Super Junior - Eeteuk

Minggu, 16 Oktober 2016

Many Years 3



Title : Many Years 3
Author : Elin Kurnia Ochtafia
Cast : Kim Jung Hee, Yoo Seung Ho, Park Jung Soo, Lee Hee Sun, Peter, Jane, Seo Jin Woo.
Setting : Korea, Finlandia, Perancis.
Warning! Typo bertebaran, bahasa acak-acakan.


@Seoul, Korea.
Kim Jung Hee, seorang wanita berusia 32 tahun belum juga membuka matanya dari tidur indahnya. Piyama biru yang dipenuhi dengan gambar sally (bebek) menjadi teman tidurnya. Rambut panjang dan roll rambut yang ada di poninya tetap membuatnya terlihat cantik meski saat ini penampilannya bisa disebut berantakan. Suara alarm berbunyi. Wajahnya masih ia benamkan di bantal kesayangannya. Tangan cantik milik Jung Hee meraba setiap inchi meja yang ada di samping kanan ranjangnya hingga akhirnya tangan itu bisa mematikan alarm.

"Sial! Kenapa aku memasang alarm terlalu pagi? Ahhhh.. Aku masih mengantuk!" gumam Jung Hee. Ia kembali mencoba untuk tidur. Baru lima menit, kini giliran ponselnya yang berbunyi. Ia mengambil ponselnya dan mengangkat telfon itu.
"Hey! Bangunlah tukang tidur!" ucap seorang laki-laki dari ujung telfon
"Hey, Park Jung Soo.. Kenapa kau menelfonku pagi-pagi begini?" tanya Jung Hee dengan malasnya.
"Kau lupa? Pagi ini launching butikmu di Itaewon."
"Apa? Launching? Launching apa?"
"Launching butik, Kim Jung Hee!!"
"Astaga!" Jung Hee langsung terperanjat. Mata yang tadinya tertutup itu kini telah terbuka sempurna.
"Tanggal berapa sekarang?" tanya Jung Hee.
"Lihat saja ponselmu!" Jung Hee menjauhkan ponsel dari telinganya untuk melihat tanggal. Ia benar-benar terkejut saat tanggal di ponselnya menunjukkan kalau hari ini tanggal 4 Agustus dan itu artinya hari ini launching butik baru Jung Hee di Itaewon. Yup, Jung Hee adalah seorang designer dan penulis novel. Meski ia baru empat tahun membangun bisnisnya di Korea, tapi sebelum itu, ia adalah seorang designer dan penulis terkenal di Finlandia. Namanya juga termasuk dalam jajaran designer internasional. Selama hidupnya, ia mengalami dua kali patah hati. Pertama, saat ia baru lulus SMA. Ia patah hati karena Park Jung Soo. Kedua, terjadi empat tahun lalu. Ia patah hati karena Yoo Seung Ho.
"Astaga, kau benar. Hari ini launching butik. Kau ada dimana?" tanya Jung Hee.
"Aku di depan rumahmu. Cepat buka pintunya!"
"Baik, baik." Jung Hee segera turun dari ranjangnya dan keluar menemui Jung Soo yang berdiri di depan gerbang.
"Astaga, sudah jam berapa ini? Dan kau masih memakai piyama?!" omel Jung Soo saat Jung Hee membuka gerbang.
"Simpan saja omelanmu itu! Hari ini aku tidak mau mendengarnya." Jung Hee dan Jung Soo memasuki rumah bersama. Hanya hubungan persahabatan yang kini ada di antara mereka. Cinta yang ada di hati Jung Soo untuk Jung Hee perlahan berubah menjadi perasaan sayang yang ingin menjaga. Tak ada sedikitpun rasa ingin memiliki di dalam hati Jung Soo. Yang ada hanyalah keinginannya untuk melihat Jung Hee bahagia.
"Cepatlah mandi! Aku sudah membeli sarapan untukmu." ucap Jung Soo.
"Baik, Dokter Park Jung Soo." Jung Hee berjalan menuju kamarnya, mengambil handuk dan pergi mandi. Sementara menunggu Jung Hee selesai mandi, Jung Soo menyiapkan sarapan untuk Jung Hee. Saat sarapan telah siap, saat itu juga Jung Hee keluar dari kamarnya. Entah Jung Hee yang mandi terlalu cepat atau Jung Soo yang menyiapkan sarapan terlalu lama.
"Cepat sekali, kau mandi. Aku baru selesai menyiapkan sarapannya." ucap Jung Soo.
"Haha, mungkin kau yang terlalu lama menyiapkannya." Jung Hee dan Jung Soo duduk berhadapan di meja makan.
"Jal moge seubnida (selamat makan)!" ucap Jung Hee dengan aksen yang lucu, membuat Jung Soo yang sedang minum hampir memuntahkannya lagi.
"Kenapa?!" tanya Jung Hee setelah memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
"Yak, Kim Jung Hee! Kau,.. Argh! Astaga! Apa kau tidak malu mengucapkan hal seperti itu? Caramu mengucapkan hal itu tidak sesuai dengan umurmu sekarang. Kau wanita berumur 32 tahun, bukan anak tiga tahun."
"Hey! Kau lupa ini dimana? Ini di rumahku! Terserah apa yang mau aku lakukan. Kau tak perlu protes."
"Ahhhh,.. Baiklah, kalau begitu maafkan aku. Maafkan aku yang protes di rumahmu. Kau senang sekarang?" Jung Hee tertawa kecil. Mereka melanjutkan sarapan. Setelah sarapan selesai, Jung Soo menemani Jung Hee ke Itaewon untuk launching butik barunya. Pemilihan Itaewon menjadi tempat untuk butik barunya karena Itaewon sangat terkenal di kalangan turis mancanegara. Disana juga banyak restoran yang didirikan oleh imigran asing. Bisa dikatakan kalau Itaewon  adalah rumah bagi warga mancanegara.
Sesampainya disana, Jung Hee langsung disambut oleh beberapa karyawannya. Karena Jung Hee designer yang terkenal, tak sulit baginya untuk membuka butik. Launching butik itu disertai dengan beberapa pertunjuksn seperti tarian, sulap dan lainnya. Pidato yang Jung Hee sampaikan saat pemotongan pita itu tidak terlalu lama sehingga bisa berlangsung dengan cepat.
---
Beberapa hari setelah launching, butik itu terlihat ramai. Dalam empat tahun, Jung Hee sudah memiliki tiga butik dengan dua butik berada di Gangnam dan Ansan.

@Helsinki, Finlandia.
Yoo Seung Ho. Dia adalah pria tampan berusia 32 tahun. Dia seorang pengusaha yang sangat sukses. Semua bisnis yang dijalankannya pasti akan berjalan dengan sempurna. Tapi, satu hal yang tak sempurna dalam hidupnya. Cinta. Empat tahun sudah Yoo Seung Ho menjalani hidupnya seorang diri. Bukan karena tak ada wanita yang mendekatinya, hanya saja ia terlalu cuek dengan wanita yang mendekatinya. Tak ada yang tau bagaimana isi hati Seung Ho. Apakah ia benar-benar melupakan Kim Jung Hee atau di dalam hatinya masih ada Kim Jung Hee yang tak bisa pergi. Keputusannya meninggalkan Jung Hee empat tahun lalu bukan tanpa alasan. Ia merasa kalau Jung Hee akan bahagia bersama Park Jung Soo, sahabatnya. Ia juga merasa kalau selama sepuluh tahun Jung Hee tinggal bersamanya, Jung Hee hanya membalas kebaikan Seung Ho tanpa mencintainya.
"Tuan Harry, ada orang yang ingin menemui Anda." ucap seorang wanita pada Seung Ho. Harry, nama itu sudah empat tahun ia gunakan sebagai nama internasionalnya. Meski begitu, ia tetap menggunakan nama keluarganya. Jadi, namanya sekarang adalah Harry Yoo.
"Persilakan masuk!" jawabnya. Tak lama, seorang wanita cantik memasuki ruangannya.
"Jane?" ucap Seung Ho, "Sedang apa kau disini?"
"Aku ingin mengajakmu makan siang."
"Aku sibuk!"
"Ayolah, ini jam makan siang. Tidak baik kalau kau terus-terusan bekerja."
"Aku sedang sibuk, Jane."
"Ayolah, Harry!"
"Aku tidak bisa."
"Ayolah, aku sudah lapar!"
"Jane!"
"Ayo!" Jane menarik tangan Seung Ho dari meja kerjanya dan berjalan dengan menggandeng lengan Seung Ho. Sebanyak apapun Jane ingin menggandeng Seung Ho, sebanyak itu pula Seung Ho menolaknya. Tapi Jane tidak menyerah, justru Seung Ho yang menyerah. Ia membiarkan tangan kurus itu melingkar di lengan kanannya.

@Seoul, Korea.
Ponsel yang ada di atas meja berbunyi. Sang pemilik, Kim Jung Hee menghampirinya dan mengangkatnya.
"Yoboseyo? (halo?)" ucap Jung Hee.
"Na-ya (ini aku)." jawab orang di ujung telfon yang sepertinya adalah Park Jung Soo.
"Aku tau, ada apa? Apa kau tidak punya pasien untuk ditangani?"
"Aku baru saja selesai operasi. Malam nanti, kau ada waktu?"
"Memangnya kenapa? Kau mau mengajakku kencan?"
"Apa? Kencan? Hahaha, bukan, Kim Jung Hee. Kalaupun aku akan kencan, aku tidak akan kencan denganmu."
"Huft, syukurlah kalau begitu. Lalu ada apa?"
"Aku ingin minta pendapatmu."
"Pendapat soal apa?"
"Temui saja aku malam ini jam tujuh di kafe biasa."
"Baik." Jung Soo mengakhiri panggilannya. Jung Hee berpikir. Pendapat apa yang akan diminta oleh Jung Soo? Tak biasanya ia meminta bertemu di kafe untuk membicarakan sesuatu. Biasanya ia akan datang langsung ke rumah jika ada hal penting yang harus dibicarakan. Tapi tak masalah, dimanapun ia ingin bertemu, Jung Hee akan menemuinya.
Hari berganti menjadi malam. Pukul tujuh, Jung Hee dan Jung Soo telah tiba di sebuah kafe. Mereka memesan makanan sebelum membicarakan hal yang menurut Jung Soo penting.
"Jadi, pendapat apa yang kau minta?" tanya Jung Hee. Jung Soo memberikan sebuah foto pada Jung Hee.
"Ini, bagaimana menurutmu?" tanya Jung Soo. Jung Hee mengambil foto itu dan memandanginya.
"Siapa perempuan ini?"
"Namanya Lee Hee Sun. Dia seorang pembaca berita. Kami bertemu saat dia menjadi wartawan dan dia mewawancarai aku setelah aku mengoprasi korban kecelakaan."
"Jadi kau sudah lama mengenalnya?"
"Tiga bulan."
"Dan kau tidak cerita padaku? Heol! Kau keterlaluan."
"Maaf. Aku rasa, dulu belum saatnya aku bercerita padamu, dan sekarang aku ingin memberitahumu. Jadi, bagaimana pendapatmu?"
"Hanya satu kata yang ada di fikiranku. Cantik. Aku belum pernah bertemu degannya, jadi aku tidak tau bagaimana dia."
"Hari ini kau akan bertemu dengannya."
"Apa?!"
Jung Soo melihat arlojinya, "Lima menit lagi dia akan datang." Jung Soo melihat ke sekeliling. Matanya menangkap seorang wanita. Wanita berambut coklat sebahu dengan memakai dress hitam tampak cantik memasuki kafe. Jung Soo melambaikan tangan pada wanita itu. Jung Hee melihat ke arah lambaian tangan Jung Soo dan akhirnya, mereka bertiga berkumpul dalam satu meja. Jung Soo mengenalkan Hee Sun pada Jung Hee dan mereka bertiga mengobrol.
"Jung Soo-ya!" panggil Jung Hee.
"Apa?"
"Haha, entahlah. Tiba-tiba saja ada pertanyaan konyol muncul di fikiranku."
"Pertanyaan apa?"
"Jika kita bertiga pergi menggunakan kapal, kemudian aku dan Hee Sun terjatuh ke laut, siapa yang akan kau selamatkan lebih dulu? Aku atau Hee Sun?"
"Tentu saja kau, Kim Jung Hee. Aku akan langsung menyelamatkanmu."
"Kau serius?" Jung Hee terlihat senang.
"Tentu. Karena Hee Sun pintar berenang." saat itu, Jung Soo dan Hee Sun tertawa, namun tidak dengan Jung Hee. Wajah yang tadi terlihat senang itu berubah menjadi sebal. Namun, dengan cepat Jung Soo langsung memeluk lehernya dengan tertawa. Obrolan mereka kembali berlanjut.
"Jadi, karena sekarang ada Hee Sun di sampingmu, aku akan sendirian. Heol! Bagus sekali, Park Jung Soo."
"Astaga, bagaimanapun kau adalah sahabat terbaikku. Kau tetap yang pertama. Sebelum mengenal Hee Sun, aku sudah mengenalmu lebih dulu. Aku dan Hee Sun hanya sedang dekat. Kita bahkan belum meresmikan hubungan."
"Itu benar, Jung Hee-ya. Kau tak perlu khawatir kehilangan Jung Soo Oppa."
"Kau tak akan selamanya sendirian. Aku sudah menunjukkan fotomu pada salah satu temanku. Namanya Seo Jin Woo. Dia ahli bedah, sama sepertiku. Aku berteman dengannya sejak mulai kuliah. Dia pria yang baik dan juga mapan. Selain dokter, dia juga punya perusahaan yang memproduksi obat. Dia orang yang jenius. Kau pasti cocok dengannya."
"Jadi maksudmu, kau ingin menjodohkan aku dengannya?"
"Bukan. Aku hanya ingin kau mengenalnya."
"Baik. Atur saja pertemuannya."
"Kau serius?"
"Iya."
---
Hari itu tiba. Hari dimana Jung Hee akan bertemu dengan Seo Jin Woo untuk pertama kalinya. Ia baru saja selesai berdandan dan sekarang telah mengendarai mobilnya menuju sebuah restoran. Sesampainya di restoran, ia mencari dimana Seo Jin Woo. Hanya berbekal foto dan pesan singkat ia mencarinya. Hari ini, Jin Woo akan memakai jas hitam dan kemeja biru. Disaat yang bersamaan, mereka saling mnemukan satu sama lain. Jung Hee pun langsung menghampiri Jin Woo.
"Dokter Seo Jin Woo?" tanya Jung Hee berhadapan dengan Jin Woo.
"Iya. Kim Jung Hee Jakkanim (Penulis Kim Jung Hee)?" tanya Jin Woo balik.
"Iya."
"Silakan duduk." Jung Hee pun duduk berhadapan dengan Jin Woo.
"Kau lebih cantik dari perkiraanku," goda Jin Woo membuat Jung Hee tertawa kecil.
"Astaga, Dokter Seo. Ternyata kau bisa menggoda seorang wanita. Aku kira kau hanya pandai membedah pasien saja."
"Aku juga manusia, kau mau pesan apa?"
"Terserah kau saja."
"Baiklah," Jin Woo mengangkat tangan, "Permisi!" seorang pelayan datang dan Jin Woo memesan makanan.
Setelah mereka selesai makan, mereka pergi ke Namsan. Bukan untuk naik kereta gantung atau melihat ribuan gembok, mereka hanya berjalan di sekitar menara Namsan.
"Boleh aku tau tentang dirimu?" tanya Jung Hee.
"Tentu. Aku hidup sendiri selama empat belas tahun. Aku diusir oleh kedua orang tuaku setelah aku mengatakan pada mereka kalau aku ingin menjadi seorang dokter. Ayahku sangat marah saat itu. Dia ingin aku melanjutkan perusahaannya. Dia ingin aku mengurus hotel dan resort-resortnya. Aku tidak mau. Aku lebih memilih pergi dari rumah."
"Kau pergi dari rumah. Bukankah kuliah kedokteran butuh uang yang sangat banyak? Bagaimana kau membayar kuliahmu?"
"Aku punya tabungan. Tanpa sepengetahuan ayahku, aku membuka tabungan pribadiku. Bahkan sampai sekarang ayahku masih belum tau. Uang di tabunganku sudah terkumpul banyak. Lebih dari cukup untuk biaya pertama masuk kuliah. Aku juga menyewa sebuah rumah. Tapi, aku tidak selamanya bisa bergantung pada uang tabunganku. Lama-lama bisa habis juga, kan? Jadi, aku bekerja sambilan di toko buku. Kau tau, bekerja di toko buku sangat menguntungkan. Aku bisa membaca banyak buku secara gratis. Begitulah kehidupanku berjalan sampai aku lulus jadi dokter umum. Aku bekerja di rumah sakit dan melanjutkan kuliahku untuk menjadi dokter bedah. Aku tak butuh waktu banyak untuk menjadi dokter bedah karena aku punya otak di atas rata-rata. Setelah lulus dan menjadi dokter bedah di rumah sakit, aku mencoba mendirikan tim farmasi untuk memproduksi obat. Satu tahun berjalan, obat kami telah beredar di Korea. Aku terus mengembangkannya hingga sekarang menjadi sebuah perusahaan farmasi."
"Pada akhirnya, kau tetap menjalankan sebuah perusahaan, kan? Kenapa kau menolak ayahmu?"
"Daripada mengurus hotel, aku lebih suka mengurus obat-obatan. Aroma obat lebih menyenangkan daripada hotel."
"Kau gila?!" mereka duduk di sebuah bangku panjang yang ada disana.
"Itulah sebagian kecil hidupku. Bagaimana denganmu?"
"Aku? Ahh, hidupku biasa saja, tak sehebat hidupmu."
"Ceritakan saja!"
"Baiklah. Setelah lulus SMA, aku kuliah di Finlandia. Setelah lulus, aku bekerja di sebuah perusahaan penerbit buku sekaligus menjadi designer di sebuah perusahaan juga. Aku juga menjadi seorang penyiar radio di hari Sabtu dan Rabu malam. Emmm,.. Hanya itu. Biasa saja, kan?"
"Kalau kau dulu di Finlandia, kenapa sekarang kau di Korea? Bagaimana dengan orang tuamu?"
"Ibu dan adikku tinggal bersama ayahku di Amerika. Empat tahun lalu aku kembali ke Korea. Seharusnya aku tak kembali ke Korea. Aku menyesal."
"Menyesal? Kenapa?"
"Dulu, aku meninggalkan Korea karena patah hati. Kau tau siapa yang membuatku patah hati saat itu? Park Jung Soo, temanmu. Aku meninggalkan negara ini bersama dengan semua kenanganku. Aku pergi dengan seseorang yang menyukaiku, namanya Yoo Seung Ho. Kami hidup bersama selama sepuluh tahun. Aku kembali ke Korea untuk menyusulnya yang saat itu ada perjalanan bisnis disini. Sebulan kemudian dia kembali ke Finlandia tanpa diriku. Dia meninggalkan aku karena dia ingin aku hidup bahagia bersama Park Jung Soo. Dia adalah teman Park Jung Soo sejak masih kecil. Dia kira aku akan bahagia dengan Park Jung Soo padahal dia tau kalau aku sangat mencintainya. Aku juga sudah melupakan kalau dulu aku pernah punya perasaan pada Park Jung Soo. Sejak saat itu, kami tak pernah berkomunikasi."
"Sampai sekarang kau masih mencintainya?"
"Cinta? Entahlah Dokter Seo. Aku tidak tau perasaanku sekarang. Bahkan sekarang, aku tidak tau apa itu cinta."
"Yoo Seung Ho itu pasti sangat beruntung pernah dicintai oleh perempuan sepertimu."
"Tapi kurasa, dia tidak merasa seperti itu. Dia bilang kalau dia menyesal hidup bersamaku."
"Kalimat itu keluar dari mulutnya, tapi belum tentu dari hatinya. Kau tidak tau apa yang sebenarnya ada di dalam hatinya." kalimat yang barusan terucap dari mulut Jin Woo itu membuat Jung Hee menatap Jin Woo sambil memikirkan kalimatnya. Jin Woo benar. Jung Hee tak tau apa yang sebenarnya ada di dalam hati Seung Ho saat itu. Kenapa selama ini dia tidak menyadarinya?

@Helsinki, Finlandia.
Di rumah besar ini, Seung Ho tengah berada di dalam kamar lama Jung Hee. Ia tengah duduk di sofa yang menghadap foto Jung Hee yang berukuran besar. Ya, kamar lama Jung Hee ini telah menjadi tempat tidurnya selama empat tahun terakhir. Ia biasa tidur dengan memeluk guling sambil memandang foto Jung Hee dari layar ponselnya dengan harapan ia bisa bertemu Jung Hee dalam mimpi. Sayangnya hal itu tak pernah terjadi. Ia tak pernah bertemu dengan Jung Hee di dalam mimpi meskipun hanya sekali.
"Jung Hee-ya, bagaimana kabarmu hari ini?" ucapnya pada foto besar di hadapannya.
"Kau tau, hari ini Jane mengajakku ke taman hiburan. Dia kekanakan sekali kan? Kau tak perlu cemburu atau marah. Bagiku, Jane bukanlah apa-apa. Kim Jung Hee, aku merindukanmu. Apa kau merindukan aku? Bagaimana dengan temanku, Park Jung Soo? Dia baik-baik saja kan? Apa kalian menikah? Apa kalian sudah punya anak? Jika iya, anak-anak kalian pasti sangat lucu dan menggemaskan. Kim Jung Hee, aku sangat ingin kembali ke Korea, memelukmu dan mengatakan kalau aku sangat mencintaimu. Tapi, sepertinya itu tidak mungkin. Kau pasti sudah bahagia bersama temanku. Sudah malam. Kim Jung Hee, aku tidur dulu." Seung Ho beranjak dari sofa dan berpindah ke ranjang. Ia terus memandangi foto Jung Hee sampai akhirnya ia tertidur.

@Seoul, Korea.
Seperti biasanya, Jung Hee selalu berangkat bekerja di pagi hari. Hubungannya dengan Jin Woo kini menjadi persahabatan. Di antara mereka tak ada rasa ingin memiliki, hanya persahabatan. Sama seperti Jung Hee dan Jung Soo. Saat mengendarai mobilnya, ponselnya berbunyi. Bukan sebuah telfon, tapi sebuah notifikasi e-mail. Ia meminggirkan mobilnya dan membuka e-mail itu. Ia sangat terkejut sekaligus senang ketika ia tau bahwa e-mail itu berisi undangan untuk menjalin kerja sama. Tiga hari lagi ia harus berangkat ke Paris. Empat tahun menjalankan bisnis seorang diri, ternyata Jung Hee bisa kembali menembus pasaran eropa. Tanpa membuang waktu, ia langsung pergi ke rumah sakit untuk menemui Jung Soo. Sayangnya, Jung Soo sedang menjalankan oprasi. Alhasil ia harus menunggu. Tiga jam kemudian Jung Soo kembali ke ruangannya. Ia terkejut melihat Jung Hee sudah ada di ruangannya.
"Kau? Sejak kapan kau disini?" tanya Jung Soo.
"Sejak tiga jam lalu."
"Apa?! Tiga Jam? Kau menungguku selama tiga jam? Memangnya ada apa?" Jung Hee memberikan ponselnya pada Jung Soo. Jung Soo membaca e-mail itu kemudian mengalihkan pandangannya pada Jung Hee.
"Kau diundang ke Paris?"
"Iya,.. Aku tidak percaya kalau aku mendapatkan undangan itu. Ini bukan mimpi kan?" Jung Soo mencubit pipi kiri Jung Hee dan membuatnya berteriak.
"Sakit!"
"Itu berarti bukan bukan mimpi."
"Jung Soo-ya,.." mata Jung Hee mulai berkaca-kaca, "Aku akan kembali ke pasar Eropa?"
"Tempatmu memang disana." seketika, Jung Hee langsung memeluk Jung Soo dengan sangat erat. Ia menangis terharu di dalam pelukan sahabatnya itu.
"Jung Soo-ya,.. Aku tidak percaya.."
"Semoga kau sukses disana."
---
@Incheon, Korea.
Hari ini Jung Hee akan berangkat ke Paris. Ia mengambil penerbangan pertama. Park Jung Soo, sahabatnya yang setia menemaninya di bandara. Ia meninggalkan oprasinya demi mengantar Jung Hee.
"Berapa lama kau akan disana?" tanya Jung Soo.
"Entahlah. Aku belum tau pasti."
"Jika kau butuh sesuatu, hubungi aku. Aku siap membantumu."
"Baik."
"Jaga kesehatanmu, jangan tidur terlalu malam, jangan makan junk food, jangan terlalu sering makan makanan instan. Itu buruk untuk lesehatan. Kau harus minum vitamin yang kuberikan. Dan jangan lupa hubungi aku setelah kau sampai."
"Baik, baik."
"Ingat kata-kataku!"
"Baik, Dokter Park. Akan kuingat semuanya. Baiklah, aku harus pergi. Sampai jumpa lagi."
"Hati-hati. Jaga dirimu." mereka berpelukan untuk melepas satu sama lain. Jung Hee tau kalau ia pasti akan sangat merindukan sahabatnya ini, begitupun sebaliknya. Suara panggilan terakhir telah berbunyi. Jung Hee melepaskan pelukannya dan segera pergi dari hadapan Jung Soo.

@Paris, Perancis.
Beberapa jam menempuh perjalanan ke Paris membuat Jung Hee lelah. Ia beristirahat di sebuah hotel yang terbilang mewah. Semua akomodasi dan tempat tinggal Jung Hee telah diatur oleh perusahaan yang mengundangnya. Ya, Jung Hee diundang oleh perusahaan raksasa di Paris. Selain Jung Hee, banyak juga designer dunia dan pemilik perusahaan yang diundang. Acara itu bisa dibilang bussiness fair.
"Ahhhh,.. Aku lelah.." ucap Jung Hee yang merebahkan dirinya di atas ranjang. Ia mengambil ponselnya untuk menghubungi Jung Soo.
"Jung Soo-ya!" panggil Jung Hee setelah Jung Soo mengangkat telfonnya.
"Kau sudah sampai?"
"Iya. Aku baru saja tiba di hotel."
"Kau istirahatlah. Berjam-jam di pesawat pasti menyebalkan, kan?"
"Iya. Ya sudah, aku akan istirahat. Sampai jumpa."
"Sampai jumpa." telfon terputus dan Jung Hee pun tertidur.
---
Keesokan harinya, pukul 09.00 pagi, Jung Hee tiba di tempat acara yang tak jauh dari hotelnya. Belum banyak orang yang datang kesana, namun seiring berjalannya waktu, gedung pertemuan itu telah dipenuhi banyak orang. Jung Hee duduk di sebuah kursi yang telah disediakan untuknya dengan nama internasionalnya, Ellen Kim. Semua orang telah hadir dan acarapun dimulai. Seorang MC menaiki pentas dan membuka acara menggunakan Bahasa Inggris. Semua orang berdiri saat lagu kebangsaan Perancis dikumandangkan. Berbagai susunan acara satu persatu telah dilaksanakan. Jung Hee mengenal pemilik perusahaan ini. Namanya Andrew Johnson. Dia adalah orang yang pernah ia tolong waktu dia pergi ke Korea. Saat itu Andrew Johnson mengalami tabrak lari dan Jung Hee yang membawanya ke rumah sakit. Jung Hee tak menyangka kalau orang yang pernah ia tolong itu ternyata adalah seorang milyarder. Pantas saja ia diundang ke acara sebesar ini. Seluruh susunan acara telah dilaksanakan, dan sekarang saatnya semua pengusaha saling menyapa dan menawarkan perusahaannya untuk memikat para designer dan pengusaha lain untuk bekerja sama. Andrew Johnson, pria berumur 60 tahun itu menghampiri Jung Hee.
"Welcome, Ellen Kim (Selamat datang, Ellen Kim)." ucapnya.
"Sir (Pak)? Terimakasih sudah mengundangku. Aku benar-benar terkejut saat melihat Anda."
"Maaf aku tidak memberitaumu sebelumnya tentang siapa aku. Tapi sekarang, silakan kau bersenang-senang disini. Jangan khawatir, apapun yang kau butuhkan, aku akan memenuhinya."
"Terimakasih banyak."
"Ayo, kuperkenalkan pada Harry, dia seorang pengusaha muda yang sudah sukses."
"Baiklah." baru beberapa langkah Jung Hee mengambil langkah, ponselnya berbunyi.
"Maaf, Pak Andrew," ucap Jung Hee, "Ada telfon. Permisi sebentar."
"Baiklah," Andrew pun meninggalkan Jung Hee dengan telfonnya.
"Yoboseyo, Jung Soo-ya (Halo, Jung Soo-ya)?" ucap Jung Hee.
"Bagaimana kabarmu?"
"Aku baik-baik saja. Aku sedang ada pertemuan."
"Ya sudah, lanjutkan pertemuanmu. Sebentar lagi aku harus oprasi."
"Semoga sukses."
"Ellen Kim!" panggil Andrew dari belakangnya.
"Ada yang memanggilku, sampai jumpa, Jung Soo-ya." telfonpun terputus dan Jung Hee berbalik.
"Ya, Pak!" sahut Jung Hee. Ia sangat terkejut melihat Andrew berdiri di samping seorang laki-laki yang dikenalnya. Dia adalah Yoo Seung Ho. Seung Ho pun terkejut melihat Jung Hee berdiri di depannya. Mereka hanya saling memandang satu sama lain.
"Hey!" suara Andrew membuyarkan pandangan Jung Hee dan Seung Ho, "Kenapa kalian malah saling melihat begitu? Kalian saling kenal?"
Jung Hee dan Seung Ho saling berpandangan lagi. Sebuah senyuman terlukis di wajah mereka.
"Tidak!" jawab mereka bersamaan.
"Kalau begitu biar kuperkenalkan kalian. Harry, ini Ellen. Ellen, ini Harry." ucap Andrew. Jung Hee dan Seung Ho pun bersalaman untuk berkenalan.
"Harry Yoo." ucap Seung Ho.
"Ellen Kim," sahut Jung Hee.
"Kalian mengobrollah dulu, kalian sama-sama dari Korea, kan? aku akan menemui yang lain." ucap Andrew yang kemudian berlalu. Jung Hee dan Seumg Ho kembali bertatapan. Ada perasaan aneh di dalam hati Seung Ho. Ia ingin sekali memeluk perempuan yang ada di hadapannya itu. Hanya saja, ia menahan perasaannya. Ia meninggalkan luka di hati Jung Hee, tak mungkin jika sekarang ia memeluknya dan mengungkapkan betapa ia mencintainya. Seperti saat meninggalkan Jung Hee, sekarang ia juga harus bersikap seolah-olah ia sangat membencinya.
"Bagaimana kau mengenal Tuan Andrew?" tanya Seung Ho.
"Kau tidak perlu tau, Tuan Harry. Kita tidak saling mengenal."
"Tapi kita baru saja berkenalan, Nona Ellen. Bagaimana kabarmu?"
"Kau bisa melihat kabarku dari keadanku sekarang. Aku baik-baik saja."
"Harry!" panggil seorang wanita dari belakang Seung Ho. Dia adalah Jane.
"Astaga, kenapa dia datang di saat seperti ini?!"  ucap Seung Ho dalam hati.
"Harry, siapa dia? Dia temanmu?" tanya Jane.
"Bukan. Aku baru berkenalan dengannya." jawab Jung Hee.
"Eh? Kau bisa Bahasa Finlandia?"
"Aku sepuluh tahun hidup di Finlandia. Jadi aku bisa Bahasa Finlandia."
"Oh, begitu. Kenalkan! Namaku Jane." Jane mengulurkan tangannya yang disambut oleh Jung Hee.
"Ellen."
"Aku pacar Harry!"
Tiga kata yang keluar dari mulut Jane membuat Jung Hee dan Seung Ho terkejut luar biasa. Mata Jung Hee mulai berkaca-kaca.
"Permisi." ucap Jung Hee yang kemudian berlalu meninggalkan Seung Ho dan Jane.
"Jane! Sejak kapan kita berpacaran?" tanya Seung Ho.
"Entah. Bukankah selama ini kita memang berpacaran?"
"Kita tidak pernah berpacaran, Jane. Dan kita tidak mungkin berpacaran karena aku hanya menganggapmu sebagai temanku. Tidak lebih."
"Tapi bagiku, kita lebih dari itu."
"Terserah!"
Jung Hee berjalan cepat menuju toilet. Ia berdiri di depan cermin. Mengingat kembali wajah Jane dan ucapannya yang mengatakan kalau dia adalah pacar Seung Ho.
"Dia bilang apa? Pacar? Heol! Yak, Yoo Seung Ho! Kau meninggalkan aku dan berpacaran dengan perempuan seperti itu? Kalau kau mau berpacaran lagi, setidaknya cari perempuan yang jauh lebih baik dariku! Bukan perempuan seperti itu! Jinjja baboya, Yoo Seung Ho!! (kau benar-benar bodoh, Yoo Seung Ho!!)" umpatnya. Ia mencuci tangan dan juga berkumur. Ia memandangi dirinya sendiri melalui cermin di depannya. Tiga menit kemudian ia keluar dari toilet setelah merapikan penampilannya. *brugh!*Seorang pria menabrak Jung Hee saat ia baru saja keluar dari toilet. Untunglah pria itu segera menangkap Jung Hee sehingga Jung Hee tidak sampai terjatuh.
"Sorry (maaf)" ucap Jung Hee menghindar dari pria itu.
"Maafkan aku." sahut pria itu. Jung Hee pun segera kembali ke kerumunan orang-orang begitupun dengan orang itu. Jung Hee mengambil minum dan kembali ke tempatnya. Saat ia menikmati minumannya, saat itu pula Seung Ho duduk di hadapannya.
"Kenapa kau duduk disana?" tanya Jung Hee.
"Apa ada larangan untuk aku duduk disini?"
"Yak! Yoo Seung Ho! Kau yang bilang agar aku tidak muncul lagi di hadapanmu. Tapi sekarang, kenapa kau yang malah muncul di hadapanku?!"
"Kau benar. Yoo Seung Ho meminta Kim Jung Hee agar tidak muncul lagi di hadapannya. Tapi itu dulu, empat tahun lalu. Sekarang, aku Harry. Dan kau adalah Ellen. Masalah itu hanya terjadi antara Kim Jung Hee dan Yoo Seung Ho, bukan Harry dan Ellen. Kau mengerti?"
"Yak sekkia issshh!!! (hey brengsek!) Michyeoso?! (kau gila?!) Entah kau ganti nama menjadi Harry, Christian, Steve, atau apapun! Aku tidak peduli! Bagiku, kau orang yang sama! Kau masih mau mempermainkan aku?!" umpat Jung Hee dengan suara pelan namun menekan. Seung Ho yang mendapat umpatan itu hanya tersenyum sinis.
"Kau kira,.."
"Hey sobat!" ucap seorang pria menggunakan Bahasa Perancis memotong perkataan Seung Ho. Pria itu, dia yang menabrak Jung Hee di toilet tadi sekarang telah duduk di dekat Seung Ho.
"Salut, Pete. (Hai, Pete.)" sahut Seung Ho. Pria itu bernama Peter. Dia nampak terkejut melihat Jung Hee ada di depan Seung Ho.
"Harry, siapa gadis itu? Dia temanmu?"
"Kau tanya saja sendiri."
"Salut. mon nom est Ellen. (Hai. Namaku Ellen.)" ucap Jung Hee mengulurkan tangan yang disambut oleh Peter.
"Pouvez-vous parler français? (Kau bisa bahasa perancis?)"
"J'avais étudié la langue française, (Aku pernah belajar Bahasa Perancis,)"
"Oh, begitu. Namaku Peter. Oh ya, maaf soal kejadian di depan toilet tadi."
"Tidak masalah."
"Oh ya, boleh aku minta nomor ponselmu?"
"Apa?!"
"Tidak bolehkah? Tidak masalah. Kupikir kita bisa berteman." kalimat Peter mengingatkan Seung Ho dan Jung Hee saat pertama kali Seung Ho meminta nomor ponsel Jung Hee. Seung Ho dan Jung Hee saling berpandangan sejenak.
"Memangnya aku bilang tidak boleh? Berikan ponselmu!"
"Apa? Eh,.. Iya." Peter memberikan ponselnya pada Jung Hee. Jung Hee pun membuat panggilan ke nomornya hingga tersambung menggunakan ponsel milik Peter.
"Sudah. Kau punya nomorku dan aku punya nomormu." ucap Jung Hee kemudian mengembalikan ponsel Peter.
"Kau tidak berubah, Kim Jung Hee." ucap Seng Ho menggunakan Bahasa Korea membuat Jung Hee memandangnya sejenak.
"Kau bilang apa?" tanya Peter.
"Tidak, Pete. Aku tidak bilang apapun."
"Aku permisi sebentar. Ellen, aku akan segera kembali." ucap Peter yang dibalas senyuman oleh Jung Hee. Peter pun beranjak dari kursinya dan pergi meninggalkan Seung Ho juga Jung Hee.
"Kim Jung Hee, bukankah hal yang baru saja terjadi mengingatkanmu pada sesuatu?" tanya Seung Ho.
"Mengingatkan apa? Tak ada apapun yang kuingat, Yoo Seung Ho!"
"Oh ya? Lalu kenapa kau menatapku? Kau tau kalau aku bisa mengetahui sesuatu hanya dari tatapan mata seseorang padaku."
"Sial!" umpat Jung Hee.
"Kau tak perlu kesal seperti itu."
Jung Hee teringat sesuatu. Ia mengeluarkan dompet dan memberikan kartu ATM juga kunci rumah pada Seung Ho.
"Apa ini?" tanya Seung Ho.
"Itu tabungan yang selalu kau isi setiap dua minggu. Dan itu adalah kunci rumahmu. Setelah kau pergi, aku juga meninggalkan rumah itu dan tinggal di rumahku sendiri. Aku tidak menggunakan uangmu sedikitpun."
"Kenapa sekarang kau memberikannya padaku?"
"Aku selalu membawa dua benda itu kemanapun aku pergi dengan harapan bisa mengembalikannya padamu. Dan sekarang, aku sudah bertemu denganmu jadi aku mengembalikannya. Aku tidak mau terbebani dengan menyimpan dua benda itu."
Seung Ho membuang nafas. Sekarang giliran Seung Ho yang mengeluarkan sebuah map dan memberikannya pada Jung Hee.
"Apa ini?" tanya Jung Hee.
"Kontrak kerja. Aku mau kau bekerja untuk perusahaanku. Kau akan bekerja di Vantaa. Perusahaan baruku."
"Kau kira aku mau?!"
"Terserah!" Seung Ho beranjak dan pergi dari hadapan Jung Hee. Jung Hee memandangi map berwarna biru itu. Ia berpikir apakah ia harus menandatanganinya atau tidak.
Petang hari, Jung Hee kembali ke hotel. Saat memasuki lobby dan menaiki lift, ia terkejut karena Seung Ho berjalan di belakangnya. Saat berada di dalam lift, Jung Hee bingung karena Seung Ho tidak memencet lantai tujuannya. Di lantai 20, Jung Hee keluar begitu pula dengan Seung Ho. Jung Hee berjalan menuju kamarnya dengan Seung Ho yang berjalan di belakangnya. Saat sampai di depan kamarnya, Jung Hee berbalik menatap Seung Ho.
"Yak! Kau mengikutiku?" tanya Jung Hee. Seung Ho menoleh ke belakang dan menunjuk dirinya karena di belakangnya tidak ada orang.
"Aku?"
"Iya, kau, siapalagi? Untuk apa kau mengikutiku?"
"Aku? Mengikutimu? Heol! Apa kau gila? Untuk apa aku mengikutimu? Kamarku ada di depan kamarmu!!"
"Tidak mungkin!" Seung Ho menunjukkan kunci kamar berupa kartu yang memiliki nomor 739 sama seperti yang tertera di pintu kamar yang ada di depan kamar Jung Hee.
"Kau kira aku punya waktu untuk mengikutimu? Tidak!" Seung Ho masuk ke dalam kamarnya dan diikuti oleh Jung Hee yang juga masuk ke kamarnya dengan kesal.
"Astaga! Kenapa, kenapa, kenapa?!! Kenapa aku harus bertemu lagi dengan pria itu?! Sudah cukup aku bertemu dengannya di acara bussiness fair itu. Kenapa sekarang kamar kami harus berseberangan?!! Sial!" ucap Jung Hee kesal. Ia pun memutuskan untuk mandi air hangat di dalam kamar mandinya. Selesai mandi dan berganti pakaian, ia keluar untuk makan malam. Lagi, ia bertemu Yoo Seung Ho saat baru keluar kamar. Mau tak mau ia harus berjalan dengan Yoo Seung Ho lagi untuk makan malam. Di restoran hotel, Jung Hee membawa makanannya dan duduk di sebuah kursi pilihannya. Sedangkan Seung Ho, ia masih mencari tempat untuk makan. Banyak orang yang datang untuk makan malam, jadi susah untuk menemukan tempat yang masih kosong. Mata sipitnya menemukan satu kursi kosong. Ia pun segera menuju kursi itu.
"Kau?! Apa yang kau lakukan disini?!" celetuk Jung Hee saat Seung Ho duduk di depannya.
"Kau tidak lihat?! Aku mau makan!"
"Aku tau! Kenapa harus di depanku?!"
"Restoran ini penuh! Tak ada kursi kosong lagi. Jadi aku duduk disini. Aku tidak mau duduk di lantai. Sebaiknya, kau makan saja makananmu dan jangan ikut campur urusanku!"
Setelah mendengar ucapan Seung Ho, Jung Hee melanjutkan menyantap makan malamnya. Seung Ho selesai lebih dulu dan ia langsung pergi, kembali ke kamarnya. Ia berjalan dan berhenti di balkonnya.
"Yeppeunda. (Cantiknya.)" ucapnya pada menara Eiffel yang berada di depannya.
"Akhirnya aku bisa bertemu lagi denganmu, Kim Jung Hee."
"Mwoya?! (Apa?!)" ucap Jung Hee yang tiba-tiba muncul dari balkonnya, membuat Seung Ho terkejut.
"Astaga! Kenapa kau tiba-tiba muncul?!  Membuatku kaget saja!"
"Memangnya ada larangan aku tidak boleh disini?! Lagipula, kenapa kau menyebut namaku?!"
"Apa? Menyebut namamu? Siapa? Aku? Kau pikir aku sudah gila?!"
"Masuklah ke kamarmu!"
"Memangnya kenapa?!"
"Aku mau melihat pemandangan malam ini. Aku tidak mau kau ada disini!"
"Kau tidak bisa melarangku untuk ada disini. Kenapa bukan kau saja yang pergi?!"
"Menyebalkan!"
Tak ada satupun yang kembali ke kamar. Mereka masih berada di balkon untuk melihat bintang dan ramainya kota Paris di malam hari.
"Kau tidak pergi?" tanya Jung Hee tiba-tiba.
"Sudah kubilang aku tidak mau pergi."
"Bukan itu. Maksudku, ini akhir pekan. Kau tidak kencan dengan pacarmu?"
"Memangnya kenapa? Itu bukan urusanmu kan?!"
Tanpa menjawab lagi, Jung Hee masuk ke dalam kamarnya. Malam ini Seung Ho sukses membuatnya kesal. Sedangkan Seung Ho, ia malah tersenyum sendirian di balkon. Ia merindukan wajah Jung Hee yang terlihat kesal, dan hari ini dia berhasil mendapatkannya.
"Kencan kau bilang? Tak ada orang yang bisa kuajak berkencan, Kim Jung Hee!"
---
Satu minggu setelah bussiness fair itu, perusahaan Andrew Johnson merayakan pesta 50 tahun perusahaan itu berdiri. Di dalam kamarnya, Jung He telah selesai berdandan dan ia akan berangkat ke pesta itu. *tok tok tok!* suara ketukan pintu terdengar dari luar kamar Jung Hee. Ia segera menuju ke pintu dan membukanya.
"Peter?" ucap Jug Hee yang mengetahui kalau Peter sudah ada di depannya.
"Kau sudah siap?"
"Ya, aku sudah siap."
"Ayo kita berangkat!"
"Sebentar," Jung Hee masuk ke dalam untuk mengambil tasnya lalu kembali lagi pada Peter. Saat yang bersamaan, Seung Ho keluar dari kamarnya. Entah kenapa, pakaian Seung Ho dan Jung Hee malam ini sangat serasi. Jung Hee mengenakan dress putih dengan motif bunga berwarna biru di bagian bawah, sedangkan Seung Ho, ia memakai setelan jas biru dengan kemeja putih. Jung Hee dan Seung Ho saling berpandangan.
"Pakaian kalian serasi, kalian janjian sebelumnya?" tanya Peter.
"Omong kosong!" jawab Seung Ho dan Jung Hee bersamaan.
"Wah, bahkan kalian menjawab bersamaan."
"Sudahlah, Pete. Ayo pergi."
"Baiklah," Peter menawarkan lengannya pada Jung Hee. Jung Hee melirik Seung Ho sekilas dan menautkan tangannya di lengan Peter. Mereka bertiga berangkat bersama ke pesta itu.
Seperti pada acara sebelumnya, MC membuka acara dan menyampaikan beberapa susunan acara. Di antara susuan acara itu, terdapat penyanyi dunia yang tampil di depan semua undangan. Jung Hee menikmati acara itu sampai matanya menangkap Seung Ho dan Jane bersama.
Acara terakhir adalah pesta dansa. Tidak seperti biasanya, kali ini ada sebuah permainan. Setiap orang harus mengambil sebuah kertas yang sudah ditulisi beberapa kata di dalam wadah kaca. Setelah mengambil kertas itu, orang tersebut harus memeragakan apa yang tertulis di kertas. Jika ada yang bisa menebaknya, maka itulah pasangan berdansanya. Giliran pertama, Jane mengambil kertas itu dan membukanya. Ia pun langsung memeragakan apa yang tertulis di kertas. Tujuannya adalah Seung Ho. Ia ingin berdansa dengan Seung Ho.
"Kau dan aku akan bersama?" ucap Peter tiba-tiba. Wajah Jane berubah masam. MC mengecek kertas di tangan Jane dan jawaban Peter benar.
"Jawabanku benar?" ucap Peter pelan, "Sial! Aku hanya menebaknya saja, kenapa benar?"
Jung Hee hanya menyaksikan permainan itu dengan segelas minuman di tangannya.
"Ellen Kim, sekarang giliranmu!" ucap MC membuat Jung Hee terkejut.
"Apa? Tidak! Aku tidak mau ikut."
"Ayolah! Sekarang giliranmu."
"Tapi,.." mata Jung Hee menangkap mata Andrew yang menatapnya. Andrew memberi isyarat agar Jung Hee mau mengikuti permainan.
"Baiklah,.." ucap Jung Hee yang kemudian bangun dan mengambil kertas. Ia berharap tak ada satupun yang berhasil menebaknya agar ia tak ikut berdansa. Satu menit hampir berakhir. Ia tersenyum senang karena tak ada satupun orang yang bisa menebaknya.
"Betapa aku mencintaimu?" suara Seung Ho terdengar dari samping kanan Jung Hee. MC mengecek kertas milik Jung Hee dan membenarkan jawaban Seung Ho. Jung Hee pun harus berdiri di samping Seung Ho sampai pesta dansa dimulai.
"Kenapa kau harus menebaknya?!" protes Jung Hee pelan.
"Aku hanya menebaknya. Aku tidak tau kalau jawabanku bisa benar. Lagipula, aku tidak mau kau hanya duduk sendirian melihat orang lain berdansa."
"Kenapa kau harus peduli padaku?!"
"Aku tidak peduli padamu, Kim Jung Hee!"
Jung Hee hanya mendengus kesal. Beberapa menit kemudian, pesta dansa dimulai. Jung Hee dan Seung Ho pun mulai berdansa. Tangan kanan Seung Ho telah bersarang di pinggang Jung Hee dan tangan kirinya telah memegang tangan kanan milik Jung Hee. Tangan kiri Jung Hee pun telah menggantung di bahu kanan Seung Ho. Sejak mulai berdansa, Seung Ho tak mengalihkan pandangannya dari Jung Hee membuat Jung Hee gugup. Seung Ho makin mengeratkan pelukannya di pinggang Jung Hee.
"Yak! Mwohaneun geoya?! (Hey! Apa yang kau lakukan?!)" protes Jung Hee.
"Kau tidak dengar? Musiknya berganti lebih lembut." lagi-lagi Jung Hee mendengus kesal. Di pertengahan acara, tiba-tiba terdengar suara petir yang sangat keras dan diikuti listrik yang mati.
"Kya!" teriak Jung Hee yang tiba-tiba memeluk Seung Ho.
"Jung Hee-ya?" sahut Seung Ho, "Kau tunggu disini, aku akan mengambil ponselku dulu,"
"Tidak!" Jung Hee makin mengeratkan pelukannya saat Seung Ho bergerak akan pergi.
"Gajima, jebal. (Jangan pergi, kumohon) Gajima. (Jangan pergi)."
"Baiklah. Kau masih takut gelap, sama seperti dulu." Seung Ho pun membalas pelukan Jung Hee dan membuatnya tenang. Sayangnya, tanpa ia sadari, Jung Hee meneteskan air mata. Suara isakan tangis pun terdengar samar-samar dari mulut Jung Hee. Seung Ho yang mendengarnya pun menjadi khawatir.
"Jung Hee-ya, gwenchanha? (Jung Hee-ya, kau baik-baik saja?)" tanya Seung Ho.
Tak lama kemudian, lampu kembali menyala. Jung Hee yang menyadari kalau ia sedang memeluk Seung Ho pun segera melepas pelukannya dan menghapus air matanya.
"Maaf. Maafkan aku." ucap Jung Hee.
"Jung Hee-ya?"
"Maaf," Jung Hee berlalu dari hadapan Seung Ho. Ia pergi ke toilet, berdiri di depan cermin memandangi dirinya.
"Apa yang baru saja aku lakukan? Kenapa?! Kenapa aku melakukannya? Kim Jung Hee, kendalikan dirimu! Kau tak boleh lemah, kau juga tidak boleh goyah! Kau sudah susah payah melupakannya, jangan sampai kau luluh padanya hanya karena pertemuan yang tak sengaja ini!" gumamnya pada dirinya sendiri. Ia mencuci wajahnya untuk membersihkan air mata yang tadi mengalir. Ia mengambil tissue yang ada disana dan membersihkan wajahnya. Setelah selesai, ia kembali ke pesta. Pukul satu malam Jung Hee kembali ke kamar hotel diantar oleh Peter dan Seung Ho yang mengikutinya.
"Terimakasih sudah mengantarku," ucap Jung Hee.
"Tidak masalah. Kau masuk dan beristirahatlah!"
"Baik,"
"Aku pergi, sampai jumpa." Peter melambaikan tangan dan pergi meninggalkan Jung Hee. Seung Ho yang sejak tadi melihat hal itu pun merasa sedikit kesal. Jung Hee menatap wajah Seung Ho sejenak kemudian masuk ke kamarnya.
---
Setelah pesta itu berakhir, Jung Hee dan Peter semakin dekat. Bukan karena Jung Hee mencintainya, melainkan ia butuh teman untuk berbagi di kota yang besar ini. Orang bergolongan darah AB seperti Jung Hee sebenarnya tidak terlalu membutuhkan banyak teman. Ia hanya butuh satu teman yang bisa mengerti dirinya.
Meskipun acara-acara yang diselenggarakan oleh Andrew Johnson telah berakhir, Jung Hee belum mau meninggalkan kota yang terkenal romantis ini. Tempat tinggal dan akomodasi Jung Hee tetap dibiayai oleh Andrew karena Jung Hee telah dianggap seperti putrinya. Sedangkan Seung Ho, ia belum ingin kembali ke Finlandia karena Jung Hee masih ada disini. Lalu Jane? Jelas Seung Ho lah alasannya.
---
Di suatu malam, Peter mengajak Jung Hee makan malam di sebuah restoran di luar hotel. Jung Hee tampil cantik dengan dress birunya dengan rambut yang diikat pony tail namun masih meninggalkan poni di keningnya. Dengan penampilan seperti itu, Jung Hee sama sekali tak terlihat kalau usianya 32 tahun. Ia nampak seperti gadis berusia 20 tahunan.
Di dalam restoran, Peter melihat  Seung Ho dan Jane duduk berhadapan.
"Ada Harry dan Jane disana, ayo kita bergabung." ajak Peter.
"Aku rasa tidak perlu, Pete."
"Ayolah, setidaknya kita sapa mereka. Jika mereka keberatan kita bergabung, maka kita cari tempat lain."
"Baiklah, terserah kau saja."
Peter dan Jung Hee pun menghampiri Seung Ho dan Jane dengan tangan Jung Hee yang dari tadi bertautan dengan lengan peter.
"Hai, boleh bergabung?" ucap Peter membuat Jane dan Seung Ho yang hendak makan terkejut. Seung Ho yang melihat Jung Hee tampil dengan cantik tak bisa melepaskan pandangan matanya darinya.
"Emm, silakan!" ucap Seung Ho kemudian. Jane pun berpindah duduk di samping Seung Ho, mempersilakan Jung Hee dan Peter duduk. Alhasil, Jung Hee duduk di depan Seung Ho.
"Ellen, kau mau pesan apa?" tanya Peter.
"Terserah kau saja."
"Baiklah," Peter memanggil pelayan untuk memesan makanan. Jung Hee terkejut melihat hidangan udang tersaji di depannya.
"Udang? Siapa yang makan udang?" tanya Jung Hee dengan Bahasa Finlandia.
"Harry," jawab Jane membuat Jung Hee makin terkejut.
"Apa? Harry? Harry, bukannya kau tak bisa makan udang?"
"Apa?" Jane terkejut. Peter yang tak mengerti pun hanya mendengarkan percakapan itu.
"Emm, aku,.. Aku bisa makan udang.." sahut Harry ragu.
"Harry, kau jangan sok jagoan. Kau tidak bisa makan udang."
"Harry, apa itu benar?"
"Itu tidak benar, Jane. Aku bisa makan udang."
"Masih mau sok jagoan? Pencernaanmu tidak bisa menerima udang, Harry!"
"Bisa, Ellen!" Seung Ho mengambil satu udang menggunakan garpunya.
"Jangan, Harry!" cegah Jung Hee.
"Harry, jangan!" timpal Jane.
"Aku tidak apa-apa, Jane."
"Jangan makan, Harry, atau kau akan menghabiskan waktumu di toilet."
"Tidak akan berakhir seperti itu, Ellen." Seung Ho memasukkan udang itu ke dalam mulutnya membuat Jung Hee membulatkan mata.
"Harry, kau pasti akan pergi ke toilet. Satu,.." Jung Hee mulai menghitung.
"Aku baik-baik saja!"
 "Dua,.."
"Lihat, kan?"
"Tiga,.." Jung Hee dan Seung Ho saling bertatapan, "Permisi sebentar," ucap Harry kemudian pergi.
"Lihat, kan? Harry tidak bisa makan udang. Jane, bukankah kau pacarnya? Seharusnya kau tau kalau dia tidak bisa makan udang."
"Aku tidak tau. Kalau dia tidak bisa makan udang, kenapa dia memakannya?"
"Siapa yang pesan?"
"Aku. Tadi dia menerima telfon dan memintaku untuk memesan makanan. Ku kira dia akan suka pasta udangnya."
"Kau mau tau kenapa dia tetap menerimanya? Karena dia tidak mau mengecewakanmu."
"Sudahlah, apa yang kalian bicarakan?" tanya Peter, "Kalian fikir ini di Finlandia? Ini perancis. Ada aku disini. Setidaknya pakailah Bahasa Inggris agar aku juga mengerti.
"Maaf, aku permisi sebentar," ucap Jung Hee yang kemudian pergi. Ia pergi ke toilet, menunggu Seung Ho di depan pintu toilet. Saat keluar dari toilet, Seung Ho menatap Jung Hee sejenak dan kembali melangkah namun Jung Hee mencegahnya dengan memegang lengannya.
"Kapan kau akan kembali ke Finlandia?" tanya Jung Hee.
"Bukannya menanyakan keadaanku, kau malah bertanya kapan aku kembali? Michyeoso?! (kau gila?)"
"Keadanmu? Untuk apa aku menanyakannya? Sudah kubilang kalau kau tidak bisa makan udang, tapi kau tetap memakannya. Mau jadi jagoan?! Dasar bodoh!"
"Kenapa kau menanyakan hal itu?"
"Aku juga akan ke Finlandia, pergi ke rumahmu dan mengambil barangku."
"Sudah kubuang!"
"Apa?!"
"Kau tidak dengar? Barang-barangmu itu sudah kubuang! Aku tidak mau menyimpan barang-barangmu lagi!"
"Kau,.. Membuangnya? Semuanya?"
"Ya! Semuanya!" Seung Ho menyingkirkan tangan Jung Hee dan kembali ke mejanya disusul oleh Jung Hee tiga menit kemudian. Acara makan malam itu begitu dingin. Tak ada pembicaraan antara mereka berempat. Bahkan terdapat ketegangan antara Jung Hee dan Seung Ho.
"Jane, ayo kita pulang!" ajak Seung Ho setelah menyelesaikan makan malamnya. Jane yang juga sudah selesai pun ikut pergi bersama Seung Ho meninggalkan Jung Hee dan Peter. Tiba-tiba ponsel Peter berbunyi.
"Ellen, kita pulang?" tanya Peter setelah mengakhiri telfonnya.
"Tidak. Aku masih ingin disini."
"Tapi, aku harus pergi menemui temanku."
"Kau pergilah. Aku bisa pulang sendiri."
"Kau serius?"
"Ya,"
"Baiklah, hati-hati dan jangan pulang terlalu malam. Aku akan membayar billnya."
"Baik," Peter beranjak kemudian pergi. Hanya tinggal Jung Hee disana. Sendirian dan kesal. Ia memanggil pelayan dan meminta bir segelas penuh. Ia juga minta satu botol bir dan meminumnya sendirian. Setelah bir itu habis, ia menjadi mabuk dan memutuskan untuk pulang.
"Ahhh, sudah habis.. Aku harus pulang. Aku tidak boleh mabuk. Baiklah, Ellen Kim. Ayo pulang!" ucapnya. Ia pulang setelah membayar bir itu dan kembali ke hotel menggunakan taksi. Ia memasuki lobby hotel dengan berjalan sempoyongan. Seung Ho yang baru masuk lobby setelah mengantar Jane, terkejut melihat Jung Hee dalam keadaan mabuk. Ia segera menghampiri Jung Hee dan memapahnya.
"Jung Hee-ya? Kau mabuk?" tanya Seung Ho.
"Nuguya? (kau siapa?) hanguk sarami? (kau orang Korea?) annyeong haseyo, Kim Jung Hee ibnida. Mannaseo Bangapseubnida. (Hai, namaku Kim Jung Hee. Senang bertemu denganmu.)"
"Mana Peter?"
"Peter? Pe,.. Peter? Nuguya? (siapa?) nan Kim Jung Hee-ga, Peter-ga aniya. (Aku Kim Jung Hee, bukan Peter.)"
"Astaga! Kau benar-benar benar mabuk. Kau minum berapa banyak?"
"Hana. (Satu.) Satu gelas besar dan satu botol. Aku,.. Tidak mabuk! Arasseo! (kau mengerti?!)"
"Kajja! (Ayo!)" Seung Ho memapahnya menaiki lift. Di dalam lift, ia terus memegangi Jung Hee agar tak terjatuh. Saat keluar lift, Seung Ho tetap memegangi Jung Hee namun Jung Hee menolaknya, "Lepaskan aku! Kau tidak perlu memegangiku seperti itu! Aku bukan bayi!"
"Tapi kau mabuk, Kim Jung Hee!"
"Aku tidak mabuk! Neo nuguya?!! (Kau siapa?!!)"
"Yoo, Seung, Ho. Yoo Seung Ho irago! (Aku Yoo Seung Ho!)"
"Mwo?! (Apa?!) Yoo, Yoo Seung Ho?" Jung Hee mendekati Seung Ho dan menangkupkan kedua tangannya di wajah Seung Ho. Air mata keluar dari kedua mata indahnya.
"Seung Ho-ya, bogoshipta. (Aku merindukanmu.) Kau tidak tau apa yang aku lalui selama empat tahun ini. Aku kesepian! Aku sendirian! Aku selalu menangis di malam hari! Aku selalu memikirkanmu! Aku tidak bisa melakukannya! Aku tidak bisa hidup tanpa kau, Yoo Seung Ho! Aku tidak bisa!" Jung Hee mengeluarkan isi hatinya dan tiba-tiba ia jatuh di pelukan Seung Ho. Pengaruh alkohol yang tadi diminumnya telah membuatnya tertidur. Tertidur pulas di pelukan Seung Ho.
"Jung Hee-ya? Jung Hee-ya? Bangunlah, Kim Jung Hee!" ucap Seung Ho. Ia membuang nafas. Ia pun mengambil kunci kamar di dalam sakunya lalu menggendong Jung Hee. Ia memasuki kamarnya dan menidurkan Jung Hee di atas ranjangnya. Ia melepas sepatu di kaki Jung Hee dan duduk di sampingnya.
"Kenapa? Kenapa kau mengatakan itu padaku? Kenapa kau masih merindukan aku padahal aku telah menyakitimu. Kenapa kau masih memikirkan aku? Seharusnya kau langsung melupakan aku setelah aku pergi meninggalkanmu! Jangan maafkan aku, Kim Jung Hee. Jangan pernah maafkan aku." Seung Ho membelai rambut Jung Hee pelan. Perlahan ia mendekatkan wajahnya pada Jung Hee. Tinggal 5 cm jarak bibirnya dengan bibir Jung Hee, ia memandang mata Jung Hee yang tertutup. Ia meninggalkan bibir itu dan beralih ke kening. Ia mencium kening itu perlahan namun mampu membuat Jung Hee bergerak. Seung Ho menyelimuti Jung Hee dan ia keluar dari kamar. Ia memesan sarapan untuk diantar ke kamarnya besok pagi dan ia pun pergi ke kolam renang. Seung Ho duduk di kursi panjang yang ada disana. Ia memikirkan perkataan Jung Hee. Percaya tak percaya, itulah kalimat yang ia dengar dari mulut Jung Hee yang mabuk. Ia percaya kalau orang yang mabuk tidak mungkin berbohong. Semalaman Seung Ho memikirkannya. Mengetahui kalau Jung Hee tidak melupakannya membuatnya merasa bersalah dan terbebani. Ia lebih senang kalau Jung Hee membencinya. Sampai pagi, Seung Ho tetap duduk disana. Ia kembali ke kamarnya pukul enam. Di atas ranjangnya, Jung Hee masih tertidur pulas. Hanya saja rambut yang semalam diikat itu menjadi terurai. Mungkin semalam ia terbangun dan melepas ikatan rambutnya kemudian kembali tidur. Seung Ho mengambil kursi yang ada di depan meja rias dan meletakkannya di samping tempat tidur. Ia duduk disana memandangi Jung Hee yang masih tidur. Beberapa menit kemudian Jung Hee mulai bergerak. Ia perlahan membuka matanya dan langsung bangun begitu melihat Seung Ho ada di depannya.
"Yak! Apa yang kau lakukan di kamarku?!" bentak Jung Hee.
"Kamarmu? Bukankah keterlaluan menyebut ini kamarmu? Lihatlah sekelilingmu! Ini kamarku!" Jung Hee mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Ia pun sadar kalau ruangan ini tidak seperti kamarnya.
"Kenapa, kenapa aku bisa disini? Apa yang sudah kau lakukan padaku?!"
"Gieog anha? (Kau tidak ingat?)"
"Mwoya? (Apa?) Tidak ada yang terjadi kan?"
"Memang! Tapi kau merepotkan aku! Kau pulang dalam keadaan mabuk dan kau tergeletak di depan kamarku!"
"Mabuk? Naega? (Aku?) Aahhhh, tidak mungkin. Aku bukan orang seperti itu. Aku tidak mungkin mabuk. Aku bahkan tidak bisa minum."
"Kau tidak bisa minum tapi kau mengabiskan satu botol dan satu gelas besar?! Kau gila?!"
"Aku menghabiskan sebanyak itu? Tidak mungkin."
"Jadi, menurutmu aku bohong?"
"Kalau aku memang mabuk, kenapa kau tidak membawaku ke kamarku? Kenapa kau membawaku ke kamarmu?!"
"Sudah kubilang, kau pingsan di depan pintu kamarku. Aku ingin membawamu ke kamarmu, tapi aku tidak bisa menggeledah isi tasmu untuk mencari kunci kamarmu. Jadi, lebih baik aku membawamu ke kamarku."
"Bagaimana kau membawaku kesini? Apa kau,..?"
"Aku menyeret kakimu!"
"Apa?!"
"Hahaha, dasar bodoh! Apa kau harus menanyakan itu?!"
*tok tok tok!* pintu kamar Seung Ho diketuk dari luar. Seung Ho pun meninggalkan Jung Hee dan membuka pintu.
"Sarapannya, Tuan." ucap seorang pegawai hotel yang mengantar sarapan menggunakan meja dorong.
"Ah, iya. Tinggalkan saja disini. Nanti setelah aku selesai, aku akan memanggilmu."
"Baik, Tuan." pegawai itu meninggalkan makanan di depan pintu kamar Seung Ho. Kini giliran Seung Ho yang mendorong meja itu dan menempatkannya di samping Jung Hee.
"Makanlah! Kau harus makan setelah mabuk seperti itu. Aku mau mandi." Seung Ho berjalan memasuki kamar mandinya.
"Lalu kau bagaimana?" teriak Jung Hee.
"Jangan memikirkan aku!"
"Siapa juga yang memikirkanmu? Aku hanya merasa tidak enak!"
"Makan saja dan jangan berisik!"
"Sial! Dia memperlakukan aku seolah-olah aku adalah pengemis yang dipungut dipinggir jalan. Aku akan membunuhmu, Yoo Seung Ho!"
"Aku dengar itu, Kim Jung Hee!"
"Aish!" Jung Hee duduk di ranjang dan mulai memakan sarapannya. Beberapa menit kemudian Seung Ho keluar dari kamar mandi memakai kimono dan celana panjangnya sambil mengeringkan rambutnya menggunakan handuk. Jung Hee yang sedang makan, mengalihkan pandangannya pada Seung Ho. Ia memandangi Seung Ho tanpa berkedip. Ia mengakui kalau dirinya telah terpesona pada Seung Ho. Ia bahkan makin terpesona saat Seung Ho mengibaskan rambutnya. Untuk pertama kalinya, ia terpesona pada seorang pria setelah empat tahun. Saat menyadari kalau jantungnya berdegup sangat kencang, ia mengalihkan pandangannya dan kembali makan. Sedangkan Seung Ho, ia tengah memakai kemeja putihnya. Saat itu dia mendengar ponsel berbunyi di atas meja. Ia langsung mengambil ponsel itu tergesa-gesa. Jung Hee yang baru saja selesai makan hanya memandangnya.
"Halo?" ucap Seung Ho.
"Harry? Kenapa kau menjawab telfon Ellen?" tanya seseorang diujung telfon yang ternyata adalah Peter.
"Lalu kenapa kau menelfon sepagi ini?"
"Aku ingin tanya semalam dia pulang jam berapa."
"Lupakan saja! Apa kau ini pria? Bagaimana kau bisa meninggalkannya sendirian?! Apa kau tau kalau dia itu mabuk?!"
Mendengar ucapan Seung Ho, Jung Hee yakin kalau Peter yang menelfon, dan ponsel yang dipegang Seung Ho adalah miliknya. Ia langsung menghampiri Seung Ho untuk merebut ponselnya, sayangnya Seung Ho menyadari hal itu dan ia menjauhkan ponsel itu dari pemiliknya.
"Berikan ponselku!" bentak Jung Hee.
"Yak! Mwohaneun geoya?! (Apa yang kau lakukan?!)" bentak Seung Ho balik.
"Harry, itu seperti suara Ellen. Dia bersamamu?"
"Ah sudahlah!" Seung Ho mematikan ponsel itu dan berusaha menghindari Jung Hee yang membuntutinya.
"Berikan ponselku!"
"Ponsel apa?! Ini milikku!"
"Berikan padaku, Yoo Seung Ho!"
"Kenapa aku harus memberikan ponselku padamu?"
"Ponsel itu milikku! Yang baru saja telfon itu Peter kan?"
"Memang Peter yang baru saja telfon, tapi dia telfon di ponselku!"
"Seung Ho-ya, jebal! (Seung Ho-ya, kumohon!)"
"Apa setelah mabuk otakmu juga hilang? Kau tidak dengar?" Jung Hee menyerah. Ia duduk di atas ranjang dengan wajah cemberutnya.
"Sudah? Hanya sejauh itu?" ledek Seung Ho yang berdiri beberapa meter dari Jung Hee. Ia mulai memainkan ponsel itu.
"Kau memang benar, ini memang ponselmu. Mari kita lihat apa isi di dalamnya." ucap Seung Ho kemudian. Wajah Jung Hee berubah. Wajahnya menjadi tegang. Ia pun berlari menghampiri Seung Ho. Karena Seung Ho lebih tinggi darinya, ia hanya mengangkat ponsel itu ke atas.
"Aish! Sial!" umpat Jung Hee. Ia melompat untuk berusaha mengambil ponselnya. Hingga tiba saatnya kakinya mendarat kurang sempurna di lantai hingga ia harus terjatuh menimpa Seung Ho. Mereka bertatapan hingga pada akhirnya pintu diketuk dari luar membuat Jung Hee menyingkir dari tubuh Seung Ho.
"Siapa itu?" tanya Jung Hee pelan pada Seung Ho.
"Mana kutahu?! Biar kulihat dulu." Seung Ho berjalan ke arah pintu dan membukanya. Ia hanya membiarkan kepalanya terlihat.
"Harry!" ia terkejut saat Jane ada di depan kamarnya.
"J-Jane? Apa yang kau lakukan disini?"
"Aku ingin mengajakmu sarapan."
"Ahhh.. Sebentar. Aku pakai baju dulu."
"Boleh aku masuk?"
"Ah, jangan! aku harus pakai baju. Aku tidak mau kau melihatku, jadi kau tunggu disini."
"Tapi,.." belum selesai bicara, Seung Ho telah menutup pintu dan kembali ke dalam.
"Nuguya? (Siapa?)" tanya Jung Hee.
"Jane."
"Mwo?! (Apa?!)"
"Ssttt!!" Seung Ho membekap mulut Jung Hee dengan tangannya, "Jangan terlalu keras. Dia bisa dengar."
"Lalu, apa yang harus kulakukan sekarang?"
"Kau tetap disini. Aku akan keluar bersama Jane. Setelah aku masuk lift, aku akan mengirim SMS padamu dan kau bisa keluar, kau mengerti?" Jung Hee hanya mengangguk tanda mengerti. Seung Ho mengambil jas dan memakainya. Ia merapikn penampilannya di depan cermin.
"Yak, ini masih pagi, kan? Kau juga akan pergi dengan pacarmu, tidak bisakah kau berpakaian sedikit santai?" tanya Jung Hee.
"Sstttt! Diamlah! Jangan banyak komentar!" Seung Ho berjalan ke arah pintu, namun saat ia memegang handle pintu itu, ia memikirkan perkataan Jung Hee. Ia pun kembali pada Jung Hee.
"Baiklah, setelah kupikir-pikir, kau benar juga. Ambilkan baju untukku!" ucap Seung Ho.
"Apa?!"
"Cepat!" Seung Ho mendorong Jung Hee ke depan lemari. Jung Hee membuka lemari itu, memilih baju dan memberikannya pada Seung Ho. Tanpa diminta, Seung Ho melepas kemeja putihnya.
"Yak! Tidak bisakah kau mengganti pakaianmu di kamar mandi?!" protes Jung Hee.
"Memangnya kenapa? Ini kamarku kan? Lagipula,.."
"Lagipula apa?!"
"Bukan apa-apa." Seung Ho telah selesai memakai pakaiannya, "Gomawo. (Terimaksih)"
Seung Ho kembali ke pintu, membukanya dan menghilang di balik pintu.
"Ayo, Jane!" ajak Seung Ho. Mereka mulai berjalan.
"Harry, apa di dalam kamarmu ada perempuan?" *deg!* pertanyaan Jane membuat Seung Ho sangat terkejut.
"Apa? Perempuan? Tidak."
"Tapi, aku seperti mendengar suara perempuan."
"Mungkin kau salah dengar."
"Benarkah?"
"Iya. Mungkin kau mendengar dari kamar lain."
"Ohh,"
Mereka memasuki lift. Seung Ho mengeluarkan ponselnya dan mengirim SMS pada Jung Hee, "Naga! (Keluar!)" Jung Hee yang sudah melihat SMS itu pun mengambil tasnya kemudian keluar tanpa membalas SMS. Dua menit kemudian, Seung Ho kembali mengirimkan SMS.
"Jawab aku!"
"Ne, ne.. Na ganda! (Ya, ya.. Aku pergi!)"
"Baguslah. Kakimu,.. Masih sakit?"
"Sedikit, wae? (Kenapa?)"
"Ani. (Tidak apa-apa.)" Jung Hee tak membalas lagi.
"Aish! Anak ini! Kenapa kau bertanya kalau tidak ada apa-apa yang mau kau katakan?!" Jung Hee melempar ponselnya dengan kesal ke ranjang. Ia pergi ke kamar mandi dan mulai membersihkan diri.
---
Suatu malam, Jung Hee berada di balkon. Ia memandangi suasana malam yang saat itu cukup cerah. Lampu yang menghiasi menara eiffel benar-benar indah. Sebuah pikiran konyol muncul di otaknya. Ia ingin dilamar di bawah menara eiffel itu. Bukan Peter, Jin Wo apalagi Jung Soo. Ia ingin dilamar oleh Seung Ho. Ia tertawa pelan karena pikiran konyol itu.
Seung Ho juga keluar dari kamarnya untuk ke balkon. Jung Hee makin tertawa saat melihat Seung Ho keluar.
"Wae? (Kenapa?)" tanya Seung Ho.
"Tidak, tidak apa-apa. Aku hanya membayangkan hal konyol"
"Dasar wanita gila!"
"Maworago?! (Kau bilang apa?!)" ucap Jung Hee kesal. Tiba-tiba ponselnya berbunyi.
"Siapa? Peter?" tanya Seung Ho.
"Bukan. Ini nomor baru. Nomor Finlandia."
"Finlandia?"
"Sebentar," Jung Hee mengangkat telfon itu, "Hallo?"
"Ellen, ini aku, Jane."
"Ahhh,.." Jung Hee melirik Seung Ho sekilas, "Ada apa?"
"Aku ingin bertemu denganmu. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan padamu. Jangan beritahu Harry, aku ada di lobby sekarang."
"Baiklah, aku akan kesana sekarang." telfon terputus dan Jung Hee berjalan masuk kamar.
"Mau kemana?" tanya Seung Ho.
"Menemui seseorang."
"Ohh,.." Jung Hee kembali ke kamarnya, mengambil tas kemudian turun ke lobby. Ia bertemu Jane disana.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Jung Hee.
"Tidak disini. Ayo ikut aku!"
"Kemana?"
"Ikut saja."
Jung Hee mengikuti Jane. Mereka berjalan keluar hotel. Seung Ho melihat mereka dari atas. Ia tau kalau Jung Hee pergi dengan Jane. Ia mengirim SMS pada Jane.
"Jane, kau sedang dimana?"
"Aku sedang di hotel, baru makan malam." Seung Ho terkejut membaca balasan SMS dari Jane. Padahal jelas-jelas dia sedang di luar hotelnya bersama Jung Hee. Merasa ada yang tidak beres, Seung Ho segera turun ke parkiran. Mengemudikan mobilnya berusaha mengikuti mobil Jane. Untunglah Seung Ho belum terlambat. Ia terus mengikuti mobil Jane. Hampir satu jam, mobil Jane belum berhenti dan baru berhenti di pinggiran kota. Seung Ho memarkir mobilnya 100 meter dari mobil Jane. Ia melihat Jung Hee dan Jane keluar dari mobil. Tak ada orang disana. Hanya beberapa pohon yang tak begitu jelas terlihat. Dilihat dari sekeliling, tempat ini terlihat seperti hutan. Jane dan Jung Hee mulai masuk ke hutan itu.
"Apa yang mereka lakukan di tempat seperti ini?!" ucap Seung Ho pada dirinya sendiri.
"Jane, kita mau kemana?" tanya Jung Hee.
"Jangan banyak tanya. Aku mau kita bicara berdua, tanpa ada seorangpun yang tau." beberapa menit berjalan, mereka berhenti.
"Ellen Kim, apa hubunganmu dengan Harry?" tanya Jane sinis.
"Harry? Tidak ada. Kami hanya bertemu di bussiness fair dan kebetulan kamar kami berseberangan."
"Kau jangan bohong! Aku tau kalau ada sesuatu di antara kalian. Kau tau, aku sangat mencintai Harry. Dia adalah segalanya bagiku. Aku tidak bisa melihat dia bersama wanita lain!"
"Jane, kau salah paham padaku. Aku tidak punya hubungan apapun dengan Harry."
"Kau pikir aku percaya? Meski sekarang kalian tidak punya hubungan apa-apa, aku yakin suatu hari mungkin kalian bisa menjalin hubungan. Aku tidak mau! Jika aku tidak bisa memiliki Harry, maka tak ada seorangpun yang bisa memilikinya!" Jane melangkah mendekati Jung Hee.
"Jane?" Jung Hee mengambil langkah mundur. Hanya tinggal beberapa senti lagi jurang di belakang Jung Hee menantinya.
"Hasta la vista, Ellen Kim! (Selamat tinggal, Ellen Kim!)" Jane mendorong Jung Hee hingga terjatuh ke dalam jurang. Setelah Jung Hee terjatuh, Jane meninggalkannya tanpa melihatnya lagi. Ia kembali ke mobilnya. Seung Ho yang melihat Jane kembali sendiri pun terkejut.
"Jane? Kenapa dia kembali sendiri? Mana Jung Hee?" ucap Seung Ho di dalam mobilnya. Wajah Jane terlihat panik. Ia segera pergi meninggalkan tempat itu.
"J-Jung Hee? Kim Jung Hee?!" Seung Ho pun panik. Ia keluar dari mobil dan berlari memasuki hutan.
"Kim Jung Hee?! Kim Jung Hee, eodiseo?! (Kim Jung Hee, kau dimana?!) Kim Jung Hee!" teriak Seung Ho.
"Tolong!" teriak Jung Hee, "Salyo juseyo! (Selamatkan aku!)" Jung Hee terisak. Untunglah saat ia terjatuh, tangannya sempat meraih batang pohon, namun wajahnya telah berdarah.
"Salyo juseyo,.. (Tolong selamatkan aku,..)"
"Kim Jung Hee!!"
"Tolong!!" samar-samar, Seung Ho mendengar suara teriakan. Ia berhenti untuk menajamkan pendengarannya.
"Tolong!"
"Kim Jung Hee?!" ia langsung berlari menuju suara itu hingga sampai di tepi jurang.
"Kim Jung Hee!!" panggil Seung Ho.
"Di bawah sini!" sahut Jung Hee. Seung Ho menuruni jurang dengan berhati-hati. Ia menemukan Jung Hee yang sedang berpegangan pada batang pohon.
"Jung Hee-ya?!" panggil Seung Ho khawatir.
"Seung Ho-ya? Apa yang kau lakukan disini?"
"Kau sendiri?! Untuk apa kau malam-malam pergi ke tempat seperti ini?! Wajahmu terluka, ayo kita pergi!!" Seung Ho membantu Jung Hee berdiri dan mulai memapahnya berjalan. Namun tiba-tiba, kaki Seung Ho terpeleset hingga mereka jatuh lagi ke jurang yang lebih dalam. Seung Ho masih sempat memeluk Jung Hee dengan erat. Bukan untuk mengambil kesempatan, tapi untuk melindunginya agar tak terluka lebih parah. Belasan kali berguling, akhirnya mereka sampai di dasar jurang. Jung Hee membuka matanya, ia terkejut melihat Seung Ho tak sadarkan diri dengan luka di kepalanya. Ia langsung menyingkir dari atas Seung Ho dan memangkunya.
"Seung Ho-ya? Seung Ho-ya?!" Jung Hee mencoba membangunkan Seung Ho dan ia mulai menangis.
"Seung Ho-ya?! Ireona! (Bangun!) Aahhh,.. Hiks.. Ireona, jebal,.. (Bangun, kumohon,..) Seung Ho-ya,.."
"J-Jung Hee-ya,.." sebuah suara lemah terdengar dari mulut Seung Ho.
"Seung Ho-ya, Gwenchanha? (Kau baik-baik saja?)"
"Baboya! (Dasar bodoh!) Aku jatuh ke jurang, bagaimana bisa baik-baik saja?"
"Aghh.. Eottohke? (Bagaimana ini?)"
"Sepertinya kau baik-baik saja,.. Syukurlah.."
"Apa yang kau katakan?!"
"Jung Hee-ya,.. Tahanlah rasa sakitmu, bertahanlah dan tetap terjaga. Mengerti?!" setelah berkata, Seung Ho tak sadarkan diri. Hal itu sukses membuat Jung Hee sangat panik.
"Seung Ho-ya? Seung Ho-ya?! Ireona! Jugjima! (Bangun! Jangan mati!) Aghh,.. Jebal, jugjima! (Tolong jangan mati!) Andwe! Andwe! Ireona, palli!! (Tidak! Tidak! Cepatlah bangun!) Seung Ho-ya! Ireona palli!! (Cepat bangun!) Kau tidak boleh mati!" Jung Hee menangis sejadi-jadinya. Ia berhenti sejenak dan mengambil ponsel di saku Seung Ho. Ia nampak terkejut begitu melihat foto lamanya dengan Seung Ho menjadi wallpaper ponsel itu. Ia penasaran, tapi sekarang ia harus menghubungi seseorang. Peter. Ya, dia harus menelfonnya.
"Hallo?" ucap Peter.
"Peter!" panggil Jung Hee cemas.
"Ellen? Ada apa? Kau menangis?"
"Peter, tolong aku! Kumohon!"
"Kau dimana?"
"Aku tidak tau! Aku hanya tau kalau aku di hutan dan aku jatuh ke jurang. Tolong, Peter! Harry terluka parah.."
"A-apa? Baiklah. Aku akan segera kesana. Tetap aktifkan GPS ponselnya!"
"Cepatlah!" telfon terputus. Selain Peter, Jung Hee juga menelfon polisi dan ambulance. Segala usaha telah ia kerahkan. Kini ia hanya bisa menunggu bantuan datang.
"Seung Ho-ya, bangunlah.. Kenapa kau tidur saat kau memintaku tetap terjaga? Tolong bangunlah! Ahhh, jebal! (kumohon!)"
Jung Hee mulai putus asa, namun ia tetap mengikuti ucapan Peter untuk menyalakan GPS di ponsel Seung Ho. Satu setengah jam kemudian, polisi dan Peter menemukan Jung Hee dan Seung Ho.
"Ellen?!!" ucap Peter khawatir
"Peter?" sahut Jung Hee lemas yang hampir pingsan, "Jebal, uri Seung Ho neun, salyo juseyo. (Tolong selamatkan Seung Ho.)
"Kau bilang apa?"
"Tolong," Jung Hee akhirnya pingsan. Peter pun membawanya ke rumah sakit. Syukurlah, keadaan Jung Hee baik-baik saja. Namun tidak dengan Seung Ho. Ia mengalami cidera serius di pungungnya dan harus menjalani oprasi.
Keesokan paginya Jung Hee tersadar. Ia merasakan sakit di kepala dan seluruh tubuhnya.
"Ahhh,.. Aisshhhh,.." ucapnya yang mencoba bangun.
"Ellen,'kau jangan bangun dulu." cegah Peter. Jung Hee menurutinya dan kembali berbaring. Namun ia kembali bangun setelah teringat Seung Ho.
"Harry? Peter, dimana Harry?" tanya Jung Hee.
"Harry? Dia,.."
"Dimana? Dia baik-baik saja kan?"
"Dia mengalami cidera serius."
"Apa?! Dimana dia?"
"Di sebelah kamar ini." tanpa pikir panjang lagi, Jung Hee langsung turun dari ranjang dan keluar.
"Ellen?!" panggil Peter yang tidak dihiraukan oleh Jung He. Kim Jung Hee pun masuk ke kamar di sebelah kanan kamarnya, namun tak ada Seung Ho disana. Hanya seorang anak kecil. Jung Hee meminta maaf karena salah memasuki kamar dan ia bergegas ke kamar yang ada di sebelah kiri. Ia melihat Seung Ho terbaring dengan masker oksigen di wajahnya. Jung Hee pun masuk ke kamar itu. Air matanya turun lagi. Ia duduk di samping kanan Seung Ho.
"Seung Ho-ya?" panggilnya pelan. Ia memegang tangan kanan Seung Ho yang lemah.
"Mianhae, jeongmal mianhae. (Maaf, aku benar-benar minta maaf.) Untuk yang kedua kalinya aku membuatmu masuk rumah sakit. Gara-gara aku, kau jadi begini. Kumohon, maafkan aku. Seharusnya kau tidak turun ke jurang. Seharusnya kau telfon polisi. Kau mau jadi pahlawan? Dasar bodoh! Meski kau mau jadi pahlawan, kau juga harus memikirkan dirimu sendiri. Bangunlah! Bangun, Yoo Seung Ho!" ia menangis sejadi-jadinya. Peter hanya bisa melihatnya dari luar. Ia tau, kalau ada sesuatu di antara mereka. Meski mereka bersikap seolah-olah saling membenci saat bertemu, tapi diantara mereka ada sebuah cinta. Entah itu cinta yang baru atau cinta yang lama.
Sementara Jane, ia terlihat panik di kamar hotelnya, apalagi setelah ia menerima telfon dari Peter kalau Seung Ho dan Jung Hee masuk rumah sakit karena terjatuh ke jurang.
"Sial! Kenapa Harry harus ada disana? Kenapa kau menyelamatkannya, Harry?!! Dan sekarang,.. Sekarang kau yang terluka lebih parah!! Apa yang harus aku lakukan?!! Tenang Jane, tenang. Meski kau sangat mengkhawatirkan Harry, kau tidak boleh kesana. Karena disana ada Ellen. Disana juga pasti ada polisi. Tidak, tidak. Tetaplah disini, Jane. Yahh, aku harus tetap disini."  ucap Jane pada dirinya sendiri.
---
Satu minggu sudah, Seung Ho belum sadar dan satu minggu pula Jung Hee tetap disana. Ia tak mempedulikan dirinya sendiri. Meski Peter memintanya untuk kembali ke kamar, Jung Hee terus menolak dengan alasan ia ingin menunggu Seung Ho sadar dan mengucapkan terimakasih karena telah menggantikan posisinya. Beberapa kali Jung Hee menolak diinterogasi oleh polisi. Ia tidak ingin berurusan dengan polisi di luar negaranya.
Di siang hari, Seung Ho menggerakkan tangannya. Ia pun membuka matanya perlahan.
"Seung Ho-ya?" panggil Jung Hee pelan. Seung Ho menoleh ke arah kanan dan melihat Jung Hee di sampingnya dengan kepala yang dibalut perban. Ia merasakan sesuatu yang menggenggam tangannya dan ia pun membalas genggaman tangan itu.
"Neo,.. Gwenchanha? (Kau,.. Baik-baik saja?)" tanya Seung Ho.
"Baboya ! (Dasar bodoh!) Kenapa kau masih mencemaskan aku, eoh?! Ya, aku baik-baik saja karena kau!"
"Syukurlah,.."
"Gomawo.. (Terimakasih..) Geurigo, mianhae. (Dan juga, maaf.)
"Mwoga? (Untuk apa?)"
"Geunyang,.. Da.. (Untuk semuanya..)"
"Dwesseo, saenggakhajima.. (Sudahlah, jangan dipikirkan..) Nan gwenchanha. (Aku baik-baik saja.)"
"Aku, akan memanggil dokter." Jung Hee hendak berdiri namun Seung Ho tetap memegang tangannya.
"Tidak perlu. Aku tidak butuh dokter."
"Lalu, apa yang kau butuhkan?"
"Emm,.. Entahlah.."
"Jinjja baboya! (Kau benar-benar bodoh!)" Jung Hee berdiri memeluk Seung Ho.
"Gomawo.. (Terimakasih..)" ucap Jung Hee pelan. Ia kembali menangis di pelukan Seung Ho.
"Uljima! (Jangan menangis!)"
*cklek* suara pintu dibuka oleh seseorang. Jung Hee segera menyingkir dari tubuh Seung Ho.
"Apa dia sudah sadar?" tanya Peter yang masuk ke ruangan.
"Ah, iya. Dia baru saja sadar."
"Terimakasih, Harry. Kau telah menyelamatkan pacarku." ucap Peter membuat Jung Hee dan Seung Ho sangat terkejut. Seung Ho bahkan membuka masker oksigennya.
"Apa? Pacar?" tanya Jung Hee terkejut.
"Ya, pacar. Aku mencintaimu sejak pertama kali bertemu denganmu."
"Pe-Peter. Kau jangan bercanda."
"Aku tidak bercanda, El. Aku memang mencintaimu."
Seung Ho dan Jung Hee saling bertatapan. Mereka tak percaya kalau Peter akan melakukan hal seperti itu.
"Tapi,.. Peter,.."
"Jangan khawatir. Kau tidak perlu menjawabnya sekarang. Aku tau kau pasti sangat terkejut. Tidak masalah. Kita akan menjalani semuanya. Meski sekarang kau mungkin belum punya perasaan padaku, aku yakin kalau suaru hari nanti aku bisa membuatmu jadi milikku."
"Peter?" panggil Seung Ho.
"Harry, sekali lagi aku ucapkan terimakasih. Aku akan memanggil dokter untukmu. Ayo Ellen, kembali ke kamarmu!" Peter membawa Jung Hee kembali ke kamarnya. Sedangkan Seung Ho, ia memegangi dada kirinya. Rasa sakit tiba-tiba menjalar ke seluruh tubuhnya. Air matanya pun menetes.
"Jung Soo-ya, apa seperti ini perasaanmu dulu saat kau melihatku menyatakan perasaanku pada Jung Hee? Perasaan ini sangat menyakitkan. Tapi kenapa kau masih bisa tersenyum? Seung Ho-ya, apa ini balasan untukmu? Ini benar-benar menyakitkan." ucap Seung Ho. Tak begitu lama, dokter masuk ke kamar Seung Ho dan memeriksanya.
"Apa kau masih merasa sakit di punggung dan kepalamu?" tanya dokter.
"Bukan di kepala atau di punggung, Dokter. Tapi disini." Seung Ho menunjuk dada kirinya.
Sementara di kamar sebelah, Jung Hee terdiam. Tak ada sepatah katapun ia ucapkan pada Peter. Untuk yang kedua kalinya, ia merasakan hal seperti ini. Tapi anehnya, hatinya kali ini sangat sulit untuk menerima kenyataan ini, tidak seperti dulu. Ia bisa menerima Seung Ho meskipun di hatinya ada Park Jung Soo.
---
Dua hari kemudian, Jung Hee keluar dari rumah sakit. Tiga hari setelah itu, Seung Ho juga keluar dari rumah sakit.
*Tok tok tok* pintu kamar hotel Jung Hee diketuk oleh seseorang. Jung Hee pun membukanya.
"Harry?" ucap Seung Ho.
"Boleh aku masuk?"
"Silakan." Jung Hee mempersilakan Seung Ho masuk dan mereka duduk di sofa.
"Waeyo? (Ada apa?)" tanya Jung Hee.
"Kapan kau akan kembali ke Korea?"
"Memangnya kenapa?"
"Besok aku akan kembali ke Finlandia."
"Boleh aku ikut?"
"Untuk apa?" Jung Hee mengambil sebuah map berwarna biru dari dalam laci dan memberikannya pada Seung Ho. Seung Ho pun membukanya.
"Kau sudah menandatanganinya?" tanya Seung Ho.
"Ya. Sudah sejak lama. Jadi, kapan aku bisa mulai bekerja?"
"Kau serius?"
"Tidak masalah kalau kau berubah pikiran. Aku akan kembali ke Korea."
"Besok jam 9 pagi kita check out dari hotel. Satu jam kemudian kita ke Finlandia. Aku akan menyiapkan tiket untukmu."
"Baiklah."
"Ya sudah, kalau begitu, aku pergi." Seung Ho berdiri dan meninggalkan kamar.
---
Pukul 8.50 Jung Hee keluar dari kamarnya. Di depan kamarnya, Seung Ho sudah menunggunya.
"Sudah siap?" tanya Seung Ho. Jung Hee hanya mengangguk. Mereka pun turun ke lobby untuk check out. Setelah check out, mereka memasuki mobil untuk pergi ke bandara.
"Bagaimana hubunganmu dengan Peter?" tanya Seung Ho. Jung Hee terlihat salah tingkah mendengar pertanyaan Seung Ho.
"Punggung dan kepalamu bagaimana? Sudah benar-benar baik, kan?" tanya Jung Hee balik.
"Yak! Jangan mengalihkan pembicaraan, Kim Jung Hee." mobil  pun berhenti, tanda kalau mereka sudah sampai di bandara.
"Ahh, kita sudah sampai. Ayo turun!" Jung Hee turun dari mobil.
"Aisshh!! Gadis itu benar-benar!" umpat Seung Ho yang kemudian juga turun dari mobil. Mereka mengambil koper masing-masing dan masuk ke bandara bersama. Tepat pukul sepuluh, mereka telah take off ke Finlandia.
"Kim Jung Hee, kau belum menjawab pertanyaanku." ucap Seung Ho yang duduk di samping Jung Hee.
"Ahhhh,.." Jung Hee pura-pura menguap, "Pertanyaan apa? Sudahlah, aku mengantuk, aku tidur dulu." Jung Hee menutup matanya.
"Yak!"

@Helsinki, Finlandia.
Beberapa jam kemudian, mereka telah sampai di Bandara Helsinki. Jung Hee mengedarkan pandangannya ke seluruh tempat setelah keluar dari bandara.
"Kau bisa pergi ke Vantaa untuk melihat ruang kerjamu. Ini alamat kantor dan ini alamat tempat tinggalmu." Seung Ho memberikan  dua kertas pada Jung Hee.
"Tempat tinggal?"
"Iya."
"Apa kau memberikan tempat tinggal pada pegawaimu?"
"Emmm,.. Tidak semuanya. Hanya mereka yang spesial."
"Ohh, jadi aku spesial?"
"Jangan berharap lebih! Cepatlah kesana! Dan jangan katakan hal ini pada orang lain!"
"Baik, baik! Taksi!" Jung Hee pergi dari hadapan Seung Ho dan menuju ke kantor Seung Ho. Kantor itu cukup bagus. Saat dia tiba disana, ia disambut oleh beberapa karyawan. Ia sangat terkejut akan hal itu. Ia berpikir kalau Seung Ho benar-benar mengadakan penyambutan untuk dirinya. Jung Hee terus berjalan memasuki kantor itu.
"Selamat datang di JS Fashion, Nona Ellen Kim. Tuan Harry sudah memberitau kalau hari ini Anda akan datang. Mari saya tunjukkan dimana ruangannya." ucap seorang wanita dengan ramahnya kepada Jung Hee.
"Ahhh, iya, terimakasih." Jung Hee kembali berjalan. Kali ini ia dipandu oleh seorang perempuan. Di lantai 30, Jung Hee mendapat ruangannya. Di lantai itu, dia melihat seorang laki-laki. Laki-laki yang dikenalnya.
"Gil?" panggil Jung Hee. Pria itu menoleh, kemudian tersenyum.
"Jung Hee?" sahut pria itu yang bernama Gilbert. Mereka saling menghampiri satu sama lain kemudian berpelukan singkat.
"Gil, kau bertambah kurus. Apa karena aku tidak ada disini? Kau tidak makan teratur?"
"Kau ini bicara apa? Kau kira aku anak kecil?!"
"Astaga, adikku yang manis."
"Jangan panggil aku begitu! Kau menghancurkan imejku." Jung Hee tertawa geli mendengar protes dari Gilbert.
"Oh ya, kau kembali kesini? Kau akan bekerja disini?" tanya Gil.
"Iya."
"Itu berarti, kau kembali pada Seung Ho?"
"Ahhhh,.. Kalau itu, sepertinya tidak."
"Kenapa?"
"Emmmm,.. Entah. Ya sudah, aku akan ke ruanganku."
Jung Hee kembali melanjutkan langkahnya. Tak begitu lama, ia telah memasuki ruangannya.
"Seperti inilah penampilan ruangannya. Kalau Anda ingin mengubahnya, beritau saja pada kami. Akan kami ubah sesuai dengan yang Anda inginkan." ucap wanita itu.
"Tidak, tidak perlu. Aku menyukai ruangan ini. Terimakasih."
"Kalau begitu, saya permisi. Silakan melihat-lihat ruangan ini."
"Baiklah," perempuan itu keluar. Jung Hee melihat-lihat ke seluruh ruangan. Ruangan ini sama seperti ruangan kerjanya yang dulu. Bisa dibilang ini adalah ruangan Jung Hee di Helsinki yang dipindah kesini.
"Seung Ho-ya, apa kau benar-benar melakukan ini untukku? Kau masih ingat apa yang kusuka dan kau masih ingat bagaimana ruanganku." ucap Jung Hee pada dirinya sendiri. Mendadak ekspresi wajahnya berubah ketika ada sesuatu yang terlintas di pikirannya.
"Tunggu, apa mungkin dia membiarkan ruanganku tetap utuh tanpa dipakai oleh siapapun? Atau mungkin, dia menyimpan foto ruanganku? Jika itu benar, apa dia benar-benar sudah membuang semua barang yang berhubungan denganku?" Jung Hee membuang nafasnya, "Hanya satu cara aku bisa mengetahuinya. Aku harus masuk ke rumahnya dan melihat kamarku sendiri."
Setelah puas melihat ruangannya, Jung Hee berniat untuk pergi ke alamat yang menjadi tempat tinggalnya.
"Jung Hee!" panggil Gil dari belakang, "Mau kemana?"
"Aku mau ke alamat ini." Jung Hee menunjukkan kertas alamat pada Gil.
"Rumah siapa ini?"
"Itu adalah tempat tinggalku."
"Oh, biar kuantar!"
"Kau serius?"
"Apa aku terlihat bercanda?"
"Waahhhh, kau adikku yang paling manis!"
"Sudah kubilang jangan katakan itu! Kau benar-benar mau merusak imejku?"
"Ahaha, maaf. Andai saja adikku Min Hee belum punya tunangan, sudah pasti akan kujodohkan denganmu."
"Berhentilah bicara omong kosong! Ayo pergi!" Gil menarik koper Jung Hee dan membawanya ke dalam mobil.
"Kau hanya membawa koperku?" protes Jung Hee.
"Lalu apa? Apa aku harus membawamu juga? Kau bisa berjalan sendiri dan masuk ke mobil, kan? Tapi koper ini? Dia tidak bisa berjalan sendiri. Jadi jangan protes dan masuk saja!"
"Ishh!! Aku menarik kata-kataku soal kau adikku yang manis!"
"Baguslah!"
"Kau adik yang menyebalkan!"
Gil hanya menjulurkan lidahnya. Jung Hee pun masuk ke dalam mobil Gil dan mereka mulai pergi ke alamat rumah Jung Hee.
"Gil, aku ingin bertanya padamu." ucap Jung Hee memecah keheningan.
"Apa?"
"Apa Seung Ho punya pegawai spesial?"
"Pegawai spesial? Pegawai spesial apa?"
"Misalnya pegawai yang dekat dengannya dan diberi tempat tinggal olehnya."
"Apa kau bercanda? Di kantornya, hanya aku yang paling dekat dengannya dan dia tidak memberikan tempat tinggal kepada siapapun."
"Kau serius?"
"Sangat serius. Lagipula kenapa dia harus memberikan tempat tinggal untuk pegawainya? Menghabiskan uang saja. Dia sudah memberikan gaji di atas rata-rata, jadi dia tidak perlu memberikan tempat tinggal karena hanya dengan mengumpulkan gaji yang ia beri, semua karyawan bisa menyewa bahkan membeli rumah dalam waktu tiga tahun."
"Ohhh,.. Jadi begitu."
"Kenapa? Apa dia memberimu rumah?"
"Apa?! Emmm,.. Tidak."
Beberapa menit kemudian, mereka telah sampai di tempat tinggal Jung Hee yang baru. Di dalam rumah itu, telah ada Seung Ho yang menunggunya. Ia melihat keluar melalui jendela. Ia juga melihat Jung Hee datang dengan Gilbert. Seung Ho pun mengambil ponselnya dan mengirim SMS pada Jung Hee.
"Masuk ke rumah sekarang dan minta Gilbert pulang." isi SMS dari Seung Ho.
"Memangnya kenapa?"
"Jangan banyak tanya!"
Jung Hee tak membalas lagi.
"Gil, lebih baik kau pulang sekarang."
"Kenapa? Aku ingin melihat tempat tinggalmu."
"Lain kali saja. Aku baru dari Paris dan belum beristirahat. Jadi, aku ingin beristirahat."
"Baiklah. Sampai jumpa di kantor, Kakak." Gilbert pun masuk ke mobilnya dan pergi meninggalkan Jung Hee.
"Dia memanggilku kakak? Ouhhhh.. Dia anak yang manis.." ucap Jung Hee memandang mobil Gil yang makin menjauh.
"Anak manis, kau bilang?!" ucap Seung Ho yang mengagetkan Jung Hee.
"Aish! Sejak kapan kau berdiri disini?!"
"Sampai kapan kau akan berdiri disini?!"
"Yak sekkia ishh!! (Sialan kau!)" Jung Hee menarik kopernya memasuki rumah diikuti oleh Seung Ho. Rumah yang kecil jika dibandingkan dengan rumah Seung Ho yang ada di Helsinki. Namun, rumah ini tampak begitu indah dan elegan. Ornamen yang ada di dalamnya pun membuat rumah ini terlihat semakin indah.
"Ini rumahmu?" tanya Jung Hee.
"Ya."
"Kenapa warnanya biru? Itu warna kesukaanku kan?"
"Hah! Kau pikir hanya kau yang suka warna biru? Warna ini direkomendasikan oleh seorang designer interior. Dia bilang warna ini bagus untuk rumah seperti ini."
"Ohh, begitu."
"Itu kamarmu!" Seung Ho menunjuk sebuah pintu berwarna putih dengan gambar bunga titis merah. Jung Hee pun langsung masuk ke kamar itu. Ia meletakkan kopernya dan berbaring di atas ranjang. Tempat tidur yang nyaman. Jung Hee menyukainya.
"Jung Hee-ya!" panggil Seung Ho dari balik pintu.
"Ya?" sahut Jung Hee yang kemudian membuka pintu.
"Ayo kita makan!"
"Ne? (Apa?)"
"Andeuryeo? (Kau tidak dengar?) kau hanya makan siang di pesawat kan? Ayo kita makan sebelum aku mati kelaparan!" Seung Ho langsung menarik tangan Jung Hee dan mendudukkannya di meja makan. Di atas meja telah tersaji makanan Korea. Jung Hee berpikir darimana makanan Korea ini berasal. Apa ada restoran Korea di sekitar sini?
"Kau penasaran darimana makanan ini berasal?" tanya Seung Ho tiba-tiba membuat Jung Hee terkejut.
"Ne? (Apa?)"
"Seratus meter ke kiri dari rumah ini ada restoran Korea. Aku yang membukanya."
"Apa? Kau yang membukanya? Kau membuka restoran?"
"Hidup disini, terkadang aku merindukan makanan Korea. Jadi, aku membuka restoran Korea empat tahun lalu. Aku merekrut beberapa orang Korea untuk menjalankan bisnis itu."
"Oh, begitu."
"Aku membuka restoran karena tidak ada kau di sampingku, Kim Jung Hee. Tidak ada yang membuatkan aku mie dingin dan kimchi. Aku merindukan masakanmu."  ucap Seung Ho dalam hati. Mereka pun mulai memakan makanan mereka.
Setelah selesai makan, Jung Hee masuk ke kamarnya, mandi kemudian berganti pakaian. Ia pun keluar kamar untuk menonton TV. Namun ia terkejut saat melihat Seung Ho ada disana lebih dulu.
"Seung Ho-ya, kau masih disini?" tanya Jung Hee.
"Memangnya kenapa?"
"Tidak, tidak apa-apa."
"Mungkin ini tempat tinggalmu, tapi kau jangan lupa kalau ini tetap rumahku! Mengerti?!"
"Ne, algesseubnida. (Ya, aku mengerti.)" Jung Hee mengurungkan niatnya dan kembali ke kamarnya.
Keesokan paginya, Jung Hee bangun lebih awal. Ia melihat mobil Seung Ho masih di luar. Ia yakin kalau Seung Ho masih di rumah. Ia pun mencari Seung Ho dan menemukannya di kamar yang ada di samping kamarnya. Seung Ho sedang tertidur pulas di bawah selimut tebalnya. Jung Hee pun meninggalkannya. Ia pergi menyusuri jalan untuk menemukan supermarket atau pasar. Tiga ratus meter berjalan, ia menemukan super market. Untunglah supermarket itu buka 24 jam. Jung Hee masuk ke sana dan membeli beberapa bahan makanan. Ia kembali pulang dan memasak bahan makanan yang telah ia beli.
Pukul 6.30 makanan telah siap. Seung Ho keluar dari kamarnya dan hendak menuju ruang tamu.
"Kau mau kemana?" tanya Jung Hee yang melihat Seung Ho berjalan memunggunginya.
"Aku mau pulang."
"Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu, jadi, makanlah dulu sebelum kau pulang." Seung Ho berbalik dan duduk di depan makanan yang disiapkan oleh Jung Hee.
"Kapan kau membuatnya?" tanya Seung Ho.
"Tadi pagi. Makanlah dulu." Jung Hee melangkahkan kakinya menjauh dari meja makan.
"Kau mau kemana?" tanya Seung Ho.
"Aku mau makan di tempat lain."
"Kau tidak makan disini?"
"Tidak perlu." Jung Hee melangkahkan kaki ke dapur untuk sarapan disana.
Pukul 7.30, Jung Hee bersiap untuk berangkat ke kantornya. Ia keluar dari kamarnya dan melewati Seung Ho yang duduk membaca buku di ruang tamu.
"Kau mau kemana?" tanya Seung Ho.
"Ke kantor, kemana lagi?"
"Ohh, kau pasti sudah melihat ruanganmu. Kau suka?"
"Neomu joha, gomawo. (Sangat suka, terimakasih.)" Jung Hee menyunggingkan senyumnya kemudian keluar dari rumah. Ia memanggil taksi dan langsung ke kantor barunya untuk bekerja.
---
Beberapa minggu kemudian, Seung Ho mengadakan pesta di rumahnya, sebuah pesta untuk para pemegang saham dan teman-temannya. Banyak teman yang diundang ke pesta itu, tapi tidak dengan Jung Hee. Entah kenapa Seung Ho tidak mengundangnya. Boleh jadi ia takut kalau Jung Hee datang, Jung Hee akan masuk ke kamarnya dan mengetahui isi kamarnya yang sekarang. Cukup banyak orang yang datang ke pesta itu, termasuk Peter.
"Kakak! Buka pintunya!" teriak Gil di depan rumah Jung Hee. Jung Hee yang sedang membuat design pun membuka pintu.
"Ada apa?" tanya Jung Hee.
"Ada apa? Ada apa, kau bilang? Apa kau tidak mau pergi ke pesta itu?"
"Untuk apa? Dia tidak mengundangku."
"Kau pasti bercanda."
"Aku serius, Gil."
"Dia pasti sudah gila. Ya sudah, kau datang ke pesta bersamaku!"
"Apa?! Kenapa?"
"Sebenarnya aku mau mengajak pacarku, tapi hari ini dia memutuskan hubungannya denganku. Aku tidak mau datang ke pesta sendiri, jadi kau harus datang bersamaku." Jung Hee hanya memandangi Gil tak mengerti.
"Ahh, jangan memandangiku seperti itu! Cepat masuk dan berdandanlah!" Gil mendorong Jung Hee untuk masuk ke dalam.
"Iya, iya, iya!" Jung Hee pun masuk ke kamarnya. Berganti pakaian dan mulai berdandan.
"Baiklah, Kim Jung Hee," ucapnya pada dirinya sendiri saat memandangi dirinya di pantulan cermin, "Ini kesempatan bagus untukmu. Kau bisa masuk ke kamarmu dan melihat ada apa di dalam sana. Terimakasih untuk perempuan yang memutuskan hubungan denganmu, Gil. Karena dia, aku bisa masuk ke rumah itu." Jung Hee telah siap dan keluar kamar.
"Wahhh, kakakku sangat cantik." puji Gil.
"Daritadi kau memanggilku kakak, apa itu tidak merusak imejmu?" tanya Jung Hee membuat Gil salah tingkah.
"Emmm,.. Itu,.. Emm,.. Ah sudahlah, ayo kita pergi!" Gil dan Jung Hee pun pergi ke pesta itu.
Sesampainya Gil dan Jung Hee di pesta, membuat Seung Ho sangat terkejut. Bagaimana Jung Hee bisa datang sedangkan Seung Ho tidak mengundangnya?
"Gil, kau datang?" tanya Seung Ho basa-basi.
"Tentu. Kau mengundangku, kan? Tapi kenapa kau tidak mengundang Jung Hee?"
"Ahhh,.. Aku ingin mengundangnya, tapi aku lupa memberikan undangannya."
"Oh ya?" ucap Jung Hee membuat Srung Ho salah tingkah.
"Ehhh,.. Ya.. Emm, kalau begitu, silakan menikmati pestanya." ucap Seung Ho yang berlalu dari hadapan Gil dan Jung Hee. Dari arah yang dituju, Jung Hee tau kalau Seung Ho berjalan ke arah kamar lamanya yang ada di atas. Namun, sebelum ia menaiki tangga, seseorang telah merangkulnya dan membawanya berbaur dengan yang lain.
"Gil, aku mau ke toilet sebentar." ucap Jung Hee.
"Baiklah," Jung Hee tak menyia-nyiakan kesempatan. Ia langsung pergi ke kamarnya. Namun sial, saat akan membuka pintu, pintunya terkunci.
"Ah, sial! Kenapa pintunya terkunci?!" ucap Jung Hee kesal. Ia berpikir sejenak kemudian kembali melangkah. Kali ini ia pergi ke sebuah ruangan. Di ruangan itu terdapat beberapa lemari yang menyimpan banyak benda. Bisa dibilang, itu adalah ruang penyimpanan.
-
Sedangkan Seung Ho, ia mengedarkan pandangannya untuk mencari Jung Hee, namun nihil. Ia tak melihat Jung Hee dimanapun. Hanya Gil yang ia temukan.
"Gil, dimana Jung Hee?" tanya Seung Ho.
"Tadi dia bilang kalau dia mau ke toilet. Tapi, sampai sekarang dia belum kembali." Mendengar jawaban Gil, Seung Ho langsung menuju toilet. Ia mencari ke seluruh toilet yang ada di rumahnya, namun lagi-lagi nihil.
-
Karena Jung Hee telah sepuluh tahun tinggal di rumah itu, ia tau dimana letak semua barang termasuk kunci kamarnya. Ia mencari di sebuah laci putih dan ketemu. Ia mengambil kunci itu dan kembali ke kamarnya. Setelah berhasil membuka kamarnya, ia masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu dari dalam. Ia sangat terkejut saat melihat kamarnya. Kamar itu dipenuhi oleh fotonya dengan berbagai ukuran. Dia berjalan ke sebuah sofa yang menghadap sebuah foto yang sangat besar. Tak berhenti disitu, ia juga membuka seluruh lemari dan laci yang ada. Ia makin terkejut saat mengetahui semua barangnya masih ada di tempatnya. Tanpa ia sadari, mata cantiknya mengeluarkan setetes air mata. Ia tak menyangka kalau Seung Ho masih menyimpan semua barang-barangnya. Setelah puas melihat kamarnya, Jung Hee memutar kunci kamar dan membuka pintu. Betapa terkejutnya ia saat melihat Seung Ho ada di depan pintu kamarnya.
"Eoh? Seung Ho-ya?" ucap Jung Hee terkejut.
"Mwohaneun geoya? (Apa yang kau lakukan?)"
"Emm,.. Aku.."
"Naga! (Keluar!)"
"Ne? (Apa?)"
"Nagarago!! (Kubilang pergi!!)" teriak Seung Ho hingga sampai ke ruang pesta.
"Seung Ho-ya?"
"Andeuryo? Nagarago!! (Kau tidak dengar? Kubilang keluar!!)"
Jung Hee melangkahkan kakinya dengan cepat meninggalkan Seung Ho. Ia menuruni tangga dan berlari melewati semua tamu dengan menahan tangisnya.
"Kakak?! Kau mau kemana?!" teriak Gil yang tak dihiraukan oleh Jung Hee. Seung Ho pun turun dan menghampiri Gil.
"Harry, apa yang terjadi? Kenapa dia menangis?" tanya Gil.
"Kau juga keluar!" ucap Seung Ho penuh penekanan.
"Apa?"
"Kau yang membawanya kesini padahal aku tidak mengundangnya. Sekarang, kau juga harus membawanya pulang! Pergi dari sini!"
"Harry?" Seung Ho meninggalkan Gil.
"Maaf, tadi ada sedikit masalah. Tapi masalah itu tidak akan mengganggu pesta ini. Silakan dilanjutkan."
Melihat Seung Ho seperti itu, Gil berlari keluar mengendarai mobilnya dan menyusul Jung Hee.
Gil menyusuri jalan sambil mencari Jung Hee, namun ia tak menemukannya. Ia pergi ke rumah Jung Hee, namun rumah itu masih sepi sama seperti saat ia meninggalkannya.
"Ah, sial! Kakak, kau dimana?" Gil mengambil ponsel di sakunya dan menelfon Jung Hee. Sialnya, ponsel milik Jung Hee tidak aktif. Gil pun pergi dari rumah itu. Tak berapa lama setelah Gil pergi, Jung Hee berjalan dengan gontai menuju rumahnya.
---
Keesokan paginya, saat Jung Hee pergi ke kantornya, beberapa karyawan ada yang membicarakan Jung Hee yang mengalami masalah dengan Seung Ho semalam. Mereka yang membicarakan Jung Hee adalah karyawan baru yang tidak tau menau soal hubungan Jung Hee dan Seung Ho. Banyak dari mereka yang mengatakan kalau Jung Hee memanfaatkan Seung Ho yang sudah berbuat baik padanya.
"Kakak!" panggil Gil, "Semalam kau dimana? Kenapa ponselmu juga tidak aktif?"
"Semalam ponselku mati."
"Kau benar-benar membuatku khawatir."
"Maaf. Aku harus bekerja sekarang."
"Semangat!" ucap Gil mengepalkan tangannya membuat Jung Hee tersenyum.
Di dalam ruangannya, Jung Hee tengah memikirkan sesuatu yang membuat designnya terbengkalai. Ia menelfon sebuah agen tiket penerbangan.
"Halo, fast airlane. Ada yang bisa dibantu?" ucap seorang wanita di ujung telfon dengan ramah.
"Halo, aku Jung Hee Kim. Aku ingin memesan tiket penerbangan kelas satu untuk ke Seoul hari ini."
"Maaf, untuk hari ini tiket sudah terjual, Nyonya."
"Kelas ekonomi juga tidak apa-apa."
"Maaf, Nyonya. Semua penerbangan ke Seoul untuk hari ini sudah habis."
"Astaga, lalu kapan ada penerbangan lagi?"
"Besok pagi pukul 8."
"Baiklah, aku pesan satu tiket kelas satu."
"Baik, Nyonya." Jung Hee menutup telfon itu dan melanjutkan beberapa pekerjaannya. Pukul 4 sore, ia pergi ke kantor pusat yang ada di Helsinki dengan membawa sebuah surat di tangannya. Lagi, saat ia memasuki kantor, banyak karyawan yang membicarakannya. Dari desas-desus yang terdengar, mereka bilang kalau Jung Hee yang sudah putus dari Seung Ho kembali menggoda Seung Ho namun Seung Ho menolaknya. Tentu, desas-desus itu tidak berlaku untuk karyawan yang sudah lama mengenal Jung Hee. Mereka tau bagaimana Seung Ho dan Jung Hee saling mencintai.
"Jassie!" panggil Jung Hee kepada seorang sekertaris di depan ruangan Seung Ho.
"Jung Hee? Ada apa kau kemari? Ada yang bisa kubantu? Kau baik-baik saja, kan?"
"Iya, aku baik-baik saja. Oh ya, dimana bosmu?"
"Presdir? Dia ada di dalam."
"Boleh aku bertemu dengannya?"
"Masuk saja,"
"Baik, terimakasih." Jung Hee mengetuk pintu ruangan dan ia masuk setelah Seung Ho mempersilakannya.
"Kau? Ada apa kau disini?" tanya Seung Ho.
"Aku akan mengundurkan diri dari kantormu dan akan kembali ke Korea besok. Tenang saja, aku sudah menyelesaikan pekerjaanku dan akan membayar penalty pada perusahaan. Ini surat pengunduranku." Jung Hee meletakkan sebuah surat di meja Seung Ho. Kemudian ia membungkuk 90° dan pergi tanpa mendengarkan perkataan Seung Ho. Namun sebelum ia benar-benar pergi, ia berbalik saat akan membuka pintu.
"Ada yang ingin kukatakan padamu," ucap Jung Hee, "Aku tidak tau bagaimana perasaanmu padaku sekarang. Tidak masalah kalau sekarang kau membenciku, bahkan sangat membenciku. Tapi kau perlu tau, dari dulu aku sangat mencintaimu. Aku minta maaf kalau dulu aku sempat menyukai sahabatmu. Tapi, saat kau menerimaku dan membawaku ke Finlandia, saat itulah aku mulai mencintaimu dan bertambah setiap harinya. Saat kau meninggalkanku empat tahun lalu, aku selalu mencoba untuk membencimu. Tapi aku tidak bisa. Semakin aku ingin membencimu, semakin besar pula aku mencintaimu. Tak masalah bagaimana perasaanmu padaku sekarang, aku akan tetap menunggumu kembali padaku sampai kau menemukan orang lain yang bisa membahagiakanmu, yang lebih baik dariku. Hiduplah dengan bahagia dan jangan lupa untuk bahagia." Jung Hee keluar dari ruangan Seung Ho dan kembali ke rumahnya. Sesampainya di rumah, ia mengemasi barang-barangnya.
---
Seung Ho terdiam di kamarnya. Sejak tadi sore, ia terus memikirkan perkataan Jung Hee. Ia tak tau apa yang harus ia lakukan. Haruskah ia kembali pada Jung Hee dan memulai semuanya dari awal atau ia memang harus melepaskan perasaannya untuk Jung Hee.
---
Keesokan harinya, Jung Hee pergi ke bandara dengan diantar oleh Gil.
"Apa kau harus pergi?" tanya Gil.
"Iya, Gil. Tetap berada disini membuatku tidak bisa tenang. Dia yang biasanya menyemangatiku saat aku punya masalah, sekarang malah punya masalah denganku. Aku tidak bisa disini jika dia masih membenciku."
"Lalu, bagaimana denganku? Tidak akan ada yang bisa kuajak pergi ke pertemuan."
"Hey! Apa kau tidak malu pergi dengan wanita yang lebih tua darimu?"
"Hey! Kau hanya 2 tahun lebih tua dariku! Tak masalah. Wajahmu bahkan lebih muda dari usiamu. Kumohon jangan pergi."
"Maafkan aku, Gil. Aku pergi sekarang." Jung Hee dan Gil berpelukan cukup lama, sekitar satu menit kemudian Jung Hee berjalan meninggalkan Gil untuk masuk ke dalam pesawat.
---
Sekitar pukul 00.00 malam, Jung Hee tiba di Incheon. Meski malam hari, Jung Soo tetap setia dan mau pergi ke bandara untuk menjemput Jung Hee meski Jung Hee melarangnya. Ia juga mengajak Hee Sun untuk menjemput sahabatnya itu.
Jung Hee keluar dari gate dan berjalan menemui Jung Soo yang membawa kertas bertuliskan *김정희 (Kim Jung Hee)*. Wajah Jung Soo terlihat sangat bahagia ketika melihat Jung Hee berjalan ke arahnya. Namun wajah itu berubah menjadi terkejut saat ia melihat Seung Ho berlari di belakang Jung Hee.
"Yak, Kim Jung Hee!!" teriak Seung Ho yang menghentikan langkah, membuat Jung Hee terkejut kemudian berbalik.
"Seung Ho-ya?"
"Baboya! Apa hanya Korea tempat pelarianmu?!" Seung Ho kembali melanjutkan langkah kakinya, "Apa kau tau, bagaimana susahnya aku mengikutimu kesini?!"
"Seung Ho-ya,..."
"Jangan bicara lagi!" seketika, Seung Ho langsung menarik Jung Hee ke dalam ciumannya. Sebuah ciuman yang sangat hangat di antara mereka.

*flashback*
Setelah cukup lama berfikir, Seung Ho mengambil ponselnya dan menelfon agen penerbangan. Beberapa agen, tidak bisa menyediakan tiket untuknya, hingga pada agen terakhir, ia bisa mendapatkan satu kursi kelas ekonomi milik seseorang yang membatalkan liburannya ke Korea. Ia yakin, meski berbeda kelas, ia berada dalam satu pesawat bersama Jung Hee. Ia ingin sekali masuk ke kelas satu, namun pramugari melarangnya masuk.
Saat turun dari pesawat pun, Seung Ho berlarian kesana kemari untuk menemukan Jung Hee, namun nihil, ia tak menemukannya. Ia terus mecarinya hingga ia keluar gate dan melihat seorang wanita yang membawa kopernya. Ia yakin kalau itu adalah Kim Jung Hee karena ia melihatnya berjalan ke arah Jung Soo.
---
Setelah cukup lama, Seung Ho melepaskan ciumannya. Ia menatap Jung Hee yang terlihat bingung.
"Seung Ho-ya, w-wa-wae? (Kenapa?)" tanya Jung Hee.
"Maafkan aku. Kumohon maafkan aku. Semua yang kukatakan padamu di bandara empat tahun lalu, itu semua bohong! Aku sama sekali tidak ada rasa penyesalan saat aku memberimu pilihan. Aku selalu mencintaimu, Kim Jung Hee, sejak 16 tahun lalu. Sejak pertama kita bertemu saat debat. Aku tidak tau sebanyak apa aku mencintaimu. Yang aku tau, aku hanya mencintaimu dan akan selalu mencintaimu. Sampai kapanpun."
"Seung Ho-ya?" ucap Jung Hee gemetar. Tanpa ia sadari, air matanya telah jatuh. Ia tak menyangka kalau Seung Ho akan mengatakan hal seperti itu. Melihat air mata Jung Hee keluar, tangan Seung Ho secara otomatis mengusapnya.
"Narang gyeorhonhae jullae? (Maukah kau menikah denganku?)" ucap Seung Ho tiba-tiba, membuat Jung Hee terkejut.
"Ne? (Apa?)" Seung Ho mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Sebuah kotak kristal kecil ia buka dan ia tunjukkan pada Jung Hee. Sebuah cincin bertahtakan berlian mengisi kotak itu. Seung Ho pun berlutut di depan Jung Hee. Karena hal itu, banyak orang yang menghentikan langkahnya untuk melihat kejadian itu.
"Olisi Tuletko vaimokseni? (Finnish : maukah kau menikah denganku?)" ucap Seung Ho melamar Jung Hee lagi. Jung Hee benar-benar tak tau apa yang harus ia lakukan. Perasaannya begitu senang sampai air matanya keluar lagi membasahi pipinya. Meski Seung Ho menggunakan bahasa Finlandia, tapi semua orang tau kalau Seung Ho melamar Jung Hee. Sorakan untuk menerima pun terdengar dari semua orang.
"Kylläpä vain. (Ya, aku mau.)"
Mendengar jawaban Jung Hee, Seung Ho langsug berdiri dan menyematkan cincin itu di jari Jung Hee dengan diiringi tepuk tangan oleh semua orang. Setelah cincin itu terpasang dengan sempurna, Jung Hee langsung memeluk Seung Ho dengan erat.
"Saranghae. Saranghae, Yoo Seung Ho. (Aku mencintaimu. Aku mencintaimu, Yoo Seung Ho.)" ucap Jung Hee. Seung Ho tersenyum dan mengusap rambut Jung Hee pelan, "Ara. (Aku tau) Tapi, bisakah kau melonggarkan pelukanmu? Aku,.. Tidak bisa bernafas."
"Ah, maaf." Jung Hee melepas pelukannya.
"Kenapa kau melepaskan pelukanmu? Aku hanya minta kau melonggarkannya.."
"Emmmm,.."
"Sudahlah,.. Oh, ya. Kau tau, Bandara ini sangat spesial untukku."
"Kenapa?"
"Bandara ini menjadi saksi bagaimana kita bersama, berpisah, dan sekarang kita bersama lagi. Mungkin bagimu, bandara ini menjadi tempat perpisahan untukmu. Berpisah dari Park Jung Soo empat belas tahun lalu, dan berpisah dariku empat tahun lalu. Tapi sekarang, akan kupastikan kalau bandara ini akan menjadi saksi kita bersama, selamanya."
"Gomawo, Seung Ho-ya."
"Yak yak yak!" ucap Jung Soo tiba-tiba di tengah Seung Ho dan Jung Hee, "Kalian pikir ini dimana? Di taman? Namsan? Cheongyechyeon? Ini di bandara. Lagipula ini sudah dinihari. Kalian tidak lihat kalau pacarku sudah mengantuk disana?" Jung Soo menunjuk Hee Sun yang berdiri dengan wajah kantuknya dan sedikit tersenyum sambil melambaikan tangan.
"Pacar?" tanya Jung Hee.
"Ya, aku dan Hee Sun sudah pacaran selama tiga minggu."
"Ohhh,.."
"Kenapa? Kau cemburu?" bisik Seung Ho pada Jung Hee.
"Yak, aku lebih cemburu saat Jane bilang kalau dia adalah pacarmu."
"Ahhh,.. Jadi waktu itu kau cemburu? Haha, baguslah."
"Yak, sek,.." *cup* sebuah kecupan dari Seung Ho mendarat di bibir Jung Hee membuatnya berhenti mengumpat.
"Aku merindukanmu, Kim Jung Hee." ucap Seung Ho lembut.
"Aku juga merindukanmu."
"Hentikan! Cepat kita pulang! Aku sudah mengantuk!" protes Jung Soo.
"Siapa suruh kau datang kesini?! Aku sudah melarangmu, kan? Tapi kau tetap datang."
"Itu karena aku sahabat yang baik. Kajja! (Ayo!)"
"Mian, Jung Soo-ya. (Maaf, Jung Soo-ya)" ucap Seung Ho, "Tapi sepertinya malam ini Jung Hee pulang bersamaku."
"Apa?! Kau kan tidak bawa mobil?!"
"Tapi banyak taksi di luar sana. Calon istriku, mau pulang bersamaku, kan?"
"Tentu."
"Jung Hee-ya, jangan seperti ini."
"Kau antarkan Hee Sun pulang saja. Kasihan dia. Jangan pedulikan aku."
"Baiklah. Jalga. (Hati-hati di jalan.)" Jung Soo memeluk singkat Seung Ho dan Jung Hee kemudian pergi bersama Hee Sun.
"Kajja! (Ayo!)" Seung Ho melangkah dengan tangan kanannya ia letakkan di bahu Jung Hee dan Jung Hee menyandarkan kepalanya di bahu kanan Seung Ho.

Terkadang, cinta tak harus ditunjukan dengan perkataan atau perbuatan yang romantis. Terkadang, cinta bisa bersembunyi di balik kebencian yang teramat besar. Sebenci apapun dia kepada seseorang, jika di dalam hatinya telah tertanam cinta, maka bukan hal yang mustahil jika suatu hari mereka akan bersatu.

1 komentar:

  1. Maaf ya bacanya loncat2, tapi Jung Hee nyebelin 😭🙏 alah pakanan Palembang tenan, dan please tulisannya biru rada susah bacanya. 😭🙏

    BalasHapus