Super Junior - Eeteuk

Sabtu, 13 Februari 2016

FF Many Years



Title   : Many Years
Author  : Elin K. Ochtavia
Cast  : Kim  Jung Hee, Park Jung Soo, Yoo Seung Ho, Lee Chaeri, Yoon Ah Ra, Kang Sora.



Di sebuah rumah, kamar yang rapi, pagi yang sibuk. Jung Hee  terburu-buru menata barang yang akan dimasukkan ke dalam tasnya untuk dibawa ke sekolah. Hari ini adalah hari pertama Jung Hee masuk ke SMA. Waktu telah menunjukkan pukul 6.30 dan Jung Hee belum selesai menata keperluan sekolahnya.
"Jung Hee-ya!! Cepatlah turun dan sarapan!" teriak ibu Jung Hee dari ruang makan..
"Ne, Eomma! Sebentar lagi!" balas Jung Hee.. Beberapa menit kemudian, Jung Hee telah selesai menata keperluannya. Ia pun membawa tasnya keluar dari kamar. Ia melewati adiknya, Kim Min Hee yang sedang makan di tempat makan dan menuju rak sepatu.
"Eomma, buatkan bekal saja, aku akan sarapan di sekolah. Aku sudah terlambat!" ucap Jung Hee seraya memakai kaus kakinya.
"Baiklah." jawab ibunya. Jung Hee menghampiri ibunya yang sedang menyiapkan bekal untuknya.
"Selamat menerima hukuman di sekolah barumu!" ejek Min Hee.
"Diam kau, anak kecil!"
"Yak! Berhenti memanggilku anak kecil! Aku sudah 14 tahun dan aku sudah kelas 2!"
"Bagiku kau tetap anak kecil! Anak kecil yang tidak akan bisa tumbuh besar!"
"Kim Jung Hee!" bentak Min Hee.
"Kim Min Hee!!" balas ibunya..
"Berhentilah bicara dan habiskan sarapanmu!" lanjutnya.
"Eomma.. Kenapa Eomma membelanya?"
"Karena kau yang memulainya.. Sudahlah! Kau juga harus cepat berangkat ke sekolahmu.."
"Ne, Eomma.."
"Jung Hee-ya, ini bekalmu. Hati-hati di jalan dan semoga harimu menyenangkan.." ucap ibu Jung Hee yang memberikan bekal pada Jung Hee..
"Gomawo, Eomma.." Jung Hee mengecup pipi ibunya kemudian pergi dari rumah setelah memasukan bekalnya ke dalam tas dan mengenakan sepatu. Ia berlari menuju halte yang berjarak sekitar 200 m dari rumahnya.
"Hhh.. Hhh... Hhhhh.."  nafas Jung Hee terdengar berat setelah ia sampai di halte. Tak lama, bis yang akan mengantar Jung Hee pun tiba. Ia langsung naik bis setelah bis berhenti. Untunglah di dalam bis masih ada kursi yang kosong, jadi Jung Hee bisa duduk. Sepuluh menit kemudian Jung Hee turun dari bis dan berlari menuju sekolahnya yang cukup dekat. Tiga menit sebelum gerbang ditutup. Untung Jung Hee tidak terlambat. Tapi ia harus tetap berlari menuju kelasnya karena sebentar lagi akan ada upacara penyambutan siswa baru. Tapi tiba-tiba *bruuggghhh!!* Jung Hee tertabrak seseorang.
"Choisonghaeyo.." ucap Jung Hee pelan.
"Gwenchanha.." ucap orang itu yang ternyata seorang laki-laki. Pandangan mereka pun bertemu.
"Jung Soo-ya?" ucap Jung Hee..
"Annyeong, Jung Hee-ya.." balas laki-laki bernama Jung Soo, Park Jung Soo tepatnya.
"Kau.. Sekolah disini?" tanya Jung Hee..
"Iya.. Kau juga ternyata sekolah disini.. Kau baru berangkat?"
"Ah, iya.. Aku sedikit terlambat.. Kalau begitu, aku pergi dulu.. Senang bertemu denganmu.." Jung Hee kembali berlari menuju kelas barunya..
"Aku juga.." ucap Jung Soo kemudian melanjutkan langkahnya..
Upacara pun dimulai. Pemberian nametag sebagai tanda penerimaan siswa baru dilakukan secara simbolis oleh kepala sekolah kepada siswa dan siswi yang diwakili oleh Jung Soo dari siswa dan Yoora dari siswi. Jung Hee sama sekali tak melepas pandangannya dari Jung Soo. Jung Soo adalah orang yang ia sukai sejak masih di SMP sampai sekarang. Bertemu lagi di SMA tak pernah terbayangkan oleh Jung Hee.
"Yak, Jung Hee-ya, apa yang kau lihat?" bisik Chaeri, teman baru Jung Hee.. Bisikan Chaeri tak mempengaruhi Jung Hee..
"Jung Hee-ya! Kim Jung Hee!" timpal yang lain, Ah Ra.
"Ya?" Jung Hee tersadar..
"Apa yang kau lihat?" ulang Chaeri..
"Tidak.. Bukan apa-apa.."
-
Jam sekolah berakhir, Jung Hee langsung pulang dengan perasaan yang senang..
"Eomma!!" teriak Jung Hee memasuki rumahnya..
"Ada apa?" ibunya pun muncul dari tempat kerjanya..
"Eomma, hari ini aku sangat senang.."
"Kenapa? Ceritakan pada Eomma!" mereka pun duduk berhadapan di atas sofa.
"Eomma tau, Aku satu sekolah lagi dengan Jung Soo.."
"Jung Soo?"
"Ehm."
"Park Jung Soo? Anak yang kau sukai itu?"
"Iya.."
"Kau serius??"
"Iya, Eomma.."
"Chukkahae.." mereka pun berpelukan singkat dengan ekspresi yang sangat senang..
"Lalu apa yang akan kau lakukan? Kau akan mengatakannya kan?"
"Tidak, Eomma.. Aku tidak akan mengatakannya.."
"Wae?"
"Aku tidak mau dia pergi, Eomma.. Aku hanya ingin menyukainya secara diam-diam.. Aku ingin dia tetap menjadi seseorang yang bisa aku lihat dan aku kagumi.."
"Bagaimana jika dia punya pacar?"
"Tak masalah.. Aku hanya ingin tetap melihatnya.."
"Ohh.. Anak Eomma benar-benar.. Baiklah, terserah padamu asal kau bisa bahagia.."
"Gomawo, Eomma.."
"Sama-sama, Sayang.."
"Oh iya, apa Min Hee sudah pulang?"
"Sudah, tapi tadi dia pergi.."
"Oh.. Kalau begitu, aku ganti baju dulu.."
"Ya sudah.."
-
Tanpa terasa hari-hari telah berlalu. Selama itu pula Jung Hee selalu memperhatikan Jung Soo setiap ia punya kesempatan untuk melihatnya. Wajar saja karena memang mereka tidak satu kelas. Karena satu sekolah bersama orang yang disukai, Jung Hee selalu mencoba melakukan apapun dengan baik tanpa kesalahan sedikitpun. Ia merasa kalau dirinya harus pantas menjadi orang yang menyukai Jung Soo agar ia juga pantas menjadi orang yang Jung Soo sukai.. Meskipun ia sering mengatakan kalau ia hanya ingin Jung Soo menjadi orang yang bisa ia lihat sampai kapanpun, namun hati kecilnya juga menginginkan kalau suatu hari nanti Jung Soo bisa memandangnya dan mereka bisa saling memiliki.. Saat ini pun Jung Hee tengah memandangi Jung Soo yang berada di samping lapangan dari dalam kelasnya. Tanpa ia sadari, Chaeri dan Ah Ra memperhatikannya. Mereka juga memandang ke arah pandangan mata Jung Hee.
"Ohhh jadi dia yang selalu kau lihat?" Ah Ra membuka mulut membuat Jung Hee terkejut.
"Dia siswa kelas 1.2 itu kan?" tanya Chaeri dan dibalas anggukan oleh Jung Hee..
"Ku dengar banyak juga yang suka padanya sejak dia ada disini. Apa kau salah satunya?" Chaeri penasaran.
"Tidak. Aku menyukainya bukan sejak dia ada disini, tapi aku sudah menyukainya selama lebih dari tiga tahun."
"Apa?!" ucap Chaeri dan Ah Ra bersamaan.
"Wae?"
"Kau menyukainya selama itu? Ahhh.. Aku tau, kau pasti berpacaran dengannya." tambah Ah Ra.
"Tidak. Aku tidak berpacaran dengannya. Aku hanya menyukai dan mengaguminya."
"Kalau begitu, kami akan membantumu untuk mengatakan kalau kau menyukainya." usul Chaeri.
"Aku tidak mau."
"Kenapa? Bukankah akan lebih baik jika dia tau? Kalian bisa lebih dekat bahkan bisa berpacaran."
"Lalu bagaimana jika dia menjauh?" ucap Jung Hee membuat Chaeri dan Ah Ra diam.
"Itu tidak mungkin." sanggah Chaeri.
"Kenapa tidak? Aku pernah mengalaminya. Sebelum aku bertemu dengan Jung Soo, aku pernah mengagumi seseorang dan kami menjadi dekat. Tapi, tidak semua hal akan seperti yang kita bayangkan. Lama-lama dia menjauh dariku. Mungkin karena ia terlalu sering mendengar ejekan dari orang lain yang tidak suka melihat kami dekat. Mulut-mulut yang terus terbuka ketika kami dekat mungkin membuatnya muak hingga ia menjauh dariku. Dia orang yang sangat baik, sangat perhatian dan pengertian, dan orang yang selalu memberiku semangat akhirnya pergi dariku. Apa kalian tau bagaimana rasanya itu? Sangat menyakitkan ketika dia tidak melihatku ketika kita bertemu ataupun di tempat yang sama. Aku sudah tidak bisa melihatnya meskipun dari jauh." jelas Jung Hee.
"Mian, Jung Hee-ya.. Kami tidak tau." ucap Ah Ra.
"Tidak apa-apa. Aku hanya berharap aku bisa selalu melihatnya. Tidak peduli apa yang dia lakukan, aku hanya ingin melihat dan mengaguminya."
"Ohh kau benar-benar hebat.." ucap Ah Ra kemudian memeluk Jung Hee dan diikuti oleh Chaeri.
"Sudahlah.. Kalian mengganggu pandanganku!" celetuk Jung Hee membuat kdeua temannya itu melepas pelukan.
"Aisshhh! Kau ini benar-benar!" timpal Chaeri.
-
Hari mulai gelap, Jung Hee duduk di halte yang ada di depan sekolahnya untuk menunggu bis dengan kepala tertunduk. Sudah sepuluh menit Jung Hee menunggu tapi bis belum datang juga. Ia pun semakin bingung dan juga takut. *tin tin* suara klakson terdengar di depan Jung Hee. Ia mengangkat kepalanya. Betapa terkejutnya ia ketika melihat Jung Soo duduk di atas motor maticnya memandang Jung Hee.
"Oh? Jung Soo-ya? Apa yang kau lakukan?" tanya Jung Hee.
"Kau sendiri? Kau belum pulang?"
"Eoh.. Tidak ada bis yang datang."
"Memang. Jalan sudah ditutup untuk acara amal nanti malam."
"Benarkah? Memangnya hari ini tanggal berapa?"
"1 Desember."
"Astaga, aku lupa. Pantas dari tadi tidak ada yang datang."
"Mau pulang bersamaku?"
"Apa?"
"Apa kau mau pulang bersamaku?"
"Tidak perlu, aku akan minta Eomma menjemputku."
"Ini sudah hampir malam. Apa kau tidak kasihan dengan ibumu? Sudahlah, akan ku antar kau pulang."
"Tidak perlu. Lagipula kau hanya bawa satu helm kan? Bagaimana jika nanti ada polisi?" Jung Soo menghela nafas dan turun dari motornya. Ia membuka bagasi motornya dan mengambil helm dari sana.
