Title : Many Years 2
Author : Elin Kurnia Ochtavia
Cast : Kim Jung Hee, Yoo Seung Ho, Park Jung Soo, and other.
Typo Bertebaran XD
@Sabtu, Dec 26. 06:45
Helsinki, Finlandia. Kamar yang rapi di pagi hari. Seorang
laki-laki bernama Yoo Seung Ho terlelap di bawah selimut putihnya. Ia masih
menjelajahi alam mimpinya. Mimpi indah yang membuatnya belum membuka mata meski
pintu kamarnya telah diketuk beberapa kali. Suara ketukan itu ternyata
mengganggu mimpinya dan membuatnya membuka mata.
"Siapa?!" tanya Seung Ho dengan mata tertutup dan
kesadaran yang 90% belum kembali. Pintu pun terbuka oleh seorang perempuan yang
manis di mata Seung Ho.
"Menurutmu siapa?!" ucapnya dengan nada tinggi.
Seung Ho membuka mata, duduk dan mengumpulkan 90% kesadarannya. Ia tersenyum
begitu melihat Jung Hee ada di depan matanya.
"Pacarku yang manis. Kemarilah!" Jung Hee
menurutinya dan duduk di tepi ranjang dengan tatapan marah terpancar dari
matanya.
"Wajahmu terlihat marah. Ada apa?" tanya Seung Ho
dengan polosnya.
"Ada apa?! Sudah seminggu ini kau bangun terlambat. Ada
apa denganmu?!"
"Kau marah karena itu?"
"Ya!"
"Kau mau aku bangun seperti biasanya?"
"Iya!"
"Kalau begitu jangan pernah masuk ke mimpiku lagi!"
"Apa?!"
"Selama seminggu ini, kau terus-terusan masuk ke dalam
mimpiku. Tidak biasanya kau seperti ini. Apa kau sangat merindukan aku? Ayolah,
kita bertemu setiap hari. Bahkan hampir 24 jam. Sebesar itu kah rasa rindumu
padaku?!"
"Aish! Kau gila! Sudahlah, pergi mandi lalu kita
sarapan. Aku sudah menyiapkannya."
"Baiklah.." Jung Hee keluar dari kamar itu dan
Seung Ho pun pergi mandi. Mereka sarapan bersama dan pergi bekerja. Jung Hee
adalah seorang penulis dan juga penyiar radio dan Seung Ho adalah produsernya
dalam menulis. Ia juga memiliki perusahaan di bidang fashion dengan Jung Hee
yang terkadang menjadi perancangnya. Hidup bersama selama hampir 10 tahun
membuat Jung Hee dan Seung Ho tidak bisa jauh satu sama lain. Dimanapun ada
Jung Hee, disitu pasti ada Seung Ho. Mereka seperti sepasang sepatu. Di dalam mobil, Jung Hee terlihat masih
marah.
"Kau masih marah?" tanya Seung Ho.
"Ani."
"Kau marah karena aku bangun terlambat atau karena aku
memintamu pergi dari mimpiku?"
"Entah!"
"Aigoo pacarku marah. Mianhae.."
"Sudahlah, jangan banyak bicara. Fokuslah
mengemudi."
"Araseo!" mereka sampai kantor tempat Jung Hee
mengerjakan tulisannya. Meskipun perusahaan ini milik Seung Ho, Jung Hee
melakukan pekerjaannya dengan baik.
"Sampai jumpa makan siang nanti, Sayang." ucap
Seung Ho dengan lembut.
"Baiklah." balas Jung Hee. Mereka pergi ke ruangan
mereka masing-masing. Pukul sebelas siang, Jung Hee pergi ke ruang editor untuk
membahas tulisannya. Namun ia melihat Seung Ho sedang bersama beberapa
perempuan duduk di sebuah ruangan. Jung Hee pun perlahan menghampirinya.
"Presdir Yoo, kau pasti bohong." ucap salah satu
perempuan yang ada disana.
"Aku tidak bohong. Aku ingin mencoba masakan kalian jika
kalian mau memasak untukku. Kalian tau, aku mulai bosan dengan masakan
pacarku." Jung Hee hanya tersenyum mendengar pernyataan Seung Ho. Salah satu
perempuan itu melihat Jung Hee. Jung Hee pun memberi isyarat agar mereka
melanjutkan pembicaraan mereka dengan Seung Ho.
"Kau hidup 10 tahun dengan Jung Hee, apa kau tidak
bosan?"
"Awalnya aku bahagia, tapi lama-lama rasa bosan itu
muncul. Tapi jika aku meninggalkannya, aku akan terus memikirkannya. Aku bisa
gila. Jadi aku tetap tinggal dengannya."
"Siapa yang lebih cantik? Kami atau Jung Hee?"
"Tentu kalian." Jung Hee meletakan kedua tangannya
di bahu Seung Ho kemudian membungkukkan badannya dan mendekatkan kepalanya di
samping kiri kepala Seung Ho.
"Benarkah?" ucapnya. Seung Ho hanya melirik Jung
Hee dan menggelengkan sedikit kepalanya ke kiri. Ia juga menggenggam tangan
kanan Jung Hee menggunakan tangan kirinya.
"Kalau begitu jangan melihatku lagi dan jangan pernah
makan masakanku." sambungnya. Ia kembali berdiri.
"Baiklah, silahkan kalian kembali bekerja dan
terimakasih telah menemani pacarku mengobrol." ucapnya kemudian. Beberapa
perempuan itu pun pergi dan Jung Hee duduk di samping kanan Seung Ho. Mereka
saling bertatapan. Jung Hee tersenyum dan menggenggam tangan kiri Seung Ho yang
menggenggam tangannya.
"Gwenchanha?" tanyanya.
"Hmm.."
"Pekerjaanmu pasti membuatmu stress hingga kau jadi
seperti ini."
"Aku tidak apa-apa." Jung Hee memeluk laki-laki yang
ada di depannya.
"Istirahatlah jika kau lelah. Jangan terlalu memaksakan
diri terlalu keras. Aku tidak mau kalau kau sakit."
"Aku tau. Kau jangan khawatir." Seung Ho melepas
pelukan perempuan yang dicintainya.
"Apa kau masih mencintaiku?"
"Aku masih sangat mencintaimu."
"Aku mencintaimu, Yoo Seung Ho."
"Aku tau." mereka saling tersenyum.
"Oh ya, aku harus ke ruang editor. Mau ikut?"
"Baiklah.."
"Kajja!" mereka pun pergi ke ruang editor bersama.
-
Jam bekerja telah selesai, Jung Hee dan Seung Ho kembali ke
rumah mereka. Mereka mulai tinggal bersama sejak sepuluh tahun lalu setelah
lulus SMA, ketika Jung Hee memutuskan untuk pergi melanjutkan kuliah bersama
Seung Ho ke Finlandia dan melupakan kenangan bersama orang yang pernah
dicintainya, Park Jung Soo.
"Apa kau lelah?" tanya Jung Hee saat melihat Seung
Ho duduk di sofa dan bersandar disana.
"Hmmm.."
"Istirahat dulu. Aku akan menyiapkan air hangat untukmu
mandi."
"Tidak perlu. Aku akan menyiapkan sendiri."
"Tapi, kau.."
"Aku baik-baik saja. Kau tak perlu khawatir. Lagipula,
aku harus menemanimu siaran kan?"
"Aku tidak akan siaran malam ini."
"Kenapa?"
"Kau terlihat kurang baik. Aku tidak mau pergi."
"Lalu kau akan mengurungku di rumah ini semalaman?"
"Kau harus istirahat."
"Aku tidak sakit, Sayang. Aku hanya agak stress. Jadi
aku perlu merefresh otakku. Jadi malam ini aku akan pergi."
"Baiklah, malam ini kita pergi."
@08:30 PM.
Pukul 8.30 malam Seung Ho dan Jung Hee pergi menuju salah
satu studio radio yang ada di Helsinki. Pukul 9 Jung Hee mulai on air dan
selesai pada pukul sepuluh. Setelah selesai, mereka pergi ke taman dan ke
tempat bermain. Mereka pergi kemanapun yang bisa membuat fikiran Seung Ho
menjadi segar lagi. Dan saat ini mereka sedang duduk di sebuah kursi yang ada
di tempat umum.
"Ayo kita kembali ke Korea." ucap Seung Ho
mengejutkan Jung Hee.
"Apa?! Untuk apa?! Semua keluarga kita sudah tidak ada
disana. Aku tidak mau."
"Kenapa?"
"Aku tidak mau kesana dan jangan tanya lagi!"
"Apa karena Park Jung Soo?"
"Yoo Seung Ho!"
"Kau belum melupakannya."
"Seung Ho-ya, berhentilah bicara."
"Kalau kau tidak mau kesana, tidak masalah. Aku akan
kesana sendiri."
"Apa?! Kau akan meninggalkan aku?!"
"Kau bilang kau tidak mau kesana kan?"
"Kau juga tidak boleh kesana."
"Kalau aku tidak kesana, bagaimana aku bisa tetap
menjalankan bisnisku?"
"Maksudmu?"
"Aku kesana untuk bertemu client. Aku akan berinvestasi
di salah satu perusahaan."
"Kenapa bukan clientmu saja yang kesini? Mereka yang
membutuhkanmu kan?"
"Jika mereka yang datang, aku tidak tau bagaimana
keadaan perusahaan mereka yang sebenarnya."
"Kapan kau akan pergi?"
"Lusa."
"Apa?! Lusa? Kau akan pergi lusa dan baru memberitauku
sekarang?!"
"Sebenarnya aku tidak ingin memberitaumu. Tapi aku tau
kau akan mencariku jika aku pergi tanpa memberitaumu."
"Kau tidak mau memberitau aku? Yak, Yoo Seung Ho!
Kau?!!" Jung Hee terlihat marah. Sangat marah. Tapi Seung Ho hanya tertawa
melihatnya.
"Kau tertawa?! Apa yang kau tertawakan?!"
"Terimakasih, Kim Jung Hee."
"Apa?"
"Karena kau, aku merasa lebih baik. Aku suka melihat
wajahmu saat marah. Kau sangat menggemaskan."
"Itu berarti kau tidak akan pergi ke Korea kan? Kau
hanya bercanda kan?"
"Tidak. Aku tidak bercanda. Aku akan tetap pergi
kesana."
"Seung Ho-ya.. Jangan pergi."
"Maafkan aku. Aku akan segera menyelesaikannya dan
kembali ke pelukanmu."
"Kau akan tetap pergi meski aku melarangmu?"
"Iya, karena ini adalah urusan bisnis untuk masa depan
kita."
"Baik, pergilah! Aku tidak akan melarangmu."
"Kau serius?"
"Iya. Tapi kau harus cepat kembali. Jika kau terlalu
lama ada disana, aku akan pergi dari rumah."
"Aku mengerti." mereka pun pulang bersama.
-
@Senin, Dec 28. 07:00 AM.
Pagi ini, Seung Ho akan melakukan perjalanan bisnis ke Korea
dan Jung Hee mengantarnya ke bandara.
"Jaga dirimu baik-baik. Cepat selesaikan pekerjaanmu dan
kembalilah padaku. Kau tau aku tidak suka menunggu."
"Baik, aku mengerti. Aku akan terus menghubungimu."
"Hmm."
"Aku pergi." Seung Ho mengecup kening Jung Hee
kemudian melangkahkan kakinya menjauhi Jung Hee.
"Aku pasti akan sangat merindukan senyuman dan tatapan
itu. Cepatlah kembali, Yoo Seung Ho.." ucap Jung Hee sambil menatap Seung
Ho yang menjauh darinya. Setelah Seung Ho menghilang dari pandangannya, ia pun
melangkahkan kakinya untuk pulang dan memasuki rumahnya dengan wajah yang
malas. Lalu ia memutuskan untuk pergi ke kantor. Sesampainya disana, Jung Hee
melihat ada seorang wanita membuat keributan di loby kantor. Ia mendekat
kesana.
"Ada apa ini?" tanya Jung Hee.
"Kau! Kim Jung Hee! Kau tidak bisa melakukan ini!"
ucap wanita itu yang ternyata adalah orang Korea.
"Apa maksudmu?!"
"Kau penulis dan perancang busana yang hebat. Tapi kau
licik! Bagaimana bisa kau akan menyelenggarakan fashion show di hotel itu?!
Selama setahun aku selalu berusaha agar aku bisa mengadakan fashion show
disana. Dan saat aku berhasil, kau malah merebut tempat itu dariku!"
"Lalu kau menyalahkan aku?! Kalau kau mau, kau ambil
kembali tempat itu. Aku tidak tau apa yang kau lakukan untuk berada disana. Aku
juga tidak pernah memikirkan dimana fashion show itu akan diadakan. Sponsor dan
pemilik brand yang mengatur semuanya. Kalau kau sangat menginginkannya, ambil
saja! Aku tidak peduli. Karena dimanapun fashion show ku diadakan, pasti akan
sukses." *plak!!* wanita itu menampar Jung Hee dengan keras membuat semua
pegawai yang ada disana terkejut.
"Kau menamparku?!"
"Kau memang pantas mendapatkannya!"
"Dengar! Aku tidak tau siapa kau! Aku tidak mengenalmu!
Tapi kau tiba-tiba datang dan marah padaku. Meskipun begitu, aku terkesan
dengan usahamu. Sejenak, aku berpikir akan memberikan tempat itu untukmu. Aku
bahkan ingin menjadi sponsormu. Tapi karena tindakanmu barusan, aku berubah
pikiran. Aku tidak akan memberikan tempat itu untukmu. Bahkan aku akan
memastikan kau tidak akan pernah mengadakan fashion show disana." wanita
itu hendak menampar Jung Hee lagi tapi Jung Hee menahannya.
"Tak kan ku biarkan tanganmu menyentuhku lagi!"
"Kau akan membayar semua ini! Aku bersumpah semua
karyamu tidak akan diterima dimanapun!
Kau tidak akan bahagia!"
"Kau sudah selesai? Jika sudah, pergi dari sini! Aku
punya banyak pekerjaan!" Jung Hee berbalik.
"Suruh dia pergi." lanjutnya berbicara pada seorang
resepsionis.
"Baik." Jung Hee pun berjalan menuju ruangannya dan
wanita itu pun pergi setelah resepsionis menyuruhnya. Jung Hee duduk di
kursinya. Memikirkan apa yang baru saja terjadi. Tiba-tiba ponselnya berbunyi
karena ada panggilan masuk. Panggilan dari penanggung jawab fashion shownya. Ia
mengangkatnya.
"Halo?" ucap Jung Hee.
"Halo, Jung Hee. Persiapan 90% sudah selesai. Kau bisa
datang untuk mengeceknya."
"Baik. Aku akan kesana setelah makan siang. Saat ini aku
punya banyak pekerjaan yang harus ku selesaikan."
"Baik. Sambil menunggu kau datang, kami akan
menyelesaikannya."
"Terimakasih." panggilan terputus. Setelah Seung Ho
yang stress karena pekerjaannya, kini giliran Jung Hee yang stress karena
pekerjaannya pula. Ucapan wanita itu terus terngiang di kepalanya. Ia tidak
bisa fokus pada pekerjaannya sekarang. Ia memandangi ponselnya, berniat untuk
memberitau Seung Ho tentang apa yang baru saja terjadi. Tapi ia megurungkan
niat itu karena ia tak mau Seung Ho memikirkannya dan malah mengacaukan
pekerjaan yang sedang Seung Ho lakukan.
Lagipula Seung Ho pasti belum tiba di Seoul. Ia tak mau mengganggunya. Saat makan
siang tiba, ia makan siang sendirian tak seperti biasanya yang selalu ditemani
oleh Seung Ho.
@02:00 PM
Setelah makan siang selesai, ia pergi ke hotel tempat ia akan
mengadakan fashion show. Saat sedang memeriksa semua kelengkapan, ia melihat
wanita yang telah menamparnya tadi sedang bicara dengan manager hotel. Dari apa
yang dilihatnya, ia yakin kalau wanita itu mengajukan proposal untuk mengadakan
fashion show di hotel ini namun pihak hotel menolaknya. Manager hotel pun
meninggalkannya dan menghampiri Jung Hee. Wanita itu pun menatap Jung Hee
dengan tajam.
"Hi, Miss Jung Hee!" sapa manager itu.
"Hi, Mr. Wilson. Siapa wanita itu?"
"Dia? Dia adalah Rachel Kwon. Dia bilang dia adalah
perancang busana. Sudah berkali-kali dia mengajukan proposal untuk fashion show
disini dan sudah berkali-kali pula kami menolaknya."
"Kenapa?"
"Entahlah. Aku hanya menjalankan tugasku. Oh ya, apa
yang terjadi dengan pipimu? Kau sedikit memar."
"Benarkah? Aku mendapatkan ini dari wanita itu."
"Maksudmu?"
"Tadi pagi dia datang ke kantorku dan marah-marah
padaku. Dia bilang aku licik karena mengambil posisinya disini. Dia bahkan
menampar dan menyumpahi aku."
"Tadi kau bilang apa? Posisi? Posisi apa?"
"Entahlah. Dia bilang selama setahun dia berusaha untuk
mendapat tempat disini, dan saat ia berhasil, aku malah merebut tempat itu
darinya.
"Hahaha ayolah.. Dia belum mendapatkan tempat apapun disini. Kau jangan dengarkan
ucapannya. Aku rasa dia mulai gila."
"Apa dia tidak mengadakan fashion show di tempat
lain?"
"Entah. Kami merekomendasikan beberapa tempat bagus
untuk fashion shownya. Tapi dia menolak dan tetap ingin tempat ini karena
menurutnya, ini adalah hotel dan tempat terbaik dimana banyak orang akan
menghabiskan banyak uang disini. Mungkin itu pula yang menjadi alasannya."
"Jadi dia melakukannya karena uang?"
"Bisa dibilang begitu. Oh ya, dimana Seung Ho Yoo?"
"Dia sedang melakukan perjalanan bisnis ke Korea. Tadi
pagi dia baru berangkat."
"Kau tidak ikut?"
"Jika aku ikut, bagaimana dengan acara ini? Lagi pula
aku tidak ingin kesana."
"Apa kau tidak merindukannya?"
"Aku pasti sangat merindukannya. Mungkin aku akan
menyusulnya jika dia terlalu lama."
"Memang seharusnya begitu."
"Ya sudah, aku akan mengecek semuanya." Jung Hee
kembali memeriksa kelengkapan acaranya.
@07:00 PM.
Malam ini Jung Hee tidak siaran karena jadwal siarannya hanya
di hari Sabtu dan Rabu. Ia baru saja mandi dan sekarang sedang mengeringkan
rambutnya. Ia memikirkan pacarnya. Apakah dia sudah sampai? Apa dia sudah
makan? Dimana dia akan tidur? Jika di Finlandia saat ini pukul tujuh malam, di
Korea pasti sudah pukul satu dinihari.
"Seung Ho-ya, apa yang kau lakukan sekarang? Aku
merindukanmu." ucap Jung Hee yang saat ini memainkan ponselnya sambil
duduk di ranjangnya. Ia ingin sekali menelfon Seung Ho, tapi ia takut kalau ia
akan mengganggu. Setengah jam ia memainkan ponselnya dan tiba-tiba berdering.
Panggilan dari Yoo Seung Ho.
"Yoboseyo?"
"Jung Hee-ya, ini aku."
"Aku tau. Dua belas jam aku menunggu kabar darimu dan
kau baru menelfonku?"
"Maaf. Aku baru saja masuk ke kamarku."
"Kau tinggal dimana?"
"Aku tinggal di hotel. Siang nanti aku akan membayar
orang untuk membersihkan rumahku. Lalu aku akan tinggal disana."
"Baguslah."
"Bagaimana persiapan fashion show mu?"
"Sudah selesai. Ku harap besok acaranya akan sukses."
"Maaf aku tidak bisa menemanimu."
"Tidak apa-apa. Aku hanya mau kau cepat pulang."
"Baik, akan ku usahakan."
"Ya sudah, kau istirahat dulu. Besok pagi saat aku
bangun, aku akan menghubungimu."
"Aku akan menunggu. Selamat malam, Jung Hee-ya.."
"Selamat malam, Seung Ho-ya." telfon terputus.
@Selasa, Dec 29. 07:00
AM.
Di pagi hari, Jung Hee melakukan aktivitasnya seperti biasa.
Namun kali ini berbeda karena tidak ada Seung Ho. Seperti yang ia katakan
semalam, pagi ini dia akan menghubungi Seung Ho.
"Yoboseyo, Seung Ho-ya!"
"Jung Hee-ya, aku sedang menunggumu."
"Apa aku terlalu lama? Maaf. Aku baru selesai sarapan.
Apa kau sudah sarapan? Maksudku, kau sudah makan siang?"
"Aku baru selesai makan siang."
"Bagaimana pekerjaanmu?"
"Aku belum memulainya karena hari ini aku mengurus
rumahku. Besok aku baru bertemu clientku."
"Aku merindukanmu."
"Aku tau. Kau tidak bisa hidup tanpa aku."
"Hish! Cepatlah pulang.."
"Aku akan segera pulang."
"Ya sudah, aku harus pergi. Aku harus memastikan fashion
show ku telah siap dilaksanakan."
"Baiklah, semoga sukses!"
"Kau juga. Sampai jumpa."
"Sampai Jumpa." telfon terputus. Jung Hee bergegas
menuju hotel untuk memeriksa persiapan fashion shownya. Pukul dua siang,
fashion show pun dimulai. Beberapa baju rancangan Jung Hee diperagakan oleh
beberapa model profesional. Setelah semua baju diperagakan, Jung Hee muncul
dari belakang bersama semua modelnya. Seorang teman memberinya karangan bunga.
Diantara suara tepukan tangan yang meriah, mata Jung Hee menangkap seseorang yang
menatapnya dengan tajam, Rachel. Tapi Jung Hee tidak mempedulikannya. Setelah
fahion show, semua baju karya Jung Hee di pamerkan di lokasi yang sama. Pukul
10 malam, acara selesai. Jung Hee kembali ke rumahnya setelah semuanya beres.
@Rabu, Dec 30. 01:00 AM
Pukul satu dinihari dia tiba di kamarnya. Melepas sepatunya
dan duduk di atas ranjang. Ia memandangi jam dinding putih yang ada di
dindingnya. Ia berpikir jika disini pukul satu, maka di Korea sekitar pukul 7
pagi. Jung Hee mengambil ponselnya untuk menelfon Seung Ho.
"Selamat pagi, Seung Ho-ya."
"Selamat pagi, Sayang."
"Kau sudah sarapan?"
"Aku baru mau sarapan. Oh ya, bukankah saat ini disana
sekitar pukul satu malam?"
"Iya, kau benar."
"Kenapa kau menelfonku? Kenapa kau tidak tidur?"
"Aku baru pulang. Aku lihat masih pukul satu, jadi aku
putuskan untuk menelfonmu karena aku tau disana pasti sudah pagi."
"Bagaimana harimu? Bagaimana fashion shownya? Apakah
sukses?"
"Seperti biasanya. Selalu sukses."
"Apa terjadi sesuatu saat aku tidak disana?"
"Emmm.."
"Apa terjadi sesuatu?"
"Ya. Ada sedikit masalah."
"Masalah apa? Katakan padaku!"
"Aku tidak mau! Aku akan mengatakannya setelah kita
bertemu."
"Apa?! Ayolah, katakan! Aku akan menyelesaikannya."
"Menyelesaikannya? Menyelesaikan masalahmu denganku saja
tidak bisa, kau mau menyelesaikan masalahku dengan orang lain! Yang benar
saja?!"
"Masalahku denganmu? Apa? Soal kepergianku ini? Kim Jung
Hee, jangan bahas ini lagi. Aku..."
"Araseo! Aku tidak akan membahasnya lagi. Aku
mengantuk."
"Baiklah, tidurlah dengan nyenyak."
"Hmm."
"Aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu." telfon pun terputus. Jung
Hee merebahkan diri di ranjangnya untuk tidur.
@Seoul. Di sebuah restoran
@ Rabu, Dec 30. 07:00.
AM
Seung Ho tersenyum setelah mendapat telfon dari Jung Hee. Saat
ini dia benar-benar merindukannya. Jung Hee adalah perempuan yang keras kepala.
Ia bisa melakukan apapun untuk hal yang diinginkannya. Dalam keadaan seperti
ini Seung Ho berharap jika Jung Hee akan datang ke Seoul demi dirinya. Ia
terdiam. Memikirkan tentang harapannya itu. Dalam kepalanya, ia berfikir untuh
bertaruh. Bertaruh dengan dirinya sendiri. Bertaruh untuk mengetahui seberapa
besar cinta Jung Hee padanya atau benarkah selama ini Jung Hee mencintainya
atau selama ini kalimat cinta yang keluar dari mulut Jung Hee hanya kebohongan
demi membahagiakan dirinya yang selalu ada di samping Jung Hee kapanpun itu.
"Aku akan bertaruh, jika dia datang ke Seoul untuk
menyusulku sebelum aku kembali ke Finlandia, atau minimal dia sudah memiliki
tiket ke Seoul saat aku pulang, itu berarti dia memang mencintaiku. Tapi jika
tidak, semua ucapannya adalah kebohongan." ucapnya sambil memutar gelas
berisi air putih yang ada di depannya. Ia mulai menyantap makanan yang telah
disajikan oleh pelayan restoran. Setelah selesai sarapan, ia pergi ke sebuah
kantor bernama JJ Group. Sebuah perusahaan berusia 45 tahun yang bergerak di
bidang fashion dengan seorang CEO muda bernama Jung Jae Hyuk yang berumur 30
tahun. Seung Ho datang menaiki mobil hitamnya seorang diri karena dia tidak
mengajak satupun staf kantornya karena Jung Hee tidak mau ikut dengannya. Ia
tidak mungkin mengajak staff kantor dan meninggalkan Jung Hee. Jadi dia
memutuskan untuk pergi sendiri.
"Selamat datang di perusahaan kami, Tuan Yoo!" ucap
Jung Jae Hyuk menyambut Seung Ho saat ia keluar dari mobilnya.
"Terimakasih." seorang pelayan membawa mobil Seung
Ho ke tempat parkir.
"Mari!" Seung Ho pun masuk ke dalam perusahaan itu
bersama Jung Jae Hyuk dan beberapa staffnya. Selama beberapa jam mereka
membicarakan bisnis. Seung Ho terlihat bosan dan tidak tertarik dengan proyek
yang akan dijalankan oleh JJ Group. Jika ia berinvestasi di perusahaan ini,
tentu akan membuat perusahaan ini memasuki pasar eropa. Sedangkan Seung Ho tau
kalau persaingan fashion di eropa sangatlah berat. Ia khawatir proyek ini akan
gagal dan ia kehilangan uangnya. Saat jam makan siang pun tiba. Jae Hyuk
mengajak Seung Ho untuk makan siang bersama. Seung Ho pun menerima ajakan itu.
"Tuan Yoo, kenapa datang sendiri? Kenapa tidak mengajak
staff?" tanya Jae Hyuk.
"Untuk apa mengajak staff kalau pacarku saja tidak mau
ikut?!."
"Staff dan pacar itu berbeda kan?"
"Memang. Tapi pacarku itu adalah perancang utama di
perusahaanku. Dia selalu bersamaku kemanapun aku pergi."
"Lalu kenapa dia tidak mau ikut?"
"Entahlah. Mungkin karena ini Korea. Negara yang
memberikan kenangan buruk saat ia meninggalkannya. Lagipula, dia baru saja
mengadakan fashion show disana. Dia sangat sibuk."
"Oh, jadi begitu?"
"Ya. Apa kau sudah menikah?"
"Belum."
"Kenapa? Tidak mungkin wanita menolakmu kan?"
"Aku tidak tau soal itu. Tapi belum ada yang bisa cocok
dengan hatiku."
"Jika kau menemukannya, apa yang akan kau lakukan? Apa
kau akan menikahinya?"
"Jika kami merasa cocok satu sama lain, mungkin kami
akan segera menikah. Tapi jika dia belum siap, aku akan menunggunya."
obrolan mereka berlanjut layaknya seorang teman. Bagi Seung Ho, mereka adalah
rekan bisnis saat di kantor, tapi teman saat diluar. Hal itu juga ia terapkan
di perusahaannya.
@05:00 PM
Setelah pertemuan itu selesai, Seung Ho pergi ke sebuah kafe
untuk minum kopi. Ia duduk di kursi yang berada di dekat jendela untuk
memandang keluar. Kim Jung Hee. Hanya nama itu yang saat ini ada di fikirannya.
Ia benar-benar merindukan perempuan itu.
"Seung Ho-ya?" sebuah suara terdengar dari sisi
kiri Seung Ho. Ia menoleh ke asal suara itu. Wajah itu. Wajah yang tidak pernah
dilihatnya selama sepuluh tahun. Wajah sahabat baiknya, Park Jung Soo.
"Jung Soo-ya?" Jung Soo duduk di depan Seung Ho.
"Lama tidak bertemu, bagaimana kabarmu?" tanya Jung
Soo.
"Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu? Dimana kau
bekerja saat ini?"
"Aku baik-baik saja. Saat ini aku bekerja di rumah
sakit."
"Kau dokter?"
"Ya."
"Wah kau hebat."
"Gomawo. Emm.. Bagaimana kabar Jung Hee? Ibunya bilang
dia pergi ke Finlandia. Apa kau bertemu dengannya?"
"Ya, aku bertemu dengannya. Kami sering bertemu.
Sekarang dia sudah menjadi seorang penulis, perancang busana dan juga seorang
penyiar."
"Dia pasti hidup dengan baik."
"Yahh.. Seperti itulah."
"Ada yang ingin ku tanyakan padamu."
"Apa?"
"Saat perpisahan SMA kita, Jung Hee mengungkapkan
perasaannya padaku. Apa kau tau?"
"Ya, aku tau. Sangat tau. Karena aku yang
memintanya."
"Kenapa?"
"Aku mencintai Kim Jung Hee dan aku mau dia bahagia. Aku
tau kalau saat itu dia mencintaimu, makanya aku menyuruhnya untuk
mengungkapkannya. Aku juga tau kalau kau punya perasaan yang sama. Aku telah
siap jika Jung Hee meninggalkan aku demi bersamamu. Tapi saat itu, dia datang
ke bandara dengan mata yang penuh kesedihan. Aku melihatnya hancur. Aku mengorbankan
perasaanku demi kalian. Tapi kau?! Jung Hee memberitauku kalau saat itu kau
sudah berpacaran dengan Sora selama dua bulan. Saat aku melihat Jung Hee
menangis, saat itu pula aku berjanji pada diriku sendiri dan juga dirinya kalau
aku akan membuatnya bahagia. Dan juga, aku menganggap persahabatan kita juga
sudah berakhir."
"Apa?! Kau memutuskan persahabatan kita?! Tidak, Seung
Ho-ya! Aku tidak bisa menerimanya. Kau tau, saat itu aku pergi ke bandara. Aku
ingin menemui Jung Hee dan mengatakan kalau aku juga punya perasaan yang sama
dengannya."
"Tapi kau tidak menemuinya."
"Aku terlambat. Dan aku sangat menyesal."
"Semua itu tidak ada gunanya. Aku kira kau akan
membuatnya bahagia, tapi kau malah membuatnya menangis." ponsel Seung Ho
berdering. Ia melihat nama yang tertera di ponselnya. Kim Jung Hee.
"Sebentar." ucapnya pada Jung Soo. Ia mengangkat
ponselnya.
"Halo, Sayang."
"Seung Ho-ya! Aku merindukanmu!"
"Aku tau, kau tidak perlu berteriak begitu."
"Apa yang kau lakukan sekarang?"
"Menikmati kopi di kafe saat sore hari."
"Kau sendirian?"
"Tidak. Aku bersama seorang teman. Teman lama."
ucap Seung Ho menatap Jung Soo.
"Emmm.. Bagaimana pertemuanmu hari ini?"
"Aku belum tertarik untuk berinvestasi disana."
"Jadi kau akan pulang?"
"Aku belum selesai. Masih ada beberapa perusahaan lagi
yang harus ku datangi."
"Hhhhh.. Lalu, apa yang akan kau lakukan besok?"
"Kenapa kau bertanya itu?"
"Tidak bolehkah? Kau tidak mau memberitau?"
"Baiklah akan ku beritau. Besok pagi jam tujuh aku akan
sarapan. Setelah itu aku akan pergi ke LJ Fashion dan bermain hockey dengan CEO
LJ fashion."
"Kau sangat sibuk."
"Memang."
"Ya sudah, aku akan menyelesaikan pekerjaanku. Sedikit
lagi akan selesai dan aku akan makan siang."
"Makanlah tepat waktu."
"Hmm.. Sampai jumpa."
"Sampai jumpa." telfon terputus.
"Pacarmu?" tanya Jung Soo.
"Iya."
"Apa Jung Hee membenciku?"
"Aku tidak tau. Aku harus pergi sekarang. Sampai
jumpa." Seung Ho berdiri dan meninggalkan kafe.
-
@Finlandia.
@Rabu, Dec 30. 03:30 PM.
Sore ini, Jung Hee akan memutuskan untuk pergi ke Seoul. Demi
Yoo Seung Ho, ia melakukannya. Ia tak peduli lagi dengan masa lalunya. Ia
memutuskan, mulai hari ini ia akan melupakan semua yang berhubungan dengan masa
lalunya. Ia menganggap semuanya biasa saja. Pukul 4 sore ia berangkat ke Seoul
dan akan tiba disana hari Kamis sekitar pukul 8 pagi waktu Korea.
-
@Seoul. Kamis, Dec 31. 08:00.
Pukul 8 pagi, Jung Hee tiba di Incheon. Ia berjalan keluar
dari bandara dengan santainya karena ia tak membawa koper ataupun tas besar. Ia
hanya membawa ransel yang berisi ponsel, uang dan identitas dirinya. Ia hanya
membawa baju yang melekat di badannya dan sebuah jaket yang ada di tangan
kirinya. Sebelum ia benar-benar keluar, ia memakai jaketnya karena udara yang
sangat dingin dan menaiki taksi menuju rumah Seung Ho. Ia pun sampai di rumah
Seung Ho setelah beberapa menit. Beberapa kali Jung Hee memencet bel namun tak
ada seorang pun yang keluar.
"Apa di rumah ini tidak ada orang? Apa Seung Ho tidak
menyewa pembantu meski hanya sebentar?" ia kembali memencet bel beberapa
kali namun tak ada orang yang keluar. Ia memanggil taksi dan pergi menuju LJ
Fashion. Ia bertanya pada resepsionis tentang Seung Ho dan Presdir perusahaan.
Resepsionis mengatakan kalau mereka sedang rapat dan tidak bisa diganggu.
Alhasil Jung Hee pun menunggu di lobby. Dua jam dia menunggu tapi Seung Ho
belum keluar juga. Ia bosan dan perutnya merasa lapar. Ia pun memutuskan untuk
pergi mencari makan. Setelah ia selesai makan, ia kembali ke LJ Fashion.
"Apa aku sudah bisa bertemu mereka?" tanya Jung Hee
pada resepsionis.
"Presdir dan Tuan Yoo baru saja pergi."
"Apa?!"
"Presdir akan pergi ke tempat bermain hockey."
"Ya sudah terimakasih." Jung Hee keluar dari kantor
dan pergi menuju tempat bermain hockey. Di tempat itu, Jung Hee melihat Seung
Ho bermain dengan menggunakan baju bernomor punggung 17. Ia duduk di bangku
penonton. Setelah beberapa menit bermain, Seung Ho berhenti, melepas pelindung
kepalanya dan bersalaman dengan lawan mainnya.
"Sudah selesai bermain, Tuan Yoo?" ucap Jung Hee
dari tempat penonton. Seung Ho pun menoleh ke arah Jung Hee dan tersenyum.
"Jung Hee-ya.."
"Boleh aku kesana?"
"Kemarilah!" Jung Hee keluar dari tempat penonton
dan menemui Seung Ho. Mereka saling berpandangan kemudian berpelukan.
"Aku merindukanmu." ucap Seung Ho.
"Aku juga merindukanmu. Itulah kenapa aku memutuskan
untuk menyusulmu." mereka melepas pelukan.
"Oh ya, Presdir Cho, ini Kim Jung Hee. Dia designer
sekaligus kekasihku. Jung Hee-ya, ini Presdir Cho Si Hyun. CEO LJ
Fashion." ucap Seung Ho.
"Annyeong haseyo, Kim Jung Hee ibnida."
"Cho Si Hyun ibnida."
"Presdir Cho,
Jung Hee akan memutuskan apakah aku harus berinvestasi pada perusahaanmu
atau tidak."
"Apa?! Aku? Wae?"
"Karena kau yang lebih tau tentang dunia fashion. Jadi
keputusan ada di tanganmu."
"Baiklah. Nona Kim Jung Hee, mohon pertimbangkan
proposal kami." ucap Presdir Cho sambil membungkukkan badannya membuat
Jung Hee gugup.
"Emm.. I i iya, Presdir." pertemuan pun selesai di
sore hari dan Seung Ho pulang ke rumahnya bersama Jung Hee.
"Kapan kau tiba?" tanya Seung Ho.
"Jam delapan."
"Apa kau tidak bawa pakaian?"
"Aku hanya membawa yang ku pakai. Aku ingin beli
saja."
"Kita beli besok."
"Lalu malam ini?"
"Kau bisa pakai bajuku kan?"
"Kau serius?"
"Tentu."
"Aku suka pakai bajumu!"
"Mandi dan istirahatlah. Kau belum istirahat sejak kau
tiba disini kan?"
"Aku tidak mau. Jika aku istirahat, aku tidak akan
melihatmu. Aku masih ingin melihat wajahmu."
"Mandilah dulu. Akan ku ambilkan baju untukmu."
"Baiklah." Jung Hee pun pergi mandi. Setelah selesai
berpakaian, Jung Hee duduk di samping Seung Ho yang sedang menonton TV di sofa
ruang tengah.
"Kau sudah selesai?" tanya Seung Ho.
"Hmmm.." Jung Hee menyandarkan kepalanya di bahu
kanan Seung Ho.
"Bukankah aku memintamu untuk istirahat?"
"Aku tidak mau."
"Mau makan sesuatu?"
"Tidak. Aku hanya butuh kau."
"Ya sudah. Tidurlah disini!" ucap Seung Ho menepuk
kakinya. Jung Hee pun menurutinya.
"Seung Ho-ya!"
"Hm?"
"Aku merindukanmu."
"Aku tau. Kau sudah sering mengucapkannya hari
ini."
"Apa selama disini, kau pergi dengan perempuan
lain?"
"Permpuan lain? Emmm.. Ya! Aku sering pergi dengan
mereka. Menghabiskan waktu bersama."
"Apa?! Seung Ho-ya?!"
"Haha.. Aku bercanda. Bagaimana bisa aku pergi dengan
perempuan lain kalau kau selalu ada dalam fikiranku." Jung Hee tersenyum
dan mengalihkan pandangannya pada TV yang berjarak tiga meter di depannya.
Tangan Seung Ho pun aktif mengusap rambut panjang Jung Hee hingga membuat si
pemilik rambut merasa mengantuk. Perlahan ia mulai terlelap. Seung Ho yang
mengetahui kalau Jung Hee tertidur pun langsung mematikan TV kemudian membawa
Jung Hee ke kamarnya dan merebahkannya di ranjang. Saat Seung Ho akan
meninggalkannya, Jung Hee membuka mata dan menggenggam tangan Seung Ho.
"Jung Hee-ya.."
"Gajima.."
"Aku tidak akan kemana-mana, aku hanya akan ke
kamarku."
"Tidak. Ku mohon jangan pergi. Tetaplah disini.
Disampingku."
"Ada apa?" Jung Hee diam.
"Baiklah. Aku akan disini. Aku akan menemanimu
tidur." ucap Seung Ho sambil merebahkan diri di samping kanan Jung Hee.
Mereka telah berhadapan memandang satu sama lain dengan Jung Hee yang memegangi
tangan Seung Ho.
"Ada masalah?" tanya Seung Ho.
"Aku hanya takut."
"Takut apa?"
"Waktu itu aku pernah bilang kalau ada sedikit masalah.
Aku akan mengatakannya."
"Katakanlah. Aku akan mendengarkanmu."
"Di hari saat kau pergi, ada seorang wanita yang datang
ke kantor fashion kita. Dia marah dan membuat keributan. Dia adalah seorang
designer. Dia marah karena aku mengadakan fashion show di hotel mewah itu.
Menurutnya, aku telah merebut tempatnya. Selama setahun dia menginginkan hotel
itu, dia juga beberapa kali mengajukan proposal tapi ditolak. Sedangkan aku,
aku hanya mengajukan proposal sekali saja dan pihak hotel langsung menerimanya.
Itupun bukan aku sendiri yang melakukan, tapi sponsor dan manager brand kita.
Dia bilang aku licik. Dia juga bersumpah kalau karyaku tidak akan diterima
dimanapun dan aku tidak akan bahagia."
"Jadi, kau takut atas sumpah itu?"
"Hmm.."
"Ayolah, Kim Jung Hee. Memangnya dia siapa berani
menyumpahimu? Dia ibumu? Bukan! Kerabatmu juga bukan! Kau tak perlu memikirkan
itu. Aku akan bertanya padamu. Apa yang paling membuatmu bahagia?"
"Kau."
"Apa? Aku tidak mendengarnya."
"Kau. Yoo Seung Ho yang paling membuatku bahagia."
"Kalau memang begitu, aku akan selalu membuatmu bahagia
dalam keadaan apapun. Percayalah padaku." Jung Hee memandang Seung Ho
dengan seksama. Ia mengangkat kepalanya kemudian mencium bibir Seung Ho selama
tiga detik. Hal itu membuat Seung Ho membulatkan matanya karena terkejut. Sejak
hidup bersama, mereka tidak pernah berciuman. Maksimal, Seung Ho hanya mengecup
kening Jung Hee. Itupun jarang dilakukan. Ciuman itu adalah ciuman pertama
mereka.
"Jung Hee-ya.. Ehm.. Wae?" Seung Ho mulai gugup.
"Seung Ho-ya.. Apa aku mengejutkanmu? Maafkan aku..
Aku.. Aku tidak tau apa yang aku rasakan saat ini.. Aku hanya.. Aku hanya ingin
selalu bersamamu.. Berjanjilah kau tidak akan meninggalkan aku."
"Bukankan seharusnya aku yang bilang begitu?"
"Apa maksudmu?"
"Kau sudah kembali ke Korea. Kau mungkin akan
meninggalkan aku dan kembali ke masa lalumu."
"Aku tidak akan kembali. Aku hanya akan bersamamu. Jadi,
berjanjilah kau tidak akan meninggalkan aku."
"Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku berjanji."
Seung Ho mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Jung Hee singkat. Mereka saling
tersenyum.
"Aku mencintaimu, Yoo Seung Ho."
"Aku lebih mencintaimu, Kim Jung Hee." Seung Ho
kembali mencium bibir Jung Hee sambil memeluknya sangat erat. Mereka pun
tertidur bersama dengan berpelukan.
@Kamis, Dec 31, 06:00 AM.
Jung Hee telah bangun dan menyiapkan sarapan. Dia membawa
nampan berisi sarapan ke kamarnya karena Seung Ho belum terbangun. Ia
meletakkan nampan itu di atas meja dan duduk di samping Seung Ho yang masih
tidur.
"Seung Ho-ya.. Bangunlah.. Yoo Seung Ho.." ucap
Jung Hee mencoba membangunkan Seung Ho. Perlahan, Seung Ho membuka matanya. Ia
tersenyum.
"Selamat pagi, tukang tidur."sapa Jung Hee.
"Jung Hee-ya.. Selamat pagi.." balas Seung Ho
dengan suara lemas.
"Tidurmu nyenyak?"
"Hmmm.. Sangat nyenyak."
"Kalau begitu, bangunlah lalu sarapan."
"Morning kiss?"
"Tidak! Kau belum mandi."
"Hhhh.. Baiklah, aku akan mandi." Seung Ho pun
bangun dan berjalan menuju kamar mandi.
"Aku akan membawa keluar sarapanmu. Kita sarapan
bersama."
"Baiklah." jawab Seung Ho dari dalam kamar mandi.
Jung Hee membawa sarapan Seung Ho ke meja makan. Setelah beberapa menit
menunggu, Seung Ho pun keluar dari kamarnya dan duduk di depan Jung Hee.
"Kau memasak semua ini?" tanya Seung Ho.
"Hmm.. Aku sudah lama tidak memasak makanan ini. Jadi,
aku tidak tau bagaimana rasanya."
"Aku akan mencobanya." Seung Ho mencicipi makanan
yang ada di depannya.
"Ini enak." ucapnya kemudian.
"Kau serius?"
"Hmmm.."
"Gomawo.." Mereka pun sarapan bersama.
"Malam ini, kau mau kemana?" tanya Seung Ho di
sela-sela makannya.
"Malam ini? Memangnya kenapa?"
"Malam ini adalah malam pergantian tahun. Kau tidak mau
pergi?"
"Apa kau juga akan pergi?"
"Itu semua tergantung denganmu. Jika kau pergi, aku akan
pergi bersamamu."
"Entahlah. Aku tidak ada rencana soal malam pergantian
tahun."
"Ya sudah, jika kau ingin sesuatu, kau beritau
aku."
"Baiklah. Emmmm.. Kau akan pergi kemana lagi hari
ini?"
"Aku akan pergi ke salah satu toko pakaian untuk beli
pakaian untukmu." Jung Helihat dirinya sendiri kemudian tersenyum.
"Hehe.. Kau benar. Aku belum beli baju." *ting
tung!*bel pintu ditekan oleh seseorang.
"Biar ku lihat." ucap Seung Ho kemudian berjalan
menuju pintu dan membukanya. Seseorang mengantar paket untuknya. Setelah
menandatangani tanda terima, Seung Ho membawa paket itu ke dalam dan memberikannya
pada Jung Hee yang masih membereskan meja makan.
"Ini untukmu."
"Apa ini?"
"Itu baju untukmu."
"Apa? Baju untukku? Kau membelikanku baju?"
"Hmm.. Tapi aku baru membeli satu untukmu. Aku tidak tau
kau akan menyukainya atau tidak."
"Aku pasti akan menyukainya. Boleh ku buka?"
"Buka saja!" Jung Hee pun membuka paket itu. Ia
terkejut melihat pakaian yang dibelikan Seung Ho karena pakaian itu sesuai
dengannya. Pakaian itu juga rancangan dari salah satu designer terkenal di
Korea.
"Kau suka?" tanya Seung Ho.
"Aku suka. Sangat suka. Aku akan memakainya." Jung
Hee membawa baju itu ke kamar dan memakainya.
"Bagaimana?" tanya Jung Hee.
"Sangat cocok denganmu."
"Oh ya, apa hari ini kau tidak akan pergi ke
perusahaan?"
"Tidak. Aku akan pergi setelah tahun baru."
"Ohh.."
@10:00 AM.
Pukul sepuluh pagi, Jung Hee dan Seung Ho pergi ke Gangnam-gu
untuk membeli baju. Dari satu toko, berpindah ke toko lainnya. Jung Hee dan
Seung Ho berdiri di seberang jalan menunggu lampu merah untuk menyebrang.
Setelah lampu merah menyala, mereka menyebrang dengan lengan Jung Hee melingkar
di tangan Seung Ho. Di lokasi yang sama, Jung Soo berada di dalam mobil sedang
menunggu lampu hijau menyala. Di dalam mobilnya, ia melihat Seung Ho berjalan
dengan seorang perempuan. Ia tak begitu mengenali siapa perempuan itu karena
dia memakai kacamata hitam. Jung Soo tak melepas pandangannya dari Seung Ho dan
perempuan itu. Fikirannya mengatakan kalau dia adalah Kim Jung Hee. Dia keluar
dari mobil dan hendak mengejarnya namun lampu telah berubah. Semua mobil telah
berjalan dan terdengar bunyi klakson dari arah belakang mobil Jung Soo. Ia pun
kembali masuk ke mobilnya dan menjalankannya ke rumah sakit tempatnya bekerja.
Di ruangannya, ia masih memikirkan wanita yang dilihatnya bersama Seung Ho.
"Siapa perempuan itu? Mungkinkah itu Jung Hee? Apa dia
kembali dari Finlandia? Jika itu Jung Hee, berarti Seung Ho kembali berpacaran
dengannya. Tapi, Seung Ho tidak mungkin berpacaran dengan Jung Hee lagi setelah
tau kalau Jung Hee menyukaiku. Hhhh.. Itu pasti bukan Kim Jung Hee."
ucapnya pada diri sendiri. *tok tok tok* suara pintu diketuk kemudian terbuka.
"Dokter Park, pasien di kamar 205 mengalami penurunan
tekanan darah." ucap Seorang suster.
"Apa?! Aku segera kesana." Jung Soo keluar dari
ruangannya dan berlari menuju kamar 205. Ia langsung memeriksa pasien itu.
"Keadaannya memburuk. Sepertinya pembuluh venanya pecah.
Kita harus segera melakukan oprasi." ucap Jung Soo dengan serius.
"Suster, segera minta persetujuan keluarganya dan
siapkan ruang oprasi!" lanjutnya.
"Baik, Dokter!" sahut salah satu suster. Jung Soo
dan perawat lain pun membawa pasien itu ke ruang oprasi. Setelah mendapat
persetujuan, Jung Soo langsung melakukan oprasi pada pasien itu.
@10:00 PM.
Jung Hee berdiri di atas rumah Seung Ho sambil memandangi
langit di malah hari. Tiba-tiba sepasang tangan melingkar di perutnya
membuatnya agak terkejut.
"Seung Ho-ya.."
"Kau yakin tidak ingin pergi?"
"Aku yakin. Lagipula jika aku pergi, semua tempat pasti
ramai. Kau tau aku tidak menyukai tempat yang terlalu banyak orang. Aku juga
tidak terlalu menyukai tahun baru. Membuatku makin dekat dengan kematian."
"Yak.. Jangan bicarakan tentang kematian di saat seperti
ini. Kita nikmati saja apa yang ada." mereka pun duduk bersebelahan di
kursi yang ada disana. Menikmati suasana malam bersama adalah hal yang sangat
mereka sukai. Untunglah malam ini langit cerah dan salju tidak turun. Jadi
mereka bisa melihat banyak bintang yang ada di langit. Dengan ditemani kopi dan
beberapa cemilan, membuat mereka bisa terjaga tanpa merasa mengantuk. Waktu
berlalu. Tinggal beberapa detik lagi maka tahun akan berganti. Tak begitu lama,
puluhan kembang api menghias langit Seoul menandakan bahwa tahun telah
berganti. Jung Hee berdiri dan maju beberapa langkah untuk menikmati kembang
api lebih dekat dengan diikuti oleh Seung Ho yang kemudian memeluknya dari
belakang.
"Kembang api yang indah." ucap Jung Hee.
"Bagiku kau lebih indah dari apapun."
"Kenapa orang-orang itu menghabiskan banyak uang untuk
membeli kembang api yang akan dibakar itu?"
"Untuk membuatmu senang."
"Apa?!"
"Kau berada disini karena ingin melihat kembang api itu
kan? Jika mereka tidak membelinya, tidak akan ada kembang api di malam ini. Dan
kau tidak akan senang."
"Tapi kau yang paling membuatku senang."
"Aku tau itu. Terimakasih sudah datang kesini. Aku
sangat senang bisa memelukmu lagi. Ku kira kau tidak akan datang."
"Maaf sudah membuatmu menunggu. Emmm.. Seung
Ho-ya.." Jung Hee berbalik.
"Hm?"
"Aku.. Lapar.."
"Kalau begitu, ayo kita makan di luar."
"Hmmm.." Jung Hee turun dari atap bersama Seung Ho.
Seung Ho mengambil kunci mobil kemudian pergi mencari makan di tengah keramaian
orang. Tinggal di Cheongdam-dong tidak menyulitkan mereka untuk mencari
sesuatu. Karena jalanan ramai, Seung Ho memarkirkan mobilnya dan berjalan
bersama Jung Hee menuju sebuah restoran. Mereka berpindah karena restoran penuh
dan juga ada yang akan tutup. Mereka kembali pergi ke restoran lain dan
untunglah masih ada meja yang kosong. Mereka duduk disana dan memesan makanan.
Beberapa menit kemudian makanan datang dan Jung Hee langsung memakannya. Di
sisi lain di lokasi yang sama, Jung Soo sedang berpesta bersama teman-teman
seprofesinya. Kedua mata Jung Soo kembali menangkap Seung Ho dan Jung Hee
sedang makan bersama. Meskipun ia sedang mabuk dan banyak orang yang
mondar-mandir di depannya, tapi ia yakin kalau yang dilihatnya itu adalah Kim
Jung Hee.
"Jung Hee-ya?" ucap Jung Soo pelan.
"Jung Hee? Siapa Jung Hee? Ahhh kau pasti sudah sangat
mabuk." timpal teman Jung Soo dan diiyakan oleh teman yang lain. Jung Soo
masih memperjelas pandangannya dan meyakinkan diri kalau itu benar-benar Jung
Hee. Ia pun berdiri untuk menghampiri Jung Hee.
"Kau mau kemana?" tanya salah satu teman Jung Soo.
"Aku akan menemuinya sebentar. Kalian tunggu disini.."
Jung Soo pun melangkah dengan sempoyongan ke arah Jung Hee. Namun sebelum ia
sampai, Jung Hee dan Seung Ho pergi dari restoran itu.
"Jung Hee-ya? Jung Hee-ya?! Kim Jung Hee?!" panggil
Jung Soo. Ia melihat kesana kemari untuk mencari Jung Hee tapi matanya tak juga
menemukan perempuan yang ia cari. Semua teman Jung Soo menghampirinya.
"Hei teman. Kau pasti sudah sangat mabuk sampai-sampai
kau begini." ucap salah satu temannya.
"Aku tidak mabuk! Ya, mungkin aku memang mabuk, tapi aku
tidak salah lihat. Aku melihat Kim Jung Hee."
"Sudahlah, lebih baik kita kembali." semua teman
membawa Jung Soo kembali ke meja mereka. Sementara Seung Ho dan Jung Hee,
Mereka berjalan di pusat Gangnam-gu. Sebagai distrik yang terkenal dengan
kemewahannya, Gangnam selalu ramai oleh orang yang pergi kesana kemari. Apalagi
saat malam pergantian tahun seperti ini.
-
@Sabtu, Jan 2. 07:00 AM.
Pagi hari. Seperti biasa, Jung Hee telah menyiapkan sarapan
untuk Seung Ho dan dirinya.
"Selamat pagi.." sapa Jung Hee pada Seung Ho yang
menuju meja makan.
"Selamat pagi, Sayang." sahut Seung Ho kemudian
duduk di depan Jung Hee.
"Tidurmu nyenyak?"
"Tidak senyenyak saat tidur di sampingmu."
"Jangan memanfaatkan kesempatan."
"Baiklah.." mereka berdua mulai sarapan. Setelah
selesai, Jung Hee pergi ke atap rumah untuk melihat lalu lalang orang di tengah
salju.
"Jung Hee-ya!" panggil Seung Ho dari bawah.
"Kita pergi sekarang?" lanjutnya.
"Baiklah." Jung Hee berjalan menuju tangga dan
Seung Ho pun menyusulnya. Sampai di tengah perjalanannya, kaki Jung Hee
tersandung. Seung Ho yang melihat itu pun langsung menangkap Jung Hee hingga
mereka jatuh bersama menuruni tangga dengan Seung Ho berada di bawah Jung Hee.
Perlahan, Jung Hee menyingkir dari tubuh Seung Ho.
"Seung Ho-ya.." panggil Jung Hee. Ia melihat Seung
Ho tak bergerak.
"Seung Ho-ya?! Seung Ho-ya! Bangun!" ia
menggoyangkan tubuh Seung Ho namun Seung Ho masih tidak sadar. Jung Hee membawa
Seung Ho ke rumah sakit setelah ia menelfon ambulance. Seung Ho langsung dibawa
ke ruang UGD. Jung Hee berniat untuk masuk namun suster melarangnya.
"Anda tunggu diluar!"
"Biarkan aku masuk, Suster! Aku ingin menemaninya."
"Anda tetap di luar. Biarkan kami bekerja!" Suster
menutup pintu UGD dan Jung Hee duduk di ruang tunggu.
"Dokter, ada pasien lagi!" ucap suster pada dokter
yang sedang menangani pasien. Salah satu dokter pun berpindah menangani Seung
Ho.
"Yoo Seung Ho?" ucap dokter itu yang ternyata
adalah Jung Soo.
"Dokter! Apa yang Anda lakukan? Kita harus cepat
menangani pasien ini!" tegur suster.
"Oh, baik!" Jung Soo pun menangani Seung Ho.
Setelah satu jam ditangani, Seung Ho pun dipindah ke ruangan lain. Jung Hee
yang menunggu pun segera berdiri.
"Dokter, bagaimana..." Jung Hee menghentikan
ucapannya setelah mengetahui kalau dokter yang menangani Seung Ho adalah Park
Jung Soo.
"Kau mau tau keadaannya? Dia mengalami patah tulang di
kaki kirinya. Kepalanya juga sedikit terbentur. Tapi dia baik-baik saja."
Jung Hee hendak menyusul Seung Ho namun Jung Soo memegang pergelangan
tangannya..
"Jung Hee-ya.."
"Permisi." Jung Hee melepas genggaman tangan Jung
Soo dan berlari menyusul Seung Ho.
"Seung Ho-ya.." panggil Jung Hee pelan di samping
Seung Ho dengan menggenggam tangannya.
"Bangunlah.."
"Dia masih dalam pengaruh obat bius." ucap Jung Soo
yang tiba-tiba ada di belakang Jung Hee.
"Dia akan bangun sekitar sepuluh menit lagi."
lanjutnya.
"Apa kau mau memeriksanya lagi?" tanya Jung Hee
tanpa melihat Jung Soo.
"Tidak. Aku.. Aku ingin bicara denganmu."
"Aku tidak punya waktu!"
"Sebentar saja. Ku mohon."
"Aku bilang aku tidak punya waktu. Aku akan menemuimu
setelah aku punya waktu. Jadi pergilah!"
"Baik, aku akan menunggumu." Jung Soo pun pergi
dari kamar Seung Ho. Beberapa menit kemudian Seung Ho pun tersadar.
"Sayang, kau sudah bangun?" ucap Jung Hee bahagia.
"Jung Hee-ya.. Aku kenapa?"
"Tadi kau..."
"Ahh.. Aku ingat. Aku terjatuh saat menangkapmu dari
tangga."
"Maaf. Maafkan aku.. Ini semua salahku.."
"Kau baik-baik saja kan?"
"Hmm.. Aku baik-baik saja."
"Syukurlah.."
"Aku benar-benar
minta maaf."
"Sudahlah. Yang penting kau baik-baik saja."
"Aku mencintaimu."
"Aku tau. Bagaimana diagnosanya?"
"Dokter bilang kau mengalami patah tulang di kaki
kirimu. Kepalamu juga terbentur."
"Hhhh.. Pantas rasanya pusing sekali."
"Maaf.."
"Sudahlah. Mau berapa kali lagi kau akan meminta
maaf?"
@11:30 AM.
Saatnya makan siang. Suster membawakan makan siang untuk
Seung Ho.
"Saatnya makan siang." ucap Jung Hee yang hendak
menyuapi Seung Ho.
"Aku bisa makan sendiri."
"Tidak. Kau harus makan dari tanganku. Lagipula kau
sedang sakit, kakimu patah."
"Yang patah itu kakiku, bukan tanganku. Jadi, aku bisa
makan sendiri."
"Ku bilang tidak ya tidak! Aku akan tetap menyuapimu.
Sekarang, buka mulutmu!" Seung Ho pun menuruti ucapan Jung Hee. Saat makan,
Jung Soo masuk ke kamar Seung Ho bersama seorang suster.
"Selamat siang." ucapnya ramah memasuki kamar.
"Oh, Jung Soo-ya, kau yang menangani aku?" tanya
Seung Ho. Jung Hee hanya diam.
"Iya. Aku yang menjadi doktermu sampai kau sembuh.
Sekarang, aku akan memeriksamu." Jung Soo pun memeriksa keadaan Seung Ho.
Wajah Jung Hee berubah menjadi kesal dan ia terdiam. Mata Seung Ho menangkap
ekspresi itu.
"Apa kepalamu masih sakit?" tanya Jung Soo.
"Tidak. Tapi kakiku.. Kapan kakiku bisa sembuh?"
"Aku tidak bisa memastikan kapan kakimu akan benar-benar
sembuh. Kau akan menjalani perawatan intensif sampai kau sembuh. Dan saat itu,
kau boleh mencoba berjalan agar bisa sembuh lebih cepat."
"Boleh aku mencobanya sekarang?"
"Tidak. Kakimu masih lemah. Kau bisa memperparah
keadaanmu atau kau bisa membuat kakimu yang lain juga patah."
"Oh begitu?"
"Kalau begitu, aku permisi." Jung Soo menatap Jung
Hee sejenak sebelum ia meninggalkan kamar dan Seung Ho menyadari hal itu.
"Jung Hee-ya?" panggil Seung Ho.
"Iya!"
"Kenapa dari tadi kau diam?"
"Tidak. Tidak apa-apa."
"Kau masih menyukainya?"
"Apa maksudmu?"
"Kau masih menyukai Park Jung Soo kan?"
"Apa yang kau katakan?!"
"Aku bisa melihatnya."
"Cukup, Yoo Seung Ho! Sampai kapan kau akan terus
membicarakan ini?! Aku benci mendengarnya!"
"Kalau kau sudah tidak menyukainya, kau tidak akan
bersikap berlebihan seperti ini."
"Jadi begitu?! Kau merasa aku masih menyukainya? Lalu
siapa aku bagimu?! Waktu yang ku habiskan bersamamu selama lebih dari sepuluh
tahun, ternyata tidak ada artinya bagimu. Kau benar-benar keterlaluan!!"
Jung Hee keluar dari kamar Seung Ho dan tidak mempedulikan Seung Ho yang
memanggilnya beberapa kali. Jung Hee duduk di kursi tunggu. Ia menahan air
matanya agar tidak keluar. Namun ia tak bisa. Air mata itu tetap keluar dari
matanya. Ia tak menyangka jika Seung Ho punya fikiran seperti itu. Suster masuk
ke kamar Seung Ho sambil membawa obat untuk diberikan pada Seung Ho.
"Tuan Yoo Seung Ho, saatnya Anda minum obat." kata
Suster.
"Tidak. Aku tidak akan meminumnya."
"Tapi, Tuan.."
"Pergi dari sini!"
"Tuan Yoo, Anda harus minum obat."
"Sudah ku bilang, aku tidak mau!"
"Kalau kau tidak mau meminumnya, aku tidak akan
memaafkanmu!" ucap Jung Hee yang tiba-tiba masuk ke kamar.
"Jung Hee-ya.." panggil Seung Ho.
"Suster, letakkan obatnya di meja. Akan ku pastikan dia
meminumnya."
"Baik." suster meletakkan obat Seung Ho di atas
meja kemudian keluar dari kamar Seung Ho.
"Jung Hee-ya.."
"Aku akan menyiapkan obatmu."
"Jung Hee-ya.."
"Minumlah obatmu tepat waktu agar kau bisa cepat
sembuh." Seung Ho menarik tangan Jung Hee hingga terjatuh di atas tempat
tidurnya. Ia langsung mengeratkan lengannya di pinggang Jung Hee.
"Seung Ho-ya, apa yang kau lakukan?!" ucap Jung Hee
yang mencoba melepaskan diri dari Seung Ho.
"Kau menangis?"
"Tidak."
"Jangan bohong. Kau baru saja menangis? Kau menangis
karena aku?"
"Tidak."
"Maaf.. Maafkan aku.." Seung Ho memeluk Jung Hee
dengan erat. Jung Hee pun membalasnya.
"Aku benar-benar minta maaf. Aku sudah membuatmu
menangis. Maafkan aku." lanjutnya. Ucapan Seung Ho membuat Jung Hee
kembali menangis. Perlahan ia merenggangkan pelukan Seung Ho.
"Kau menangis lagi. Maaf. Aku tidak akan mengatakan hal
itu lagi. Aku minta maaf." Seung Ho menghapus air mata di pipi Jung Hee.
"Jangan menangis lagi." lanjutnya.
"Kau janji tidak akan mengatakannya lagi?"
"Aku janji. Kau hanya mencintai aku. Hanya aku."
Jung Hee tersenyum. Ia mendekatkan wajahnya pada Seung Ho. Tak lama, bibir
mereka bertemu. Seung Ho mempererat pelukannya. Sama seperti Seung Ho, Jung Hee
juga mengalungkan lengannya di leher Seung Ho.
@Sabtu, Jan 9. 08:00 AM.
Beberapa hari Jung Hee menghabiskan waktunya di rumah sakit
untuk menemani Seung Ho. Selama itu, ia tak pernah pergi menemui Jung Soo.
Baginya, itu hanya membuang waktu.
"Aku mau jalan-jalan ke taman." ucap Seung Ho.
"Baik. Turun dan duduklah di kursi roda."
"Aku tidak mau. Aku bisa pakai tongkatku."
"Aku tau. Tapi kau harus duduk di kursi roda ini. Jika
kau pakai tongkatmu untuk kesana. Kau akan kelelahan sebelum sampai disana. Jadi
duduklah! Aku akan membawa tongkatmu dan akan mengantarmu kesana."
"Baiklah." Seung Ho menuruti Jung Hee. Mereka pun
mulai menuju taman dengan Jung Hee yang mendorong Seung Ho di kursi roda.
Selama perjalanan, Seung Ho mendapat banyak sapaan dari para suster. Wajar saja
karena selama dirawat di rumah sakit, Seung Ho sangat populer dan menjadi idola
bagi para suster dan pasien perempuan lain. Mereka pun sampai di taman dan Jung
Hee duduk di sebuah bangku, sedangkan Seung Ho berada di depannya dengan kursi
rodanya.
"Jadi itu kan alasannya? Alasan yang sama setiap kau
keluar dari kamar." ucap Jung Hee.
"Alasan? Alasan apa?"
"Kau tebar pesona pada mereka kan?"
"Tebar pesona apanya?! Tanpa aku menebar pesona, mereka
sudah pasti melakukan itu. Aku memang jadi idola dimnapun aku berada."
"Kau gila?!"
"Kau cemburu?"
"Cemburu? Untuk apa? Aku sudah hidup bersamamu lebih
dari sepuluh tahun. Aku tidak akan cemburu lagi karena aku tau kau adalah
milikku!"
"Kau seyakin itu?"
"Eh? Memangnya tidak begitu?" Seung Ho pindah duduk
di samping Jung Hee. Tangan kirinya memegang tangan kanan Jung Hee dan tangan
yang lain ia letakkan di pipi kiri Jung Hee.
"Kau benar. Aku memang milikmu. Tak peduli secantik
apapun atau sebanyak apapun perempuan yang mendekatiku, aku akan tetap jadi
milikmu. Sampai kapanpun." Seung Ho mulai mendekatkan wajahnya dan mereka
pun berciuman. Tak begitu lama, mereka melepasnya.
"Aku mencintaimu." ucap Jung Hee.
"Aku tau. Kau sudah sangat sering mengatakannya."
"Kau bosan?"
"Tentu tidak."
"Aku tidak tau sudah berapa kali aku bilang kalau aku
mencintaimu atau berapa kali aku akan mengatakan itu. Aku hanya ingin selalu
mengatakannya. Aku sangat mencintaimu, Yoo Seung Ho."
"Aku jauh lebih mencintaimu, Kim Jung Hee." mereka
saling tersenyum.
"Aku ingin jalan-jalan sebentar."
"Biar ku temani."
"Kau disini saja. Aku akan baik-baik saja." Seung
Ho berdiri dengan kedua tongkat jalannya dan dengan bantuan Jung Hee.
"Jangan pergi terlalu jauh. Hati-hati."
"Aku tau. Kau memperlakukan aku seolah-olah aku anak
kecil."
"Kau memang anak kecil. Anak kecil yang sangat aku
cintai."
"Hhh.. Dasar! Aku pergi dulu." Jung Hee mengecup
singkat bibir Seung Ho sebelum Seung Ho pergi. Setelah Seung Ho pergi, ia hanya
duduk sambil mengamati Seung Ho dari jauh. Tanpa sepengetahuannya, Jung Soo
hadir di sampingnya.
"Apa kau punya waktu?" tanya Jung Soo.
"Emmm.. Ya.."
"Boleh aku duduk?"
"Silakan!" Jung Soo duduk di samping kanan Jung
Hee.
"Kau menjaganya dengan baik."
"Tentu. Dia tunanganku." Jung Hee menjawab dengan
mata yang fokus mengawasi Seung Ho.
"Apa?! Tunanganmu?"
"Ya."
"Bagaimana bisa? Bukankah dulu Seung Ho tau kalau kau
menyukaiku dan memintamu untuk mengungkapkannya? Bagaimana dia bisa menjadi
tunanganmu setelah dia tau itu? Setauku, dia bukan orang seperti itu."
"Apa kau pernah dengar kalau dia sangat mencintai aku?
Aku berfikir, dia akan mencampakkan aku setelah tau semua itu, tapi ternyata
dia menerimaku."
"Apa kau mencintainya?"
"Ya. Aku mencintainya. Sangat mencintainya. Aku
mencintainya sama seperti saat aku mencintaimu dulu. Tapi perbedaannya, dia
juga sangat mencintaiku, bahkan lebih. Dia akan lakukan apapun demi
kebahagianku. Dan aku akan menghabiskan waktuku untuk bisa bahagia
bersamanya."
"Apa kau melupakan aku?"
"Tidak. Aku tidak melupakanmu. Hanya saja, aku melupakan
perasaanku padamu."
"Hhh.. Aku akan mengatakan hal yang seharusnya aku
katakan padamu sepuluh tahun lalu." Jung Hee mengalihkan pandangannya pada
Jung Soo sejenak dan kembali pada Seung Ho.
"Katakan saja!"
"Baik. Jujur saja, aku sama sepertimu. Aku juga punya
perasaan yang sama denganmu." Jung Hee kembali mengalihkan pandangannya.
"Aku menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu di SMP.
Dan hingga saat ini, aku sudah menyukaimu selama lebih dari enam belas tahun.
Kau adalah pemacu semangatku. Karena kau, aku mencoba melakukan banyak hal
dengan baik meskipun tak sebaik Seung Ho. Saat aku tau kau masuk di SMA itu,
aku minta orang tuaku menyetujuiku untuk sekolah disana. Saat kita tertabrak di
hari pertama sekolah, aku sengaja menabrakmu. Saat pertama kali aku mengantarmu
pulang, aku sengaja menunggumu pulang. Saat kau lupa mengembalikan helm,
sebenarnya aku tidak lupa membawanya tapi aku membiarkanmu memakainya dan
bergegas pulang agar kau tidak mengembalikannya lalu kita bisa pergi bersama
lagi. Malam hari saat aku menerima SMSmu untuk pertama kalinya, aku sangat
senang. Benar-benar senang. Aku tau kalau itu kau, tapi aku pura-pura tidak
tau. Sudah lama aku punya nomor ponselmu tapi aku tidak berani menghubungimu.
Saat kau berangkat dengan membawa helmku, ini konyol, tapi kau tau? Aku sudah
menunggumu sejak jam lima pagi. Dan saat ku lihat kau berangkat, aku langsung
menyusulmu. Saat kau menemuiku di lapangan basket di sela-sela belajarmu, aku
sengaja melakukannya karena aku menunggumu selesai. Waktu kita bertemu Lee
Donghae di kafe dan dia mengatakan kalau aku berhasil, maksudnya adalah aku
berhasil berpacaran denganmu. Semua yang terjadi antara kau dan aku, itu semua
karena aku yang mengaturnya."
"Lalu, saat kau di taman, berjalan ke arahku di akhir
tahun kedua?"
"Oh itu.. Apa kau menerima surat dari Kim Ji Soo?"
"Kim Ji Soo? Iya.."
"Surat yang diberikan oleh Kim Ji Soo itu adalah suratku
untukmu. Aku ingin menemuimu."
"Tapi Ji Soo tidak mengatakannya."
"Memang. Aku yang menyuruhnya."
"Tapi kau bilang karena kau ingin bertanya padaku. Bukan
menemuiku!"
"Itu karena Seung Ho yang menghampirimu."
"Jadi menurutmu, itu karena Seung Ho?! Kau
menyalahkannya?! Itu semua karena salahmu yang tidak mau jujur dengan perasaanmu
sendiri?!"
"Lalu apa yang harus ku lakukan saat itu?! Mengungkapkan
perasaanku padamu di depan Seung Ho dan menyakitinya?! Atau saat kau
mengungkapkan perasaanmu, aku juga harus mengungkapkan perasaanku juga dan
menyakiti hati Kang Sora?! Aku tidak mau menyakiti hati dua teman baikku.
Mereka adalah teman baikku sejak kecil."
"Kau benar. Kau tidak boleh menyakiti mereka. Tapi kau
telah menyakiti aku. Kau membuat pilihan yang bagus. Terimakasih, karena kau,
aku bisa hidup bahagia dengan Seung Ho."
"Apa kau tidak akan memberiku kesempatan?"
"Aku sudah pernah memberimu kesempatan, tapi kau
menghancurkan kesempatan itu. Aku hanya bisa memberimu kesempatan untuk menjadi
temanku. Teman terbaikku." di tengah-tengah obrolan itu, Seung Ho ada di
belakang mereka.
"Kalian sedang mengobrol?" tanya Seung Ho dari
belakang. Jung Hee dan Jung Soo pun menoleh ke belakang.
"Seung Ho-ya?" Jung Hee menghampiri Seung Ho dan
membantunya duduk.
"Apa yang kalian bicarakan?"
"Kami tidak membicarakan apapun."
"Benarkah? Tapi tadi sepertinya kalian sangat serius.
Sampai kau tidak mengawasi aku dan.."
"Apa?"
"Kau tidak tau kalau aku jatuh."
"Apa?! Kau jatuh?! Kau baik-baik saja? Astaga.. Maafkan
aku. Dimana yang sakit?" tanya Jung Hee dengan sangat khawatir.
"Aku tidak apa-apa. Ini hanya luka kecil."
"Biar ku lihat!" ucap Jung Soo yang kemudian
memeriksa kaki Seung Ho.
"Kakimu berdarah." ucapnya kemudian.
"Berdarah?"
"Ah sudahlah, aku baik-baik saja."
"Kembalilah ke kamar. Aku akan mengobatimu!"
"Tidak perlu."
"Tuan Yoo Seung Ho, aku Dokter Park Jung Soo memintamu
kembali ke kamar karena kau terluka dan harus diobati!"
"Baiklah."
"Kemari.." Jung Hee membantu Seung Ho duduk di
kursi roda kemudian mendorongnya kembali ke kamar. Jung Hee membantu Seung Ho
untuk duduk di ranjangnya.
"Kau yakin kau baik-baik saja?" tanya Jung Hee.
"Iya. Aku yakin." Jung Hee meletakkan kedua
tangannya di pipi Seung Ho.
"Maaf. Aku tidak menjagamu dengan baik."
"Ini bukan salahmu. Jangan meminta maaf." Jung Hee
memeluk Seung Ho. Saat itu, Jung Soo pun datang dan Jung Hee pun melepas
pelukan. Jung Soo langsung mengobati kaki Seung Ho yang terluka.
"Dia baik-baik saja kan? Luka itu tidak berakibat fatal
kan?" tanya Jung Hee.
"Jung Hee-ya..."
"Kakinya baik-baik saja. Tidak ada yang perlu
dikhawatirkan."
"Hhhhhh.. Syukurlah.."
"Baiklah, aku pergi dulu. Ada pasien lain yang harus ku
tangani."
"Ya sudah." Jung Soo pun keluar dari kamar Seung
Ho.
"Jung Hee-ya, tolong laptopku."
"Ini." Jung Hee memberikan laptop pada Seung Ho.
"Aku mau beli jus, kau mau?"
"Boleh. Aku mau satu. Jus yang sama denganmu."
"Baiklah." Jung Hee pergi. Seung Ho menyalakan
laptopnya yang ia letakkan di meja khusus ranjangnya dan mulai berseluncur di
internet untuk mengetahui apa yang terjadi di tempatnya selama ia pergi. Ia
memasuki sebuah website yang berisi tentang kabar yang ada di Helsinki. Selama
ia di Seoul, ia tak pernah mencari tau tentang berita disana. Ia membuka
internet hanya untuk mengecek keadaan perusahaannya. Ia terkejut ketika foto
Jung Hee di muat disana. Ia membaca artikel itu. Itu adalah artikel yang
memberitakan saat Jung Hee ditampar oleh Rachel.
"Seung Ho-ya, aku kembali." ucap Jung Hee memasuki
ruangan Seung Ho sambil membawa dua jus. Jung Hee yang merasa Seung Ho sedang
fokus dan tak mempedulikannya pun meletakkan jusnya di meja kemudian duduk di
samping Seung Ho.
"Sayang, ada apa?" tanya Jung Hee.
"Apa ini?" Seung Ho memutar laptopnya dan
menunjukan artikel yang dibacanya kepada Jung Hee. Jung Hee terkejut melihat
artikel yang ditunjukan oleh Sung Ho, ia juga mulai gugup.
"Jung Hee-ya, aku bertanya padamu! Apa ini?"
"Itu.. Emmm.. Itu.. Bukan apa-apa."
"Jawab dengan jujur. Kau ditampar?"
"Baiklah, aku akan mengatakannya. Dia memang menamparku.
Aku pernah bercerita tentang perempuan yang membuat keributan di kantor kita
kan?"
"Ya. Kau memberitau semuanya, kecuali soal dia
menamparmu. Kenapa kau tidak memberitauku?"
"Jika aku memberitaumu, apa yang akan kau lakukan?"
"Aku akan melaporkannya pada polisi dengan tuduhan,
mengganggu kenyamanan banyak orang, membuat keributan dan yang paling penting
karena dia melakukan kekerasan."
"Itulah!"
"Apa?"
"Itulah kenapa aku tidak memberitaumu. Aku tau kau pasti
akan melakukan itu. Sebenarnya aku sangat ingin menceritakan itu padamu, tapi
saat itu kau dalam perjalanan. Aku tidak mau kau meminta pilot untuk melakukan
pemberhentian darurat dan kembali ke Helsinki."
"Seharusnya aku tidak pergi hari itu."
"Sudahlah, jangan dibahas lagi."
"Kau kenal perempuan itu?'
"Namanya Kwon Rachel. Dia dari Korea dan dia juga
designer. Aku hanya tau itu."
"Kau yakin tidak mengenalnya lebih jauh?"
"Tidak."
"Bukankah dia designer?"
"Memang, tapi aku benar-benar tidak tau dia."
mereka berdua diam. Seung Ho kembali menatap layar laptopnya dan tiba-tiba ada
orang yang masuk ke kamar Seung Ho. Dia adalah CEO JJ Group, Jung Jae Hyuk.
"Permisi."
"Presdir Jung, apa kabar?" tanya Seung Ho. Jung Hee
yang belum mengenal Jae Hyuk pun terlihat sedikit bingung.
"Aku baik-baik saja. Maaf, aku baru bisa menjengukmu
sekarang. Aku sangat sibuk."
"Tidak apa-apa, aku mengerti."
"Seung Ho-ya?" panggil Jung Hee pelan.
"Oh ya, Presdir Jung, kenalkan, ini kekasihku yang
pernah ku ceritakan padamu. Namanya Kim Jung Hee. Jung Hee-ya, ini CEO JJ
Group, Presdir Jung Jae Hyuk.
"Annyeong haseyo, Kim Jung Hee ibnida."
"Annyeong haseyo, Jung Jae Hyuk ibnida." mereka
berdua bersalaman singkat.
"Tuan Yoo pasti sangat senang karena kau ada
disini."
"Presdir Jung, karena Jung Hee ada disini, aku
menyerahkan semuanya padanya."
"Aku lagi?"
"Jadi, semua keputusan tergantung padanya."
"Kalau begitu, Nona Kim, tolong pertimbangkan proposal
kami." ucap Jae Hyuk sedikit membungkuk.
"Ahh.. Baik, Presdir Jung." Jung Hee melakukan hal
yang sama.
"Mohon pertimbangkan dan berinvestasilah di perusahaan
kami agar kami bisa menembus pasaran Eropa dan aku bisa membantu
sepupuku."
"Sepupumu? Siapa?" tanya Jung Hee.
"Dia seorang designer di Finlandia. Dia sedang terkena
sedikit masalah dengan seseorang. Katanya, ada seorang designer baru yang
mengambil tempat fashion shownya. Jadi dia minta bantuanku agar dia bisa lebih
sukses dan bisa mengadakan fashion show dimanapun yang dia inginkan."
"Siapa namanya?"
"Kwon Rachel." Jung Hee dan Seung Ho saling
bertatapan sejenak mendengar nama itu.
"Jadi, kau ingin aku menerima proposalmu?"
"Iya, Nona Kim."
"Lalu, apakah kami akan menerimamu jika keadaannya
seperti ini?!" ucap Seung Ho kemudian menunjukan layar laptopnya yang
masih menampilkan berita Jung Hee pada Jae Hyuk. Jae Hyuk nampak terkejut
dengan hal itu.
"Nona Kim.. Ini.."
"Beritau aku semuanya tentang Kwon Rachel. Semuanya
tanpa ada yang disembunyikan, maka akan ku pertimbangkan proposalmu." ucap
Jung Hee. Jae Hyuk pun menceritakan semua yang ia ketahui tentang Rachel.
"Itu lah yang aku ketahui tentang Rachel."
"Kau yakin?"
"Iya."
"Tak ada yang disembunyikan?"
"Tidak, ada."
"Baguslah."
"Dengan kejadian itu, semua akan ku serahkan padamu. Aku
mengerti jika kau tidak ingin bekerja sama dengan kami."
"Presdir Jung, sudah ku bilang aku akan
mempertimbangkannya."
"Terimakasih, aku permisi. Tuan Yoo, semoga cepat
sembuh."
"Terimakasih, Presdir Jung." Jae Hyuk pun pergi
dari kamar Seung Ho.
@Rabu, Jan 13. 04:00 PM.
Sore ini, Seung Ho keluar dadi rumah sakit. Saat ia berjalan
dengan tongkatnya, banyak suster dan pasien perempuan yang memberikan hadiah
untuk Seung Ho. Jung Hee dan Seung Ho pun bertemu dengan Jung Soo yang baru
saja keluar dari kamar pasien.
"Jung Soo-ya, terimakasih telah merawat Seung Ho disini
dengan baik. Aku sangat berterimakasih." ucap Jung Hee.
"Sama-sama. Itu sudah menjadi tugasku. Seung Ho-ya, jaga
dirimu baik-baik."
"Aku mengerti, teman. Terimakasih, kami pergi
dulu."
"Hati-hati di jalan." Seung Ho dan Jung Hee pun
kembali ke rumah mereka.
@Senin, Jan 25. 03:00 PM di kafe.
Seung Ho duduk di sebuah kafe bersama Jung Soo yang duduk di
depannya.
"Ada apa kau mengajakku bertemu?" tanya Seung Ho.
"Kita masih bersahabat baik kan?"
"Sudah ku bilang persahabatan kita telah berakhir."
"Itu menurutmu. Bagiku kita masih bersahabat."
"Baiklah kalau itu maumu. Kita masih berteman. Apa hanya
itu yang mau kau katakan?"
"Kau mencintai Jung Hee?" Seung Ho terkejut atas
perkataan itu. Kenapa Jung Soo menanyakan hal yang ia sendiri sudah tau
jawabannya?!
"Ya. Aku sangat mencintainya."
"Kalau begitu, jagalah dia dengan baik. Lakukan hal yang
tidak bisa aku lakukan untuknya."
"Apa maksudmu?"
"Saat di rumah sakit, aku mengatakan semuanya padanya.
Semua perasaanku padanya. Aku tidak tau kenapa aku melakukan itu. Saat itu aku
pikir dia masih punya perasaan padaku dan mau menghabiskan waktu bersamaku.
Tapi aku salah. Perasaannya padaku sudah hilang. Dia hanya mencintaimu."
"Apa kau juga sangat mencintainya?
"Ya. Tapi di antara kami, hanya aku yang punya perasaan
itu. Perasaannya hanya untukmu."
-
@Sabtu, Jan 30. 09:00 AM.
Cheongdam-dong, Gangnam, Seoul. Jung Hee duduk di depan meja
yang ada di kamarnya untuk melanjutkan tulisannya. Seung Ho pun masuk dan
mendekati Jung Hee.
"Masih menulis?" tanya Seung Ho.
"Hmmm.." jawab Jung Hee tanpa mengalihkan
pandangannya dari laptopnya.
"Apa aku harus pergi?"
"Tidak, kau jangan pergi."
"Kau yakin aku tidak mengganggumu?"
"Iya." Jung Hee menutup laptopnya dan mengalihkan
pandangannya pada Seung Ho.
"Ada apa?" tanyanya kemudian.
"Aku ingin kita keluar."
"Kemana?"
"Kau akan tau nanti. Aku tunggu kau di bawah. Jangan
lupa bawa jaketmu."
"Hmmm.." Seung Ho keluar dari kamar Jung Hee dan
menuju mobilnya. Tak begitu lama, Jung Hee keluar dan menghampiri Seung Ho yang
sedang memasukkan peralatan camping dan memancing ke dalam bagasi mobil.
"Kita akan memancing?" tanya Jung Hee heran.
"Iya."
"Di cuaca dingin seperti ini?"
"Iya, Sayang. Aku sudah lama menginginkan ini."
"Hanya memancing?"
"Jika aku belum puas, mungkin kita akan bermalam disana.
Aku sudah bawa perlengkapan camping"
"Oh begitu.."
"Kau akan ikut?"
"Jika aku tidak ikut, apa kau akan pergi sendiri?"
"Tentu."
"Baiklah, aku ikut." Jung Hee dan Seung Ho pun
masuk ke dalam mobil dan pergi ke tempat tujuan.
@11:00 AM.
Seung Ho dan Jung Hee sampai di tempat yang dituju. Tempat
yang di dominasi oleh warna putih karena tertutup oleh salju. Sebuah tempat
yang sebenarnya danau saat musim panas.
"Kita akan memancing disini?" tanya Jung Hee.
"Iya."
"Apa disini ada ikan?"
"Entahlah, aku tidak tau. Kita coba saja." Seung Ho
mengeluarkan alat pancing dan Jung Hee mengeluarkan kursi lipat. Mereka juga
mengeluarkan perlengkapan camping dan memasang tenda. Setelah selesai, Seung Ho
memecah es yang ada di permukaan danau dan mulai memancing bersama Jung Hee.
Dua jam lebih mereka menunggu tapi tidak ada ikan yang tersangkut di kail
mereka.
"Sepertinya disini tidak ada ikan." ucap Jung Hee
putus asa.
"Apa kau lapar?"
"Hmmm.. Udara dingin seperti ini membuatku lapar."
"Aku bawa daging dan beberapa makanan. Kau ambil di tas
biru itu."
"Baiklah. Kau mau?"
"Hmmm.." Jung Hee pun meninggalkan kursinya dan
mengambil makanan dari tas Seung Ho. Tas biru itu dipenuhi oleh banyak bahan
makanan. Jung Hee berniat ingin membakar daging. Ia pun memotong daging dan
melumurinya dengan bumbu yang ada. Setelah selesai, ia membakar daging itu
diatas pemanggang yang Seung Ho bawa. Disaat sedang menunggu, pancing Seung Ho
bergerak tanda ada ikan yang menyangkut di kailnya. Seung Ho pun mengangkatnya.
Seekor ikan yang lumayan besar berhasil ia dapatkan.
"Jung Hee-ya, aku dapat ikan!" teriak Seung Ho.
Kegembiraan pun terlihat diantara Seung Ho dan Jung Hee.
"Kita masak ikannya?" tawar Jung Hee.
"Tentu. Ini." Seung Ho memberikan ikannya pada Jung
Hee.
"Aku akan memancing lagi." lanjutnya yang
kemudian kembali memancing. Tak begitu
lama, ia mendapatkan seekor ikan hingga akhirnya ia harus berhenti ketika ia
sudah mendapat tiga ikan. Sepertinya menu kali ini adalah daging dan ikan
bakar. Setelah semua makanan matang, mereka langsung menyantapnya.
"Wahhh.. Ikan ini sangat enak." ucap Jung Hee.
"Berbeda dari biasanya kan?"
"Iya. Mungkin karena ini ikan yang baru saja
dipancing."
"Dan yang memancing adalah aku."
"Terimakasih sudah mendapatkan ikan seenak ini."
"Terimakasih sudah memasak ikan seenak ini." mereka
berpandangan kemudian tersenyum. Hari semakin sore dan matahari mulai terbenam.
"Kau yakin tidak mau pulang sekarang?" tanya Jung
Hee.
"Sepertinya aku akan bermalam disini."
"Kita akan tidur di tenda?"
"Iya, memangnya kenapa?"
"Aku tidak yakin tempat ini aman. Lebih baik kita tidur
di mobil saja. Lebih aman."
"Tapi.."
"Ku mohon.."
"Baiklah. Kita tidur di mobil saja." mereka
membereskan makanan dan membawanya ke dalam mobil. Malam ini mereka akan tidur
di kursi tengah. Jung Hee menyalakan penghangat yang ada di mobil. Tempat itu
makin gelap.
"Seung Ho-ya, apa tempat ini baik-baik saja?"
"Maksudmu?"
"Tidak ada binatang buas di sekitar sini kan?"
"Tidak ada."
"Tidak ada hantu kan?"
"Emmmm.. Aku tidak tau soal itu. Mungkin ada."
"Kau jangan bercanda."
"Aku tidak bercanda. Mungkin mereka akan mendatangimu
malam ini."
"Yak! Yoo Seung Ho! Itu tidak lucu!"
"Hahaha.. Kau tidak perlu takut. Ada aku disini. Aku
akan menjagamu." Jung Hee mendekatkan dirinya pada Seung Ho. Sebisa
mungkin ia membenamkan dirinya dalam pelukan Seung Ho yang sangat hangat dan
nyaman untuknya.
@Minggu, Jan 31. 08:00 AM.
Mereka telah bangun dan duduk di kursi lipat untuk menikmati
udara dingin di pagi hari. Semua barang telah mereka masukkan ke dalam mobil.
"Jung Hee-ya!" panggi Seung Ho memecah keheningan
di pagi itu.
"Ya?"
"Beberapa hari lalu, aku bertemu dengan Jung Soo. Dia
menceritakan semua perasaannya untukmu padaku."
"Perasaan apa?"
"Dia bialang dia mencintaimu. Sangat mencintaimu.
Hhhhh.. Aku tidak menyangka dia bisa mencintaimu selama enam belas tahun.
Bahkan kalian tidak bertemu selama lebih dari sepuluh tahun. Bukankah dia
hebat?!"
"Seung Ho-ya.. Apa yang kau maksudkan?"
"Kau ingat sepuluh tahun lalu waktu aku memintamu
mengungkapkan perasaanmu padanya?"
"Iya, lalu?"
"Aku ingin hal itu terjadi lagi."
"Apa?! Apa maksudmu?!"
"Aku ingin kau bersama Jung Soo!"
"Kau gila?! Aku tidak mungkin melakukan itu!"
"Meskipun aku pernah memutuskan persahabatanku
dengannya, tapi aku masih sangat menyayanginya. Dia sahabatku dan sampai
kapanpun akan tetap begitu. Jadi aku ingin dia bahagia, bersamamu."
"Apa kau tidak ingin aku bahagia? Apa kau tidak
mencintaiku lagi?"
"Aku sangat mencintaimu dan tentu aku ingin kau
bahagia."
"Kau tau apa yang membuatku bahagia?!"
"Maka dari itu, lakukan ini untukku. Demi aku."
"Tidak! Tidak akan pernah!" Jung Hee berdiri,
"Kau sudah janji tidak akan membahas ini lagi kan?!" lanjutnya.
"Aku yakin kau akan bahagia bersamanya."
"Tidak! Aku hanya bahagia bersamamu! Kumohon, jangan
lakukan ini."
"Aku sudah memutuskan dan itu adalah keputusanku!"
"Seung Ho-ya!" Seung Ho berdiri dan masuk ke dalam
mobilnya. Ia menyalakan mobil dan menjalankannya meninggalkan Jung Hee.
"Seung Ho-ya? Seung Ho-ya! Gajima! Jangan tinggalkan
aku! Yoo Seung Ho! Yoo Seung Ho!!" Ia menangis. Menangis sejadi-jadinya.
Ia tak tau apa yang harus ia lakukan sekarang. Wajah Seung Ho terlihat sangat
serius. Ia tak pernah melihat wajah Seung Ho seserius ini. Ia masih menangis di
tempatnya. Perlahan ia melangkahkan kakinya untuk keluar dari tempat itu.
Setelah hampir satu jam berjalan, sebuah mobil putih mendekatinya dan berhenti
di sampingnya. Jung Hee tidak mempedulikan mobil itu. Seorang laki-laki keluar
dari mobil itu. Dia adalah Park Jung Soo.
"Jung Hee-ya!" panggil Jung Soo. Jung Hee pun
menoleh ke arahnya dan Jung Soo menghampirinya.
"Jung Soo-ya, apa yang kau lakukan disini?"
"Aku.. Aku hanya lewat saja. Kau sendiri, apa yang kau
lakukan disini?"
"Aku..."
"Masuklah! Aku akan mengantarmu pulang." Jung Hee
masuk ke dalam mobil Jung Soo.
"Jadi, apa yang kau lakukan sendirian disana?"
"Aku tidak sendirian. Kemarin, aku pergi dengan Seung
Ho. Kami menghabiskan waktu bersama, dan hari ini kami bertengkar. Dia marah.
Sangat marah hingga meninggalkan aku. Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan
sekarang."
"Kau tidak perlu khawatir. Semuanya akan baik-baik
saja."
@11:00 AM.
Jung Hee telah sampai di rumah Seung Ho. Ia turun dari mobil
dan Jung Soo pun pergi. Ia memencet pin gerbang rumah Seung Ho namun gagal. Ia
pun memencet bel. Layar LCD menyala. Ia menatap layar itu. Di dalam rumah,
Seung Ho juga menatap layar itu setelah mematikan kamera yang ada di dalam.
Jung Hee kembali memencet bel berkali-kali.
"Yak! Yoo Seung Ho! Aku tau kau ada di dalam! Buka
gerbangnya dan kita bicara! Kau tidak bisa melakukan hal ini padaku! Buka
gerbangnya, Yoo Seung Ho!" teriak Jung Hee kesal. Percuma saja, Seung Ho
tetap tidak membuka gerbangnya dan Jung
Hee tetap berdiri di depan sambil memeluk dirinya sendiri karena suhu yang
masih dingin meski hari sudah siang.
Tiga puluh menit kemudian, Seung Ho membuka gerbang. Bukan
untuk membiarkan Jung Hee masuk, tapi untuk jalan keluar mobilnya. Jung Hee
yang melihatnya hanya membulatkan mata. Ia tak percaya kalau Seung Ho
benar-benar melakukan ini.
"Yak! Yoo Seung Ho!" bentak Jung Hee saat mobil
Seung Ho berjalan di depannya. Seung Ho pun turun dari mobil dan mendekati Jung
Hee. Tanpa mengucapkan satu katapun, Yoo Seung Ho menangkupkan kedua tangannya
ke wajah Jung Hee kemudian mencium bibirnya. Jung Hee yang sangat terkejut
hanya bisa membulatkan matanya. Ciuman Seung Ho sangat lembut dan penuh cinta.
Tanpa disadari, Jung Hee menutup matanya dan membalas ciuman orang yang
dicintainya itu. Tangan Seung Ho telah turun hingga ke punggung dan pinggang
Jung Hee. Tangan Jung Hee juga telah melingkar di leher Seung Ho. Beberapa
detik kemudian, mereka melepaskan ciuman.
"Seung Ho-ya," panggil Jung Hee.
"Dengar! Aku akan kembali ke Finlandia. Aku akan
mentransfer uang padamu dua kali dalam sebulan. Aku akan memenuhi semua
kebutuhanmu. Pastikan kau menjaga kesehatanmu dengan baik. Hiduplah dengan
bahagia bersama Park Jung Soo."
"Kau masih belum berhenti?"
"Jaga dirimu baik-baik." Seung Ho melangkah
menjauhi Jung Hee dan memasuki mobilnya.
"Yoo Seung Ho? Yoo Seung Ho! Yak! Gajima!!"
Seung Ho mengendarai mobilnya.
"Yoo Seung Ho!!" lagi, Jung Hee menangis. Ia
benar-benar hancur. Satu nama terbersit di fikirannya. Park Jung Soo. Ia merasa
kalau semua ini adalah salahnya. Ia mengambil ponselnya dan menelfon Jung Soo.
"Yak, Park Jung Soo, kau dimana?" tanya Jung Hee
tak sabar saat Jung Soo mengangkat telfonnya.
"Aku? Aku di rumah sakit, kenapa?"
"Kau sibuk?"
"Saat ini tidak, tapi dua jam lagi aku ada oprasi. Ada
apa?"
"Aku akan kesana sekarang!" Jung Hee langsung
mematikan telfonnya.
"Halo? Yoboseyo? Jung Hee-ya? Kim Jung Hee?" Jung
Soo menjauhkan ponsel dari telinganya, "Dia mematikan telfonnya? Ada
apalagi sekarang?" Jung Soo melemparkan punggungnya dan bersandar di kursi
kerjanya.
Setelah mematikan telfon, Jung Hee langsung mencari dan
menaiki taksi ke rumah sakit. Tak butuh waktu lama, ia telah sampai di rumah
sakit. Ia pun berlari ke ruangan Jung Soo karena tak mau kehilangan waktu. *tok
tok tok* Jung Hee mengetuk pintu ruangan Jung Soo.
"Masuk!" ucap Jung Soo. Jung Hee pun membuka pintu.
Di dalan ruangan Jung Soo terdapat seorang wanita yang mungkin baru saja
konsultasi.
"Jung Hee-ya, ada apa?" tanya Jung Soo. Jung Hee
diam, bukannya tak mau bicara, hanya saja, ia tak mau ada orang lain tau
tentang masalahnya.
"Emm, baiklah, Nyonya Lee. Seperti yang kukatakan tadi,
kau harus lebih sering olah raga, khususnya yoga agar kau lebih sehat dan
relax." ucap Jung Soo.
"Baik, Dokter. Permisi." wanita itu dan Jung Soo
berdiri dan saling menundukkan kepala untuk menghormati satu sama lain kemudian
ia keluar.
"Ada masalah apa?" tanya Jung Soo pada Jung Hee.
Jung Hee mendekat ke arah Jung Soo dan *Plak!!* ia menampar Jung Soo.
"Semua ini karena perbuatanmu, kan?" ucap Jung Hee
emosi.
"Perbuaanku? Apa maksudmu?"
"Seung Ho meninggalkan aku! Dia ingin aku hidup
bersamamu!"
"Apa?"
"Aku akui kalau aku memang menyukaimu. Tapi itu dulu.
Meskipun sekarang aku belum bisa melupakanmu, tapi perasaanku padamu sudah
hilang. Kau tak lebih dari seorang teman, Park Jung Soo! Kau pasti memintanya
untuk meninggalkan aku, kan?!"
"Kim Jung Hee, kau salah paham. Aku memang memberitau
Seung Ho tentang perasaanku padamu, tapi aku tidak pernah memintanya untuk
meninggalkanmu! Aku ingin dia melakukan hal yang tidak bisa kulakukan untukmu.
Seung Ho adalah sahabat baikku, dan kau adalah orang yang aku cintai. Bagaimana
bisa aku memisahkan kalian?"
"Lalu kenapa?! Kenapa dia meninggalkan aku? Hiks.."
"Anak itu benar-benar! Kita ke bandara sekarang!"
"Apa?"
"Cepat!" Jung Soo mengambil jasnya dan menarik
tangan Jung Hee keluar dari ruangannya. Saat sampai di meja administrasi, ia
berhenti dan bicara pada seorang suster.
"Suster, aku ada urusan yang penting yang tidak bisa
kutinggal. Aku harus ke bandara. Jam dua nanti, aku tidak bisa melakukan
oprasi. Tolong hubungi Dokter Kang untuk menggantikan aku!"
"Baik, Dokter."
Lagi, Jung Soo menggandeng Jung Hee ke parkiran. Menaiki
mobil dan pergi ke bandara. Sesampainya disana, Jung Hee langsung berlari.
Melihat papan informasi untuk melihat kapan pesawat yang akan ke Finlandia akan
berangkat. 01.00 P.M. Setengah jam lagi pesawat akan berangkat. Jung Hee
berlari kesana kemari untuk mencari Yoo Seung Ho, begitupun dengan Jung Soo.
Sepuluh menit mencari, mereka belum bertemu, hingga ankhirnya Jung Hee tak
sengaja menabrak seorang pria yang ternyata adalah Yoo Seung Ho. Mereka saling
bertatapan.
"Untuk apa kau kemari?!" tanya Seung Ho sinis. Saat
yang bersamaan Jung Soo datang dari belakang Jung Hee.
"Apa kau sedang mempermainkan perasaanku?!"
"Mempermainkan perasaanmu? Hahh, anggap saja
begitu."
"Apa selama ini kau benar mencintaiku?"
"Entah! Cinta atau tidak, aku tidak peduli. Bagiku, kau
hanya gadis malang dengan cinta bertepuk sebelah tangan. Aku kasihan
padamu!" *plak!*lagi-lagi Jung Hee melayangkan tamparannya. Namun kali ini
tamparan itu mendarat di pipi kiri Seung Ho.
"Kalau kau memang tidak pernah mencintaiku, kenapa kau
hidup bersamaku?! Kenapa kau memberikan semuanya padaku? Kenapa kau
membahagiakan aku?! Kenapa?!" air mata Jung Hee kembali menetes.
"Kenapa? Kau tanya kenapa? Karena aku kasihan padamu,
Kim Jung Hee! Kau ingat kejadian saat kita bertemu di bandara? Andai kau tau,
aku menyesal memberikan pilihan itu padamu! Seharusnya aku tak pernah memintamu
datang. Tapi karena kau datang, aku harus mengajakmu bersamaku. Kau tau kan
kalau aku adalah laki-laki yang bertanggung jawab?! Aku tidak bisa membiarkanmu
menangis di bandara ini. Kau datang padaku, bilang kalau Jung Soo sudah
berpacaran dengan Kang Sora. Jung Soo telah meninggalkanmu. Aku tidak bisa ikut
meninggalkanmu. Dari dulu sampai sekarang, kau tetap menyedihkan, Kim Jung
Hee!" *buggghh!* kali ini sebuah pukulan yang dilayangkan Jung Soo pada
Seung Ho hingga membuatnya terjatuh.
"Park Jung Soo!" bentak Jung Hee. Ia langsung
mendekati Seung Ho untuk membantunya berdiri.
"Kau baik-baik saja?" tanya Jung Hee.
"Jangan sentuh aku!" bentak Seung Ho. Jung Hee pun
mengurungkan niatnya untuk membantu Seung Ho berdiri.
"Kau sudah keterlaluan, Yoo Seung Ho!" ucap Jung
Soo geram dan Seung Ho hanya memandangnya sinis.
"Kim Jung Hee," panggil Seung Ho, "Aku tidak
mau melihat wajahmu lagi di depanku. Aku ingin ini terakhir kalinya aku bertemu
denganmu! Tapi kau tak perlu takut, aku tetap akan mengirim uang padamu."
"Seung Ho-ya?!"
Seung Ho berbalik dan melangkah pergi menjauhi Jung Hee.
"Jangan maafkan aku, Kim Jung
Hee," ucap
Seung Ho dalam hati, "Jangan maafkan aku karena telah mengucapkan hal
yang buruk tentangmu. Ini adalah satu-satunya cara agar kau membenciku.
Bencilah aku dan lupakan aku. Mulailah hidupmu yang baru bersama Jung Soo.
Andai kau tau kalau hatiku sangat hancur saat kau menangis. Aku sadar, saat aku
membuatmu menangis, saat itu pula aku membiarkan orang lain menghapus air
matamu. Jangan maafkan aku,.."
Seung Ho melewati gate dan hilang dari pandangan Jung Hee.
"Kajja!" Jung Soo mengajak Jung Hee pergi dari
bandara itu.
Jung Hee mengingat kembali perkataan Seung Ho. Perkataan itu
cukup melukai hatinya. Tapi ada hal lain yang mengganjal. Ia merasa kalau semua
yang dikatakan Sung Ho tadi tak ada satupun kebenaran yang ia dapatkan. Tapi,
ia akan tetap mempercayai apa yang dikatakan Seung Ho. Ia tak akan muncul lagi
di depannya. Ia akan pergi dari kehidupan Seung Ho dan ia akan mulai kehidupan
barunya. Entah bersama Jung Soo, orang lain atau ia akan hidup sendiri.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar