan juara antara sekolah Jung Hee dan sekolah Seung Ho. Jantung
Jung Hee berdegup sangat kencang. Sama kencangnya seperti saat ia melihat Jung
Soo. Disaat yang mendebarkan seperti ini, Jung Soo malah melintas di fikiran
Jung Hee hingga membuatnya kesal.
"Astaga,
Park Jung Soo!! Pergilah dari fikiranku sekarang! Bagaimana bisa kau muncul
disaat seperti ini?! Pergilah, Park Jung Soo!!" umpatnya dengan suara
pelan namun penuh penekanan. Juara pun telah diumumkan. Tim Jung Hee berhasil
memenangkan perdebatan dari Tim Seung Ho. Euforia kemenangan begitu terasa di
Tim Jung Hee. Setelah penyerahan hadiah, Tim Jung Hee bersiap untuk pulang.
Satu persatu tim dari sekolah Jung Hee mulai masuk mobil.
"Jung
Hee-ya!" sebuah suara terdengar memanggil Jung Hee dengan cukup keras.
Jung Hee pun menoleh ke asal suara itu. Terlihat Yoo Seung Ho berlari ke arah
Jung Hee.
"Seung
Ho-ya? Ada apa?" tanya Jung Hee. Nafas Seung Ho terdengar ngos-ngosan
karena berlari.
"Aku
hanya ingin bilang selamat atas kemenanganmu."
"Kau
berlari seperti itu hanya untuk bilang begitu?"
"Iya..
Memangnya kenapa?"
"Gomawo,
Seung Ho-ya. Selamat juga atas kemenanganmu. Emmm kau tidak pulang?"
"Aku
juga akan pulang sebentar lagi.."
"Yoo
Seung Ho!!" teriak sesorang di belakang Seung Ho. Seseorang yang
sepertinya adalah guru dari Seung Ho.
"Cepatlah!"
sambungnya.
"Baik!"
"Gurumu
sudah memanggilmu." ucap Jung Hee.
"Ya,
benar. Jadi, ini saatnya kita berpisah."
"Jangan
bilang begitu. Aku berharap kita masih bisa bertemu lagi."
"Aku
juga berharap begitu. Baiklah, aku akan pergi lebih dulu." Seung Ho
mengulurkan tangannya dan Jung Hee pun menyambutnya. Mereka saling melempar
senyuman.
"Sampai
jumpa, Jung Hee-ya.."
"Sampai
jumpa, Seung Ho-ya.." Seung Ho perlahan melepaskan genggaman tangannya dan
melangkah menjauhi Jung Hee.
"Jung
Hee-ya! Kajja!" panggil guru Jung Hee dari dalam mobil.
"Baik,
Bu." Jung Hee pun masuk ke mobil.
-
Suara ponsel
berdering. Ponsel yang ada di atas meja belajar milik Seung Ho. Ia
menghampirinya dan mengangkatnya.
"Yoboseyo?"
"Ini
aku.."
"Aku
tau! Ada apa?"
"Apa-apaan
ini? Kau tidak mau memberitau aku tentang hari ini?"
"Tidak
ada yang harus ku beritaukan padamu."
"Kenapa?
Ahhhh aku tau.. Kau pasti kalan kan?"
"Ya,
kau benar.."
"Bagaimana
bisa? Siapa yang mengalahkanmu?"
"Sekolahmu.."
"Apa?!
Kau jangan bercanda!"
"Aku
tidak bercanda. Sekolahmu yang memenangkannya."
"Kalau
begitu, aku tutup telfonnya!"
"Yak!
Jung Soo-ya! Jung Soo-ya! Park Jung Soo! Aish! Anak ini benar-benar!"
-
Malam hari
yang tenang, Jung Hee sibuk dengan soal-soal fisika yang harus dikerjakannya.
Fisik dan fikirannya telah siap untuk menghadapi olimpiade fisika lima hari ke
depan. Olimpiade fisika dilakukan satu minggu setelah debat Bahasa Inggris.
Satu minggu setelah olimpiade fisika, Jung Hee mengikuti olimpiade matematika.
Cukup melelahkan bagi beberapa orang. Begitu juga dengan Jung Hee. Ia pernah
merasa kalau ia ingin mengundurkan diri dari lomba ini karena ia merasa lelah
harus berfikir terlalu banyak. Namun ia kembali berfikir ini akan mudah jika
Jung Hee menjalaninya begitu saja tanpa berfikir ini berat atau tidak. Satu
pelajaran yang ia peroleh, bahwa semua yang dijalani tanpa mengeluh dan terlalu
dipikirkan akan membuat semuanya menjadi mudah. Di tengah kesibukannya,
tiba-tiba ponselnya berdering. Ia melihat nama yang ada disana. 유승호 (Yoo Seung Ho). Ia mengangkat telfon
itu.
"Yoboseyo!"
sapa Jung Hee.
"Jung Hee-ya,
ini aku."
"Aku
tau. Ada apa?"
"Apa
yang sedang kau lakukan?"
"Mengerjakan
soal untuk olimpiade fisika."
"Apa?!
Jangan bilang kau akan ikut olimpiade itu!"
"Aku
ikut, kenapa?"
"Ayolah..
Kau jangan ikut.."
"Apa
kau juga ikut?"
"Eoh!"
"Ahhhhh..
Kau takut kalah dariku?"
"Yak,
Kim Jung Hee!"
"Ahahaha..
Aku tau kau takut kalah dariku.. Tenanglah, Seung Ho-ya.. Kau belum tentu kalah
dariku. Ini bukan debat. Siapa tau kau lebih unggul dariku dalam hal ini.
Kalaupun kau kalah, kau bisa kalah dari orang lain."
"Aku
tau. Tapi jika kau tidak ikut, kesempatanku untuk menang akan semakin
besar."
"Jadi,
kau menganggapku sebagai musuhmu? Bukan temanmu?"
"Bukan
begitu.."
"Aku
benci kau, Yoo Seung Ho!"
"Jung
Hee-ya, aku tidak bermaksud begitu."
"Aku
tau. Aku cuma bercanda."
"Hhhhhhh..
Syukurlah.."
"Kau
tidak belajar?"
"Aku
sudah belajar."
"Benarkah?"
"Ya."
"Oohhh.."
"Kau
belajar saja. Aku tutup dulu."
"Emm..
Baiklah." Seung Ho pun menutup telfonnya.
-
Hari yang
dinantikan tiba, Seung Ho, Jung Hee dan semua peserta mengerjakan soal pilihan
ganda dengan tenang. Dua jam telah berlalu, semua peserta keluar dan
beristirahat selama tiga puluh menit untuk menunggu sesi kedua.
"Bagaimana
menurutmu?" tanya Seung Ho.
"Tentang
apa?"
"Soal
tadi."
"Ohh..
Tidak sulit juga tidak mudah."
"Kau
bisa mengerjakannya?"
"Ada
beberapa nomor yang tidak ku kerjakan. Bagaimana denganmu?"
"Sama
sepertimu."
Sesi kedua
dimulai, sesi kedua ini adalah sesi untuk mengerjakan soal berupa uraian yang
berjumlah sepuluh soal. Setelah mengerjakan dan menunggu, hasil pun diumumkan
dan Jung Hee berhasil menjadi juara satu dan Seung Ho menjadi juara kedua. Jung
Hee dan Seung Ho saling berpandangan. Dalam tatapannya, Jung Hee tau kalau
Seung Ho ingin marah padanya. Setelah mereka menerima piala, Jung Hee
menghampiri Seung Ho.
"Seung
Ho-ya, gwenchanha?"
"Apa
aku terlihat baik-baik saja?"
"Aku
tau kau pasti marah padaku. Aku minta maaf."
"Hhhh..
Baguslah kalau kau tau."
"Maafkan
aku."
"Sudahlah.
Ini tidak sepenuhnya salahmu. Mungkin aku kurang teliti."
"Kau
tidak marah lagi?"
"Tidak.
Untuk apa? Temanku menjadi pemenang, dan aku harus senang."
"Kau
serius?"
"Sangat serius. Chukhahae, Jung
Hee-ya."
"Gomawo.."
"Minggu
depan, apa kau ada olimpiade lagi?"
"Ada."
"Apa?
Bukan kimia kan?"
"Bukan.
Aku ikut matematika."
"Hhhhh..
Syukurlah.."
"Kalau
aku ikut olimpiade kimia, aku tau kau akan takut karena kau tidak akan
menang."
"Yak,
Kim Jung Hee! Berhentilah bicara seperti itu. Anggap saja aku mengalah karena
teman."
"Hahaha..
Baiklah.."
"Ngomong-ngomong,
kau harus traktir aku."
"Mentraktirmu?
Emmmm.. Pasti.. Tapi kita tunggu minggu depan.. Jika kau memenangkan olimpiade
itu, aku akan mentraktirmu, tapi setelah itu, kau harus mentraktirku karena kau
menang. Bagaimana?"
"Baiklah,
aku setuju." mereka bersalaman. Seminggu kemudian mereka mengikuti
olimpiade dengan bidang kemampuan mereka masing-masing dan memenangkannya.
Perjanjian pun dipenuhi. Tahun pertama telah selesai, Jung Hee melangkah ke
tahun kedua dengan nilai terbaik. Di tahun kedua ini, Seung Ho memutuskan untuk
pindah ke sekolah Jung Hee agar ia bisa satu tim dengan Jung Hee dalam
perdebatan Bahasa Inggris.
Jung Hee
berjalan dari kelasnya dengan membawa beberapa buku pinjaman dari perpustakaan.
Nmun ia tertabrak oleh seseorang yang baru keluar dari kelas hingga membuat
semua bukunya jatuh. Ia pun mengambil semua bukunya.
"Maafkan
aku, aku tidak sengaja." ucap orang yang menabrak Jung Hee.
"Tidak
apa-apa." Jung Hee melihat orang itu dan ia terkejut.
"Seung
Ho-ya?" lanjutnya.
"Eoh?
Jung Hee-ya, annyeong.."
"Apa
yang kau lakukan disini? Dan kau memakai seragam sekolah kami?"
"Oh
ini? Aku resmi jadi siswa disini."
"Kenapa
kau pindah ke sekolah kami?"
"Karena
aku ingin satu tim bersamamu untuk debat Bahasa Inggris. Aku tidak mau kalah
lagi darimu, jadi jika aku satu tim denganmu, kita akan menang bersama."
"Kalau
begitu, selamat datang di tim debat kami."
"Gomawo.."
tiba-tiba Jung Soo keluar dari kelas yang sama.
"Apa
yang kalian lakukan disini?" tanya Jung Soo.
"Aku
tidak sengaja menabrak Jung Hee."
"Kalian
sudah saling kenal?"
"Tentu.
Bahkan kami sudah sering bertemu. Benarkan, Jung Hee-ya?"
"Iya.
Tunggu, kalian juga sudah saling kenal?" tanya Jung Hee balik. Seung Ho
dan Jung Soo pun saling merangkul.
"Tentu."
jawab Seung Ho.
"Kami
berteman sejak kecil. Kemudian kami terpisah saat SMP dan saat masuk SMA, aku
mengajaknya untuk masuk ke sekolah ini tapi dia tidak mau masuk ke sekolah
ini." sahut Jung Soo.
"Kenapa
kau tidak mau masuk ke sekolah ini?" tanya Jung Hee serius membuat Seung
Ho melepas rangkulannya.
"Emmmm..
Itu.. Aku masuk ke sekolah dengan prestasi yang baik di bidang Bahasa Inggris,
khususnya debat. Sekolahku yang dulu memiliki prestasi itu, tapi sekarang
sekolahku kalah dari sekolahmu, jadi aku pindah ke sekolah ini."
"Jadi,
jika nanti kami kalah dalam debat, kau akan pindah lagi?"
"Tentu
tidak."
"Wae?"
"Karena
kau ada disini."
"Apa?!"
sahut Jung Soo dan Jung Hee bersamaan.
"Ahh
sudahlah.. Aku pergi dulu.." Seung Ho pun pergi meninggalkan mereka.
"Yak,
Seung Ho-ya! Apa yang kau maksud?!" Jung Hee juga melangkahkan kakinya
meninggalkan Jung Soo dengan membawa buku-bukunya.
"Dia
tidak akan pindah karena Jung Hee? Apa maksudnya?" gumam Jung Soo.
-
Semakin
lama, Jung Hee dan Seung Ho semakin dekat hingga membuat Seung Ho berniat untuk
menyatakan perasaannya pada Jung Hee di akhir tahun kedua ini. Jung Soo pun
juga semakin dekat denan Jung Hee.
Jung Hee
terlihat bersiap akan pulang ke rumah setelah menerima raport. Namun, seorang
siswa laki-laki menemuinya dan memberinya surat.
"Jung
Hee-ya! Ada surat untukmu. Ini!" ucap siswa itu sambil memberikan surat.
"Dari
siapa?"
"Dia
melarangku untuk memberitaumu."
"Oh,
begitu.. Terimakasih." siswa itu pun pergi dan Jung Hee membuka surat itu.
"Jung
Hee-ya, aku minta temui aku di taman belakang sekolah. Aku menunggumu."
isi dari surat itu.
"Siapa
yang menulis surat ini? Apa ini dari Seung Ho? Tapi tidak, ini bukan
tulisannya. Apa ini dari Jung Soo?" ia berfikir sejenak kemudian langsung
menuju ke tempat yang tertulis di surat itu. Saat sampai disana, ia melihat ke
sekitar seolah mecari seseorang, dan kedua matanya menangkap seorang laki-laki
yang tengah berjalan ke arahnya. Laki-laki yang ia sukai dari dulu. Park Jung
Soo. Jung Hee tersenyum begitu pula dengan Jung Soo.
"Jung
Hee-ya!" Seung Ho tiba-tiba datang dari samping kanan Jung Hee dan menepuk
bahunya membuatnya terkejut.
"Eoh?
Seung Ho-ya? Apa yang kau lakukan disini?"
"Menemuimu,
apalagi?!"
"Apa?!
Jadi, surat itu darimu?"
"Iya."
"Lalu,
Jung Soo-ya, apa yang kau lakukan disini?"
"Aku?
Sebenarnya tadi aku ingin pulang, tapi aku melihatmu ada disini. Aku ingin
bertanya kenapa kau belum pulang dan malah berada disini, ternyata kau akan
bertemu dengan Seung Ho. Jadi, lebih baik aku pulang." Jung Soo pun
berbalik badan.
"Tunggu!"
cegah Seung Ho sebelum Jung Soo melangkahkan kakinya.
"Aku
minta kau disini untuk menjadi saksi apa yang akan ku lakukan hari ini."
sambungnya.
"Memangnya
apa yang akan kau lakukan?" tanya Jung Hee.
"Jung
Hee-ya.." Seung Ho memegang kedua tangan Jung Hee.
"Aku tidak
tau apa yang harus ku katakan. Sudah lebih dari satu tahun aku mengenalmu. Dan
sudah selama itu pula, aku menyukaimu." lanjutnya membuat Jung Hee dan
Jung Soo sangat terkejut.
"Aku
menyukaimu sejak pertama kali aku melihatmu saat kita berdebat. Di mataku, kau
gadis yang hebat, berani, pintar dan luar biasa. Aku ingin kau menjadi pacarku.
Apa kau mau?" Jung Hee terdiam. Ia tak mampu berkata apa-apa. Beberapa
kali ia sempat bertatapan dengan Jung Soo.
"Seung
Ho-ya, mianhae, aku tidak bisa lama. Aku ada janji dengan temanku. Aku harus
pergi." ucap Jung Soo tiba-tiba.
"Benarkah?
Baiklah." balas Seung Ho.
"Hati-hati
di jalan." Jung Hee menimpali. Jung Soo pun melangkahkan kakinya.
"Jung
Hee-ya, bagaimana?" tanya Seung Ho membuyarkan lamunan Jung Hee.
"Apa?!
Emmm.. Entahlah.. Aku.. Aku hanya tidak mau kehilangan sahabat baikku
lagi."
"Maksudmu?"
"Seung
Ho-ya.. Kau adalah sahabatku. Sahabat baikku. Aku tidak ingin kehilangan kau.
Aku pernah berada dalam posisi seperti ini. Aku bershabat dengan seseorang,
tapi lama-lama dia menyatakan cintanya padaku. Aku bingung. Jika aku
menolaknya, dia akan menjauh. Jika aku menerimanya, aku akan kehilangan dia
jika suatu hari nanti kami berpisah. Dan aku memutuskan untuk menerimanya
dengan harapan aku tidak akan kehilangan dia meski kami berpisah. Meskipun saat
itu aku tidak mencintainya dan aku menyukai orang lain."
"Kenapa
kau memikirkan perpisahan?"
"Karena
kami berbeda keyakinan. Aku tau kami tidak akan bisa bersama karena kami tidak
ingin meninggalkan keyakinan kami demi seseorang dengan keyakinan lain."
"Lalu
bagaimana denganku? Keyakinan kita sama kan?"
"Iya..
Tapi aku tetap takut. Aku tidak tau apa yang akan terjadi nanti."
"Hhh..
Baiklah.. Sekarang aku tidak akan memintamu untuk menerimaku atau tidak. Aku
hanya ingin kau menjalani ini semua denganku. Jika suatu hari nanti kau akan
menerima atau bahkan menolakku, katakan saja padaku. Aku siap mendengarnya.
Hingga waktu itu tiba, aku akan selalu menunggumu."
"Seung
Ho-ya.."
"Sudahlah,
jangan terharu begitu. Aku tau tindakanku ini memang sangat baik."
"Yak!
Kau benar-benar percaya diri.."
"Memangnya
kenapa? Ada masalah?"
"Tidak.."
"Oh ya,
sahabatmu itu.. Siapa? Tinggal dimana? Apa aku boleh tau?"
"Dia
tinggal di Amerika. Dia sahabatku di dunia maya."
"Apa?!
Jadi, kau belum pernah bertemu dengannya?"
"Hmmm.."
"Dia
belum bertemu denganmu, tapi dia sudah menyatakan cintanya? Kau pasti memasang
foto wanita cantik kan? Atau kau pasti mengedit semua fotomu. Jika tidak, mana
mungkin dia bisa menyukaimu?!"
"Ohhh..
Jadi menurutmu seperti itu? Lalu, bagaimana kau bisa menyukai aku? Bahkan kau
menyukaiku saat pertama melihatku."
"Ahh
sudahlah.. Ayo kita pulang.. Aku akan mengantarmu."
"Baiklah.."
Seung Ho pun mengantar Jung Hee Ke rumah menggunakan motornya.
"Gomawo."
ucap Jung Hee ketika mereka telah sampai di rumahnya.
"Sama-sama."
"Masuk,
dulu. Ku buatkan minuman untukmu."
"Apa?!"
"Sudahlah..
Ayo masuk!" Jung Hee menarik tangan Seung Ho untuk masuk ke rumahnya.
"Eomma,
aku pulang!" ucap Jung Hee memasuki rumahnya.
"Pulang
ya pulang saja! Tidak perlu berisik begitu!" sahut Min Hee yang sedang
duduk di lantai fokus bermain game di ruang tamu.
"Anak
kecil, dimana Eomma?"
"Jangan
panggil..." ucapan Min Hee terhenti begitu melihat Seung Ho di samping
Jung Hee.
"Aku
anak kecil.." sambungnya.
"Haha..
Kau memang anak kecil!"
"Eonni,
siapa dia?"
"Kau
tak perlu tau! Seung Ho-ya, kau duduk dulu, aku akan ganti baju dulu.."
"Baiklah!"
"Yak,
Kim Min Hee! Menyingkirlah!"
"Aish!!
Aku mau belajar!" Seung Ho duduk di sofa dan Jung Hee pergi ke kamarnya.
Min Hee yang duduk di lantai pun, berpindah menjadi duduk di samping Seung Ho.
"Oppa..
Apa kau teman kakakku?" tanya Min Hee.
"Emm
iya.."
"Min
Hee, Kim Min Hee ibnida.." ucap Min Hee mengulurkan tangan.
"Oh..
Yoo Seung Ho ibnida.." mereka berdua bersalaman singkat.
"Oppa,
bagaimana kau bisa berteman dengan kakakku?"
"Aku
bertemu dengannya saat kami ikut debat Bahasa Inggris."
"Jadi
kau lawan kakakku?"
"Hmm.."
"Aku
sarankan jangan pernah menjadi lawan kakakku.. Kau tak akan pernah
menang."
"Aku
memang belum bisa mengalahkannya. Dua kali dia sudah mengalahkan aku. Bagaimana
dia bisa begitu?"
"Entahlah..
Aku juga tidak tau.. Setiap dia akan mengikuti lomba, dia tidak pernah keluar
dari kamarnya selama seminggu. Dan saat lomba waktu itu, tiga lomba sekaligus,
dia tidak keluar selama sebulan. Ahhhh, dia pernah pergi sekali atas suruhan
Eomma."
"Apa
kakakmu punya pacar?"
"Apa?
Hahaha.. Mana mungkin dia punya pacar?! Selain pendidikan, dia tidak memikirkan
apapun. Bahkan dia tidak peduli dengan dirinya dan juga penampilannya.
Bagaimana bisa ia punya pacar?! Eomma pernah membuatkannya sebuah gaun yang
sangat cantik. Bahkan aku menginginkannya, tapi dia hanya menyimpan gaun itu
dan dia lebih suka memakai celana. Hanya itu yang dia punya dan dia
sukai."
"Benarkah
seperti itu?"
"Hmmm.."
Jung Hee pun muncul dengan membawa minum dan beberapa makanan.
"Kim
Min Hee, pergilah ke kamarmu!" ucap Jung Hee.
"Aku
tidak mau! Kenapa aku harus pergi ke kamarku?!"
"Kau
harus belajar untuk masuk SMA yang kau mau!"
"Aku
tidak mau!"
"Pergilah
ke kamarmu atau kau tak akan bisa bertemu Appa!"
"Baiklah.."
Min Heepun menuruti perintah kakaknya untuk belajar di dalam kamar dan Jung Hee
duduk di depan Seung Ho. Seung Ho menatap Jung Hee dengan intens. Jung Hee
mengambil minum yang ada di depannya kemudian meminumnya. Sadar jika Seung Ho
sedang menatapnya, ia meletakkan minumnya secara perlahan dengan mata yang juga
menatap Seung Ho.
"Kenapa?
Kenapa kau menatapku begitu?!" tanya Jung Hee.
"Tidak,
tidak apa-apa. Aku hanya penasaran, gadis seperti apa kau ini?!"
"Apa
maksudmu? Apa yang kau bicarakan dengan adikku?"
"Aku
tidak bicara apapun."
"Benarkah?"
"Apa
malam ini kau ada waktu?"
"Tidak.
Aku harus mengerjakan banyak tugas."
"Apa?!
Ya sudah, tidak jadi.. Belajarlah yang rajin.."
"Hehe..
Aku bercanda. Aku tidak ada tugas. Ada apa?"
"Aku
ingin mengajakmu pergi."
"Kemana?"
"Kita
tentukan nanti. Kau mau kan?"
"Emmm..
Sebenarnya aku tidak suka pergi, tapi karena ada yang mengajakku, jadi baiklah,
aku akan pergi denganmu.."
"Baiklah,
aku akan menjemputmu jam tujuh malam."
"Aku
akan menunggumu." Seung Ho pun bangun dan bersiap untuk pulang. Jung Hee
pun mengantarnya sampai di pintu.
"Sampai
jumpa nanti malam, pacarku yang manis." ucap Seung Ho sambil mengacak
rambut Jung Hee.
"Kau
bilang apa?" Seung Ho hanya tersenyum kemudian pergi dari rumah Jung Hee
menaiki motornya. Jung Hee pun kembali ke rumah dan pergi menghampiri adiknya.
"Anak
pintar!" ucap Jung Hee saat melihat adiknya belajar di kelasnya. Ia hanya
membalas tatapan pada Jung Hee.
"Untuk
apa kau menyuruhku melakukan ini?!" Jung Hee duduk di samping Min Hee.
"Kau
bilang kau mau masuk SMA terbaik kan? Jadi kau hars belajar."
"Aku
tidak mau. Aku mau masuk ke SMA mu."
"Apa?!"
"Kenapa?
Sekolahmu juga termasuk sekolah terbaik kan?"
"Iya,
memang.. Tapi, bukankah kau mau masuk ke..."
"Aku
membatalkannya."
"Kenapa?"
"Karena
Seung Ho Oppa tidak ada disana dan dia ada di sekolahmu."
"Jadi,
kau mau masuk ke sekolah kami karena Seung Ho?"
"Iya.
Dia tampan.."
"Baiklah..
Belajarlah yang rajin dan jadikan Yoo Seung Ho sebagai pemacu semangatmu! Kau
mengerti?!"
"Sangat
mengerti!"
"Oh ya,
dimana Eomma? Dari tadi aku belum melihatnya."
"Eomma?
Setelah pulang dari sekolahmu, Eomma pergi. Mungkin ada di butik."
"Oh..
Ya sudah." Jung Hee pun keluar dari kamar Min Hee dan masuk ke kamarnya.
-
*teng teng
teng* jam telah menunjukan pukul tujuh dan Jung Hee telah siap untuk pergi dengan
Seung Ho malm ini. *ting tung* bel telah berbunyi. Jung Hee segera berlari ke
pintu kemudian kemudian membukanya. Di lihatnya Seung Ho yang terlihat tampan
di depan pintunya. Mereka saling melempar senyuman.
"Siapa
yang datang, sayang?" ucap ibunya yang menghampiri Jung Hee.
"Annyeong
haseyo, hjumma.. Yoo Seung Ho ibnida." ucap Seung Ho sambil membungkukkan
badan.
"Iya,
aku tau. Kau teman Jung Hee kan?"
"Iya.."
"Jung
Hee sering bercerita tentangmu. Kau anak yang baik."
"Ahh,
terimakasih atas pujiannya." ucap Seung Ho malu-malu.
"Mau
mengajak Jung Hee pergi?"
"Iya,
Ahjumma."
"Ya
sudah, kalian pergilah. Seung Ho-ya, jaga Jung Hee, ya!"
"Baik,
Ahjumma."
"Gomawo,
Eomma. Kami pergi." Seung Ho menundukan kepalanya sebelum mereka pergi
menaiki motor. Seung Ho menjalankan motornya ke sebuah taman. Bukan taman
bermain, tapi taman yang biasanya digunakan untuk kencan.
"Kenapa
kita kesini?" tanya Jung Hee.
"Ku
pikir ini tempat yang baik untuk kita berkencan."
"Berkencan?"
"Iya.
Bukankah kita sedang berkencan?!"
"Tapi..."
"Sudahlah,
kau jangan bicara apapun. Bagiku, kita sedang berkencan dan resmi berpacaran.
Kau sudah makan?"
"Aku
terlalu sibuk menata diriku karena akan pergi denganmu sampai aku lupa kalau
aku belum makan. Jadi kau harus tanggung jawab."
"Baiklah.
Kita pergi makan sekarang?"
"Tidak.
Kita baru sampai disini. Aku belum mau pergi."
"Baiklah,
terserah padamu. Katakan padaku kalau kau ingin pergi atau menginginkan
sesuatu. Aku akan memberikannya."
"Baiklah."
mereka pun berjalan menyusuri taman ini. Sesuai dengan perkataan Seung Ho, Jung
Hee mengatakan apa yang ia inginkan tanpa menyembunyikannya. Mereka pergi
makan, menonton film, jalan-jalan dan pergi ke timezone. Meskipun malam ini
bersama Seung Ho, tapi pikiran Jung Hee selalu tertuju pada Jung Soo.
-
Hampir
setahun Seung Ho menjalani hubungan dengan Jung Hee dan selama itu pula Jung
Hee belum membuka hatinya untuk Seung Ho. Dan juga selama itu pula, Jung Soo,
Seung Ho dan Jung Hee menghabiskan waktu bersama di luar sekolah. Sedangkan Ah Ra
dan Chaeri tetap menjadi sahabat bagi Jung Hee di dalam sekolah.
Di kantin
sekolah, Seung Ho dan Jung Hee sedang melahap makan siangnya.
"Seung
Ho-ya.." ucap Jung Hee.
"Ya?"
"Setelah
lulus nanti, kau akan masuk universitas mana?"
"Kau
sendiri?"
"Aku
tanya padamu, kenapa kau malah balik bertanya padaku?"
"Kau
jawab dulu, kau akan kemana?" Seung Ho mengangkat gelas minum dan
meminumnya.
"Aku
akan ke Amerika." ucap Jung Hee membuat Seung Ho terkejut dan hampir
membuatnya memuntahkan minuman di mulutnya.
"Kau
bilang apa?! Amerika?"
"Iya.
Appa janji akan mengajakku tinggal bersama jika aku punya prestasi yang bagus.
Hampir enam tahun aku tidaj bertemu dengan Appa. Jadi, aku akan kesana. Aku
akan melanjutkan kuliah disana."
"Kenapa
kau tidak ke Finlandia? Bukankah pendidikan disana yang terbaik?"
"Aku
sangat ingin melanjutkan ke Finlandia, tapi aku juga ingin bertemu dengannya.
Lalu bagaimana denganmu?"
"Aku
akan ke Finlandia. Jung Hee-ya, ikutlah denganku."
"Bagaimana
dengan Appa?"
"Ayahmu
pasti akan mendukungmu. Aku tidak bisa jauh darimu."
"Kenapa
bukan kau saja yang ikut aku?"
"Orang
tuaku sudah menyiapkan semuanya. Bahkan Eomma bilang aku sudah didaftarkan
disana."
"Apa?!"
"Yaa..
Aku tidak bisa pergi denganmu. Jadi ku mohon, ikutlah denganku."
"Akan
ku pikirkan."
"Baguslah."
-
Semester
akhir, semua siswa kelas akhir yang akan melanjutkan ke perguruan tinggi
bersiap untuk menghadapi suneung (ujian masuk perguruan tinggi). Selain itu,
mereka juga bersiap untuk menghadapi ujian akhir. Selama beberapa hari mereka
menjalani ujian. Dan Jung Hee, ia telah mendiskusikan pendidikannya dengan
orang tuanya dan orang tuanya pun setuju kalau ia akan melanjutkan kuliah di
Finlandia bersama Seung Ho. Pengumuman kelulusan telah diumumkan. Semua siswa
lulus dengan nilai yang baik. Tak lama, pelepasanpun diselenggarakan di
sekolah. Semua siswa saling melepas satu sama lain karena mereka akan berpisah.
Sama seperti yang lain, Seung Ho dan Jung Hee melakukan hal yang sama pada
teman mereka. Jung Hee melihat Jung Soo yang berjarak 50 meter darinya. Dan
Seung Ho melihat Jung Hee dari jarak 10 meter. Ia juga tau kalau Jung Hee
sedang mengamati temannya itu. Ia pun melangkahkan kakinya mendekati Jung Hee.
"Katakanlah!"
ucap Seung Ho membuat Jung Hee terkejut.
"Apa?"
"Kau
menyukai Park Jung Soo kan?" Jung Hee makin terkejut atas kalimat yang
baru saja keluar dari mulut Seung Ho.
"Katakan
saja kalau kau menyukainya. Kau tak perlu takut." lanjutnya.
"Seung
Ho-ya, darimana kau tau?"
"Kim
Jung Hee, aku sudah mengenalmu selama dua tahun. Selama itu aku mampu
memahamimu. Aku tau apa yang kau suka dan apa yang tidak kau suka. Dan aku tau
kalau kau menyukai temanku itu."
"Sejak
kapan kau tau?"
"Sejak
kapan? Entahlah. Mungkin sejak aku mengungkapkan perasaanku padamu waktu
itu."
"Kau
tau itu tapi kau tetap menjalani hubungan ini denganku? Kenapa?"
"Karena
saat melihat matamu, aku melihat diriku disana. Meskipun temanku itu telah
memenuhi pandangan, fikiran dan hatimu, tapi aku melihat aku juga punya tempat
disana meskipun tidak sespesial Jung Soo dan hanya sebatas teman."
"Seung
Ho-ya.."
"Katakanlah
padanya. Hampiri dia dan ungkapkan perasaanmu padanya agar kau lega."
"Lalu
bagaimana denganmu? Kau bilang aku pacarmu kan?"
"Kau
memang pacarku. Dan aku mau pacarku ini bahagia. Dengar, soal rencana kita di
Finlandia, kau bisa melupakannya kalau kau mau. Tapi sampai pesawatku belum
berangkat, aku akan menunggumu. Aku tidak tau apa yang akan kau lakukan nanti
dan aku tidak mau tau untuk saat ini. Aku hanya mau kau bahagia. Ungkapkan
perasaanmu. Jika dia menolakmu datanglah ke bandara dan kita pergi bersama.
Tapi jika kau tidak datang, aku tau jawabannya."
"Lalu
bagaimana jika dia menerimaku tapi aku ingin tetap pergi ke Finlandia?"
"Beritau
aku, maka aku tidak akan mengusik kehidupan cintamu meski kita bersama."
Jung Hee menitihkan air matanya. Tanpa menunggu, Seung Ho langsung menyekanya
dengan jarinya.
"Seung
Ho-ya, gomawo.."
"Sudahlah..
Pergilah! Aku akan pulang sekarang."
"Hmmm.."
"Aku
pulang dulu, pacarku yang manis." Seung Ho mengacak rambut Jung Hee pelan
kemudian pergi dengan Jung Hee yang menatapnya. Setelah Seung Ho hilang dari
pandangannya, ia kembali menatap Jung Soo. Syukurlah ia belum pergi. Perlahan,
Jung Hee melangkahkan kakinya mendekati Jung Soo.
"Jung
Soo-ya.." panggil Jung Hee gugup.
"Jung
Hee-ya, selamat atas kelulusanmu. Kau memang hebat."
"Gomawo..
Emmm.. Ada sesuatu yang ingin ku katakan padamu."
"Apa?"
Jung Hee mengatur nafasnya untuk mengendalikan dirinya agar ia tidak gugup.
"Aku
mau bilang.. Emm.. Aku.. Aku ingin berterimakasih padamu."
"Untuk
apa?"
"Terimakasih
karena secara tidak langsung, kau telah menjadi pemacu semangatku selama enam
tahun. Aku tau mungkin ini kedengarannya konyol. Tapi, ini adalah yang ku
rasakan selama enam tahun ini. Aku menyukaimu, saat pertama kali melihatmu di
SMP. Aku menyukai semua hal yang ada pada dirimu. Selama enam tahun, aku tidak
berharap kau juga menyukaiku. Tapi aku berharap agar aku selalu bisa melihatmu
dimanapun, kapanpun, dan dengan siapapun. Aku bahkan tidak peduli jika dulu kau
punya pacar karena yang terpenting adalah aku bisa terus melihatmu. Melihat
orang yang ku sukai. Melihat orang yang sempurna di mataku. Kau pasti bertanya
kenapa aku mengatakannya sekarang. Aku akan beritau. Alasannya karena sebentar
lagi kita akan berpisah. Aku tidak peduli apa yang akan terjadi setelah ini.
Bahkan jika kau tak ingin melihatku lagi, bagiku tak masalah karena sebentar
lagi aku akan pergi. Jadi, aku tidak akan gila jika kau menjauhiku." ucap Jung Hee panjang
lebar. Ia menghela nafasnya.
"Huhhhhh..
Seung Ho benar. Aku harus mengatakannya agar aku merasa lega." sambungnya.
"Jung
Hee-ya..."
"Oppa!!"
ucapan Jung Soo terpotong ketika Sora menghampirinya.
"Chukhahae.."
sambungnya sambil mengecup pipi kiri Jung Soo membuat Jung Hee dan Jung Soo
terkejut.
"Sora-ya,
apa yang kau lakukan?!" tanya Jung Soo.
"Kenapa?
Kau kan pacarku? Apa aku tidak boleh melakukan itu?" ucap Sora membuat
Jung Hee makin terkejut.
"Apa?!
Pacar?" Jung Soo pun terdiam.
"Iya..
Jung Hee-ya, kau belum tau kalau aku dan Jung Soo Oppa sudah berpacaran?"
"Sudah
berapa lama kalian berpacaran?"
"Dua
bulan."
"Dua
bulan?" Sora mengangguk, Jung Hee tak sanggup menahan air matanya hingga
air matanya jatuh.
"Aku
tidak tau tentang hubungan kalian. Mungkin ini terlambat, tapi selamat. Selamat
atas hubungan kalian. Semoga kalian bahagia." Jung Hee berbalik dan
melangkahkan kakinya untuk pulang. Hatinya hancur. Ia mencoba untuk tidak
menangis saat naik bis. Tapi setelah ia turun dari bis, ia menangis sambil
berjalan pulang. Berkali-kali ia menghapus air matanya dan meniupnya agar ia
tidak terlihat menangis. Tapi itu sia-sia. Air matanya masih terus mengalir
sampai ia tiba di rumahnya. Saat ia masuk rumah, ibu, adik, Chaeri dan Ah Ra
menyalakan confetti untuk menyambut Jung Hee yang lulus dengan nilai terbaik.
Tapi tak seperti yang diharapkan, Jung Hee tidak bahagia dan ia tetap menangis.
Ia duduk di kursi tamu. Mereka bertanya apa yang terjadi dan Jung Hee hanya
menjawab jika semuanya sudah hancur.
"Eomma!
Semuanya sudah hancur! Semua yang ku lakukan sia-sia!"
"Apa
maksudmu?" tanya ibunya.
"Kalian
semua tau kan untuk siapa aku melakukan semua ini? Kalian semua tau bagaimana
aku berjuang menjadi yang terbaik untuknya. Tapi.. Semuanya sia-sia."
"Sia-sia
apanya? Apa kau mengungkapkan perasaanmu pada Jung Soo?" tanya Chaeri.
"Ya,
kau benar. Hari ini aku mengungkapkan perasaanku padanya. Tapi hari ini juga
aku tau kalau ternyata dia sudah berpacaran dengan Kang Sora selana dua
bulan."
"Apa?!"
ucap semua orang terkejut.
"Aku
tau tidak seharusnya aku begini. Aku tidak peduli dengan siapa dia berpacaran.
Tapi kali ini, aku tidak tau kenapa hatiku benar-benar sakit. Hatiku
hancur.."
"Bagaimana
dengan Seung Ho?" tanya Ah Ra.
"Dia..
Dia yang memintaku untuk mengungkapkan perasaanku."
"Apa
dia tau kalau Jung Soo dan Sora berpacaran?" tanya Chaeri.
"Aku
tidak tau."
"Astaga,
anak Eomma kasihan sekali. Sudahlah jangan bersedih lagi. Eomma rasa Seung Ho
tidak tau kalau mereka berpacaran. Seung Ho tidak mungkin menyakiti hatimu.
Eomma tau dia sangat mencintaimu. Dia pemuda yang baik."
"Eomma,
apa yang harus aku lakukan?"
"Ikuti
kata hatimu. Lakukan yang ingin kau lakukan. Eomma akan mendukungmu selama kau
bahagia."
-
Pukul
delapan malam, Jung Hee telah siap untuk pergi ke bandara. Ia meminta agar tak ada
yang mengantarnya ke bandara. Perpisahan hangat terjadi di antara Jung Hee,
ibu, adik dan dua sahabat baiknya.
"Aku
pergi dulu. Jaga diri kalian baik-baik. Dan untukmu, Min Hee-ya, jika nanti kau
ingin melanjutkan kuliah bersamaku, kau harus belajar dengan baik!"
"Aku
tidak akan bersamamu. Aku akan pergi dan bersama Appa!"
"Bersama
Appa pun kau harus belajar dengan giat!"
"Aku
tau. Jaga dirimu, Eonni. Aku akan merindukanmu. Meskipun kau disana, aku mohon
bantu aku agar aku lulus dengan nilai terbaik sepertimu."
"Baiklah.
Akan ku lakukan. Aku pergi." mereka semua saling berpelukan dan Jung Hee
pun pergi.
-
Di waktu
yang sama di sebuah kafe. Jung Soo, Sora dan teman-temannya sedang merayakan
kelulusan mereka. Namun diantara mereka, Jung Soo terlihat murung.
"Hhhh..
Pergilah!" ucap Sora tiba-tiba.
"Maksudmu?"
"Kejarlah
Kim Jung Hee. Katakan padanya kalau kau juga menyukainya. Mungkin saat ini kau
pacarku, tapi aku tidak pernah melihatmu bahagia saat bersamaku. Aku melihatmu
sangat bahagia saat kau bersama Jung Hee. Tatapanmu padanya sangat berbeda
dengan tatapanmu padaku. Kita baru berpacaran selama dua bulan. Bagiku, tidak
masalah jika kita putus sekarang. Aku berfikir bagaimana Seung Ho bisa
membiarkan Jung He mengatakan perasaannya padamu padahal mereka sudah
berpacaran selama setahun. Jika Seung Ho bisa merelakan Jung Hee, aku juga bisa
merelakanmu. Jadi pergilah!"
"Gomawo,
Sora-ya!" Jung Soo pun bergegas pergi dri kafe.
-
Tiga puluh
menit lagi pesawat akan lepas landas tapi Seung Ho belum juga melihat Jung Hee.
*Perhatian, pesawat dengan tujuan
Helsinki, Finlandia akan berangkat dalam tiga puluh menit. Dimohon para
penumpang segera melakukan boarding pass.* Seung Ho mulai putus asa. Ia
berpikir kalau Jung Hee tidak akan datang dan telah bahagia bersama Jung Soo.
Ia pun melangkah untuk boarding pass.
"Kau
bilang kau akan menungguku!" sebuah suara terdengar dari belakang Seung Ho
membuatnya menghentikan langkahnya. Ia mengenali suara itu. Suara milik Jung
Hee. Ia pun berbalik.
"Kau
bilang kau akan menungguku?! Tapi apa?! Kau mau meninggalkan aku?!"
ulangnya. Seung Ho tersenyum. Ia berlari ke arah Jung Hee kemudian memeluknya
dengan erat. Jung Hee pun membalas pelukannya.
"Kau
akan pergi denganku?" tanya Seung Ho sambil melepas pelukan.
"Iya.."
"Tunggu,
aku tidak mau senang dulu. Apa yang terjadi antara kau dan Jung Soo?"
"Tidak
terjadi apa-apa. Temanmu itu sudah punya pacar. Dia berpacaran dengan Kang Sora
selama dua bulan."
"Apa?!
Kau jangan bohong!"
"Aku
tidak bohong."
"Jadi,
kau memutuskan untuk pergi?"
"Ya.
Aku akan mencoba untuk melupakannya dan aku akan hidup bersamamu. Kau masih mau
menerimaku?"
"Tentu.
Sampai kapanpun aku akan tetap menerimamu." mereka saling tersenyum
kemudian saling berpelukan.
"Oh ya,
kita hampir terlambat! Ayo!" Seung Ho melepas pelukannya kemudian berlari
untuk boarding pass dan menaiki pesawat. Jung Soo yang telah sampai di bandara
setelah pergi dari rumah Jung Hee pun mencari Jung Hee ke semua tempat. Tapi
sayang, pesawat Jung Hee telah lepas landas. Ia melihat jam tangan putih yang
melingkat di tangannya. Pukul 9.10. Ia terlambat. Wajahnya terlihat menyesal.
Jung Hee telah pergi dengan Seung Ho bersama semua kenangan yang telah ia buat
bersama Jung Soo. Ia telah bertekad untuk melupakan orang yang pernah
dicintainya. Tapi, apakah Kim Jung Hee bisa melakukannya?


Tidak ada komentar:
Posting Komentar