"Ini, pakailah! Aku tidak akan mengajakmu jika aku hanya bawa satu helm." ucap Jung Soo sambil menunjukan helm pada Jung Hee. Jelas hal itu membuat Jung Hee sangat terkejut. Ia tak tau lagi harus berkata apa.
"Ayolah! Apa kau mau tidur disini?!" lanjutnya. Jung Hee pun berdiri dan mengambil helm dari tangan Jung Soo.
"Apa tidak masalah jika kau mengantarku pulang?" tanya Jung Hee gugup.
"Masalah seperti apa?"
"Entahlah.. Mungkin pacarmu akan marah.."
"Hahahaha.. Aku tidak punya pacar.."
"Oh.."
"Ya sudah, cepatlah naik!"
"Baik.." Jung Hee  pun duduk di belakang Jung Soo dengan perasaan yang tidak karuan. Ia senang sekaligus takut. Takut kalau ia tak bisa mengendalikan diri.
"Kenapa kau pulang sesore ini? Bukankah jam sekolah sudah berakhir sejak jam dua siang tadi?" tanya Jung Soo memecah keheningan antara mereka.
"Aku harus latihan untuk persiapan pertandingan debat B.Inggris."
"Kau ikut pertandingan itu?"
"Iya, kenapa?"
"Tidak, tidak apa-apa."
"Kau sendiri, kenapa belum pulang?"
"Aku.. Emmm.. Aku.. Aku baru saja pergi ke rumah temanku."
"Benarkah?"
"Iya.."
"Ohhh.."
"Bagaimana harimu hari ini?"
"Sangat menyenangkan.."
"Benarkah?"
"Ya.."
"Kenapa?"
"Entahlah. Sebenarnya hari ini hari yang cukup buruk. Tak ada satupun pelajaran yang ku sukai."
"Lalu kenapa kau bilang sangat menyenangkan?"
"Emmm.. Menyenangkan karena hari ini sudah terlewati.."
"Kau yakin karena itu?"
"I i iya, memangnya kenapa?"
"Tidak, tidak apa-apa." sepanjang perjalanan mereka terus mengobrol tentang hal yang sebenarnya tidak terlalu pentng.
"Kita sudah sampai." ucap Jung Soo setelah menghentikan motornya.
"Benarkah sudah sampai?" balas Jung Hee bingung kemudian turun dari motor Jung Soo.
"Ya, ini benar rumahmu kan?"
"Iya.. Darimana kau tau kalau rumahku disini? Sepertinya dari tadi aku tidak menyebutkan dimana rumahku.."
"Bukankah kita dulu juga satu sekolah? Aku pernah melihatmu pulang ke rumah ini.."
"Tapi bukankah rumahmu lebih dekat dari sekolah kita yang dulu daripada rumahku?"
"Bagaimana kau tau?"
"Aishh, aku selalu melewati rumahmu!"
"Oh iya, kau benar juga.. Hehe.."
"Kau masih belum menjawab pertanyaanku. Darimana kau tau kalau rumahku disini?"
"Kau kira aku hanya berdiam diri di rumah? Aku juga keluar dari rumah. Dan saat aku keluar dari rumah, aku tidak sengaja melihatmu ada di rumah ini."
"Oh jadi begitu.."
"Ya sudah, aku pulang dulu. Salam untuk keluargamu dan sampai jumpa besok.."
"Baiklah.." Jung Soo pun pergi dan Jung Hee masuk ke rumahnya..
"Eomma, aku pulang.." Jung Hee berjalan menuju ruang tengah.
"Kau sudah pulang?" ucap ibunya.
"Itu helm siapa?" lanjutnya sambil menunjuk helm di kepala Jung Hee. Jung Hee pun memegang kepalanya dan terkejut setelah sadar kalau ia masih mengenakan helm milik Jung Soo.
"Aish, aku lupa." ucap Jung Hee kemudian melepas helm dari kepalanya dan duduk di samping ibunya.
"Milik siapa?" ulang ibunya.
"Jung Soo."
"Apa? Bagaimana bisa?"
"Dia mengantarku pulang.." wajah Jung Hee mulai berseri-seri..
"Benarkah?"
"Iya. Dia berhenti di depan halte saat aku menunggu bis yang tidak kunjung datang. Dia menawarkan untuk mengantarku pulang. Aku sempat menolaknya tapi dia memaksa untuk mengantarku. Jadi, kami pulang bersama."
"Sepertinya sudah ada kemajuan antara kalian.."
"Entahlah, Eomma, aku tidak ingin terlalu berharap."
"Eomma selalu mendoakan yang terbaik untukmu.."
"Gomawo, Eomma.."
"Iya, Sayang. Sekarang pergilah mandi dan makan malamlah."
"Baik, Eomma." Jung Hee pergi ke kamarnya sambil membawa helm milik Jung Soo. Ia juga menuruti perintah ibunya untuk mandi dan makan malam. Setelah ia selesai makan malam, ia ke kamarnya untuk belajar. Ia memandangi helm putih yang terletak di atas meja samping tempat tidurnya. Ia tersenyum kemudian mengalihkan perhatiannya pada ponselnya. Ia memandanginya kemudian mengambilnya. Ia berpikir.
"Apa yang harus aku lakukan? Mengirim SMS padanya? Atau menelfonnya?" ucapnya. Ia mulai mencari nomor ponsel milik Jung Soo. Nomor yang ia dapatkan dari sebuah rapat pembahasan kegiatan sekolah. Ia tak tau apakah nomor itu masih aktif atau tidak karena ia tak pernah mencoba untuk menelfon bahkan mengirim SMS. Ia terlalu takut kalau SMS atau telfonnya akan membuat Jung Soo menjauhinya. Setelah cukup lama berfikir, ia menggeser nomor itu untuk menelfonnya. 1 detik, 2 detik, 3 detik, tersambung, Jung Hee mengakhiri panggilannya. Tiba-tiba sebuah SMS masuk ke ponselnya. SMS yang dikiimkan oleh nomor milik Jung Soo.
"Siapa ini?" jantung Jung He mulai berdetak lebih kencang. Keringat dingin mulai muncul di keningnya. Matanya membulat menandakan keterkejutan yang luar biasa. Ia tak bergerak. Tangannya mulai bergetar.
"Jung Hee-ya, apa yang akan kau lakukan sekarang?" gumam Jung Hee. Ia mencoba menenangkan fikirannya. Perlahan ia mulai mengetik di ponselnya.
"Apa ini nomor Park Jung Soo?" pesan terkirim. Jantung Jung Hee berdetak makin kencang dan cepat dikala menunggu balasan SMS dari Jung Soo. 1 menit, 2 menit, 7 menit, sebuah SMS dari Jung Soo kembali masuk membuat Jung Hee terkejut hingga ponselnya terlempar. Ia segera mengambilnya dan membuka SMS itu. Ia berharap kalau itu bukan nomor milik Jung Soo.
"Ya, ini aku Park Jung Soo, siapa ini?" harapan Jung Hee salah. Nomor itu memang milik Jung Soo. Keadaan Jung Hee makin parah. Ia kacau. Namun ia berusaha untuk tetap tenang. Ia kembali mengetik di ponselnya.
"Ini aku, Jung Hee. Aku ingin memberitaumu kalau aku lupa mengembalikan helm mu. Haruskah aku mengembalikannya sekarang?"
"Kau tidak perlu mengembalikannya sekarang. Kalau kau  mau, kau bisa mengembalikannya besok di sekolah."
"Baiklah. Terimakasih sudah mengantarku pulang dan selamat belajar.."
"Sama-sama, selamat belajar juga untukmu.." SMS terakhir Jung Soo yang tak dibalas oleh Jung Hee. Ia takut jika ia membalas, Jung Soo tidak akan membalasnya lagi. Jung Hee mengatur nafasnya yang berat. Hanya menerima pesan dari Jung Soo sudah membuatnya mengeluarkan banyak keringat. Ia berpikir ia tidak butuh olahragaa lari dan sebagainya yang membuatnya lelah. Tapi ia butuh pesan dari Jung Soo agar ia berkeringat tanpa banyak bergerak.
-
Pagi yang cerah, Jung Hee keluar dari rumahnya membawa helm dengan kedua tangannya. Ia berjalan dengan santai karena ini masih pagi. Jam masih menunjukan pukul 5.40. Terdengar suara sepeda motor dari belakang Jung Hee tapi ia tidak mempedulikannya. Suara itu makin jelas hingga akhirnya berada di samping Jung Hee.
"Jung Soo-ya?" ucap Jung Hee setelah melihat Jung Soo berada di sampingnya menaiki motor.
"Mau berangkat bersama?" tawar Jung Soo.
"Kau menawariku lagi?"
"Iya."
"Kenapa?"
"Aku melihatmu berjalan dan aku menaiki motor. Kita melewati jalan yang sama dan mempunyai tujuan yang sama pula, jadi lebih baik kita berangkat bersama."
"Kau yakin?"
"Aku yakin."
"Baiklah." Jung Hee pun duduk di belakang Jung Soo. Sama seperti semalam, mereka membicarakan hal yang tidak terlalu penting. Tak begitu lama, mereka sampai di sekolah.
"Gomawo. Ini helmmu." ucap Jung Hee memberikan helm pada Jung Soo setelah ia turun. Jung Soo pun menerimanya.
"Sama-sama. Oh ya, jangan pulang terlalu sore atau kau tidak akan bisa pulang ke rumahmu."
"Yak, Jung Soo-ya. Kemarin aku lupa jalan akan ditutup dan hari ini jalan tidak akan ditutup lagi dan aku juga tidak ada kegiatan tambahan."
"Benarkah? Baguslah.."
"Baiklah, kalau begitu aku masuk dulu." Jung Hee perlahan berjalan menjauhi Jung Soo untuk masuk ke kelasnya. Ia berjalan dengan wajah yang berseri-seri.
"Jung Hee-ya!" panggil Ah Ra yang tiba-tiba datang dari belakang dengan menepuk bahu Jung Hee. Mereka pun berjalan bersama.
"Yoon Ah Ra?"
"Kau pagi sekali?"
"Benarkah?"
"Iya."
"Ohh.."
"Yak! Sepertinya kau sangat senang. Ada apa?"
"Apa terlihat seperti itu?"
"Iya, bahkan sangat jelas. Kenapa?"
"Hari ini aku berangkat bersamanya."
"Siapa?" Jung Hee hanya tersenyum.
"Jung Soo?" lanjut Ah Ra yang dibalas anggukan oleh Jung Hee.
"Kau serius?"
"Sangat serius."
"Kau hebat. Oh ya, kemarin kau pulang lebih sore kan? Aku ingat jalan akan ditutup, bagaimana kau bisa pulang?"
"Ada seseorang yang mengantarku."
"Benarkah? Siapa?" Jung Hee hanya tersenyum menatap Ah Ra.
"Park Jung Soo?" lanjutnya.
"Iya."
"Bagaimana bisa?"
"Ya begitulah.."
"Kemarin dia mengantarmu pulang dan hari ini dia berangkat bersamamu. Lalu bagaimana perasaanmu?"
"Apa kau perlu menanyakannya?"
"Ahhh, maaf. Aku tau bagaimana perasaanmu."
-
Saat istirahat, Jung Hee, Chaeri dan Ah Ra berada di kantin untuk makan siang. Saat melahap makanan, mata Chaeri melihat seseorang yang terlihat asing baginya duduk berhadapan dengan Jung Soo.
"Siapa gadis itu?" ucap Chaeri yang tak mengalihkan pandangannya membuat kedua temannya ikut memandang ke arahnya.
"Siapa dia? Sepertinya aku tidak pernah melihatnya." imbuh Ah Ra.
"Mungkin dia siswi baru." tambah Jung Hee dengan ekspresi datar.
"Yak, Kim Jung Hee! Kenapa wajahmu datar sekali?" tanya Ah Ra.
"Memangnya aku harus bagaimana?"
"Dia duduk berhadapan dengan Jung Soo. Kau tidak marah atau cemburu?"
"Cemburu? Mungkin iya. Tapi marah? Untuk apa? Aku tidak berhak marah padanya karena aku bukan siapa-siapa. Aku tidak peduli dia duduk bersama siapa, dia berjalan dengan siapa, dia pergi dengan siapa, bahkan berpacaran dengan siapa. Aku hanya ingin tetap melihatnya."
"Perasaan macam apa itu? Kau hanya ingin terus melihatnya."
"Sudahlah, kita lanjutkan makan!" ucap Chaeri. Mereka pun kembali fokus pada makanan mereka.
"Selamat siang. Panggilan ditujukan untuk Kim Jung Hee, siswi kelas 1.1 diharap menuju lab. Bahasa Inggris . Sekali lagi panggilan untuk Kim Jung Hee, siswi kelas 1.1 diharap menuju lab. Bahasa Inggris sekarang juga. Terimakasih." sebuah suara terdengar dari speaker informasi membuat Jung Hee menjadi malas.
"Suara Choi Yoon Joo Sunbae. Aish! Tidak bisakah dia membiarkanku bebas?! Saat makan siang pun dia masih memanggilku." umpat Jung Hee kesal.
"Sudahlah, lebih baik kau pergi sekarang. Nanti kami akan membawakan makanan untukmu." timpal Chaeri.
"Baiklah, aku pergi dulu." Jung Hee bangkit kemudian meninggalkan kantin dan menuju lab. Bahasa Inggris.
-
Hari yang sibuk di sekolah bagi Jung Hee. Hari ini ia harus pintar membagi waktunya untuk ikut 3 bimbingan sekaligus di sekolah, yaitu B.Inggris, Matematika dan Fisika untuk mengikuti debat B.Inggris dan olimpiade Fisika dan Matematika yang akan berlangsung beberapa minggu lagi.
"Kenapa kau harus ikut lomba itu? Kita tidak punya waktu untuk pergi, kan?!" protes Chaeri pada Jung Hee yang sedang menyiapkan buku untuk belajar Matematika.
"Chaeri benar. Lagipula, apa kau tidak kasihan pada otakmu ini? Nanti kau bisa stress." tambah Ah Ra.
"Ku harap aku tidak stress. Mau bagaimana lagi? Aku hanya mencoba untuk ikut tes saat ekstra kurikuler dan aku mendapat nilai yang sangat baik. Aku minta maaf karena tidak bisa pergi dengan kalian. Aku janji jika aku ada waktu, kita akan pergi bersama."
"Baiklah. Fighting! Semoga sukses, Jung Hee-ya!"
"Gomawo, Chaeri-ya." Jung Hee tersenyum kemudian bergegas pergi. Di saat istirahat dari belajar, Jung Hee berjalan di sekitar kelas-kelas. Ia juga berjalan di sekitar lapangan olahraga untuk merefresh pikirannya. Tanpa sengaja, ia melihat Jung Soo sedang bermain basket sendirian di lapangan basket. Jung Hee mengamati Jung Soo dengan baik. Jung Soo masih memainkan bola dan memasukannya ke dalam ring. Jung Hee bertepuk tangan membuat Jung Soo berhenti memainkan bola dan menatap Jung Hee. Jung Hee pun mendekat untuk menyapa Jung Soo.
"Sedang apa kau disini? Kau belum pulang?" tanya Jung Hee.
"Aku hanya memainkan bola basket. Aku belum ingin pulang." Jung Soo pun duduk di lapangan dan diikuti Jung Hee.
"Kenapa?"
"Entahlah, aku hanya masih ingin disini. Kau sendiri, kenapa belum pulang?"
"Aku ada bimbingan belajar untuk lomba."
"Debat?"
"Bukan cuma itu. Ada matematika dan fisika."
"Kau juga ikut itu? Kau tidak kasihan dengan otakmu ini?!" Jung Soo mengacak rambut Jung Hee pelan.
"Yak, Jung Soo-ya!"
"Bagaimana bisa kau akan ikut 3 perlombaan sekaligus?"
"Sebenarnya aku juga tidak mau, tapi mau bagaimana lagi, aku pemilik nilai tertinggi dalam tes. Aku hanya berharap aku bisa menghadapi semuanya dengan baik."
"Bagus! Aku akan mendukungmu!"
"Gomawo.."
"Apa aku boleh tanya sesuatu?"
"Apa?"
"Kau punya pacar?" tanya Jung Soo membuat Jung  Hee membulatkan matanya.
"Tidak" jawabnya kemudian.
"Benarkah? Lalu bagaimana tipe laki-laki yang kau suka?"
"Seperti dirimu" ucap Jung Hee dalam hati.
"Kenapa kau diam?"
"Apa? Tadi kau bilang apa?"
"Aku tanya tipe laki-laki yang kau suka."
"Ohh.. Tipe laki-laki yang ku suka.. Dia harus tampan dalam pandanganku. Yang jelas dia harus sempurna di dalam mataku."
"Maksudmu?"
"Aku tidak peduli bagaimana dia di mata orang lain. Kau tau kan kalau penilaian setiap orang berbeda-beda? Jadi jika dia sempurna menurut penilaianku, mungkin aku akan menyukainya. Lalu bagaimana denganmu?"
"Aku? Emmm.. Aku suka dia yang baik. Tak masalah bagaimana wajahnya. Entah cantik ataupun tidak, aku tidak peduli. Dia setia, perhatian, dan pengertian, juga dia bisa membuatku nyaman melakukan apapun. Dia bisa menjadi pendengar saat aku bercerita, memberiku solusi saat aku dalam masalah. Dia juga bisa mengingatkanku saat aku melakukan kesalahan."
"Yak! Kau membicarakan ibumu?"
"Bisa dibilang begitu. Aku ingin seorang gadis yang seperti ibuku."
"Bagaimana jika tidak ada gadis seperti itu?"
"Jika tidak ada, mungkin aku akan hidup sendiri. Percuma jika aku punya pasangan tapi tidak bisa mengerti apa yang aku inginkan."
"Kau serius akan hidup sendiri?"
"Kenapa tidak?!"
"Kau gila."
"Jung Hee-ya!" terdengar suara seseorang memanggil nama Jung Hee. Ia dan Jung Soo pun menoleh ke arah suara itu. Itu adalah suara dari guru pembimbing Jung Hee.
"Kita belajar lagi." lanjutnya.
"Baik, Bu. Jung Soo-ya, aku pergu dulu."
"Baiklah." Jung Hee pun bangun kemudian meninggalkan lapangan.  Setelah bimbingan selesai, Jung Hee pergi ke lapangan berniat menemui Jung Soo lagi. Namun sayang, Jung Soo sudah tidak ada disana. Ia berfikir kalau Jung Soo pasti sudah pulang. Ia pun memutuskan untuk pulang. Saat keluar dari gerbang, ia terkejut melihat Jung Soo berada di atas motornya lengkap dengan helm yang ada di kepala dan tangannya.
"Jung Soo-ya? Kau belum pulang?" tanya Jung Hee.
"Belum."
"Kenapa?"
"Karena kau belum pulang. Aku tidak mungkin pulang begitu saja karena aku tau kau satu-satunya yang masih ada disini. Gurumu sudah pulang kan? Lagipula Aku tidak suka meninggalkan orang. Kalau terjadi sesuatu padamu, bisa-bisa aku yang disalahkan karena tadi kau mengobrol denganku."
"Oh.. Begitu."
"Ayo kita pulang bersama!" ajak Jung Soo sambil memberikan helm. Jung Hee hendak menerimanya tapi ia menahannya dan teringat sesuatu.
"Wae?" tanya Jung Soo.
"Sepertinya aku akan menunggu bis saja. Aku tidak mau ada salah faham."
"Salah faham apa? Apa maksudmu?"
"Aku tidak mau kalau pacarmu marah padaku."
"Jung Hee-ya, bukankah aku pernah bilang kalau aku belum punya pacar?! Apa kau lupa?!"
"Aku masih ingat soal itu. Tapi itu beberapa hari lalu kan?! Mungkin sekarang kau sudah punya pacar."
"Atas dasar apa kau bilang begitu?"
"Waktu itu aku pernah melihatmu makan di kantin dengan seorang gadis. Bukankah itu pacarmu?"
"Ohhh gadis itu? Dia bukan pacarku. Dia teman lamaku dan hari itu dia baru pindah ke sekolah kita. Jadi sebagai teman yang baik, aku menunjukan semua sisi dari sekolah kita padanya."
"Ohh jadi begitu."
"Kau sudah mengerti kan? Tak akan ada yang salah faham, kecuali jika pacarmu melihatku mengantarmu pulang."
"Hahaha kau ini bicara apa? Bagaimana bisa aku punya pacar kalau.." Jung Hee menghentikan ucapannya.
"Kalau apa?" tanya Jung Soo penasaran.
"Kalau aku masih sibuk dengan sekolahku. Aku akan merasa kasihan pada pacarku karena aku mementingkan sekolahku daripada dia."
"Malang sekali nasib laki-laki yang akan menjadi pacarmu."
"Yak! Apa-apaan kau ini?"
"Hehe.. Kajja."
"Baiklah." Jung Hee memakai helm dan naik di belakang Jung Soo. Jung Soo mulai menjalankan motornya.
"Jung Hee-ya!" panggil Jung Soo.
"Ya?"
"Gomawo."
"Untuk apa?"
"Karena tadi kau telah mendengarkan aku."
"Ahh itu.. Tidak masalah. Aku suka mendengar orang bercerita. Kau juga tadi sudah mendengarkan aku. Gomawo."
"Mau ku traktir sesuatu?"
"Apa?!"
"Tidak masalah kan?"
"Emmm.. Terserah kau saja."
"Baiklah." Jung Soo menjalankan motornya ke sebuah kafe. Sesampainya disana, Jung Soo membeli minuman untuknya dan untuk Jung Hee.
"Gomawo, Jung Soo-ya." ucap Jung Hee.
"Sama-sama."
"Oh? Jung Soo-ya?" ucap seorang laki-laki menghampiri Jung Soo.
"Donghae-ya! Annyeong!" sahut Jung Soo kemudian mereka berpelukan singkat.
"Apa kabar?" tanya Jung Soo.
"Aku baik." Donghae mengalihkab pandangannya pada Jung Hee yang berdiri di samping Jung Soo.
"Kau.. Kim Jung Hee kan?" lanjutnya.
"Ne?"
"Kau tidak ingat aku?"
"Emmmm.."
"Ahhhh kau pasti tidak tau siapa aku. Aku Lee Donghae. Dulu kita satu SMP."
"Kau.. Yang sering bersama dengan Jung Soo kan?"
"Jadi kau tau aku."
"Begitulah."
"Wahh kalian pakai seragam yang sama. Apa kalian satu sekolah?"
"Menurutmu?" timpal Jung Soo.
"Yak, Jung Soo-ya! Sepertinya kau sudah berhasil." ucap Donghae merangkul Jung Soo.
"Kau ini bicara apa?!"
"Berhasil apa?" tanya Jung Hee.
"Bukan apa-apa. Kau tidak perlu dengarkan kata-katanya."
"Yak, Park Jung Soo!"
"Kau jangan bongkar rahasiaku!" bisik Jung Soo pada Donghae dengan penuh penekanan.
"Baiklah."
"Jung Soo-ya!" panggil Jung Hee.
"Ne?"
"Sudah hampir malam."
"Ah, iya, iya. Kita pulang. Donghae-ya, aku pergi dulu."
"Baiklah! Maju terus, Jung Soo-ya!"
"Gomawo. Kajja!" Jung Soo dan Jung Hee pun keluar dari kafe kemudian Jung Soo melajukan motornya.
"Jung Hee-ya!"
"Ne?"
"Apa malam ini kau punya waktu?"
"Emmm aku punya. Kenapa?"
"Apa kau mau menemaniku? Aku sedang butuh teman."
"Memangnya kenapa? Apa kau punya masalah?"
"Hari ini orang tuaku pergi, jadi aku sendirian di rumah. Aku ingin keluar tapi aku tidak tau harus mengajak siapa. Jadi, aku mngajakmu. Apa kau mau?"
"Emmm.. Baiklah. Tapi, bisakah aku ganti baju dulu? Aku rasa tidak baik jika pergi masih memakai seragam sekolah."
"Baiklah." beberapa menit kemudian, mereka telah sampai di rumah Jung Hee.
"Kau ganti baju dulu. Aku juga akan ganti baju. Nanti aku akan menjemputmu." ucap Jung Soo.
"Baiklah, aku akan menunggumu."
"Sampai jumpa nanti." Jung Soo pun melajukan motornya dan Jung Hee masuk ke rumahnya.
"Kau sudah pulang?" tanya ibu Jung Hee.
"Iya, Eomma." Jung Hee bergegas masuk ke kamarnya untuk ganti baju kemudian keluar.
"Eonni, kau mau kemana?" tanya Min Hee yang sedang makan saat Jung Hee melewati meja makan.
"Iya, kau mau kemana?" tambah ibunya.
"Emm.. Aku.. Emm.. Jung Soo.. Dia mengajakku pergi." ucap Jung Hee membuat ibu dan adiknya terkejut.
"Apa kau serius?" tanya ibunya. Jung Hee hanya mengangguk.
"Itu tidak mungkin!" celetuk Min Hee.
"Apanya yang tidak mungkin?! Jung Soo memang mengajakku pergi."
"Bagaimana bisa?!"
"Sudahlah, lebih baik kau belajar saja!" *ting tung*terdengar suara bel pintu dipencet oleh seseorang. Jung Hee menuju pintu kemudian membukanya.
"Kau sudah datang?" tanya Jung Hee ketika melihat Jung Soo ada di depannya.
"Dimana ibumu?"
"Kenapa tanya ibuku?"
"Aku mau minta izin padanya."
"Ohh.. Eomma!" panggil Jung Hee.
"Ya?" jawab ibunya yang muncul dari ruang makan diikuti Min Hee.
"Annyeong haseyo, Ahjumma!" sapa Jung Soo sambil membungkuk.
"Annyeong, Jung Soo-ya. Ada apa?"
"Saya ingin minta izin untuk pergi dengan Jung Hee."
"Oh itu.. Aku mengizinkan kalian. Jadi, pergilah. Tapi ingat, jangan pulang terlalu malam dan hati-hati di jalan."
"Baik, Ahjumma. Gamsahabnida."
"Gomawo, Eomma." Jung Soo  pun kembali membungkukkan badannya.
"Kajja!"
"Eoh." Jung Soo pun mulai menjalankan motornya.
"Kita akan kemana?" tanya Jung Hee.
"Kau ingin kemana?"
"Kenapa kau bertanya padaku? Aku hanya menemanimu. Kemanapun kau pergi, aku akan menemanimu."
"Jika kau jadi aku, kau akan kemana? Atau, adakah tempat yang ingin kau kunjungi?"
"Tempat yang ingin ku kunjungi? Aku ingin ke taman, Namsan, lalu ke Sungai Han."
"Taman seperti apa?"
"Taman bermain."
"Sebesar ini kau ingin ke taman bermain? Astaga."
"Yak! Memangnya kenapa?! Bukankah kau bertanya tempat yang ingin ku datangi? Aku tidak memintamu datang kesana!"
"Hehe maaf.. Ayo kita pergi ke taman bermain."
"Kau bilang apa?!"
"Kita ke taman bermain."
"Kenapa kita kesana?"
"Kau bilang kalau kau ingin kesana. Aku belum menentukan tujuanku. Jadi, kita pergi ke taman bermain sebelum aku menentukan tempat yang ingin ku tuju."
"Baiklah.." mereka pun pergi ke tempat bermain terdekat. Sesampainya disana, Jung Hee menuju ayunan dan menaikinya dengan mengayunnya perlahan menggunakan kakinya.
"Kau suka?" tanya Jung Soo yang juga duduk di ayunan lain.
"Ehm. Aku suka. Gomawo." Jung Soo pun turun dari ayunannya dan berdiri di belakang Jung Hee dengan kedua tangannya megang rantai ayunan.
"Mau ku dorong?" tanya Jung Soo.
"Apa? Tidak. Tidak perlu."
"Tapi aku mau." Jung Soo pun mendorong ayunan Jung Hee.
"Yak yak yak! Jung Soo-ya!! Hentikan!" teriak Jung Hee dengan penuh tawa. Setelah beberapa kali berayun, ayunanpun berhenti. Jung Hee terlihat lemas duduk di ayunan. Kedua tangannya masih memegang rantai ayunan dengan sangat erat.
"Kau baik-baik saja?" tanya Jung Soo yang berlutut di depan Jung Hee.
"Aku sedikit.. Pusing.."
"Benarkah?" Jung Soo pun berdiri.
"Aku minta maaf.. Kita kesana dulu." lanjutnya. Ia pun memapah Jung Hee ke sebuah bangku dan duduk disana.
"Kau tunggu disini. Aku akan segera kembali." Jung Soo berlari meninggalkan Jung Hee.
"Jung Soo-ya! Kau mau kemana."
"Aku akan segera kembali!"
"Astaga.. Dia terlihat sangat khawatir. Apa ini mimpi?" Jung Hee mencubit tangannya.
"Auwh.. Sakit. Ini berarti aku tidak bermimpi.. Jung Soo-ya.. Aku makin menyukaimu.." lanjutnya. Beberapa menit kemudian, Jung Soo kembali dengan membawa minum dan obat kemudian memberikannya pada Jung Hee.
"Ini! Minumlah!"
"Apa ini?"
"Itu obat. Minumlah."
"Tidak perlu."
"Kau bilang kau pusing kan?"
"Memang. Tapi aku tidak sakit. Ini hanya efek karena kau mengayun ayunannya terlalu kencang."
"Maafkan aku. Harusnya aku tidak melakukan itu."
"Sudahlah, aku tidak apa-apa. Kau tidak perlu khawatir." Jung Soo menyentuh dahi Jung Hee membuat Jung Hee terkejut.
"Syukurlah kau tidak panas."
"Sudah ku bilang kan, aku tidak sakit."
"Ya sudah, kita pergi ke tempat lain."
"Kemana?"
"Namsan."
"Namsan? Kenapa kita pergi ke tempat yang ingin ku datangi?"
"Yak! Kau kira hanya kau yang ingin kesana?! Setelah ku pikir-pikir, ke Namsan adalah ide yang bagus. Kajja!" mereka pun pergi ke Namsan Tower. Setibanya disana, mereka menaiki lift dan menuju ke tempat gembok cinta.
"Tempat yang indah." ucap Jung Hee dengan senyum mengembang di bibirnya.
"Apa yang indah? Ribuan gembok itu atau bintang yang ada di langit?"
"Semuanya."
"Mereka bilang, cinta mereka akan abadi dan tidak akan berpisah jika mereka mengunci nama mereka dalam satu gembok. Apa kau percaya itu?"
"Entahlah. Aku tidak terlalu percaya dengan hal-hal seperti itu. Berpisah atau tidak, itu semua tergantung pada diri mereka sendiri."
"Memang benar. Tapi jika kau diminta mencoba, apa kau akan mencobanya?"
"Tentu. Apa masalahnya mencoba?" mereka berdua saling memberikan senyuman. Jung Hee mendekati gembok-gembok itu bersama Jung Soo dan mencermatinya. Terkadang ia juga membaca tulisan di gembok itu yang membuatnya tertawa. Semakin lama angin membuat Jung Hee kedinginan. Ia menggosok kedua tangannya dan menempelkannya ke tubuhnya. Jung Soo yang melihat hal itu pun langsung melepas jaketnya dan memakaikannya pada Jung Hee.
"Jung Soo-ya, apa yang kau lakukan?"
"Pakailah! Aku tau kau kedinginan."
"Tidak perlu. Kau pakai sendiri saja."
"Mana bisa begitu? Aku melihatmu kedinginan. Jadi lebih baik kau pakai saja."
"Lalu bagaimana denganmu? Apa kau tidak kedinginan?"
"Angin ini tak akan membuatku kedinginan. Lagipula, bajuku cukup hangat. Jadi, aku akan baik-baik saja."
"Gomawo."
"Tidak perlu berterimakasih. Sudah seharusnya aku begitu." perbuatan Jung Soo sukses membuat Jung Hee tersenyum penuh kebahagiaan. Ia tak menyangka jika Jung Soo akan melakukan hal seperti itu.
"Apa kau sudah lelah?" tanya Jung Soo.
"Belum, kenapa?"
"Ayo kita ke Sungai Han!"
"Yak! Kau ingin kesana? Kau ini benar-benar pergi ke tempat yang ingin ku kunjungi."
"Kau pikir hanya kau yang punya keinginan itu? Jadi menurutmu, mereka yang ada disini datang karena ini tempat yang ingin kau kunjungi? Mereka juga datang karena keinginan mereka sendiri. Aku juga begitu."
"Baiklah, baiklah. Kajja! Jangan cerewet!" Jung Hee melangkahkan kakinya.
"Mworago?!!" Jung Soo menyusul langkah kaki Jung Hee. Mereka pun pergi ke Sungai Han. Disana, Jung Hee berjalan di sekitar Sungai Han bersama Jung Soo.
"Sungai Han di malam hari terlihat indah, kan?" ucap Jung Soo.
"Ya. Sangat indah. Tempat ini sepertinya juga romantis untuk menyatakan cinta."
"Benarkah seperti itu?"
"Ku pikir begitu."
"Bisa kita duduk si kursi itu?" Jung Soo menunjuk kursi yang ada disana.
"Aku ingin mengobrol denganmu." lanjutnya.
"Baiklah." mereka pun duduk di kursi yang ditunjuk oleh Jung Soo.
"Boleh aku tanya sesuatu?" ucap Jung Soo.
"Apa?"
"Kau bilang, tempat ini romantis untuk menyatakan cinta. Apa kau ingin seseorang menyatakan cinta padamu di tempat ini?"
"Emmm.. Entahlah. Jika ada seseorang yang ingin menyatakan cinta untukku, aku tidak peduli dimanapun tempatnya. Yang paling penting adalah ketulusannya."
"Adakah tempat yang sangat kau inginkan untuk menerima pernyataan cinta?"
"Emmmmmm.. Ada. Aku ingin pernyataan itu dilakukan di Namsan Tower, karena setelah aku menerima cinta itu, aku akan langsung memasang gembok yang bertuliskan namaku dan nama kekasihku."
"Tempat yang bagus."
"Kau sendiri? Dimana kau ingin mendapat pernyataan cinta? Ahhh.. Maksudku, dimana kau akan menyatakan cinta?"
"Aku tidak tau. Mungkin aku akan menyewa tempat romantis atau aku akan mengatakannya di tempat yang ia suka."
"Bagaimana jika dia menolakmu?"
"Menolakku? Ahhhh itu tidak mungkin. Sebelum aku mengatakannya, aku akan mencari tau tentang perasaannya. Jika dia menyukaiku, aku akan mengatakannya, jika tidak, aku akan berhenti menyukainya."
"Kau tidak ingin merubah perasaannya?"
"Perasaan tidak bisa dipaksa, kan?"
"Memang. Lalu bagaimana jika suatu saat dia berubah pikiran dan malah menyatakan cinta padamu?"
"Mungkin saat itu, perasaanku juga berubah."
"Apa kau tidak kasihan padanya?"
"Apa saat itu dia juga kasihan padaku?"
"Bagaimana dia mau kasihan padamu kalau saat itu kau belum mengatakan kalau kau mencintainya?!"
"Kim Jung Hee.. Sebelum aku mengatakan cinta, aku akan menunjukannya dengan perbuatanku. Aku akan menunjukkan padanya kalau aku mencintainya."
"Maksudmu, pernyataan cintamu itu secara tersirat?"
"Yup! Benar sekali."
"Hhhhhhh.. Bagus kalau dia mengerti maksudmu, kalau dia tidak tau? Tidak semua orang peka dengan perasaan orang lain."
"Apa kau termasuk salah satu dari mereka yang tidak peka dengan perasaan orang lain?"
"Apa?! Emmmm.. Entahlah.. Mungkin aku peka, tapi aku tidak mau terlalu percaya diri. Jika memang dia menyukaiku, aku akan menunggunya menyatakan cinta."
"Kau akan menunggunya?"
"Bisa dibilang begitu." mereka terdiam dengan pandangan ke depan.
"Sudah malam, bisa kita pulang sekarang?" ucap Jung Hee.
"Baiklah."
"Aku beritau ibuku dulu." Jung Hee mengirim SMS pada ibunya dengan mengatakan kalau ia akan segera pulang. Namun setelah pesan itu terkirim, ponsel Jung Hee berbunyi. Sebuah panggilan masuk dari ibunya.
"Yoboseyo?" sapa Jung Hee.
"Yak, Kim Jung Hee! Kenapa kau ingin pulang? Malam ini adalah kesempatanmu untuk bersamanya. Kau boleh pulang lebih malam atau tidak pulang. Eomma mengijinkanmu!"
"Eomma! Apa yang Eomma katakan?! Ini sudah malam!"
"Eomma tau! Makanya Eomma memintamu menghabiskan malam ini bersamanya. Kalian bisa mengobrol, menonton film, atau apapun asal jangan diluar batas."
"Tapi, Eomma.."
"Katakan padanya kalau Eomma pergi ke rumah saudara dan akan menginap disana bersama Min Hee. Eomma lupa tidak meninggalkan kunci di rumah. Kau mengerti? Lagipula, besok kau libur kan? Ingat, kesempatan tidak datang dua kali. Eomma tutup dulu."
"Eomma? Eomma? Eomma! Yoboseyo! Eomma?!" bagaimanapun Jung Hee memanggil ibunya, ibunya tak akan mendengar karena panggilan telah dimatikan.
"Ada apa?" tanya Jung Soo.
"Eomma bilang Eomma akan menginap di rumah saudara kami bersama Min Hee dan Eomma lupa meninggalkan kunci di rumah. Ahhh aku harus bagaimana?!"
"Kau menginap saja di rumahku."
"Apa?!"
"Tak ada orang di rumah. Mungkin jika kau di rumahku, aku punya teman."
"Kau tidak berniat melakukan hal buruk kan?"
"Astaga, Kim Jung Hee.. Sudah berapa tahun kau mengenalku? Kau pikir aku seperti itu?"
"Tiga tahun lebih aku kenal kau, tapi aku belum tau seperti apa dirimu itu."
"Ahhh kau benar juga.. Kau jangan berpikir buruk tentang diriku. Aku tidak akan berbuat buruk padamu." Jung Hee memandang Jung Soo dengan intens.
"Kenapa kau memandangku begitu? Aku serius!"
"Baiklah, aku percaya."
"Kajja!" akhirnya, sesuai dengan yang diharapkan ibunya, Jung Hee menghabiskan malam bersama Jung Soo dengan menonton film di rumah, mengobrol, makan dan bermain.
-
Beberapa hari kemudian, tiba saatnya Jung Hee mengikuti pertandingan debat Bahasa Inggris. Jung Hee mengikuti debat itu dengan dua kakak kelasnya yang bernama Choi Yoon Joo dan Lee Hana serta ada dua tim lain dari sekolahnya. Babak demi babak telah mereka lewati. Mulai dari babak penyisihan hingga di final. Dan saat ini ia telah bersiap untuk menghadapi final dengan tema pentingnya les dan tambahan pelajaran di sekolah untuk siswa yang akan menghadapi ujian. Beberapa menit kemudian, Juri masuk ke sebuah ruangan dan diikuti oleh lawan dari tim Jung Hee. Perdebatan pun dimulai. Sebagai first speaker atau orang yang berbicara pertama kali, Jung Hee mengungkapkan materinya dengan tegas dan tenang. Setelah cukup lama, perdebatan pun selesai. Guru pembimbing tim Jung Hee menyuruh Jung Hee dan seniornya untuk beristirahat sambil menunggu hasil. Jung Hee hanya duduk di depan ruang debat sambil mengatur nafasnya.
"Penampilan yang luar biasa." sebuah suara yang tiba-tiba mengejutkan Jung Hee. Suara milik lawan Jung Hee tadi, Yoo Seung Ho.
"Eoh? Kau?"
"Yoo Seung Ho." Seung Ho mengulurkan tangannya untuk berkenalan. Jung Hee pun menyambutnya.
"Kim Jung Hee."
"Tadi kau sangat keren!"
"Benarkah? Terimakasih. Kau juga sangat mengagumkan."
"Terimakasih. Emmm.. Kau sendiri? Dimana temanmu?"
"Mungkin mereka sedang merefresh otak mereka. Kau tau kan, perdebatan ini sangat melelahkan."
"Memang. Di kelas berapa kau saat ini?"
"Aku di tahun pertama SMA. Bagaimana denganmu?"
"Aku juga sama."
"Ohhhh.."
"Emmm.. Boleh aku minta nomor ponselmu?"
"Apa?!"
"Tidak bolehkah? Tidak masalah.. Aku berfikir, mungkin kita bisa berteman dan berbagi informasi. Tidak apa-apa kalau kau tidak mau memberikan.
"Apa aku bilang begitu? Berikan ponselmu!"
"Apa?"
"Kau tidak mau?"
"Ahh.. Baiklah.. Ini." Seung Ho memberikan ponselnya pada Jung Hee. Jung Hee meneldon nomor ponselnya dengan ponsel milik Seung Hoo kemudian mengembalikannya.
"Kau punya nomorku dan aku punya nomormu." ucap Jung Hee.
"Gomawo."
"Sama-sama. Kalau begitu, aku pergi dulu. Aku ingin mencari teman-temanku."
"Silakan!" Jung Hee berdiri kemudian meninggalkan Seung Ho setelah memberikan senyumannya. Setengah jam kemudian, semua peserta bekumpul di sebuah aula yang cukup besar untuk mengumumkan juara antara sekolah Jung Hee dan sekolah Seung Ho. Jantung Jung Hee berdegup sangat kencang. Sama kencangnya seperti saat ia melihat Jung Soo. Disaat yang mendebarkan seperti ini, Jung Soo malah melintas di fikiran Jung Hee hingga membuatnya kesal.
"Astaga, Park Jung Soo!! Pergilah dari fikiranku sekarang! Bagaimana bisa kau muncul disaat seperti ini?! Pergilah, Park Jung Soo!!" umpatnya dengan suara pelan namun penuh penekanan. Juara pun telah diumumkan. Tim Jung Hee berhasil memenangkan perdebatan dari Tim Seung Ho. Euforia kemenangan begitu terasa di Tim Jung Hee. Setelah penyerahan hadiah, Tim Jung Hee bersiap untuk pulang. Satu persatu tim dari sekolah Jung Hee mulai masuk mobil.
"Jung Hee-ya!" sebuah suara terdengar memanggil Jung Hee dengan cukup keras. Jung Hee pun menoleh ke asal suara itu. Terlihat Yoo Seung Ho berlari ke arah Jung Hee.
"Seung Ho-ya? Ada apa?" tanya Jung Hee. Nafas Seung Ho terdengar ngos-ngosan karena berlari.
"Aku hanya ingin bilang selamat atas kemenanganmu."
"Kau berlari seperti itu hanya untuk bilang begitu?"
"Iya.. Memangnya kenapa?"
"Gomawo, Seung Ho-ya. Selamat juga atas kemenanganmu. Emmm kau tidak pulang?"
"Aku juga akan pulang sebentar lagi.."
"Yoo Seung Ho!!" teriak sesorang di belakang Seung Ho. Seseorang yang sepertinya adalah guru dari Seung Ho.
"Cepatlah!" sambungnya.
"Baik!"
"Gurumu sudah memanggilmu." ucap Jung Hee.
"Ya, benar. Jadi, ini saatnya kita berpisah."
"Jangan bilang begitu. Aku berharap kita masih bisa bertemu lagi."
"Aku juga berharap begitu. Baiklah, aku akan pergi lebih dulu." Seung Ho mengulurkan tangannya dan Jung Hee pun menyambutnya. Mereka saling melempar senyuman.
"Sampai jumpa, Jung Hee-ya.."
"Sampai jumpa, Seung Ho-ya.." Seung Ho perlahan melepaskan genggaman tangannya dan melangkah menjauhi Jung Hee.
"Jung Hee-ya! Kajja!" panggil guru Jung Hee dari dalam mobil.
"Baik, Bu." Jung Hee pun masuk ke mobil.
-
Suara ponsel berdering. Ponsel yang ada di atas meja belajar milik Seung Ho. Ia menghampirinya dan mengangkatnya.
"Yoboseyo?"
"Ini aku.."
"Aku tau! Ada apa?"
"Apa-apaan ini? Kau tidak mau memberitau aku tentang hari ini?"
"Tidak ada yang harus ku beritaukan padamu."
"Kenapa? Ahhhh aku tau.. Kau pasti kalan kan?"
"Ya, kau benar.."
"Bagaimana bisa? Siapa yang mengalahkanmu?"
"Sekolahmu.."
"Apa?! Kau jangan bercanda!"
"Aku tidak bercanda. Sekolahmu yang memenangkannya."
"Kalau begitu, aku tutup telfonnya!"
"Yak! Jung Soo-ya! Jung Soo-ya! Park Jung Soo! Aish! Anak ini benar-benar!"
-
Malam hari yang tenang, Jung Hee sibuk dengan soal-soal fisika yang harus dikerjakannya. Fisik dan fikirannya telah siap untuk menghadapi olimpiade fisika lima hari ke depan. Olimpiade fisika dilakukan satu minggu setelah debat Bahasa Inggris. Satu minggu setelah olimpiade fisika, Jung Hee mengikuti olimpiade matematika. Cukup melelahkan bagi beberapa orang. Begitu juga dengan Jung Hee. Ia pernah merasa kalau ia ingin mengundurkan diri dari lomba ini karena ia merasa lelah harus berfikir terlalu banyak. Namun ia kembali berfikir ini akan mudah jika Jung Hee menjalaninya begitu saja tanpa berfikir ini berat atau tidak. Satu pelajaran yang ia peroleh, bahwa semua yang dijalani tanpa mengeluh dan terlalu dipikirkan akan membuat semuanya menjadi mudah. Di tengah kesibukannya, tiba-tiba ponselnya berdering. Ia melihat nama yang ada disana. 유승호 (Yoo Seung Ho). Ia mengangkat telfon itu.
"Yoboseyo!" sapa Jung Hee.
"Jung Hee-ya, ini aku."
"Aku tau. Ada apa?"
"Apa yang sedang kau lakukan?"
"Mengerjakan soal untuk olimpiade fisika."
"Apa?! Jangan bilang kau akan ikut olimpiade itu!"
"Aku ikut, kenapa?"
"Ayolah.. Kau jangan ikut.."
"Apa kau juga ikut?"
"Eoh!"
"Ahhhhh.. Kau takut kalah dariku?"
"Yak, Kim Jung Hee!"
"Ahahaha.. Aku tau kau takut kalah dariku.. Tenanglah, Seung Ho-ya.. Kau belum tentu kalah dariku. Ini bukan debat. Siapa tau kau lebih unggul dariku dalam hal ini. Kalaupun kau kalah, kau bisa kalah dari orang lain."
"Aku tau. Tapi jika kau tidak ikut, kesempatanku untuk menang akan semakin besar."
"Jadi, kau menganggapku sebagai musuhmu? Bukan temanmu?"
"Bukan begitu.."
"Aku benci kau, Yoo Seung Ho!"
"Jung Hee-ya, aku tidak bermaksud begitu."
"Aku tau. Aku cuma bercanda."
"Hhhhhhh.. Syukurlah.."
"Kau tidak belajar?"
"Aku sudah belajar."
"Benarkah?"
"Ya."
"Oohhh.."
"Kau belajar saja. Aku tutup dulu."
"Emm.. Baiklah." Seung Ho pun menutup telfonnya.
-
Hari yang dinantikan tiba, Seung Ho, Jung Hee dan semua peserta mengerjakan soal pilihan ganda dengan tenang. Dua jam telah berlalu, semua peserta keluar dan beristirahat selama tiga puluh menit untuk menunggu sesi kedua.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Seung Ho.
"Tentang apa?"
"Soal tadi."
"Ohh.. Tidak sulit juga tidak mudah."
"Kau bisa mengerjakannya?"
"Ada beberapa nomor yang tidak ku kerjakan. Bagaimana denganmu?"
"Sama sepertimu."
Sesi kedua dimulai, sesi kedua ini adalah sesi untuk mengerjakan soal berupa uraian yang berjumlah sepuluh soal. Setelah mengerjakan dan menunggu, hasil pun diumumkan dan Jung Hee berhasil menjadi juara satu dan Seung Ho menjadi juara kedua. Jung Hee dan Seung Ho saling berpandangan. Dalam tatapannya, Jung Hee tau kalau Seung Ho ingin marah padanya. Setelah mereka menerima piala, Jung Hee menghampiri Seung Ho.
"Seung Ho-ya, gwenchanha?"
"Apa aku terlihat baik-baik saja?"
"Aku tau kau pasti marah padaku. Aku minta maaf."
"Hhhh.. Baguslah kalau kau tau."
"Maafkan aku."
"Sudahlah. Ini tidak sepenuhnya salahmu. Mungkin aku kurang teliti."
"Kau tidak marah lagi?"
"Tidak. Untuk apa? Temanku menjadi pemenang, dan aku harus senang."
"Kau serius?"
 "Sangat serius. Chukhahae, Jung Hee-ya."
"Gomawo.."
"Minggu depan, apa kau ada olimpiade lagi?"
"Ada."
"Apa? Bukan kimia kan?"
"Bukan. Aku ikut matematika."
"Hhhhh.. Syukurlah.."
"Kalau aku ikut olimpiade kimia, aku tau kau akan takut karena kau tidak akan menang."
"Yak, Kim Jung Hee! Berhentilah bicara seperti itu. Anggap saja aku mengalah karena teman."
"Hahaha.. Baiklah.."
"Ngomong-ngomong, kau harus traktir aku."
"Mentraktirmu? Emmmm.. Pasti.. Tapi kita tunggu minggu depan.. Jika kau memenangkan olimpiade itu, aku akan mentraktirmu, tapi setelah itu, kau harus mentraktirku karena kau menang. Bagaimana?"
"Baiklah, aku setuju." mereka bersalaman. Seminggu kemudian mereka mengikuti olimpiade dengan bidang kemampuan mereka masing-masing dan memenangkannya. Perjanjian pun dipenuhi. Tahun pertama telah selesai, Jung Hee melangkah ke tahun kedua dengan nilai terbaik. Di tahun kedua ini, Seung Ho memutuskan untuk pindah ke sekolah Jung Hee agar ia bisa satu tim dengan Jung Hee dalam perdebatan Bahasa Inggris.
Jung Hee berjalan dari kelasnya dengan membawa beberapa buku pinjaman dari perpustakaan. Nmun ia tertabrak oleh seseorang yang baru keluar dari kelas hingga membuat semua bukunya jatuh. Ia pun mengambil semua bukunya.
"Maafkan aku, aku tidak sengaja." ucap orang yang menabrak Jung Hee.
"Tidak apa-apa." Jung Hee melihat orang itu dan ia terkejut.
"Seung Ho-ya?" lanjutnya.
"Eoh? Jung Hee-ya, annyeong.."
"Apa yang kau lakukan disini? Dan kau memakai seragam sekolah kami?"
"Oh ini? Aku resmi jadi siswa disini."
"Kenapa kau pindah ke sekolah kami?"
"Karena aku ingin satu tim bersamamu untuk debat Bahasa Inggris. Aku tidak mau kalah lagi darimu, jadi jika aku satu tim denganmu, kita akan menang bersama."
"Kalau begitu, selamat datang di tim debat kami."
"Gomawo.." tiba-tiba Jung Soo keluar dari kelas yang sama.
"Apa yang kalian lakukan disini?" tanya Jung Soo.
"Aku tidak sengaja menabrak Jung Hee."
"Kalian sudah saling kenal?"
"Tentu. Bahkan kami sudah sering bertemu. Benarkan, Jung Hee-ya?"
"Iya. Tunggu, kalian juga sudah saling kenal?" tanya Jung Hee balik. Seung Ho dan Jung Soo pun saling merangkul.
"Tentu." jawab Seung Ho.
"Kami berteman sejak kecil. Kemudian kami terpisah saat SMP dan saat masuk SMA, aku mengajaknya untuk masuk ke sekolah ini tapi dia tidak mau masuk ke sekolah ini." sahut Jung Soo.
"Kenapa kau tidak mau masuk ke sekolah ini?" tanya Jung Hee serius membuat Seung Ho melepas rangkulannya.
"Emmmm.. Itu.. Aku masuk ke sekolah dengan prestasi yang baik di bidang Bahasa Inggris, khususnya debat. Sekolahku yang dulu memiliki prestasi itu, tapi sekarang sekolahku kalah dari sekolahmu, jadi aku pindah ke sekolah ini."
"Jadi, jika nanti kami kalah dalam debat, kau akan pindah lagi?"
"Tentu tidak."
"Wae?"
"Karena kau ada disini."
"Apa?!" sahut Jung Soo dan Jung Hee bersamaan.
"Ahh sudahlah.. Aku pergi dulu.." Seung Ho pun pergi meninggalkan mereka.
"Yak, Seung Ho-ya! Apa yang kau maksud?!" Jung Hee juga melangkahkan kakinya meninggalkan Jung Soo dengan membawa buku-bukunya.
"Dia tidak akan pindah karena Jung Hee? Apa maksudnya?" gumam Jung Soo.
-
Semakin lama, Jung Hee dan Seung Ho semakin dekat hingga membuat Seung Ho berniat untuk menyatakan perasaannya pada Jung Hee di akhir tahun kedua ini. Jung Soo pun juga semakin dekat denan Jung Hee.
Jung Hee terlihat bersiap akan pulang ke rumah setelah menerima raport. Namun, seorang siswa laki-laki menemuinya dan memberinya surat.
"Jung Hee-ya! Ada surat untukmu. Ini!" ucap siswa itu sambil memberikan surat.
"Dari siapa?"
"Dia melarangku untuk memberitaumu."
"Oh, begitu.. Terimakasih." siswa itu pun pergi dan Jung Hee membuka surat itu.
"Jung Hee-ya, aku minta temui aku di taman belakang sekolah. Aku menunggumu." isi dari surat itu.
"Siapa yang menulis surat ini? Apa ini dari Seung Ho? Tapi tidak, ini bukan tulisannya. Apa ini dari Jung Soo?" ia berfikir sejenak kemudian langsung menuju ke tempat yang tertulis di surat itu. Saat sampai disana, ia melihat ke sekitar seolah mecari seseorang, dan kedua matanya menangkap seorang laki-laki yang tengah berjalan ke arahnya. Laki-laki yang ia sukai dari dulu. Park Jung Soo. Jung Hee tersenyum begitu pula dengan Jung Soo.
"Jung Hee-ya!" Seung Ho tiba-tiba datang dari samping kanan Jung Hee dan menepuk bahunya membuatnya terkejut.
"Eoh? Seung Ho-ya? Apa yang kau lakukan disini?"
"Menemuimu, apalagi?!"
"Apa?! Jadi, surat itu darimu?"
"Iya."
"Lalu, Jung Soo-ya, apa yang kau lakukan disini?"
"Aku? Sebenarnya tadi aku ingin pulang, tapi aku melihatmu ada disini. Aku ingin bertanya kenapa kau belum pulang dan malah berada disini, ternyata kau akan bertemu dengan Seung Ho. Jadi, lebih baik aku pulang." Jung Soo pun berbalik badan.
"Tunggu!" cegah Seung Ho sebelum Jung Soo melangkahkan kakinya.
"Aku minta kau disini untuk menjadi saksi apa yang akan ku lakukan hari ini." sambungnya.
"Memangnya apa yang akan kau lakukan?" tanya Jung Hee.
"Jung Hee-ya.." Seung Ho memegang kedua tangan Jung Hee.
"Aku tidak tau apa yang harus ku katakan. Sudah lebih dari satu tahun aku mengenalmu. Dan sudah selama itu pula, aku menyukaimu." lanjutnya membuat Jung Hee dan Jung Soo sangat terkejut.
"Aku menyukaimu sejak pertama kali aku melihatmu saat kita berdebat. Di mataku, kau gadis yang hebat, berani, pintar dan luar biasa. Aku ingin kau menjadi pacarku. Apa kau mau?" Jung Hee terdiam. Ia tak mampu berkata apa-apa. Beberapa kali ia sempat bertatapan dengan Jung Soo.
"Seung Ho-ya, mianhae, aku tidak bisa lama. Aku ada janji dengan temanku. Aku harus pergi." ucap Jung Soo tiba-tiba.
"Benarkah? Baiklah." balas Seung Ho.
"Hati-hati di jalan." Jung Hee menimpali. Jung Soo pun melangkahkan kakinya.
"Jung Hee-ya, bagaimana?" tanya Seung Ho membuyarkan lamunan Jung Hee.
"Apa?! Emmm.. Entahlah.. Aku.. Aku hanya tidak mau kehilangan sahabat baikku lagi."
"Maksudmu?"
"Seung Ho-ya.. Kau adalah sahabatku. Sahabat baikku. Aku tidak ingin kehilangan kau. Aku pernah berada dalam posisi seperti ini. Aku bershabat dengan seseorang, tapi lama-lama dia menyatakan cintanya padaku. Aku bingung. Jika aku menolaknya, dia akan menjauh. Jika aku menerimanya, aku akan kehilangan dia jika suatu hari nanti kami berpisah. Dan aku memutuskan untuk menerimanya dengan harapan aku tidak akan kehilangan dia meski kami berpisah. Meskipun saat itu aku tidak mencintainya dan aku menyukai orang lain."
"Kenapa kau memikirkan perpisahan?"
"Karena kami berbeda keyakinan. Aku tau kami tidak akan bisa bersama karena kami tidak ingin meninggalkan keyakinan kami demi seseorang dengan keyakinan lain."
"Lalu bagaimana denganku? Keyakinan kita sama kan?"
"Iya.. Tapi aku tetap takut. Aku tidak tau apa yang akan terjadi nanti."
"Hhh.. Baiklah.. Sekarang aku tidak akan memintamu untuk menerimaku atau tidak. Aku hanya ingin kau menjalani ini semua denganku. Jika suatu hari nanti kau akan menerima atau bahkan menolakku, katakan saja padaku. Aku siap mendengarnya. Hingga waktu itu tiba, aku akan selalu menunggumu."
"Seung Ho-ya.."
"Sudahlah, jangan terharu begitu. Aku tau tindakanku ini memang sangat baik."
"Yak! Kau benar-benar percaya diri.."
"Memangnya kenapa? Ada masalah?"
"Tidak.."
"Oh ya, sahabatmu itu.. Siapa? Tinggal dimana? Apa aku boleh tau?"
"Dia tinggal di Amerika. Dia sahabatku di dunia maya."
"Apa?! Jadi, kau belum pernah bertemu dengannya?"
"Hmmm.."
"Dia belum bertemu denganmu, tapi dia sudah menyatakan cintanya? Kau pasti memasang foto wanita cantik kan? Atau kau pasti mengedit semua fotomu. Jika tidak, mana mungkin dia bisa menyukaimu?!"
"Ohhh.. Jadi menurutmu seperti itu? Lalu, bagaimana kau bisa menyukai aku? Bahkan kau menyukaiku saat pertama melihatku."
"Ahh sudahlah.. Ayo kita pulang.. Aku akan mengantarmu."
"Baiklah.." Seung Ho pun mengantar Jung Hee Ke rumah menggunakan motornya.
"Gomawo." ucap Jung Hee ketika mereka telah sampai di rumahnya.
"Sama-sama."
"Masuk, dulu. Ku buatkan minuman untukmu."
"Apa?!"
"Sudahlah.. Ayo masuk!" Jung Hee menarik tangan Seung Ho untuk masuk ke rumahnya.
"Eomma, aku pulang!" ucap Jung Hee memasuki rumahnya.
"Pulang ya pulang saja! Tidak perlu berisik begitu!" sahut Min Hee yang sedang duduk di lantai fokus bermain game di ruang tamu.
"Anak kecil, dimana Eomma?"
"Jangan panggil..." ucapan Min Hee terhenti begitu melihat Seung Ho di samping Jung Hee.
"Aku anak kecil.." sambungnya.
"Haha.. Kau memang anak kecil!"
"Eonni, siapa dia?"
"Kau tak perlu tau! Seung Ho-ya, kau duduk dulu, aku akan ganti baju dulu.."
"Baiklah!"
"Yak, Kim Min Hee! Menyingkirlah!"
"Aish!! Aku mau belajar!" Seung Ho duduk di sofa dan Jung Hee pergi ke kamarnya. Min Hee yang duduk di lantai pun, berpindah menjadi duduk di samping Seung Ho.
"Oppa.. Apa kau teman kakakku?" tanya Min Hee.
"Emm iya.."
"Min Hee, Kim Min Hee ibnida.." ucap Min Hee mengulurkan tangan.
"Oh.. Yoo Seung Ho ibnida.." mereka berdua bersalaman singkat.
"Oppa, bagaimana kau bisa berteman dengan kakakku?"
"Aku bertemu dengannya saat kami ikut debat Bahasa Inggris."
"Jadi kau lawan kakakku?"
"Hmm.."
"Aku sarankan jangan pernah menjadi lawan kakakku.. Kau tak akan pernah menang."
"Aku memang belum bisa mengalahkannya. Dua kali dia sudah mengalahkan aku. Bagaimana dia bisa begitu?"
"Entahlah.. Aku juga tidak tau.. Setiap dia akan mengikuti lomba, dia tidak pernah keluar dari kamarnya selama seminggu. Dan saat lomba waktu itu, tiga lomba sekaligus, dia tidak keluar selama sebulan. Ahhhh, dia pernah pergi sekali atas suruhan Eomma."
"Apa kakakmu punya pacar?"
"Apa? Hahaha.. Mana mungkin dia punya pacar?! Selain pendidikan, dia tidak memikirkan apapun. Bahkan dia tidak peduli dengan dirinya dan juga penampilannya. Bagaimana bisa ia punya pacar?! Eomma pernah membuatkannya sebuah gaun yang sangat cantik. Bahkan aku menginginkannya, tapi dia hanya menyimpan gaun itu dan dia lebih suka memakai celana. Hanya itu yang dia punya dan dia sukai."
"Benarkah seperti itu?"
"Hmmm.." Jung Hee pun muncul dengan membawa minum dan beberapa makanan.
"Kim Min Hee, pergilah ke kamarmu!" ucap Jung Hee.
"Aku tidak mau! Kenapa aku harus pergi ke kamarku?!"
"Kau harus belajar untuk masuk SMA yang kau mau!"
"Aku tidak mau!"
"Pergilah ke kamarmu atau kau tak akan bisa bertemu Appa!"
"Baiklah.." Min Heepun menuruti perintah kakaknya untuk belajar di dalam kamar dan Jung Hee duduk di depan Seung Ho. Seung Ho menatap Jung Hee dengan intens. Jung Hee mengambil minum yang ada di depannya kemudian meminumnya. Sadar jika Seung Ho sedang menatapnya, ia meletakkan minumnya secara perlahan dengan mata yang juga menatap Seung Ho.
"Kenapa? Kenapa kau menatapku begitu?!" tanya Jung Hee.
"Tidak, tidak apa-apa. Aku hanya penasaran, gadis seperti apa kau ini?!"
"Apa maksudmu? Apa yang kau bicarakan dengan adikku?"
"Aku tidak bicara apapun."
"Benarkah?"
"Apa malam ini kau ada waktu?"
"Tidak. Aku harus mengerjakan banyak tugas."
"Apa?! Ya sudah, tidak jadi.. Belajarlah yang rajin.."
"Hehe.. Aku bercanda. Aku tidak ada tugas. Ada apa?"
"Aku ingin mengajakmu pergi."
"Kemana?"
"Kita tentukan nanti. Kau mau kan?"
"Emmm.. Sebenarnya aku tidak suka pergi, tapi karena ada yang mengajakku, jadi baiklah, aku akan pergi denganmu.."
"Baiklah, aku akan menjemputmu jam tujuh malam."
"Aku akan menunggumu." Seung Ho pun bangun dan bersiap untuk pulang. Jung Hee pun mengantarnya sampai di pintu.
"Sampai jumpa nanti malam, pacarku yang manis." ucap Seung Ho sambil mengacak rambut Jung Hee.
"Kau bilang apa?" Seung Ho hanya tersenyum kemudian pergi dari rumah Jung Hee menaiki motornya. Jung Hee pun kembali ke rumah dan pergi menghampiri adiknya.
"Anak pintar!" ucap Jung Hee saat melihat adiknya belajar di kelasnya. Ia hanya membalas tatapan pada Jung Hee.
"Untuk apa kau menyuruhku melakukan ini?!" Jung Hee duduk di samping Min Hee.
"Kau bilang kau mau masuk SMA terbaik kan? Jadi kau hars belajar."
"Aku tidak mau. Aku mau masuk ke SMA mu."
"Apa?!"
"Kenapa? Sekolahmu juga termasuk sekolah terbaik kan?"
"Iya, memang.. Tapi, bukankah kau mau masuk ke..."
"Aku membatalkannya."
"Kenapa?"
"Karena Seung Ho Oppa tidak ada disana dan dia ada di sekolahmu."
"Jadi, kau mau masuk ke sekolah kami karena Seung Ho?"
"Iya. Dia tampan.."
"Baiklah.. Belajarlah yang rajin dan jadikan Yoo Seung Ho sebagai pemacu semangatmu! Kau mengerti?!"
"Sangat mengerti!"
"Oh ya, dimana Eomma? Dari tadi aku belum melihatnya."
"Eomma? Setelah pulang dari sekolahmu, Eomma pergi. Mungkin ada di butik."
"Oh.. Ya sudah." Jung Hee pun keluar dari kamar Min Hee dan masuk ke kamarnya.
-
*teng teng teng* jam telah menunjukan pukul tujuh dan Jung Hee telah siap untuk pergi dengan Seung Ho malm ini. *ting tung* bel telah berbunyi. Jung Hee segera berlari ke pintu kemudian kemudian membukanya. Di lihatnya Seung Ho yang terlihat tampan di depan pintunya. Mereka saling melempar senyuman.
"Siapa yang datang, sayang?" ucap ibunya yang menghampiri Jung Hee.
"Annyeong haseyo, hjumma.. Yoo Seung Ho ibnida." ucap Seung Ho sambil membungkukkan badan.
"Iya, aku tau. Kau teman Jung Hee kan?"
"Iya.."
"Jung Hee sering bercerita tentangmu. Kau anak yang baik."
"Ahh, terimakasih atas pujiannya." ucap Seung Ho malu-malu.
"Mau mengajak Jung Hee pergi?"
"Iya, Ahjumma."
"Ya sudah, kalian pergilah. Seung Ho-ya, jaga Jung Hee, ya!"
"Baik, Ahjumma."
"Gomawo, Eomma. Kami pergi." Seung Ho menundukan kepalanya sebelum mereka pergi menaiki motor. Seung Ho menjalankan motornya ke sebuah taman. Bukan taman bermain, tapi taman yang biasanya digunakan untuk kencan.
"Kenapa kita kesini?" tanya Jung Hee.
"Ku pikir ini tempat yang baik untuk kita berkencan."
"Berkencan?"
"Iya. Bukankah kita sedang berkencan?!"
"Tapi..."
"Sudahlah, kau jangan bicara apapun. Bagiku, kita sedang berkencan dan resmi berpacaran. Kau sudah makan?"
"Aku terlalu sibuk menata diriku karena akan pergi denganmu sampai aku lupa kalau aku belum makan. Jadi kau harus tanggung jawab."
"Baiklah. Kita pergi makan sekarang?"
"Tidak. Kita baru sampai disini. Aku belum mau pergi."
"Baiklah, terserah padamu. Katakan padaku kalau kau ingin pergi atau menginginkan sesuatu. Aku akan memberikannya."
"Baiklah." mereka pun berjalan menyusuri taman ini. Sesuai dengan perkataan Seung Ho, Jung Hee mengatakan apa yang ia inginkan tanpa menyembunyikannya. Mereka pergi makan, menonton film, jalan-jalan dan pergi ke timezone. Meskipun malam ini bersama Seung Ho, tapi pikiran Jung Hee selalu tertuju pada Jung Soo.
-
Hampir setahun Seung Ho menjalani hubungan dengan Jung Hee dan selama itu pula Jung Hee belum membuka hatinya untuk Seung Ho. Dan juga selama itu pula, Jung Soo, Seung Ho dan Jung Hee menghabiskan waktu bersama di luar sekolah. Sedangkan Ah Ra dan Chaeri tetap menjadi sahabat bagi Jung Hee di dalam sekolah.
Di kantin sekolah, Seung Ho dan Jung Hee sedang melahap makan siangnya.
"Seung Ho-ya.." ucap Jung Hee.
"Ya?"
"Setelah lulus nanti, kau akan masuk universitas mana?"
"Kau sendiri?"
"Aku tanya padamu, kenapa kau malah balik bertanya padaku?"
"Kau jawab dulu, kau akan kemana?" Seung Ho mengangkat gelas minum dan meminumnya.
"Aku akan ke Amerika." ucap Jung Hee membuat Seung Ho terkejut dan hampir membuatnya memuntahkan minuman di mulutnya.
"Kau bilang apa?! Amerika?"
"Iya. Appa janji akan mengajakku tinggal bersama jika aku punya prestasi yang bagus. Hampir enam tahun aku tidaj bertemu dengan Appa. Jadi, aku akan kesana. Aku akan melanjutkan kuliah disana."
"Kenapa kau tidak ke Finlandia? Bukankah pendidikan disana yang terbaik?"
"Aku sangat ingin melanjutkan ke Finlandia, tapi aku juga ingin bertemu dengannya. Lalu bagaimana denganmu?"
"Aku akan ke Finlandia. Jung Hee-ya, ikutlah denganku."
"Bagaimana dengan Appa?"
"Ayahmu pasti akan mendukungmu. Aku tidak bisa jauh darimu."
"Kenapa bukan kau saja yang ikut aku?"
"Orang tuaku sudah menyiapkan semuanya. Bahkan Eomma bilang aku sudah didaftarkan disana."
"Apa?!"
"Yaa.. Aku tidak bisa pergi denganmu. Jadi ku mohon, ikutlah denganku."
"Akan ku pikirkan."
"Baguslah."
-
Semester akhir, semua siswa kelas akhir yang akan melanjutkan ke perguruan tinggi bersiap untuk menghadapi suneung (ujian masuk perguruan tinggi). Selain itu, mereka juga bersiap untuk menghadapi ujian akhir. Selama beberapa hari mereka menjalani ujian. Dan Jung Hee, ia telah mendiskusikan pendidikannya dengan orang tuanya dan orang tuanya pun setuju kalau ia akan melanjutkan kuliah di Finlandia bersama Seung Ho. Pengumuman kelulusan telah diumumkan. Semua siswa lulus dengan nilai yang baik. Tak lama, pelepasanpun diselenggarakan di sekolah. Semua siswa saling melepas satu sama lain karena mereka akan berpisah. Sama seperti yang lain, Seung Ho dan Jung Hee melakukan hal yang sama pada teman mereka. Jung Hee melihat Jung Soo yang berjarak 50 meter darinya. Dan Seung Ho melihat Jung Hee dari jarak 10 meter. Ia juga tau kalau Jung Hee sedang mengamati temannya itu. Ia pun melangkahkan kakinya mendekati Jung Hee.
"Katakanlah!" ucap Seung Ho membuat Jung Hee terkejut.
"Apa?"
"Kau menyukai Park Jung Soo kan?" Jung Hee makin terkejut atas kalimat yang baru saja keluar dari mulut Seung Ho.
"Katakan saja kalau kau menyukainya. Kau tak perlu takut." lanjutnya.
"Seung Ho-ya, darimana kau tau?"
"Kim Jung Hee, aku sudah mengenalmu selama dua tahun. Selama itu aku mampu memahamimu. Aku tau apa yang kau suka dan apa yang tidak kau suka. Dan aku tau kalau kau menyukai temanku itu."
"Sejak kapan kau tau?"
"Sejak kapan? Entahlah. Mungkin sejak aku mengungkapkan perasaanku padamu waktu itu."
"Kau tau itu tapi kau tetap menjalani hubungan ini denganku? Kenapa?"
"Karena saat melihat matamu, aku melihat diriku disana. Meskipun temanku itu telah memenuhi pandangan, fikiran dan hatimu, tapi aku melihat aku juga punya tempat disana meskipun tidak sespesial Jung Soo dan hanya sebatas teman."
"Seung Ho-ya.."
"Katakanlah padanya. Hampiri dia dan ungkapkan perasaanmu padanya agar kau lega."
"Lalu bagaimana denganmu? Kau bilang aku pacarmu kan?"
"Kau memang pacarku. Dan aku mau pacarku ini bahagia. Dengar, soal rencana kita di Finlandia, kau bisa melupakannya kalau kau mau. Tapi sampai pesawatku belum berangkat, aku akan menunggumu. Aku tidak tau apa yang akan kau lakukan nanti dan aku tidak mau tau untuk saat ini. Aku hanya mau kau bahagia. Ungkapkan perasaanmu. Jika dia menolakmu datanglah ke bandara dan kita pergi bersama. Tapi jika kau tidak datang, aku tau jawabannya."
"Lalu bagaimana jika dia menerimaku tapi aku ingin tetap pergi ke Finlandia?"
"Beritau aku, maka aku tidak akan mengusik kehidupan cintamu meski kita bersama." Jung Hee menitihkan air matanya. Tanpa menunggu, Seung Ho langsung menyekanya dengan jarinya.
"Seung Ho-ya, gomawo.."
"Sudahlah.. Pergilah! Aku akan pulang sekarang."
"Hmmm.."
"Aku pulang dulu, pacarku yang manis." Seung Ho mengacak rambut Jung Hee pelan kemudian pergi dengan Jung Hee yang menatapnya. Setelah Seung Ho hilang dari pandangannya, ia kembali menatap Jung Soo. Syukurlah ia belum pergi. Perlahan, Jung Hee melangkahkan kakinya mendekati Jung Soo.
"Jung Soo-ya.." panggil Jung Hee gugup.
"Jung Hee-ya, selamat atas kelulusanmu. Kau memang hebat."
"Gomawo.. Emmm.. Ada sesuatu yang ingin ku katakan padamu."
"Apa?" Jung Hee mengatur nafasnya untuk mengendalikan dirinya agar ia tidak gugup.
"Aku mau bilang.. Emm.. Aku.. Aku ingin berterimakasih padamu."
"Untuk apa?"
"Terimakasih karena secara tidak langsung, kau telah menjadi pemacu semangatku selama enam tahun. Aku tau mungkin ini kedengarannya konyol. Tapi, ini adalah yang ku rasakan selama enam tahun ini. Aku menyukaimu, saat pertama kali melihatmu di SMP. Aku menyukai semua hal yang ada pada dirimu. Selama enam tahun, aku tidak berharap kau juga menyukaiku. Tapi aku berharap agar aku selalu bisa melihatmu dimanapun, kapanpun, dan dengan siapapun. Aku bahkan tidak peduli jika dulu kau punya pacar karena yang terpenting adalah aku bisa terus melihatmu. Melihat orang yang ku sukai. Melihat orang yang sempurna di mataku. Kau pasti bertanya kenapa aku mengatakannya sekarang. Aku akan beritau. Alasannya karena sebentar lagi kita akan berpisah. Aku tidak peduli apa yang akan terjadi setelah ini. Bahkan jika kau tak ingin melihatku lagi, bagiku tak masalah karena sebentar lagi aku akan pergi. Jadi, aku tidak akan gila jika kau  menjauhiku." ucap Jung Hee panjang lebar. Ia menghela nafasnya.
"Huhhhhh.. Seung Ho benar. Aku harus mengatakannya agar aku merasa lega." sambungnya.
"Jung Hee-ya..."
"Oppa!!" ucapan Jung Soo terpotong ketika Sora menghampirinya.
"Chukhahae.." sambungnya sambil mengecup pipi kiri Jung Soo membuat Jung Hee dan Jung Soo terkejut.
"Sora-ya, apa yang kau lakukan?!" tanya Jung Soo.
"Kenapa? Kau kan pacarku? Apa aku tidak boleh melakukan itu?" ucap Sora membuat Jung Hee makin terkejut.
"Apa?! Pacar?" Jung Soo pun terdiam.
"Iya.. Jung Hee-ya, kau belum tau kalau aku dan Jung Soo Oppa sudah berpacaran?"
"Sudah berapa lama kalian berpacaran?"
"Dua bulan."
"Dua bulan?" Sora mengangguk, Jung Hee tak sanggup menahan air matanya hingga air matanya jatuh.
"Aku tidak tau tentang hubungan kalian. Mungkin ini terlambat, tapi selamat. Selamat atas hubungan kalian. Semoga kalian bahagia." Jung Hee berbalik dan melangkahkan kakinya untuk pulang. Hatinya hancur. Ia mencoba untuk tidak menangis saat naik bis. Tapi setelah ia turun dari bis, ia menangis sambil berjalan pulang. Berkali-kali ia menghapus air matanya dan meniupnya agar ia tidak terlihat menangis. Tapi itu sia-sia. Air matanya masih terus mengalir sampai ia tiba di rumahnya. Saat ia masuk rumah, ibu, adik, Chaeri dan Ah Ra menyalakan confetti untuk menyambut Jung Hee yang lulus dengan nilai terbaik. Tapi tak seperti yang diharapkan, Jung Hee tidak bahagia dan ia tetap menangis. Ia duduk di kursi tamu. Mereka bertanya apa yang terjadi dan Jung Hee hanya menjawab jika semuanya sudah hancur.
"Eomma! Semuanya sudah hancur! Semua yang ku lakukan sia-sia!"
"Apa maksudmu?" tanya ibunya.
"Kalian semua tau kan untuk siapa aku melakukan semua ini? Kalian semua tau bagaimana aku berjuang menjadi yang terbaik untuknya. Tapi.. Semuanya sia-sia."
"Sia-sia apanya? Apa kau mengungkapkan perasaanmu pada Jung Soo?" tanya Chaeri.
"Ya, kau benar. Hari ini aku mengungkapkan perasaanku padanya. Tapi hari ini juga aku tau kalau ternyata dia sudah berpacaran dengan Kang Sora selana dua bulan."
"Apa?!" ucap semua orang terkejut.
"Aku tau tidak seharusnya aku begini. Aku tidak peduli dengan siapa dia berpacaran. Tapi kali ini, aku tidak tau kenapa hatiku benar-benar sakit. Hatiku hancur.."
"Bagaimana dengan Seung Ho?" tanya  Ah Ra.
"Dia.. Dia yang memintaku untuk mengungkapkan perasaanku."
"Apa dia tau kalau Jung Soo dan Sora berpacaran?" tanya Chaeri.
"Aku tidak tau."
"Astaga, anak Eomma kasihan sekali. Sudahlah jangan bersedih lagi. Eomma rasa Seung Ho tidak tau kalau mereka berpacaran. Seung Ho tidak mungkin menyakiti hatimu. Eomma tau dia sangat mencintaimu. Dia pemuda yang baik."
"Eomma, apa yang harus aku lakukan?"
"Ikuti kata hatimu. Lakukan yang ingin kau lakukan. Eomma akan mendukungmu selama kau bahagia."
-
Pukul delapan malam, Jung Hee telah siap untuk pergi ke bandara. Ia meminta agar tak ada yang mengantarnya ke bandara. Perpisahan hangat terjadi di antara Jung Hee, ibu, adik dan dua sahabat baiknya.
"Aku pergi dulu. Jaga diri kalian baik-baik. Dan untukmu, Min Hee-ya, jika nanti kau ingin melanjutkan kuliah bersamaku, kau harus belajar dengan baik!"
"Aku tidak akan bersamamu. Aku akan pergi dan bersama Appa!"
"Bersama Appa pun kau harus belajar dengan giat!"
"Aku tau. Jaga dirimu, Eonni. Aku akan merindukanmu. Meskipun kau disana, aku mohon bantu aku agar aku lulus dengan nilai terbaik sepertimu."
"Baiklah. Akan ku lakukan. Aku pergi." mereka semua saling berpelukan dan Jung Hee pun pergi.
-
Di waktu yang sama di sebuah kafe. Jung Soo, Sora dan teman-temannya sedang merayakan kelulusan mereka. Namun diantara mereka, Jung Soo terlihat murung.
"Hhhh.. Pergilah!" ucap Sora tiba-tiba.
"Maksudmu?"
"Kejarlah Kim Jung Hee. Katakan padanya kalau kau juga menyukainya. Mungkin saat ini kau pacarku, tapi aku tidak pernah melihatmu bahagia saat bersamaku. Aku melihatmu sangat bahagia saat kau bersama Jung Hee. Tatapanmu padanya sangat berbeda dengan tatapanmu padaku. Kita baru berpacaran selama dua bulan. Bagiku, tidak masalah jika kita putus sekarang. Aku berfikir bagaimana Seung Ho bisa membiarkan Jung He mengatakan perasaannya padamu padahal mereka sudah berpacaran selama setahun. Jika Seung Ho bisa merelakan Jung Hee, aku juga bisa merelakanmu. Jadi pergilah!"
"Gomawo, Sora-ya!" Jung Soo pun bergegas pergi dri kafe.
-
Tiga puluh menit lagi pesawat akan lepas landas tapi Seung Ho belum juga melihat Jung Hee. *Perhatian, pesawat dengan  tujuan Helsinki, Finlandia akan berangkat dalam tiga puluh menit. Dimohon para penumpang segera melakukan boarding pass.* Seung Ho mulai putus asa. Ia berpikir kalau Jung Hee tidak akan datang dan telah bahagia bersama Jung Soo. Ia pun melangkah untuk boarding pass.
"Kau bilang kau akan menungguku!" sebuah suara terdengar dari belakang Seung Ho membuatnya menghentikan langkahnya. Ia mengenali suara itu. Suara milik Jung Hee. Ia pun berbalik.
"Kau bilang kau akan menungguku?! Tapi apa?! Kau mau meninggalkan aku?!" ulangnya. Seung Ho tersenyum. Ia berlari ke arah Jung Hee kemudian memeluknya dengan erat. Jung Hee pun membalas pelukannya.
"Kau akan pergi denganku?" tanya Seung Ho sambil melepas pelukan.
"Iya.."
"Tunggu, aku tidak mau senang dulu. Apa yang terjadi antara kau dan Jung Soo?"
"Tidak terjadi apa-apa. Temanmu itu sudah punya pacar. Dia berpacaran dengan Kang Sora selama dua bulan."
"Apa?! Kau jangan bohong!"
"Aku tidak bohong."
"Jadi, kau memutuskan untuk pergi?"
"Ya. Aku akan mencoba untuk melupakannya dan aku akan hidup bersamamu. Kau masih mau menerimaku?"
"Tentu. Sampai kapanpun aku akan tetap menerimamu." mereka saling tersenyum kemudian saling berpelukan.
"Oh ya, kita hampir terlambat! Ayo!" Seung Ho melepas pelukannya kemudian berlari untuk boarding pass dan menaiki pesawat. Jung Soo yang telah sampai di bandara setelah pergi dari rumah Jung Hee pun mencari Jung Hee ke semua tempat. Tapi sayang, pesawat Jung Hee telah lepas landas. Ia melihat jam tangan putih yang melingkat di tangannya. Pukul 9.10. Ia terlambat. Wajahnya terlihat menyesal. Jung Hee telah pergi dengan Seung Ho bersama semua kenangan yang telah ia buat bersama Jung Soo. Ia telah bertekad untuk melupakan orang yang pernah dicintainya. Tapi, apakah Kim Jung Hee bisa melakukannya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar